Laporan Pendahuluan : Pneumonia untuk pembuatan tugas bagi mahasiswa keperawatan yang melakukan praktik klinik keperawatan maupun profesi ners.
A. Konsep Medis Pneumonia
1. Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah proses inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, maupun aspirasi bahan asing sehingga menyebabkan gangguan pertukaran gas di alveoli.
- Menurut Brunner dan Suddarth (2018), pneumonia adalah inflamasi paru yang ditandai dengan konsolidasi akibat eksudat yang masuk ke dalam alveoli dan bronkiolus terminalis.
- Menurut Smeltzer (2019), pneumonia merupakan infeksi akut jaringan paru yang menyebabkan alveoli terisi cairan dan material inflamasi sehingga mengganggu ventilasi serta difusi oksigen.
- Menurut World Health Organization (2023), pneumonia adalah bentuk infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru dan menyebabkan alveoli terisi cairan atau pus sehingga menimbulkan batuk, demam, dan sesak napas.
- Menurut Price dan Wilson (2017), pneumonia merupakan inflamasi pada parenkim paru yang terjadi akibat invasi agen infeksius dan menyebabkan gangguan fungsi respirasi.
- Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022), pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru, terutama alveoli, yang ditandai dengan batuk, napas cepat, dan kesulitan bernapas.
2. Etiologi Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai faktor infeksi maupun non-infeksi.
a. Infeksi Bakteri
- Streptococcus pneumoniae
- Staphylococcus aureus
- Klebsiella pneumoniae
- Haemophilus influenzae
- Pseudomonas aeruginosa
Sumber: Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (2018).
b. Infeksi Virus
- Virus influenza
- Respiratory Syncytial Virus (RSV)
- Adenovirus
- Coronavirus
- Parainfluenza virus
Sumber: World Health Organization (2023).
c. Infeksi Jamur
- Candida albicans
- Histoplasma capsulatum
- Pneumocystis jirovecii
Sumber: Harrison’s Principles of Internal Medicine (2022).
d. Aspirasi
- Aspirasi makanan
- Aspirasi muntahan
- Aspirasi cairan lambung
Sumber: Price and Wilson Pathophysiology (2017).
e. Faktor Risiko
- Usia lanjut atau balita
- Malnutrisi
- Merokok
- Penyakit paru kronik
- Diabetes melitus
- Imunodefisiensi
- Tirah baring lama
Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (2023).
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Pneumonia
Mikroorganisme penyebab pneumonia masuk ke saluran napas melalui inhalasi droplet, aspirasi, maupun penyebaran hematogen. Agen infeksi kemudian mencapai bronkiolus dan alveoli sehingga memicu respons inflamasi. Makrofag alveolar akan melepaskan mediator inflamasi seperti interleukin dan tumor necrosis factor yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler paru.
Akibat proses inflamasi tersebut, alveoli terisi cairan, eksudat, fibrin, dan leukosit. Kondisi ini menyebabkan konsolidasi paru dan gangguan pertukaran gas. Penumpukan sekret menyebabkan obstruksi jalan napas sehingga timbul batuk produktif. Gangguan difusi oksigen menyebabkan hipoksemia yang memicu takipnea dan sesak napas.
Pada kondisi berat dapat terjadi penurunan compliance paru, kerja napas meningkat, hingga gagal napas. Infeksi sistemik juga dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh, kelemahan, anoreksia, dan gangguan perfusi jaringan.
Penyimpangan KDM
Infeksi mikroorganisme → inflamasi alveoli → peningkatan permeabilitas membran alveolus → eksudat memenuhi alveoli → konsolidasi paru → gangguan ventilasi → gangguan pertukaran gas → hipoksemia → sesak napas → peningkatan kerja napas → kelelahan.
Infeksi paru → produksi sekret meningkat → penumpukan sputum → bersihan jalan napas tidak efektif → batuk produktif.
Inflamasi sistemik → pelepasan pirogen → stimulasi hipotalamus → hipertermia.
Pathway Pneumonia
Mikroorganisme masuk ke saluran napas
↓
Kolonisasi bronkus dan alveoli
↓
Respons inflamasi paru
↓
Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler
↓
Eksudat masuk ke alveoli
↓
Konsolidasi paru
↓
Gangguan ventilasi dan perfusi
↓
Gangguan pertukaran gas
↓
Hipoksemia
↓
Sesak napas, takipnea, sianosis
↓
Produksi sekret meningkat
↓
Batuk produktif
↓
Bersihan jalan napas tidak efektif
↓
Pelepasan mediator inflamasi
↓
Peningkatan suhu tubuh
↓
Demam/Hipertermia
4. Manifestasi Klinis Pneumonia
Manifestasi klinis pneumonia dapat berupa data subjektif dan objektif, yakni:
a. Data Subjektif
- Pasien mengeluh batuk berdahak
- Pasien mengeluh sesak napas
- Pasien mengeluh nyeri dada saat bernapas
- Pasien mengeluh demam dan menggigil
- Pasien mengeluh lemah dan mudah lelah
- Pasien mengeluh nafsu makan menurun
Sumber: Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (2018).
b. Data Objektif
- Takipnea
- Penggunaan otot bantu napas
- Suhu tubuh meningkat
- Bunyi napas ronki/crackles
- Saturasi oksigen menurun
- Sputum purulen
- Sianosis
- Hasil foto toraks menunjukkan infiltrat paru
Sumber: Harrison’s Principles of Internal Medicine (2022).
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Hitung leukosit, Leukositosis menandakan infeksi bakteri
- C-Reactive Protein (CRP), Menunjukkan proses inflamasi
- Prokalsitonin, Membantu membedakan infeksi bakteri dan virus
- Analisis gas darah, Menilai status oksigenasi dan ventilasi
- Kultur sputum, Mengidentifikasi mikroorganisme penyebab
- Kultur darah, Mengetahui adanya bakteremia
b. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Rontgen Thoraks: Menunjukkan infiltrat, konsolidasi, atau efusi pleura
- CT Scan Thoraks: Menilai luas kerusakan paru dan komplikasi
c. Pemeriksaan Lain
- Pulse oximetry: Mengukur saturasi oksigen
- Bronkoskopi: Dilakukan bila dicurigai obstruksi atau aspirasi
- Pemeriksaan patologi anatomi: Menilai jaringan paru bila diperlukan pada kasus tertentu
6. Penatalaksanaan Medis Pneumonia
a. Terapi Farmakologis
- Antibiotik
a) Amoksisilin
b) Ceftriaxone
c) Azitromisin
d) Levofloxacin - Antipiretik
a) Paracetamol - Bronkodilator
a) Salbutamol - Mukolitik dan ekspektoran
a) Ambroxol
b) Asetilsistein - Terapi oksigen
a) Nasal kanul
b) Masker oksigen - Cairan intravena
a) Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
b. Terapi Non-Farmakologis
- Istirahat cukup
- Fisioterapi dada
- Latihan batuk efektif
- Pemberian nutrisi adekuat tinggi kalori dan protein
- Hidrasi yang cukup
- Nebulisasi sesuai indikasi
- Ventilasi mekanik pada gagal napas berat
- Rehabilitasi paru bila diperlukan
Sumber: Harrison’s Principles of Internal Medicine (2022); World Health Organization (2023).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Pneumonia
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan merupakan proses pengumpulan data secara sistematis untuk memperoleh informasi mengenai kondisi pasien secara menyeluruh, meliputi identitas pasien, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta pola fungsi kesehatan.
a. Identitas Pasien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Alamat
- Tanggal masuk rumah sakit
- Diagnosa medis
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama
a) Batuk berdahak
b) Sesak napas
c) Demam
d) Nyeri dada - Riwayat Penyakit Sekarang
a) Awitan sesak napas
b) Lama batuk
c) Warna dan jumlah sputum
d) Riwayat demam
e) Riwayat kontak dengan penderita infeksi saluran napas - Riwayat Penyakit Dahulu
a) Asma
b) PPOK
c) Tuberkulosis
d) Diabetes melitus
e) Penyakit jantung - Riwayat Penyakit Keluarga
a) Penyakit paru
b) Penyakit infeksi menular
c. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum
a) Lemah
b) Gelisah
c) Kesadaran compos mentis atau menurun pada kondisi berat - Tanda-Tanda Vital
a) Suhu tubuh meningkat
b) Frekuensi napas meningkat
c) Nadi meningkat
d) Saturasi oksigen menurun - Sistem Respirasi
a) Penggunaan otot bantu napas
b) Bunyi napas ronki/crackles
c) Batuk produktif
d) Sputum purulen
e) Sianosis
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Nutrisi
a) Nafsu makan menurun
b) Intake cairan menurun - Pola Eliminasi
a) Tidak ada keluhan khusus
b) Konstipasi akibat penurunan aktivitas - Pola Aktivitas dan Istirahat
a) Mudah lelah
b) Aktivitas terbatas
c) Gangguan tidur akibat batuk dan sesak - Pola Persepsi dan Kognitif
a) Pasien mengeluh nyeri dada
b) Pasien tampak cemas
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan data yang ditemukan selama pengkajian dan mengacu pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).
- D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- D.0003 Gangguan Pertukaran Gas
- D.0005 Pola Napas Tidak Efektif
- D.0130 Hipertermia
- D.0056 Intoleransi Aktivitas
- D.0074 Defisit Nutrisi
- D.0080 Ansietas
3. Perencanaan (Intervensi)
| SDKI | SLKI | SIKI | Rasional |
|---|---|---|---|
| D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif | L.01001 Bersihan Jalan Napas meningkat dengan kriteria hasil: batuk efektif meningkat, sputum menurun, ronki menurun | I.01011 Manajemen Jalan Napas Observasi: monitor pola napas, monitor bunyi napas tambahan, monitor sputum. Terapeutik: posisikan semi fowler, lakukan fisioterapi dada, lakukan suction bila perlu. Edukasi: ajarkan batuk efektif dan napas dalam. Kolaborasi: kolaborasi pemberian bronkodilator dan mukolitik | Membantu mempertahankan kepatenan jalan napas dan mempermudah pengeluaran sekret |
| D.0003 Gangguan Pertukaran Gas | L.01003 Pertukaran Gas membaik dengan kriteria hasil: saturasi oksigen meningkat, sianosis menurun, sesak berkurang | I.01026 Terapi Oksigen dan I.01014 Pemantauan Respirasi Observasi: monitor saturasi oksigen dan AGD. Terapeutik: berikan oksigen sesuai indikasi. Edukasi: anjurkan teknik relaksasi napas. Kolaborasi: kolaborasi pemeriksaan AGD | Meningkatkan oksigenasi dan mencegah hipoksia jaringan |
| D.0005 Pola Napas Tidak Efektif | L.01005 Pola Napas membaik dengan kriteria hasil: frekuensi napas normal, penggunaan otot bantu napas menurun | I.01017 Latihan Pernapasan Observasi: monitor irama dan kedalaman napas. Terapeutik: atur posisi nyaman dan latihan napas dalam. Edukasi: ajarkan teknik pursed lip breathing. Kolaborasi: kolaborasi terapi nebulizer | Membantu meningkatkan ventilasi paru |
| D.0130 Hipertermia | L.14134 Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: suhu tubuh normal, menggigil menurun | I.15506 Manajemen Hipertermia Observasi: monitor suhu tubuh. Terapeutik: berikan kompres hangat dan cairan adekuat. Edukasi: anjurkan istirahat cukup. Kolaborasi: kolaborasi pemberian antipiretik | Membantu menurunkan suhu tubuh dan mengurangi metabolisme berlebih |
| D.0056 Intoleransi Aktivitas | L.05047 Toleransi Aktivitas meningkat dengan kriteria hasil: pasien mampu melakukan aktivitas ringan | I.05186 Manajemen Energi Observasi: monitor respon aktivitas. Terapeutik: bantu aktivitas sesuai toleransi. Edukasi: anjurkan aktivitas bertahap. Kolaborasi: kolaborasi fisioterapi | Mengurangi kelelahan dan meningkatkan toleransi aktivitas |
| D.0074 Defisit Nutrisi | L.03030 Status Nutrisi membaik dengan kriteria hasil: nafsu makan meningkat, berat badan stabil | I.03119 Manajemen Nutrisi Observasi: monitor intake makanan. Terapeutik: berikan diet tinggi kalori tinggi protein. Edukasi: anjurkan makan sedikit tapi sering. Kolaborasi: kolaborasi dengan ahli gizi | Memenuhi kebutuhan nutrisi dan mempercepat proses penyembuhan |
| D.0080 Ansietas | L.09093 Tingkat Ansietas menurun dengan kriteria hasil: pasien tampak tenang dan cemas berkurang | I.09314 Reduksi Ansietas Observasi: identifikasi tingkat kecemasan. Terapeutik: ciptakan lingkungan nyaman. Edukasi: jelaskan prosedur tindakan. Kolaborasi: kolaborasi pemberian terapi sesuai indikasi | Mengurangi kecemasan yang dapat memperberat kondisi pasien |
4. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan kepada pasien secara langsung guna mencapai tujuan kesehatan yang optimal.
- Mengobservasi tanda-tanda vital pasien secara berkala
- Memantau pola napas, bunyi napas, dan saturasi oksigen
- Memberikan posisi semi fowler atau fowler
- Mengajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam
- Memberikan terapi oksigen sesuai program terapi
- Melakukan fisioterapi dada bila diperlukan
- Memberikan nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan pasien
- Memberikan edukasi mengenai penyakit dan pencegahan infeksi
- Berkolaborasi dalam pemberian antibiotik, antipiretik, dan bronkodilator
- Mendokumentasikan seluruh tindakan dan respons pasien
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai respons pasien setelah diberikan tindakan keperawatan dan menentukan apakah masalah keperawatan telah teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
- Bersihan jalan napas membaik
a) Batuk efektif meningkat
b) Sputum berkurang
c) Ronki menurun - Pertukaran gas membaik
a) Saturasi oksigen meningkat
b) Sesak napas berkurang
c) Tidak ada sianosis - Pola napas membaik
a) Frekuensi napas normal
b) Penggunaan otot bantu napas menurun - Hipertermia teratasi
a) Suhu tubuh dalam batas normal
b) Pasien tidak menggigil - Aktivitas meningkat
a) Pasien mampu melakukan aktivitas ringan tanpa sesak - Nutrisi membaik
a) Nafsu makan meningkat
b) Berat badan stabil - Ansietas menurun
a) Pasien tampak lebih tenang
b) Pasien memahami kondisi penyakitnya
Daftar Pustaka
Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Makic, M. B. F., Martinez-Kratz, M., & Zanotti, M. (2023). Nursing diagnosis handbook: An evidence-based guide to planning care (13th ed.). Elsevier.
Brunner, & Suddarth. (2018). Textbook of medical-surgical nursing (14th ed.). Wolters Kluwer.
Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2021). Brunner and Suddarth’s textbook of medical-surgical nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana pneumonia. Kemenkes RI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik. DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar intervensi keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2017). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. EGC.
World Health Organization. (2023). Pneumonia fact sheets. World Health Organization.






