A. DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Deskripsi klinis mengenai pewarnaan kuning pada kulit dan sklera bayi baru lahir yang terjadi akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi di dalam sirkulasi darah yang melebihi 2 mg/dL dalam 24 jam setelah kelahiran.
Whaley & Wong (Hockenberry & Wilson) Kondisi hiperbilirubinemia yang ditandai dengan manifestasi ikterus, yaitu warna kuning yang terlihat pada kulit, membran mukosa, dan sklera karena pengendapan pigmen bilirubin yang tidak larut dalam lemak pada jaringan tersebut.
American Academy of Pediatrics (AAP) Suatu kondisi klinis pada neonatus usia gestasi 35 minggu atau lebih yang mengalami peningkatan kadar bilirubin serum total, di mana penilaian risiko dilakukan berdasarkan kadar bilirubin spesifik jam kehidupan untuk mencegah terjadinya neurotoksisitas bilirubin.
World Health Organization (WHO) Gejala klinis yang umum ditemukan pada minggu pertama kehidupan bayi, disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia) yang jika tidak dikelola dengan tepat dapat menyebabkan kerusakan otak permanen (kernikterus).
Doenges, Moorhouse, & Murr Masalah keperawatan yang muncul akibat ketidakmampuan hati neonatus yang belum matang untuk memproses dan mengekskresikan bilirubin dari pemecahan sel darah merah secara efektif, yang mengakibatkan perubahan warna kekuningan pada tubuh bayi secara sefalokaudal.
B. DEFINISI ILMIAH
Ikterik neonatus adalah manifestasi klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan membran mukosa neonatus yang terjadi setelah 24 jam kelahiran. Kondisi ini disebabkan oleh akumulasi bilirubin tak terkonjugasi di dalam sirkulasi darah dan jaringan, yang melampaui kemampuan eliminasi hepar neonatus yang belum matang secara fungsional.
C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
Penyebab terjadinya ikterik neonatus secara patofisiologis berkaitan dengan gangguan pada proses pembentukan, transportasi, konjugasi, atau ekskresi bilirubin. Faktor-faktor pemicunya meliputi:
- Penurunan Berat Badan Abnormal Kehilangan berat badan >7–8% pada bayi dengan ASI eksklusif atau >15% pada bayi cukup bulan akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat.
- Pola Makan Inefektif Frekuensi menyusui yang kurang dari 8–12 kali per hari pada awal kelahiran.
- Hambatan Maturitas Organ Ketidakmampuan transisi hepar dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin secara optimal.
- Keterlambatan Eliminasi Mekonium Memperpanjang siklus enterohepatik bilirubin.
- Faktor Usia Risiko meningkat pada neonatus dengan usia kurang dari 7 hari.
D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)
Berdasarkan standar diagnosis, tanda dan gejala objektif yang harus ditemukan meliputi:
- Profil Darah Abnormal: Hemolisis atau kadar bilirubin serum total >2 mg/dL.
- Ikterik Visual: Pewarnaan kuning pada sklera, membran mukosa, dan kulit (mengikuti distribusi sefalokaudal sesuai Hukum Kramer).
E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Tujuan intervensi adalah untuk meningkatkan Adaptasi Neonatus (L.10098) dengan kriteria hasil sebagai berikut:
- Berat badan neonatus meningkat atau stabil.
- Derajat pewarnaan kuning pada membran mukosa, kulit, dan sklera menurun secara signifikan.
- Kadar bilirubin serum dalam rentang aman sesuai usia gestasi dan jam kehidupan.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Tindakan klinis yang diprioritaskan meliputi:
Fototerapi Neonatus (I.03091)
- Observasi: Melakukan monitoring ikterik secara berkala, memantau suhu tubuh (waspada hipertermia), dan memantau status hidrasi melalui output urine serta berat badan.
- Terapeutik: Mempersiapkan lampu fototerapi sesuai standar, memastikan tubuh terpapar maksimal (bayi hanya menggunakan popok), serta melindungi retina dengan eye protector (biliband).
- Kolaborasi: Pemeriksaan kadar bilirubin serum secara serial (direk dan indirek).
Perawatan Bayi (I.10338)
- Edukasi: Mendorong ibu untuk memberikan ASI eksklusif sesering mungkin (setiap 2–3 jam) untuk merangsang peristaltik usus dan ekskresi bilirubin melalui feses.
- Monitoring: Memantau tanda-tanda vital bayi secara rutin.
G. TANDA DAN GEJALA
Mayor:
Subjektif: Tidak ada
Objektif:
- Profil darah abnormal (hemolisis Bilirubin serum total > 2 mg/dL).
- Membran mukosa kuning.
- Kulit kuning.
- Sklera kuning.
Minor:
Subjektif: Tidak ada.
Objektif: Tidak ada.
H. KONDISI KLINIS TERKAIT
Beberapa kondisi klinis terkait yang dapat berkontribusi pada diagnosis Ikterik Neonatus [D.0024] meliputi:
- Prematuritas.
- Inkompatibilitas golongan darah (seperti ABO atau Rh).
- Infeksi pada bayi baru lahir (neonatus).
- Hepatitis neonatal.
- Penyakit hati lainnya.
- Kerusakan hati akibat paparan toksin.
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation. Clinical Practice Guideline Revision.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. 11th Edition. St. Louis: Elsevier.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2020). Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. 2nd Edition. Geneva: WHO Press.






