GANGGUAN ELIMINASI URIN (D.0040)

A. DEFINISI GANGGUAN ELIMINASI URIN

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Disfungsi eliminasi urin merupakan suatu kondisi terjadinya penurunan, peningkatan, atau ketidakmampuan untuk melakukan eliminasi urin secara normal. Fokus utama dari definisi ini adalah adanya perubahan pola miksi yang mengganggu kenyamanan dan fungsi fisiologis individu.

NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Gangguan eliminasi urin didefinisikan sebagai disfungsi pada proses ekskresi urin. Hal ini mencakup berbagai masalah spesifik seperti inkontinensia, retensi urin, maupun gangguan pada frekuensi dan urgensi yang diakibatkan oleh faktor multifaktorial, baik struktural maupun fungsional.

Bacaan Lainnya

Potter & Perry Menurut pakar fundamental keperawatan ini, gangguan eliminasi urin adalah gangguan pada kemampuan untuk menahan atau mengeluarkan urin secara efektif. Kondisi ini melibatkan gangguan pada jalur normal urin yang bisa disebabkan oleh perubahan pada ginjal, ureter, kandung kemih, maupun uretra.

Lynda Juall Carpenito Carpenito mendefinisikan kondisi ini sebagai keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan pada proses pengeluaran urin. Definisi ini mencakup aspek psikososial di mana gangguan tersebut dapat membatasi aktivitas sosial dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.

International Continence Society (ICS) Sebuah kondisi klinis yang ditandai dengan adanya kelainan pada fungsi saluran kemih bagian bawah, baik dalam fase pengisian (storage) maupun fase pengosongan (voiding). Definisi ini lebih menekankan pada aspek biomekanika dan koordinasi neurologis antara otot detrusor dan sfingter.

    B. ETIOLOGI (PENYEBAB)

    Berdasarkan tinjauan klinis dan referensi pakar, faktor penyebab gangguan ini meliputi:

    1. Penurunan Kapasitas Kandung Kemih: Sering ditemukan pada kondisi sistitis kronis atau hiperaktivitas otot detrusor.
    2. Iritasi Saluran Kemih: Akibat infeksi bakteri (ISK) atau paparan zat kimia.
    3. Disfungsi Neuromuskular: Gangguan transmisi saraf yang mengontrol kontraksi kandung kemih (misal: pada pasien stroke atau cedera medula spinalis).
    4. Efek Prosedur Medis: Dampak anestesi, tindakan bedah urologi, atau penggunaan obat-obatan diuretik dan antikolinergik.
    5. Hambatan Lingkungan: Ketidakmampuan fisik untuk mengakses fasilitas toilet tepat waktu.

    C. KRITERIA KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

    Penegakan diagnosis ini didasarkan pada data klinis sebagai berikut:

    Gejala Mayor

    1. Subjektif: Desakan berkemih (urgensi), urin menetes (dribbling), sering buang air kecil (frekuensi meningkat), nokturia, atau mengompol.
    2. Objektif: Distensi kandung kemih (teraba tegang pada palpasi suprapubik), berkemih tidak tuntas (hesitancy), dan peningkatan volume residu urin pasca-berkemih.

            Gejala Minor

    1. Subjektif: Disuria (nyeri saat berkemih) atau rasa tidak puas setelah BAK.
    2. Objektif: Hematuria (darah dalam urin) atau perubahan warna dan aroma urin yang bermakna.

    D. LUARAN KEPERAWATAN

    Target utama asuhan adalah mencapai eliminasi urin membaik, dengan kriteria hasil:

    1. Sensasi berkemih yang kembali normal.
    2. Penurunan frekuensi desakan berkemih dan nokturia.
    3. Menurunnya distensi kandung kemih.
    4. Residu urin setelah berkemih berada dalam batas minimal.

    E. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS

         Tindakan yang dilakukan mencakup manajemen eliminasi dan tindakan pendukung:

    1. Observasi: Monitor pola eliminasi (frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna) serta identifikasi tanda-tanda retensi atau inkontinensia.
    2. Terapeutik: Batasi asupan cairan menjelang waktu tidur, sediakan akses toilet yang aman, dan berikan rangsangan berkemih (misal: kompres hangat atau mendengarkan suara air mengalir).
    3. Edukasi: Ajarkan teknik penguatan otot panggul (Kegel exercise) dan jadwal berkemih yang teratur (bladder training).

     F. KONDISI KLINIS TERKAIT

    1. Infeksi ginjal dan saluran kemih
    2. Hiperglikemi
    3. Trauma
    4. Kanker
    5. Cedera/tumor/infeksi medulla spinalis
    6. Neuropati diabetikum
    7. Neuropati alkoholik
    8. Stroke
    9. Parkinson

    DAFTAR PUSTAKA

    Carpenito, L. J. (2021). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

    Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

    International Continence Society (ICS). (2023). Standardization of Terminology in Lower Urinary Tract Function. Bristol: ICS Publications.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis, MO: Elsevier.

    World Health Organization (WHO). (2019). Management of Urinary Tract Infections and Related Functional Disorders in Primary Health Care. Geneva: WHO Press.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *