BERAT BADAN LEBIH (D.0018)

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Akumulasi lemak berlebih atau abnormal yang tidak sesuai dengan usia dan jenis kelamin, serta melampaui kondisi berat badan ideal. Diagnosa ini menekankan pada kondisi klinis di mana seseorang memiliki berat badan di atas rentang normal namun belum diklasifikasikan sebagai obesitas, yang seringkali diukur melalui parameter antropometri seperti Indeks Massa Tubuh (IMT).

World Health Organization (WHO) Suatu kondisi penumpukan lemak yang abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. WHO menetapkan batasan khusus melalui Indeks Massa Tubuh, di mana untuk populasi dewasa secara umum, berat badan lebih didefinisikan dengan nilai IMT sama dengan atau lebih besar dari 25 kg/m².

Bacaan Lainnya

Black & Hawks (Pakar Keperawatan Medikal Bedah) Keadaan ketidakseimbangan nutrisi di mana asupan energi yang masuk secara konsisten melebihi kebutuhan metabolik tubuh. Hal ini mengakibatkan penyimpanan cadangan energi dalam bentuk jaringan adiposa yang meningkat, yang jika tidak dikelola, akan meningkatkan risiko penyakit degeneratif kronis seperti diabetes melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Kondisi tubuh dengan berat badan yang melebihi berat badan normal atau standar yang ditentukan berdasarkan perhitungan IMT. Kemenkes menekankan bahwa pada populasi Asia Pasifik, termasuk Indonesia, ambang batas berat badan lebih sering kali disesuaikan menjadi lebih rendah (IMT > 23 hingga 25 kg/m²) karena risiko metabolik yang muncul pada tingkat lemak tubuh yang lebih rendah dibandingkan populasi Kaukasia.

NANDA International Suatu kondisi di mana individu memiliki akumulasi lemak yang melebihi standar untuk usia dan jenis kelamin. NANDA memfokuskan definisi ini sebagai masalah kesehatan yang terkait dengan pola perilaku asupan nutrisi yang melampaui kebutuhan metabolik, yang bermanifestasi pada peningkatan dimensi fisik tubuh di luar batas ideal.

    B. ETIOLOGI (PENYEBAB)

    Penyebab terjadinya berat badan lebih bersifat multifaktoral, meliputi:

    1. Ketidakseimbangan Energi: Asupan kalori yang melebihi pengeluaran energi tubuh dalam jangka waktu lama.
    2. Kurang Aktivitas Fisik: Gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle) yang meminimalisir pembakaran lemak.
    3. Faktor Genetik dan Metabolik: Adanya predisposisi keturunan yang mempengaruhi laju metabolisme basal dan penyimpanan jaringan adiposa.
    4. Gangguan Perilaku Makan: Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan makanan olahan (junk food) secara berlebihan.
    5. Faktor Psikologis: Penggunaan makanan sebagai mekanisme koping terhadap stres atau kecemasan (emotional eating).

    C. KRITERIA DIAGNOSIS

    Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia dan klasifikasi WHO untuk populasi Asia Pasifik, indikator klinisnya meliputi:

    Objektif

    1. Indeks Massa Tubuh (IMT) > 25 kg/m² (pada dewasa)
    2. Tebal lipatan kulit triceps > 25 mm pada wanita dan > 15 mm pada laki-laki
    3. Pola makan menyimpang (mis. porsi besar, makan larut malam).
    4. Aktivitas fisik harian yang rendah.

      D. LUARAN KEPERAWATAN

      Tujuan intervensi adalah mencapai Berat Badan Membaik dengan kriteria hasil:

      1. Indeks massa tubuh membaik (mendekati rentang 18,5–22,9 kg/m²).
      2. Tebal lipatan kulit menurun.
      3. Lingkar pinggang dalam batas normal.
      4. Kepatuhan terhadap diet yang diprogramkan meningkat.

      E. INTERVENSI KEPERAWATAN

      Strategi penanganan fokus pada modifikasi gaya hidup dan edukasi:

      1. Manajemen Berat Badan: Identifikasi faktor penyebab, tentukan target penurunan berat badan yang realistis (0,5–1 kg per minggu), dan fasilitasi pencatatan asupan makanan (food diary).
      2. Konsultasi Nutrisi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan diet rendah kalori dan rendah lemak yang seimbang.
      3. Promosi Latihan Fisik: Anjurkan aktivitas aerobik minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang.
      4. Edukasi Kesehatan: Ajarkan cara membaca label makanan dan teknik pengolahan makanan yang sehat. 

       F. TANDA DAN GEJALA MAYOR

      Tanda dan Gejala Mayor

      Objektif:

      • Indeks Massa Tubuh (IMT) > 25 kg/m² (pada dewasa).
      • Berat badan dan panjang badan lebih dari persentil ke-95 (pada anak usia < 2 tahun).
      • IMT berada pada persentil ke-85 hingga ke-95 (pada anak usia 2 – 18 tahun).

        Tanda dan Gejala Minor

        Objektif:

        • Tebal lipatan kulit trisep > 25 mm.

          G. KONDISI KLINIS TERKAIT

          Beberapa kondisi klinis atau penyakit yang berhubungan dengan risiko atau kejadian berat badan lebih meliputi:

          1. Penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya, steroid, antipsikotik).
          2. Gangguan genetik.
          3. Faktor keturunan.
          4. Hipotiroid.
          5. Diabetes mellitus maternal (riwayat diabetes pada ibu saat hamil).
          6. Sindrome Cushing.
          7. Gangguan neuroendokrin.

          DAFTAR PUSTAKA

          Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Management for Positive Outcomes. St. Louis, Missouri: Elsevier Saunders.

          Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

          Kementerian Kesehatan RI. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/509/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Obesitas. Jakarta: Kemenkes RI.

          Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

          World Health Organization (WHO). (2024). Obesity and Overweight: Fact Sheets and Global Surveillance. Geneva: WHO Press.

          Pos terkait

          Tinggalkan Balasan

          Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *