Supositoria
Supositoria adalah sediaan obat padat berbentuk peluru, kerucut, atau lonjong yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam lubang tubuh (biasanya anus/rektum, namun bisa juga melalui vagina atau uretra).
Obat ini akan meleleh, melunak, atau larut pada suhu tubuh dan melepaskan zat aktifnya untuk memberikan efek lokal atau sistemik.
Daftar Isi
1. Mengapa Menggunakan Supositoria?
Metode ini dipilih oleh tenaga medis dalam kondisi tertentu:
- Pasien Tidak Bisa Menelan: Digunakan untuk pasien yang sedang koma, terus-menerus muntah, atau pasien balita yang sulit minum obat oral.
- Obat Rusak oleh Asam Lambung: Beberapa zat aktif akan hancur jika terkena asam lambung, sehingga jalur dubur menjadi alternatif terbaik.
- Efek Lokal: Untuk mengatasi masalah langsung di area rektum, seperti ambeien (wasir) atau sembelit.
- Kecepatan Penyerapan: Rektum memiliki banyak pembuluh darah, sehingga obat dapat diserap langsung ke aliran darah tanpa harus melewati hati terlebih dahulu (menghindari first-pass metabolism).
2. Jenis-Jenis Supositoria
- Rektal (Dubur): Paling umum digunakan. Berbentuk seperti peluru untuk memudahkan masuk ke anus. Digunakan untuk obat demam (Parasetamol), pencahar (Bisacodyl), atau wasir.
- Vagina (Ovula): Berbentuk telur/lonjong. Biasanya mengandung antibiotik atau antijamur untuk mengatasi infeksi di area kewanitaan.
- Uretra: Sangat jarang digunakan, dimasukkan ke saluran kemih (biasanya pada pria untuk masalah disfungsi ereksi tertentu).
3. Cara Penggunaan yang Benar
Karena bentuknya yang unik, penggunaan supositoria memerlukan langkah khusus:
- Persiapan: Cuci tangan hingga bersih. Jika supositoria terasa lunak (karena suhu ruangan), masukkan ke dalam kulkas atau siram air dingin dalam kemasannya selama beberapa menit hingga mengeras kembali.
- Pelumasan: Buka kemasan perak/plastiknya. Basahi ujung supositoria dengan air atau pelumas berbasis air agar licin.
- Posisi: Berbaring miring ke samping dengan kaki bawah lurus dan kaki atas ditekuk ke arah perut.
- Pemasangan: Masukkan supositoria dengan bagian ujung yang runcing terlebih dahulu ke dalam anus menggunakan jari telunjuk. Dorong cukup dalam (sekitar 2–3 cm pada dewasa) agar tidak keluar lagi.
- Setelah Pemasangan: Rapatkan kaki dan tetap berbaring selama kurang lebih 5 menit agar obat tidak merosot keluar dan dapat meleleh sempurna di dalam.
4. Hal Penting untuk Diperhatikan
- Suhu Penyimpanan: Supositoria wajib disimpan di tempat yang sejuk (suhu di bawah 25°C) atau di dalam lemari es (bukan freezer) agar tidak meleleh sebelum digunakan.
- Jangan Dipotong: Kecuali atas instruksi dokter/apoteker, supositoria sebaiknya tidak dipotong karena pembagian zat aktifnya mungkin tidak merata.
- Efek Samping: Terkadang muncul rasa ingin buang air besar segera setelah dimasukkan; cobalah untuk menahannya sejenak agar obat terserap maksimal.
Aspek Hukum & Etika (Perspektif Mahasiswa Hukum)
Dalam praktik keperawatan dan kedokteran, pemberian supositoria termasuk tindakan yang bersifat privasi dan sensitif:
- Privasi Pasien: Secara hukum dan etika, tenaga medis wajib menjaga privasi pasien (menutup gorden/pintu) dan memberikan penjelasan yang jelas sebelum melakukan tindakan ini untuk menghindari tuduhan pelecehan atau ketidaknyamanan pasien.
- Delegasi Tindakan: Jika tindakan ini didelegasikan kepada perawat atau anggota keluarga, edukasi mengenai cara memasukkan dan kedalaman yang tepat menjadi tanggung jawab hukum tenaga medis yang memberikan instruksi guna mencegah cedera pada jaringan mukosa rektum.
Tips: Selalu periksa tanggal kedaluwarsa pada kemasan. Jangan gunakan supositoria yang sudah berubah warna atau berbau tidak sedap.
