TERMOREGULASI TIDAK EFEKTIF [D.0149]

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kegagalan menjaga suhu tubuh dalam rentang normal karena ketidakseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Kondisi ini dicirikan oleh fluktuasi suhu tubuh yang tidak stabil, baik berada di atas maupun di bawah nilai normal secara bergantian atau tidak menentu.

NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Fluktuasi suhu tubuh antara hipotermia dan hipertermia. Diagnosa ini menggambarkan suatu keadaan di mana individu mengalami kegagalan mekanisme homeostatis untuk mempertahankan suhu inti tubuh pada titik pengaturan (set point) yang tepat.

Bacaan Lainnya

Kozier, Berman, & Snyder Ketidakmampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan atau kondisi internal yang mengakibatkan suhu tubuh menyimpang dari parameter fisiologis normal. Hal ini melibatkan ketidakefektifan kontrol otonom pada hipotalamus dalam mengatur mekanisme thermogenesis dan thermolysis.

Hockenberry & Wilson (Wong’s Nursing Care) Ketidakstabilan suhu tubuh yang sering ditemukan pada populasi rentan seperti neonatus atau anak-anak, di mana terjadi kegagalan sistem integratif untuk menyeimbangkan produksi panas metabolik dengan mekanisme pembuangan panas ke lingkungan melalui radiasi, konveksi, evaporasi, dan konduksi.

Marilynn E. Doenges Suatu gangguan di mana individu berisiko atau mengalami ketidakstabilan suhu tubuh yang berfluktuasi antara nilai ekstrem. Doenges menekankan bahwa kondisi ini merupakan manifestasi dari ketidakmampuan sistem pengaturan suhu untuk mengkompensasi faktor-faktor presipitasi seperti infeksi, trauma, atau ketidakmatangan organ.

    B. DEFINISI ILMIAH

    Termoregulasi tidak efektif didefinisikan sebagai kegagalan mekanisme homeostatis tubuh dalam mempertahankan suhu inti (core temperature) dalam rentang normal akibat ketidakseimbangan antara produksi panas (thermogenesis) dan pelepasan panas (thermolysis). Secara fisiologis, kondisi ini melibatkan gangguan pada pusat integrasi di hipotalamus yang berfungsi sebagai termostat tubuh.

    C. ETIOLOGI (FAKTOR PENYEBAB)

    Penyebab utama dari gangguan termoregulasi ini meliputi berbagai faktor internal dan eksternal, di antaranya:

    Stimulasi Pusat Termoregulasi Hipotalamus: Kerusakan atau gangguan pada sistem saraf pusat (misalnya trauma kepala, tumor, atau perdarahan serebral).

    Fluktuasi Suhu Lingkungan: Paparan suhu ekstrem (panas atau dingin) yang melebihi kemampuan kompensasi tubuh.

    Proses Penyakit: Infeksi sistemik (sepsis) yang memicu pelepasan pirogen eksogen dan endogen.

    Kondisi Spesifik Pasien: Berat badan ekstrem (BBLR pada neonatus), dehidrasi, atau ketidakadekuatan suplai lemak subkutan sebagai isolator panas.

    Efek Farmakologis: Penggunaan agen sedasi atau anestesi yang menekan metabolisme dan respon menggigil.

    D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

    Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), tanda dan gejala yang harus divalidasi meliputi:

    Gejala Mayor

    • Suhu tubuh yang berfluktuasi (berada di atas atau di bawah rentang normal).

    Gejala Minor

    • Kulit terasa dingin atau hangat saat dipalpasi.
    • Terjadi respon menggigil (sebagai usaha tubuh memproduksi panas).
    • Takikardia atau takipnea ringan sebagai respon metabolik terhadap ketidakstabilan suhu.

    E. PATOFISIOLOGI SINGKAT

    Suhu tubuh manusia secara normal diatur oleh hipotalamus melalui mekanisme umpan balik negatif. Ketika terjadi gangguan, tubuh kehilangan kemampuan untuk melakukan vasokonstriksi (untuk menjaga panas) atau vasodilatasi dan berkeringat (untuk membuang panas). Pada bayi baru lahir, hal ini diperparah oleh keterbatasan cadangan lemak cokelat (brown fat) yang sangat penting dalam metabolisme non-menggigil (non-shivering thermogenesis).

    F. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS

    Intervensi diarahkan untuk mencapai luaran Termoregulasi Membaik (L.14134) dengan tindakan:

    Regulasi Temperatur (I.14578): Memantau suhu tubuh secara periodik (setiap 2 jam atau kontinu), monitor warna dan suhu kulit, serta menyesuaikan suhu lingkungan (misalnya penggunaan inkubator atau radiant warmer pada neonatus).

    Edukasi Pencegahan: Memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai teknik membedong bayi yang tepat atau penggunaan pakaian yang sesuai dengan suhu lingkungan.

    Kolaborasi: Pemberian cairan intravena untuk menjaga hidrasi dan penggunaan agen antipiretik jika terdapat indikasi demam.

     G. KONDISI KLINIS TERKAIT

    1. Cedera medula spinalis
    2. Infeksi/sepsis
    3. Pembedahan
    4. Cedera otak akut
    5. Trauma

    DAFTAR PUSTAKA

    Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2020). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (11th ed.). London: Pearson Education.

    Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

    Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children (11th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

    NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023 (12th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *