Sekolah SMP dan SMA Owner SPBU

Mengenal Sekolah SMPN 1 Nasruddin
Sekolah Menangah Pertama Negeri 1 Selong

Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas dari Owner SPBU, adalah telusur menarik untuk mengetahui jejaknya.

Setelah membahas Lombok Timur Sederet Sejarah Peradaban Nusantara maka kita akan menemukan banyak kisah menarik. Ini bukan soal Pilkada yang menguras banyak energi, tentang siapa yang akan terpilih.

Bacaan Lainnya

Ini soal ketokohan dan karakter yang kuat dan yang tersisa banyak kenangannya adalah Kegiatan menggiring bebek ke sawah. Menjadi penjaga SPBU yang banyak menyita energi dan perhatian. Berhadapan dengan para pelanggan yang memiliki karakter diferensial dengan yang lainnya.

Ketika masa SD Negeri 2 Pantjor telah tuntas pada tahun 1979, maka selanjutnya adalah memasuki masa SMP.

1979 Masuk Sekolah SMPN 1 Selong

Tahun 1979, Nasruddin Bin H. Islahuddin melanjutkan pendidikan pada sekolah menengah pertama (SMP) yakni pada SMPN 1 Selong. Di sekolah tersebut ia bersama dengan beberapa teman SD ketika di Pancor, seperti Nasrun, Salam, Junaedi, Muhammad Nur, Sahirwan, Rajaiya, Rochiyah, Srijaya, Sofyan, Waheluddin.

SMP Lotim

Belajar Memakai Sepatu

Pagi itu, sebagai persiapan untuk memasuki SMP, Nas kecil di ajak oleh ibunya untuk memasuki pasar tradisional. Dengan posisi pasar antara SD dengan SMP. Pagi itu ia akan mencoba menggunakan sepatu baru. Maklum selama menjadi murid SD, ia sekalipun tidak pernah menggunakan sepatu.

Tanpa memakai sepatu selama SD. Kali ini ia akan belajar menggunakannya, warna sepatu pertama yang ia pakai adalah sepatu berwarna hitam. Matanya menatap sepatu yang ia pakai dengan perasaan jiwa seakan mau terbang, begitu senangnya karena sepatu pertamanya ini. Langkah kaki ibarat mau terbang dari bumi.

Guru Olahraga dan Ujian Lari

Pada SMPN 1 Selong ia mengenal guru, yakni Kepala Sekolah H Saherul. Sementara guru-guru seperti Sahrul, Muluddin, Sirajuddin, Suparti, Suhartini, dan Jainuddin.

Pada masa SMP, Nas memiliki kegemaran bermain Sepakbola, dengan posisi sebagai penyerang. Laiknya Cristiano Ronaldo bersama Muhammad Nur, Janedi, Sahirwan, Nasrun, Salam.

Sebagai pemain amatir, dengan gerakan yang belum apik. Sehingga terkadang maksud hati menendang bola namun sasarannya mengenai tulang kering dengan tulang kering lawan yang bertabrakan. Bayangkan bagaimana bunyinya, dan apa efek meringis yang muncul saat itu. Ngeri bukan?

Namun karena sepakbola telah menjadi hobi, maka bekas benturan keras yang meninggalkan bekas hitam pada tulang kering lengkap degan bengkak bukan alasan untuk gantung sepatu, laiknya pemain profesional. Bayangkan lebih dalam lagi, apa jadinya jika luka lebam karena benturan kembali mendapatkan benturan?

Kenangan ini adalah hal yang menghiasi ingatan Nas, yang pada suatu ketika akan telah menjadi pejabat penting di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Akhirnya, ujian olahraga lari tiba pada pagi itu. Luka nyeri pada tulang keringnya masih terasa, tentunya akan mempengaruhi akselesarinya untuk berlari. Yang mengakibatkan penyerang ini yang seharusnya berada pada posisi depan saat berlari, akhirnya menempati posisi buncit. Bahkan tertinggal paling jauh di baris belakang.

Posisi paling belakang. Karena kaki kurang sehat (sebut saja terkilir akibat sleding sepakbola ala Roberto Carlos). Membuat guru olahraga, Muluddin. Sempat berteriak untuk memanggilnya ke posisi depan kamu jangan ketinggalan cepat sedikit.

Ujian olahraga ini dilakukan di jalan Raya. Maklum kondisi jalan pada masa itu masih belum sepadat sekarang, dan belum ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi yang beresiko pada keamanan anak sekolah.

Siapa Saudara Dari Nasruddin?

Nasruddin adalah tertua dari 6 beraudara pasang dari H Islahuddin dan Ibu Hj Muslihan dengan anak Kedua: Laki-laki Syahruddin, selanjutnya Perempuan Nurdiana sebagai anak ketiga. Laki-laki H Yasiruddin sebagai akan keempat, laki-laki H Fathur Rohman anak kelima dan bungsu Perempuan bernama Suhartini.

1982 Masuk Sekolah SMA.

Tidak berani bolos. Sejak SD, SMP dan SMA sebab jika mencobanya siap-siap berhadapan dengan ketegasan ayahnya yang sangat peduli dengan kedisiplinan anak-anaknya. Sehingga sampai menamatkan pendidikan di SMA, sekalipun ia tidak pernah meninggalkan bangku belajar dengan predikat membolos dari sekolah.

Jauh dari kata membolos untuk ketemuan dengan gadis pujaan hati. Maklum, Nas hanya sampai pada detak jantung pada yang ia suka namun tidak berani mengungkapkannya. Selain mau fokus dengan pendidkan dan membantu orang tua, ia juga fokus membantu pekerjaan kedua orangtuanya sebagai petani dan pedagang kecil di pasar.

Kenapa Harus Sekolah Ke SMA Muhammadyah?

Tidak ada maksud membandingkan sekolah Negeri maupun swasta sehingga memunculkan pertanyaan ini. Kenapa harus ke SMA Muhammadiyah?

Ada beberapa alasan yang menarik sehingga mengambil pilihan tersebut:

  1. Orangtua Maunya disekolah Agama, sebagaimana SMA Muhammadiyah berada pada kawasan Selong dan tidak keluar daerah.
  2. SMA negeri ada di luar kawasan Selong, dan Nas terlambat untuk mendaftar, karena banyak mengulur waktu. Entah apa yang ada dipikirannya sehingga mengulur waktu pendaftaran.

Bapaknya yang bekerja sebagai pedagang dan Petani. dengan Ibu sebagai pedagang dipasar sejenis Sembako. Yang merupakan hasil pertanian garapan ayahnya. Selebihnya beberapa sembako di beli ibunya dari petani penggarap yang lain. Selanjutnya di jual di pasar. Dengan keuntungan untuk membuat asap di dapur tetap mengepul demi anaknya, Nas bersaudara.

Lelaki tua itu bersama Istrinya, hampir pada setiap malamnya menengadahkan tangan kepada yang Maha Kuasa dengan doa dan Tahajjud memohon perlindungan Allah SWT. Dalam kehidupan yang serba pas-pasan, namun ia berharap ada peningkatan kehidupan pada anaknya yang masa datang.

Karena kesederhanaan ini H. Islahuddin menyimpan satu hal agar tidak terpandang rendah di lingkungannya, yakni mempertahankan kredibilitasnya, kejujuran dan kepercayaan dari lingkungan sekitar. Sehingga warga mengenalnya orang yang bijak, ramah namun tegas dalam nilai hak dan kebenaran.

Tamat SMA Kuliah di Mana?

Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Atas, apakah Nasruddin kuliah? Dimana tempat kuliahnya? Ternyata tidak demikian, akan tetapi dia menjadi pekerja yang jauh dari apa yang anda pikirkan? Saksikan pada tulisan berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *