Intradermal
Intradermal (ID) adalah teknik pemberian obat atau cairan dengan cara menyuntikkannya ke dalam lapisan dermis, yaitu lapisan kulit tepat di bawah epidermis. Sudut penyuntikan untuk teknik ini sangat landai, biasanya antara 5° hingga 15°.
Berikut adalah detail mengenai prosedur dan kegunaan injeksi intradermal:
1. Karakteristik Penyuntikan
- Lokasi Umum: Bagian dalam lengan bawah (ventral), punggung bagian atas di bawah tulang belikat, atau dada bagian atas.
- Volume Cairan: Sangat sedikit, biasanya hanya sekitar 0,1 ml.
- Tanda Keberhasilan: Jika dilakukan dengan benar, akan muncul benjolan kecil menyerupai gigitan nyamuk yang disebut sebagai wheal atau bleb di permukaan kulit.
2. Kegunaan Utama
Injeksi intradermal jarang digunakan untuk pengobatan sistemik karena penyerapannya yang sangat lambat. Kegunaan utamanya meliputi:
- Skin Test (Tes Alergi): Untuk melihat apakah pasien memiliki reaksi alergi terhadap obat tertentu (seperti antibiotik golongan penisilin) sebelum diberikan dosis penuh secara intravena.
- Tes Tuberkulin (Mantoux Test): Untuk mendeteksi apakah seseorang pernah terpapar bakteri penyebab Tuberkulosis (TBC).
- Vaksinasi: Contoh yang paling umum adalah vaksin BCG untuk mencegah TBC dan beberapa jenis vaksin rabies atau influenza.
3. Keunggulan dan Kelemahan
- Keunggulan: Memungkinkan tenaga medis untuk mengamati reaksi tubuh secara langsung pada permukaan kulit (seperti kemerahan atau pembengkakan).
- Kelemahan: Hanya bisa menampung volume cairan yang sangat terbatas dan memerlukan ketelitian teknis yang tinggi agar jarum tidak masuk terlalu dalam ke jaringan lemak (subkutan).
4. Perbandingan dengan Teknik Lain
| Jenis Injeksi | Lapisan Target | Sudut Jarum |
|---|---|---|
| Intradermal (ID) | Dermis (Kulit) | 5° – 15° |
| Subkutan (SC) | Jaringan Lemak | 45° |
| Intramuskular (IM) | Otot | 90° |
| Intravena (IV) | Pembuluh Darah Vena | 25° |
Ekspor ke Spreadsheet
Penting dalam Farmasi/Hukum Kesehatan: Dalam melakukan skin test, area suntikan biasanya diberi lingkaran menggunakan pena dan tidak boleh ditekan atau diusap dengan alkohol setelah penyuntikan. Hal ini bertujuan agar reaksi yang muncul (jika ada) dapat diukur secara akurat setelah 15–30 menit.
