PENYANGKALAN TIDAK EFEKTIF (D.0098)

A. DEFINISI

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Penyangkalan tidak efektif adalah proses sadar atau tidak sadar yang digunakan untuk meminimalkan atau menyangkal makna atau konsekuensi dari suatu peristiwa, sebagai upaya untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan, namun hal tersebut justru berdampak buruk pada kesehatan.

NANDA International Suatu upaya untuk meminimalkan atau menyangkal pemahaman tentang peristiwa kesehatan untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan, yang pada akhirnya mengakibatkan kerugian bagi kesehatan individu tersebut.

Bacaan Lainnya

Marilynn E. Doenges Sebuah mekanisme koping di mana individu menunda mencari bantuan medis atau tidak mengakui adanya gejala atau risiko karena adanya ancaman terhadap ego atau perasaan tidak berdaya yang luar biasa terhadap situasi yang mengancam jiwa.

Lynda Juall Carpenito Penyangkalan merupakan suatu kondisi di mana individu mengalami kegagalan dalam mengakui realitas situasi yang mengancam, yang ditandai dengan perilaku menghindar, penggunaan kata-kata yang meminimalkan gejala, atau penolakan terhadap kebenaran diagnosa medis.

Mary C. Townsend Suatu bentuk pertahanan diri psikologis yang maladaptif di mana individu menolak untuk mengakui kenyataan yang menyakitkan atau kehilangan, yang bertujuan untuk melindungi diri dari kecemasan yang tidak tertahankan, namun menghambat proses adaptasi dan penyembuhan.

B. DEFINISI ILMIAH

Penyangkalan tidak efektif merupakan suatu mekanisme pertahanan psikologis (defense mechanism) yang maladaptif, di mana individu secara sadar maupun tidak sadar menolak atau mengingkari pemahaman, makna, atau konsekuensi dari suatu peristiwa, diagnosa medis, atau situasi traumatis. Secara klinis, perilaku ini bertujuan untuk mereduksi kecemasan yang ekstrem, namun berisiko menghambat manajemen kesehatan dan memperburuk kondisi kesejahteraan individu.

C. ETIOLOGI (FAKTOR PENYEBAB)

Munculnya respon penyangkalan yang maladaptif ini sering kali dipicu oleh beberapa faktor determinan:

Kecemasan dan Ketakutan Terutama ketakutan akan kematian, kehilangan kemandirian, atau perpisahan dengan orang terdekat.

Ancaman terhadap Realitas Adanya kenyataan yang terlalu menyakitkan atau tidak menyenangkan untuk diterima secara kognitif.

Koping Defisit Ketidakefektifan strategi adaptasi individu dalam menghadapi stresor.

Ketidakpastian terhadap Kemampuan Diri Adanya rasa rendah diri atau ketidakpercayaan terhadap kemampuan dalam menyelesaikan masalah (self-efficacy yang rendah).

D. INDIKATOR DIAGNOSTIK (TANDA DAN GEJALA)

Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data klinis primer:

Data Subjektif Individu secara eksplisit atau implisit tidak mengakui adanya gejala klinis atau risiko bahaya medis meskipun terdapat bukti nyata yang bertentangan.

Data Objektif Adanya penundaan yang signifikan dalam mencari bantuan medis atau melakukan perawatan kesehatan yang diperlukan (delaying healthcare-seeking behavior).

E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Intervensi diarahkan untuk mencapai target Penerimaan Meningkat (L.09082), dengan kriteria keberhasilan sebagai berikut:

  1. Verbalisasi Penerimaan Pasien mulai menunjukkan pengakuan verbal terhadap kondisi yang dialami.
  2. Ekspresi Perasaan Peningkatan kemampuan untuk mendiskusikan perasaan terkait penyakit atau situasi stresor.
  3. Kepatuhan Perawatan Meningkatnya perilaku proaktif dalam mencari dan mengikuti rencana pengobatan.
  4. Orientasi Masa Depan Mampu menyusun perencanaan hidup yang realistis sesuai kondisi saat ini.

F. STRATEGI INTERVENSI (SIKI)

Manajemen klinis difokuskan pada dua pilar utama:

Promosi Kesadaran Diri (I.09311)

Observasi Mengidentifikasi status emosional dan respons situasional pasien.

Terapeutik Memfasilitasi diskusi mengenai nilai diri, dampak penyakit terhadap konsep diri, serta mengeksplorasi penyangkalan terhadap kenyataan secara bertahap dan empati.

Edukasi Melatih pasien untuk mengenali pikiran negatif dan mengubah persepsi diri dari posisi “korban” menjadi subjek yang berdaya.

Promosi Koping (I.09312)

Terapeutik Menggunakan pendekatan yang menenangkan, menyediakan informasi yang faktual namun bertahap, serta membantu pasien mengidentifikasi sumber daya pendukung (sosial/spiritual) yang tersedia.

Edukasi Mengajarkan teknik pemecahan masalah secara konstruktif dan metode relaksasi untuk mengelola kecemasan yang mendasari penyangkalan.

G. KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Penyakit kronis
  2. Intoksikasi zat
  3. Putus zat
  4. Penyakit alzheimer
  5. Penyakit terminal

DAFTAR PUSTAKA

American Psychological Association (APA). (2022). APA Dictionary of Psychology: Denial. Washington D.C: American Psychological Association.

Carpenito, L. J. (2021). Handbook of Nursing Diagnosis. 16th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales. Philadelphia: F.A. Davis Company.

NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. 12th Edition. Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2020). Essentials of Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *