bentuk pidato
Pembukaan dalam pidato (Rahasia Belajar)

Bentuk Pidato, Pengertian Dan Bagian-Bagiannya

Diposting pada

Bentuk pidato mengikuti sebagaimana situasi dan kondisi saat itu. Tema acara memberikan pengertian yang berbeda termasuk mempengaruhi bagian-bagian pidato. Konsep organisasi, organisasi.co.id – Tika.

Pidato adalah sebuah seni berbicara di hadapan umum. Isinya merupakan hal-hal yang umum untuk diperbincangkan.

bentuk pidato
pidato (Bappenas)

Bisa berupa nasihat, opini, hingga wacana populer.

Organisatoris lainnya baca: Pengertian dan Ciri-ciri Pidato

Adapun tujuannya adalah untuk mempengaruhi hingga memberikan informasi terkait suatu hal. Ada juga yang bertujuan sekedar memberikan opini.

Pidato terdiri atas beberapa bagian. Diantaranya adalah pembukaan, isi, dan penutup.

Bagian-bagian ini mengandung struktur kata yang dipengaruhi konteks acara yakni formal atau informal.

Jadi, sebelum mulai menyusun kata-kata pada bagian pembuka, isi, maupun penutup, sebaiknya orang yang berpidato mengetahui tema acara terlebih dahulu.


Pembukaan Pidato

bentuk pidato
bagian-bagian pidato (Liveworksheet)

Memulai pidato bukan perkara mudah bagi pemula. Kalimat pembuka menjadi pesona bagi pendengar.

Dalam berbagai bentuk pidato, apabila dalam kalimat pembukaan telah membuat pendengar malas mendengarkan, maka tujuan pidato tidak tercapai.

Padahal pidato yang baik adalah yang dapat mencapai tujuan baik itu memberi informasi hingga mempengaruhi orang lain.

organisatoris lainnya baca: Pidato Gaya Santri; Mukadimah Terkeren dan Contoh Pidato

Dalam kalimat pembukaan, umumnya mengandung beberapa unsur seperti:

a. Salam pembuka

Merupakan kalimat awal pidato, contohnya Assalamu’alaikum, salam sejahtera, om swastyastu, dan sebagainya.

b. Sapaan kepada pendengar

Di Indonesia, sapaan tersebut dapat berupa ‘yang kami hormati, yang kami banggakan’, dan lain-lain.

c. Kalimat syukur

Sangat penting untuk membuka pidato dengan kalimat syukur, baik dalam pidato formal dan non formal.

Contoh kalimat syukur adalah:

Alhamdulillah, segala kemuliaan hanya untuk Allah. Akhirnya kita bisa bersama di sini.

Ketiga substansi tersebut akan membentuk pidato yang menarik.

Tentu saja erat kaitannya dengan kemampuan pendengar untuk mengikuti isi pidato.


Contoh Pembukaan Pidato

Tergantung dari tema dan bentuk pidato, kalimat pembuka akan mengikuti tema tersebut.

Baik dari struktur bahasa hingga intonasi sangat erat kaitannya dengan tema pidato.

Sebagai contoh seperti berikut.


a. Pidato Formal

Om Swastyastu,

Selamat pagi

Kepada yang terhormat, Bapak Bupati Kabupaten Gianyar

dan yang saya hormati rekan-rekan Pramuwisata kabupaten Gianyar

Pertama, puji syukur kita curahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan karunia Nya kita dapat berkumpul di aula Dharma Shanti dalam keadaan baik.

b. Pidato Non Formal

Selamat pagi rekan-rekan kaula muda

Apa kabar kalian hari ini?

Akhirnya kita dapat berjumpa kembali dalam HUT Pemuda Gahol Berprestasi Desa Gamalama. Setelah sekian lama pandemi, syukur alhamdulillah masa suram itu telah usai.

c. Pidato Keagamaan

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Muslimin yang dirahmati Allah

Alhamdulillaah bi ni’mati ‘alayya. robbishrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatammillisaani yafqohuu qoulii.


Pembukaan Pidato Islami

Dalam bentuk pidato keagamaan, khususnya dalam konteks islam, maka kalimat pembukaan mendapat sebutan sebagai mukaddimah.

Adapun rangkaian mukaddimah bermacam-macam. Ada yang berisi doa, serta ada pula kalimat pembuka dalam bahasa Arab.

Maknanya adalah sama yaitu untuk memberikan pembukaan yang memukau dan tentu saja membawa manfaat bagi hadirin.

Ketika akan memulai pidato dalam konteks islami, hal yang sangat penting adalah mengucapkan salam. Saat pengajian semi formal dan formal, umumnya akan menggunakan kalimat salam yang lengkap.

“Assalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh”

Namun pada konteks tidak formal, biasanya hanya sebatas pada ucapan salam “Assalaamu’alaikum”. Tentu saja jika merujuk pada maknanya, ucapan salam yang lengkap adalah yang terbaik.

Dalam salam terucap doa. Sehingga akan lebih baik untuk menyebutnya dengan sangat lengkap.

Bentuk Pidato Islami Dalam Konteks Sapaan

Setelah mengucapkan salam, maka bagian yang kemudian menunjukkan perbedaan pidato islami dan bukan adalah terkait kata sapaan.

Ketika dalam pidato pada umumnya kita menyebut kata “Yang terhormat, yang kami cintai, ataupun rekan-rekan hadirin”, maka pada pidato islami sapaan tersebut menjadi ‘Kaum Muslimin”.

Artinya adalah orang-orang muslim (pemeluk agama Islam). Ada pula yang menyebut santriwan dan santriwati jika konteks pidato tersebut berada di lingkungan pesantren.

Kemudian tidak sedikit pula yang memberikan sapaan berupa ‘ikhwan dan ikhwat’. Apapun itu tentunya harus mencerminkan sisi Islami yang diadaptasi dari bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an.

Kalimat Pembuka Pidato Islami

Tidak sedikit dari kita yang mendengarkan lantunan bahasa Arab yang terkadang terasa seperti doa atau kutipan ayat Al Qur’an padahal sebenarnya tidak.

Dalam berpidato pada konteks islami, bahasa Arab menjadi ciri khas dalam pembukaan. Terlepas kita maupun orator memahami artinya atau tidak, namun seolah telah mendarah daging jika pidato islami menggunakan pembuka Bahasa Arab.

Assholaatu wassalaamu ‘alaa ashrofil anbiyaa i walmursaliin. Sayyidinaa Muhammadin Wa’Alaa ‘aalihi wasohbihii ajma’iin. Ammaa ba’du. (Ini merupakan sebuah kalimat pembuka yang sangat umum kita ketahui dalam pidato Islami).

Kemudian ada pula yang berisi potongan ayat suci Al Qur’an ketika pidato tersebut kaitannya dengan ibadah puasa,

“Yaa Ayyuhallazii na ‘aamanuu kutiba ‘alaikumusshiyaamu kama………”

atau bisa juga berupa do’a,

“Robbanaa Aatinaa fiddun yaa hasanah wafil aa khiroti hasanah waqinaa ‘adzaa bannaar”

Namun salah satu doa yang umum digunakan adalah,

“Robbishrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatammillisaanii yafqoohuu qoulii.”

Doa ini erat kaitannya dengan kebaikan tutur kata dalam lisan. Itulah sebabnya banyak orator islami yang mengutipnya sebagai pembuka.

Sebelum melakukan pidato islami, tidak hanya kalimat saja yang harus islami melainkan juga penampilan orator. Oleh karena itu, berbeda halnya dengan pidato lainnya dalam berbagai tema, pidato ini menuntut orator untuk sempurna.


Mimik Dan Intonasi Dalam Pidato

Sebuah pidato tidak dapat dilepaskan dari adanya mimik dan gestur. Namun kedua hal itu juga harus dilengkapi dengan intonasi yang apik dan sesuai.

Ketika kita hendak membacakan pidato mengenai perjuangan rakyat Indonesia yang erat kaitannya dengan hari kemerdekaan, maka tentunya kita harus mengobarkan semangat juang para pahlawan.

Dalam hal ini, sebaiknya mimik yang ditampilkan adalah tegas dan berapi-api. Bahkan gestur nya pun juga tidak kalah semangat.

Mengepalkan tangan dapat menjadi salah satu contoh gestur yang menggambarkan sikap berapi-api. Intonasi juga sebaiknya lantang guna membangkitkan gairah perjuangan pendengar.

Berbanding terbalik tentunya dengan pidato perpisahan. Dalam hal ini, mimik saat berpidato hendaknya sedikit bersedih.

Terdapat juga emosi sentimentil dalam penyampaiannya. Gestur tenang dan intonasi yang jelas namun tidak berapi-api. Sebagaimana orang yang hendak berpisah, tentu ada rasa tidak rela dalam hati.

Perlu diperhatikan bahwa semua ini sebaiknya tidak berlebihan. Tidak perlu menangis terisak-isak sehingga membuat perkataan kita menjadi kurang jelas.

Artinya pendengar harus tetap dapat mengerti isi dari pidato kita.

Tujuan intonasi, gestur, dan mimik adalah untuk melengkapi kesempurnaan pidato kita. Pendengar sebaiknya ikut merasakan emosi orator, sehingga pidato tidak membosankan.


Kalimat pembuka Yang Menarik Dan Tidak Membosankan

bentuk pidato
Pembukaan dalam pidato (Rahasia Belajar)

Menjadi pesona dalam pidato, kalimat pembuka seolah memegang kunci penting dalam keberhasilan pidato. Percuma saja kalimat yang indah jika intonasi dalam membacakannya tidak cocok.

Demikian pula dengan gestur dan mimik saat membacakannya. Kalimat pembuka yang indah tidak akan menarik ketika disampaikan dengan wajah lesu atau jutek hingga gestur yang tidak mendukung.

Jangan sampai hal-hal itu justru lebih menarik perhatian pendengar daripada isi dan kalimat pembuka pidato itu sendiri.

Kenali terlebih dahulu tema pidato. Jika erat kaitannya dengan nuansa yang menyenangkan seperti penyambutan siswa baru, maka penyampaiannya harus dengan ceria dan optimis.

Selamat Pagi Bapak Kepala Sekolah SMA N XX Situbondo

Selamat Pagi Bapak dan Ibu Guru SMA N XX Situbondo

Teman-teman kelas XI dan XII SMA N XX Situbondo, serta selamat datang adik-adik calon siswa SMAN XX SItubondo

Segala puji syukur mari kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Atas karuniaNya kita masih mendapat kesempatan untuk berjumpa di sekolah yang indah ini.

Mentari bersinar cerah seolah ikut menyambut adik-adik untuk menapakkan kaki menjadi bagian dari sekolah kami.

(Dalam penyampaiannya, orator hendaknya nampak antusias dengan kehadiran siswa baru dan dengan intonasi yang lantang).

Contoh kalimat pembuka menarik lainnya

Selamat malam pemuda Guyub Rukun Dusun Belimbing

Apa kabar hari ini?

Meskipun malam hendaknya semangat kita tidak luntur demi memperjuangkan kebaikan bagi dusun kita.

Sungguh kita perlu sangat bersyukur, meskipun dalam keterbatasan tempat, kita dapat berkumpul dan saling berbagi ilmu disini.

(Dalam acara non formal, ekspresi ceria, gestur tidak berlebihan, dan intonasi yang tinggi di bagian akhir kalimat).

Mengantisipasi Kesalahan Dalam Berpidato

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan manusia yang mencoba sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.

Memang sulit mencapai kata sempurna, namun paling tidak kita harus berupaya nyaris sempurna atau meminimalkan kesalahan yang muncul. Demikian halnya dalam pidato.

Kesalahan dalam berpidato sebenarnya dapat diantisipasi. Adapun kesalahan umum yang terjadi saat pidato adalah:

a. Terlalu fokus dengan teks

Tidak sedikit orator yang kesulitan dalam menghafalkan naskah. Mereka menggunakan teks dan tanpa sadar justru hanyut dalam membacanya.

Hal ini akan membuat pendengar tidak merasa mendapat perhatian. Oleh sebab itu lama kelamaan tidak akan ada yang tertarik mendengar pidato kita.

b. Lupa

Ada pula yang pandai dalam menghafal namun di tengah-tengah mengalami lupa. Untuk mengantisipasinya, sebaiknya sediakan catatan kecil yang berisi inti dari pidato yang akan disampaikan.

Setidaknya jika kita lupa atau ‘blank’ di tengah-tengah, kita masih bisa memutar otak untuk mencari bahasan selanjutnya.

c. Gestur berlebihan

Terkadangs aking menggebu-gebunya atau justru saking gugupnya, orator memberi gestur yang berlebihan. Hal ini hanya akan membuat pendengar menjadi tidak fokus terhadap isi pidato.

Mereka akan sibuk memperhatikan gestur orator.

d. Intonasi yang sama terus menerus

Ketika orator terus menerus menggunakan intonasi yang sama dari awal hingga akhir, hal itu tentu akan membuat kesan jenuh.

Pendengar tentu saja merasa jenuh mendengar pidato kita. Bahkan mereka tidak dapat memilih dan memilah mana inti dari pidato dan mana yang bukan.

Umumnya orator akan menekankan sebuah pesan melalui intonasi yang lebih tinggi dan tegas sehingga memudahkan pendengar untuk mengingatnya.

e. Berpakaian berlebihan

Hendaknya orator berpakaian sesuai tema dan tidak berlebihan. Jangan membuat pendengar beralih fokus.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *