Pembukaan Ceramah Islam: 3 Contoh Bacaan

Pembukaan ceramah islam
Ceramah islami (Foto: twitter.com)

Pembukaan berupa opening serta prolog dari ceramah islam. Salah satu teknik pidato yang kemudian banyak terpakai oleh beberapa pemateri di beberapa acara, agar dapat mengutarakan pendapat mereka, terhadap suatu fenomena tertentu. Berikut pembahasan contoh bacaan selengkapnya.Ayu Maesaroh, Komunikasi Organisasi – organisasi.co.id

Hai para organisator? Ada yang lelah karena baru saja menghadiri beberapa acara, kemudian kalian menjadi pembawa materi acara?

Bacaan Lainnya

Bagaimana rasanya? Gugup? Gerogi? Malu? Atau percaya diri? Benar. Menjadi seorang pemateri dalam suatu forum memang tidak mudah.

Perlu adanya latihan khusus yang kemudian terjadi secara terus menerus. Guna melatih mental agar dapat nyaman ketika harus berpidato kepada orang banyak.

Terlebih dengan istilah “ceramah“, yang biasanya sering kita lihat di beberapa acara besar agama Islam, atau pun yang biasanya, seperti contoh konkret sehari-hari, ialah pada sholat jumat. Kita sudah membahas tentang khutbah, tabligh dan dakwah.

Sebagai gambaran penting, bahwa semenjak penciptaan bumi dan kehadiran Ulul Azmi pada zaman agama, mereka semua melakukan dakwah.

Mereka yang terkenal dengan “khotib” akan mempersiapkan berbagai poin penting mengenai topik ceramah pada saat itu juga. Kemudian memikirkan bagaimana caranya membawakan materi tersebut.

Sebelum sesi ceramah dalam sholat jumat dimulai. Tapi bicara masalah ceramah, ternyata pembahasannya sendiri loh. Mulai dari pembukaan ceramah islam, sampai dengan jenis yang lain. Berikut pembahasan selengkapnya:

Konsep Ceramah Islami yang Benar

Definisi pembukaan ceramah islam
Konsep ceramah islam (Foto: moondoggiesmusic.com)

Sejalan dengan hal tersebut, kemudian ada beberapa pertanyaan.

Yakni, bagaimana konsep sebenarnya mengenai pembukaan atau muqaddimah sebagai awalan ceramah secara islam tersebut?

Hampir sama dengan beberapa ceramah lainnya. Konsepnya adalah menyampaikan informasi dari pemateri kepada audience secara langsung.

Sehingga nantinya mereka dapat memahami dengan baik, serta dapat mengimplementasikan beberapa poin tersebut di kehidupan sehari-hari.

Hanya saja memang ceramah dalam hal ini adalah berbau Islam, biasanya hal awal yang membedakan adalah soal topik pembahasan, juga isinya.

Organisatoris lain baca ini: Komponen Intonasi Saat Berbicara: Ada 7 Hal Penting

Untuk isinya ada yang merujuk dari hadist, yang kemudian dikaitkan dengan hukum sosial di negara Indonesia. Contoh konkret seperti melakukan hubungan “pacaran”.

Yang nantinya ada kaitannya dengan hadist berzina, kemudian merangkak ke hukum sosial tentang “kumpul kebo” misalnya. Mengapa?

Hal tersebut nantinya akan pemateri rangkai, seperti antara satu dengan yang lain memang berkaitan. Sehingga tujuan dari pemateri tersebut, dapat terwujud.

Itu baru isinya. Untuk pembukaan sendiri, biasanya akan diawali dengan ucapan salam kepada audience yang hadir. Kemudian sepatah kata untuk mewakili rasa hormat.

Kepada beberapa pejabat yang telah hadir dalam acara ceramah tersebut, dengan mengusung tema tertentu. Itulah yang kemudian menjadi konsep dari pembukaan (opening) ceramah versi islam.

Ceramah Islami Adalah

Ceramah secara umum, adalah sebuah kegiatan yang mana terlaksana oleh seorang khotib, guna memberikan sebuah materi, atau pun pemikiran beliau terhadap suatu hal.

Diiringi dengan berbagai bukti yang menguatkan sebuah contoh, dengan tujuan agar dapat diterima oleh para audience yang ada. Kemudian mereka dapat mengambil beberapa hal yang positif.

Namun, berbeda dengan pendapat dari KBBI, atau singkatan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata “ceramah” mempunyai arti.

Yakni suka bercakap-cakap, atau berinteraksi dengan orang lain, mengenai suatu hal tertentu dari pandangannya. Adapun dari beberapa para ahli yang mempunyai penjabaran sendiri:

Wina Sanjaya

Mengatakan bahwa “ceramah”, adalah sebuah metode yang pembukaan pertama entah islam atau tidak. Adalah sebuah metode yang cara penyampaiannya secara langsung.

Dalam hal ini adalah penuturannya secara langsung kepada para audience, siswa, atau sejenisnya. Metode ini bisa digunakan untuk beberapa cara pembelajaran secara ekspositori.

Ramdani

Mengatakan bahwa metode “ceramah” adalah salah satu metode yang sudah begitu lama terpakai oleh beberapa pendidik seperti guru, kepada muridnya.

Dengan konsep mengatakan secara langsung lewat lisan, di depan mereka mengenai suatu hal. Metode ini biasanya terpakai untuk beberapa pembelajaran yang membutuhkan penjelasan serta pemahaman yang jelas.

Muhibbin Syah

Beliau sendiri memaparkan bahwa “ceramah” adalah sebuah metode pembelajaran yang efektif dan praktis, untuk beberapa rujukan literatur yang bisa terbilang langka.

Mengingat konsep dari hal tersebut, adalah menyajikan beberapa informasi yang terkandung secara lisan kepada audience atau siswa, agar mereka bisa mudah untuk memahami isi dari informasi tersebut.

Djamarah

Beliau mengemukakan, bahwasannya metode tersebut adalah cara untuk menyampaikan sebuah informasi atau pun materi tertentu secara lisan kepada siswa.

Metode ini cukup terbilang kuno. Karena konsepnya hanya demikian, dan sudah berlaku sangat lama. Meski begitu, cara tersebut tidak bisa terlihat sebelah mata. Mengingat di Indonesia masih ada beberapa tempat yang memang fasilitas pendidikan belum memadai 100%.

Jadi jika kita simpulkan, bahwasannya metode pembukaan ceramah secara islam, adalah tentang pemateri yang menyajikan informasi.

Dengan cara menyampaikan secara langsung di depan audience. Guna agar mereka dapat memahami lebih mudah, serta dapat mengimplementasikan beberapa poin yang mereka dapat, di keseharian mereka.

Langkah Pembuatan Pembukaan Ceramah

Sejalan dengan hal tersebut, ada beberapa langkah pembuatan teks pembukaan ceramah menarik dan tidak membosankan dalam konsep Islami. Perlu diperhatikan, dalam pembuatannya harus sesuai dengan konsep yang telah tersepakati.

Mulai dari tema topik yang harus sama dengan tema acara, kemudian poin-poin ceramah yang nantinya juga harus ada kaitannya dengan tema acara tersebut.

Jika melenceng, maka hal yang menjadi ketakutan, adalah audience bisa salah paham, atau bahkan salah dalam mengambil beberapa poin penting yang harusnya mereka dapatkan. Jadi, berikut langkahnya:

Tema / Masalah

Yang pertama adalah masalah tema atau permasalahan yang akan terangkat dalam ceramah. Harus kita pahami betul hal tersebut.

Sehingga ketika kita mulai riset, dengan mudah mendapatkan beberapa poin penting untuk menjadi satu pemecahan masalah tersebut.

Audience

Meski hanya sebatas ceramah saja, sebagai pemateri juga harus penting mengetahui audiencenya seperti apa. Mulai dari rata-rata usia audience, dan sebagainya.

Sehingga hal tersebut nantinya akan mempengaruhi dalam pemilihan kata. Jika masih anak muda, pemateri bisa menggunakan bahasa yang santai. Berbeda jika audiencenya adalah para orang tua, atau pun yang sudah lansia.

Data / Sumber Bacaan

Ceramah Islam, ada begitu banyak referensi yang dapat dicari dan digali sedemikian rupa. Gunanya, agar audience bisa lebih percaya dengan apa yang pemateri katakan.

Bisa saja hal tersebut dipandang dari sudut audience, bahwasannya memang related tentang hal yang dibicarakan oleh pemateri.

Pun jika tidak ada pemikiran demikian, setidaknya ada beberapa bukti konkret, yang menyatakan bahwa fenomena yang menjadi tema tersebut.

Kerangka Teks

Terakhir adalah pembuatan kerangka teks dari ceramah Islam, mulai dari pembukaan, isi, sampai kepada penutup ceramah, dahwal hingga pidato tersebut.

Harus rinci, kemudian pemilihan kata juga harus tepat, sampai kepada ekspresi dari pemateri juga harus meyakinkan. Agar mereka dapat lebih mudah dalam mengambil beberapa poin penting yang ingin pemateri sampaikan.

Contoh Teks Pembukaan Ceramah Islami

Contoh teks ceramah islam (Foto: id.pinterest.com)

Sejalan dengan hal tersebut, berikut beberapa contoh teks ceramah, mulai dari pembukaan, isi, sampai dengan penutup dari ceramah tersebut.

Agar nantinya dapat menjadi referensi, ketika harus membuat teks ceramah, mengemukakan apa yang ada di pikiran mengenai suatu hal, atau pun fenomena.

Kepada orang banyak. Jadi, berikut contoh selengkapnya:

Tema: Kebebasan Perempuan

Assalamualaikum Wr Wb

Hadirin yang berbahagia. Marilah kita panjatkan rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa, karena dari ridho-Nya lah, kita mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang Insya Allah mendapatkan ridho dari-Nya.

Tak lupa sholawat serta salam, selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa Ummat Islam ke kehidupan yang lebih baik, serta lebih mudah untuk terus meningkatkan keimanan kepada Allah.

Isi Ceramah

Karena manusia pada dasarnya adalah dituntut untuk mematuhi perintah-Nya, serta menghindari larangan yang Allah larang. Allah melihat ummat dari keimanan, bukan dari jenis kelamin mereka.

Apakah mereka laki-laki, atau pun perempuan. Hal tersebut bahkan sudah tercantum dalam Firman Allah di Surah Al-Hujurat, ayat 13.

Bahkan tidak ada pembahasan mengenai gender mana yang unggul dan mana yang rendah di mata-Nya. Semuanya sama. Itu artinya, dalam aspek apapun, manusia sama kedudukannya.

Hak mereka untuk bisa mendapatkan kebebasan yang mereka mau, itu sah-sah saja. Boleh mereka dapatkan. Sepeti misalnya terbebas dari lingkungan yang toxic.

Mendapatkan perlakuan setara ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh orang lain di mata hukum. Juga, dapat meraih apa yang dicita-citakan.

Semuanya, bisa didapatkan oleh kaum wanita dan pria. Tidak ada yang melarang apalagi mencegah, bahkan menghentikan langkah.

Namun, kenyataan kadang jarang sesuai dengan ekspektasi. Lihat saja bagaimana kemudian di beberapa negara. Yang tidak jarang untuk memberikan peraturan.

Isi Ceramah Selanjutnya..

Bahwa wanita muslim, mereka tidak punya hak untuk menggunakan jilbab ketika dalam ranah profesional. Banyak yang berdalih, bahwa jilbab adalah ranah privat, bukan ranah publik.

Seakan mereka tidak ada ruang sama sekali untuk mengekspresikan identitas mereka sebagai wanita muslimah. Yang utuh.

Tak hanya itu, fenomena seksisme juga semakin marak. Mulai dari gangguan seperti catcalling yang tidak pernah berhenti di setiap tahunnya.

Aturan yang kemudian membuat wanita serba salah, apalagi di Indonesia. Menggunakan baju yang sedikit memperlihatkan bentuk tubuh, dikira sebagai wanita yang “tidak baik-baik”.

Organisatoris lain baca ini: Hindari 7 Kalimat (kata) ini, Saat anda Memimpin Sidang Atau Pidato

Sedangkan ketika kemudian menggunakan pakaian yang sudah semestinya, menutup aurat dan lainnya. Kerap kali dijadikan sebagai korban empuk para “hidung belang” serta “pria-pria yang tidak bertanggungjawab”.

Agar mereka dapat memuaskan “hasrat” yang mungkin terpendam, dan belum terlampiaskan. Seakan hidup di dunia, perempuan selalu “ketiban sial”.

Hal apapun yang mereka lakukan kemudian dikiritik oleh berbagai pihak, bahkan lingkungan sosial sendiri. Ketika ditanya apakah seorang pria ketika mereka tidak bisa memanage nafsunya, akan dihakimi dengan cara yang sama juga?

Penutup Ceramah

Pasti jawabannya akan bervariatif. Dan berujung memblaming perempuan yang pada akhirnya, mereka harus menanggung kesalahan yang harusnya bukan salahnya, secara “tidak langsung”.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Akankah terus mengabaikan fenomena ini, atau berjuang, untuk bisa menyetarakan hak kebebasan, perlindungan, dan kenyamanan satu sama lain di kehidupan sosial kita?

Sekian ceramah kali ini, mohon maaf apabila banyak salah dalam pengucapan, mohon dimaafkan.

Wassalamualaikum Wr Wb

Penutup

Itulah beberapa pembahasan mengenai pembukaan (Mukaddimah/awalan) ceramah atau dakwah Islam. Yang mana beberapa poin tersebut dapat menjadi referensi kalian.

Ketika harus menyampaikan secara langsung ide pemikiran sebagai pemateri, kepada para audience yang mungkin sudah menunggu, mendengar berbagai sudut pandang dari seorang pemateri terhadap tema yang ada.

Sekian ulasan kali ini, semoga menginspirasi.

Daftar Pustaka

  1. lektur.id
  2. meenta.net
  3. passinggrade.co.id
  4. roboguru.ruangguru.com
  5. Nalom Kurniawan, “Hak Asasi Perempuan dalam Perspektif Hukum dan Agama”, Jurnal Konstitusi, Vol IV, No 1, 2011, Hal. 158.

Pos terkait