Hipotensi

I. Terminologi Medis: Hipotensi

1.1 Definisi Ilmiah

Hipotensi adalah suatu kondisi fisiologis di mana tekanan darah di dalam arteri berada di bawah batas normal yang diharapkan, umumnya ditetapkan pada angka sistolik $<90$ mmHg dan diastolik $<60$ mmHg. Secara hemodinamika, tekanan darah merupakan hasil perkalian antara curah jantung (cardiac output) dan resistensi vaskular sistemik. Hipotensi terjadi apabila terjadi penurunan volume darah (hipovolemia), penurunan kontraktilitas otot jantung, atau dilatasi pembuluh darah yang berlebihan (vasodilatasi). Kondisi ini mengakibatkan perfusi jaringan menjadi tidak adekuat, sehingga distribusi oksigen dan nutrisi ke organ-organ vital, terutama otak dan ginjal, menjadi terhambat. Secara klinis, hipotensi dapat bersifat akut dan mengancam nyawa, seperti pada kondisi syok, atau bersifat kronis dan asimtomatik pada individu tertentu.

1.2 Contoh Kasus dan Manifestasi

Sebagai contoh, pada kasus Hipotensi Ortostatik (postural), seseorang mengalami penurunan tekanan darah mendadak saat berubah posisi dari berbaring ke berdiri, yang disebabkan oleh kegagalan sistem saraf otonom dalam mengompensasi gravitasi untuk mengembalikan darah ke jantung. Contoh lainnya adalah Hipotensi Hipovolemik yang dipicu oleh perdarahan hebat atau dehidrasi berat, di mana volume cairan intravaskular berkurang drastis sehingga tekanan di dalam pembuluh darah merosot. Manifestasi klinis yang umum muncul meliputi pusing, penglihatan kabur, mual, lemas, hingga sinkop (pingsan). Dalam kondisi yang parah, hipotensi dapat memicu syok sirkulasi, yang ditandai dengan kulit dingin dan lembap, napas cepat, dan penurunan produksi urin sebagai tanda kegagalan perfusi organ sistemik yang memerlukan intervensi medis darurat berupa resusitasi cairan atau pemberian agen vasopresor.