Istilah pembelajaran emosional bisa jadi cukup asing di telinga sebagian orang. Padahal, hal ini sangat penting untuk dipahami khususnya bagi kalangan tenaga pengajar masa kini. Ada yang jadi guru? ~Konsep Organisasi
Izza Faizah
Para tenaga pengajar sekarang harus lebih maju dalam mengikuti perkembangan jaman termasuk soal sistem pembelajaran.
Saat ini, dikenal istilah pembelajaran emosional yang nyatanya punya banyak dampak tehadap keseharian anak didik di sekolah.
Lantas apa pembelajaran sosial emosional atau social and emotional Learning (SEL) tersebut? Penjelasan berikut sepertinya akan sangat membantu memberikan referensi dan wawasan untuk hal tersebut.
Apa Itu Pembelajaran Emosional?
Social and Emotional Learning (SEL) atau pembelajaran sosial emosional mengacu pada pendekatan pendidikan.
Yang bertujuan untuk membantu anak didik supaya lebih memahami sekaligus dapat mengelola emosi dengan baik.
Selain itu, SEL juga dapat membantu agar mereka mudah menetapkan tujuan positif, menunjukan rasa empati, membangun hubungan sehat hingga membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Pendidikan ini sangat penting diajarkan sejak dini sebab dapat berpengaruh tehadap kesuksesannya di sekolah, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.
Organisatoris lain juga baca ini: Tujuan Jawa Hokokai Adalah: 9 Pembentukan
Prof. Dr. E. Mulyasa, M.Pd., mengungkapkan jika pembelajaran emosional tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan karakter.
Menurutnya, penguatan karakter anak didik hanya bisa tercapai jika sistem pendidikan memberikan ruang untuk pengembangan aspek emosional dan sosial sejak dini.
Pentingnya Pembelajaran Emosional

Pembelajaran emosional menjadi aspek penting dalam keberhasilan seseorang, baik di dunia pendidikan maupun kehidupan sosial.
Berikut beberapa poin yang menjelaskan bagaimana pentingnya pembelajaran sosial emosional di masa kini:
1.Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sosial and emotional learning (SEL).
Merupakan pendidikan yang mengajarkan tentang bagaimana cara mengenali, memahami, mengelola emosi, membangun empati.
Menjalani kehidupan sehat hingga mampu mengambil keputusan bertanggung jawab.
Di sini, pembelajaran sosial emosional akan langsung berpengaruh terhadap peningkatan kesadaran diri peserta didik.
Dengan begitu, mereka akan mampu memotivasi dirinya sendiri, memahami kekuatan dan kelemahannya hingga punya tujuan yang jelas.
Selain itu, sosial and emotional learning (SEL) juga berkaitan degan peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil belajar ditentukan oleh banyak faktor, seperti kecemasan dan lingkungan belajar. Siswa yang mengalami stres atau kecemasan saat belajar cenderung memiliki performa akademik yang lebih rendah.
Nah, dengan sosial and emotional learning (SEL), siswa terbukti mampu mengelola stress, marah, dan frustasi yang muncul sebagai tantangan belajar.
Begitu pula dengan lingkungan belajar, siswa yang punya rasa empati tinggi dan bisa menjalin hubungan baik dengan teman.
Serta guru akan cenderung lebih nyaman hingga berhasil mendapatkan hasil terbaik.
2.Memperbaiki Kedisiplinan dan Gaya Belajar
Menurut Goleman, siswa yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab pribadi, mampu berperilaku sesuai dengan norma dan aturan serta menyadari pentingnya keteraturan dalam proses belajar.
Dalam pembelajaran emosional, peserta didik akan di ajarkan tentang tanggung jawab pribadi dan sosial, termasuk konsekuensi dari setiap keputusan.
Hal-hal yang di pelajari seperti kedisiplinan waktu, tugas, dan aturan kelas sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
Selain itu, gaya belajar siswa sebenarnya juga di pengaruhi oleh faktor emosi.
Pada umumnya, siswa yang merasa tidak percaya diri, selalu cemas dan mudah frustasi cenderung memiliki gaya belajar tidak teratur.
Pembelajaran sosial emosional bisa membantu siswa mengenali gaya belajar yang paling cocok dengan karakter dan emosinya sendiri.
Contohnya belajar visual, audio atau kinestetik sesuai suasana hati dan kondisi mental masing-masing.
3.Mengoptimalkan Interaksi Sosial
Ketrampilan emosional yang dimiliki oleh siswa akan membantu mereka untuk lebih mudah berteman dan bekerja sama.
Mampu membangun komunikasi dua arah secara sehat, cenderung memilih menghindari konflik yang tak perlu hingga menjadi pendengar yang baik.
Lalu bagaimana dengan dampak yang ditimbulkan?
Tentu saja lingkungan belajar menjadi harmonis. Seluruh peserta didik merasa lebih nyaman untuk terlibat dalam setiap proses pembelajaran hingga aktivitas kelompok.
Bahkan, hubungan yang sehat dan supportif tersebut juga akan terjalin di lingkungan keluarga serta masyarakat.
4.Mempengaruhi Kemampuan Penilaian Auntentik Guru
Ternyata, sosial and emotional learning (SEL) tidak hanya bermanfaat bagi peserta didik saja, namun juga untuk para guru, terutama dalam penilaian autentik.
Penilaian autentik sendiri yaitu proses memberi nilai pada siswa melalui tugas-tugas nyata.
Yang mencerminkan kemampuan mereka dalam kehidupan sehari-hari seperti diskusi, portofolio, kerja kelompok dan lainnya.
Di sini, guru dapat terdorong untuk memberikan penilaian yang reflektif dan manusiawi.
Para guru yang menerapkan pembelajaran sosial emosional cenderung akan memberikan penilaian yang bijaksana, tidak menghakimi namun mendampingi dan mendorong siswa merefleksikan diri.
Menurut Goleman, guru yang memiliki empati tinggi lebih mampu memberikan feed back yang membangun (bukan menjatuhkan).
Contohnya saja dalam tugas proyek, guru yang menerapkan sosial and emotional learning (SEL) pasti tidak hanya akan melihat hasil akhir.
Mereka justru melihat bagaimana siswa berproses dan belajar dari kesalahan.
Terapan Pembelajaran Emosional di Sekolah

Implementasi pembelajaran sosial emosional di sekolah tidak hanya berbentuk mata pelajaran khusus.
Tetapi juga terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Ada beberapa contoh konkret yang paling sederhana yaitu sebagai berikut:
1.Adanya “Zona Emosi” Dalam Kelas Sebagai Media Pengelolaan Emosi Diri
Tidak banyak orang tau, jika ada program pendidikan bertajuk “Gerakan Sekolah Menyenangkan”.
Beberapa SD di Indonesia sudah mulai menerapkan program tersebut. Salah satu yang di lakukan yaitu adanya “Zona Emosi” di kelas yang berupa pojok refleksi atau warna emosi.
Jadi, sebelum memulai pelajaran semua peserta didik di minta menunjukkan perasaan mereka menggunakan warna.
Organisatoris lain juga baca ini: PPN 2025: Sektor yang Terancam Terkena Peraturan
Contohnya seperti hijau = tenang, merah = marah, atau kuning = cemas. Tujuan program ini adalah agar guru dapat menyadari dan mengelola emosi mereka sebelum memulai aktivitas pembelajaran.
2.Dorong Siswa Untuk Mencari Teman Baru
Pembelajaran sosial emosional tidak lepas dari yang namanya interaksi sosial.
Maka, salah satu penerapan dari pendidikan tersebut adalah dengan mendorong siswa untuk mencari teman baru di lain golongan mereka.
Menurut Zuchi, seorang guru besar Universitas Negeri Yogyakarta, jika pendidikan karakter yang kuat melibatkan kecerdasan emosional.
Maka mereka perlu diajarkan untuk melakukan interaksi sosial langsung, bukan hanya lewat teori saja.
Peran guru tinggal memberikan tantangan pada siswa untuk duduk dengan teman yang berbeda saat makan siang.
Dorong mereka untuk memulai percakapan. Selanjutnya, minta mereka bercerita tentang pengalamannya dengan teman tersebut dan menuliskannya pada jurnal.
3.Role Play Komunikasi Aktif
Program lain yang bisa di terapkan sebagai implementasi pembelajaran sosial emosional adalah dengan permainan role play.
Di sini, peserta didik di minta untuk duduk berpasangan kemudian di arahkan saling bercerita. Cerita yang di sampaikan boleh tentang pengalaman menyenangkan maupun tidak.
Sementara itu, peserta didik lainnya bertindak sebagai pendengar walaupun masih boleh bertanya apabila ada cerita yang di rasa kurang jelas.
Pihak pendengar harus berusaha mendengarkan cerita temannya dengan penuh kesadaran (tidak melakukan menginterupsi).
Pendengar boleh bertanya seperti “lalu?” atau “apa yang terjadi?” dan sebagainya.
Jika sudah selesai, ajak mereka bergantian. Setelah masing-masing mendapat giliran, ajak mereka merefleksikan diri tentang apa yang di rasakan baik saat menjadi pendengar maupun bercerita.
4.Pembelajaran Berbasis Proyek Sosial
Pembelajaran berbasis proyek sosial, juga efektif dalam meningkatkan kecerdasan emosional.
Banyak aktivitas yang bisa di lakukan untuk mendukung pembelajaran ini seperti kerja bakti, acara penggalangan dana, kegiatan osis, hingga tanggung jawab sosial.
Hal lain yang bisa di lakukan adalah dengan memberikan kesempatan untuk belajar kelompok.
Belajar kelompok bisa menjadi alternatif dalam meningkatkan kompetensi dan empati para siswa.
Menurut Daniel Goleman, anak yang cerdas emosional terbukti mampu mengatasi konflik, mudah beradaptasi dan bekerja sama dengan teman sebayanya.
5.Refleksi Emosi Melalui Jurnal Harian
Tidak sedikit anak maupun kalangan remaja yang merasa kesulitas untuk melakukan komunikasi secara verbal.
Nah, membuat jurnal atau menulis bisa menjadi solusi. Hal tersebut dapat mempermudah para peserta didik dalam mengekspresikan diri dengan cara berbeda.
Begitu juga pihak guru, menjadi lebih mudah melakukan refleksi dengan komunikasi langsung maupun via tulisan.
Dalam jurnal, peserta didik boleh menuliskan apa saja yang membuat mereka marah, senang, atau cemas serta penjelasan bagaimana mereka meresponnya.
Dampak Pada Aspek Keseharian Anak

Pembelajaran emosional yang di berikan pada anak, apalagi sejak usia dini akan berdampak pada kesehariannya.
Dampak yang di timbulkan pun ke arah positif sehingga sangat dianjurkan untuk diajarkan seperti di antaranya:
1.Anak Menjadi Jauh Lebih Tenang (Tidak Mudah Marah)
Sosial and emotional learning (SEL), mengajarkan peserta didik untuk mengenali sekaligus mengatur emosinya.
Dengan begitu, anak menjadi lebih mudah mengendalikan perasaannya sendiri saat sedang kesal atau kecewa.
Selain itu, mereka tidak akan langsung menangis, membentak bahkan marah yang meledak-ledak.
Contoh kasusnya seperti saat anak kalah bermain, alih-alih marah dan membentak lawannya.
Mereka cenderung hanya menanggapi dengan berkata “Aku kecewa, tapi tidak apa, mungkin aku bisa mencoba lagi di kesempatan lain”.
2.Prestasi Akademik Meningkat
Menurut CASEL, program sosial and emotional learning (SEL) dapat meningkatkan kepedulian sosial, penurunan perilaku agresif hingga pencapaian nilai akademik.
Hal ini dikarenakan anak bisa lebih mudah mengatur emosinya. Sehingga, cenderung lebih tenang saat menghadapi ujian, mudah memusatkan perhatian hingga memahami pelajaran.
Selain itu, oleh karena pembelajaran sosial emosional bisa membantu anak mengendalikan emosi, maka mereka lebih termotivasi untuk belajar.
Contohnya ketika menemukan pelajaran yang sulit, mereka tidak akan menyerah justru makin berusaha.
3.Anak Menjadi Makin Percaya Diri
Dari yang pemalu menunjukkan performa depan kelas, Sosial and emotional learning (SEL) bisa membuat anak-anak makin percaya diri untuk tampil.
Organisatoris lain juga baca ini: Qurban Baznas | 6 Aturan Wajib
Mereka juga bersemangat untuk mencoba hal baru sampai berani menyampaikan pendapat tanpa takut salah.
Kadang, anak-anak apalagi masih kecil tidak berani maju bahkan hanya disuruh membaca depan kelas.
Pembelajaran ini membantu mereka percaya diri maju mencoba membaca walaupun belum lancar, sebab mereka yakin bisa belajar.
4.Anak Lebih Jujur dan Bertanggung Jawab
Sosial and emotional learning (SEL) mengajarkan peserta didik untuk bisa mengambil keputusan terbaik.
Dengan begitu, anak pasti tahu mana yang benar dan salah. Hal ini akan membuat anak jauh lebih jujur dan berani mengakui kesalahan.
Misalnya, saat anak tidak sengaja menumpahkan air, mereka cenderung tak akan menyalahkan orang lain dan bilang “maaf, tidak sengaja”.
5.Makin Disiplin dan Teratur
Dampak paling nyata adalah anak-anak terlihat makin disiplin dan teratur dalam keseharian.
Contohnya saat mengerjakan tugas, mereka akan berusaha bertanggung jawab dengan menyelesaikan tepat waktu tanpa perlu diingatkan.
Itu dia tadi penjelasan tentang pembelajaran emosional. Pembelajaran tersebut bisa menjadi pilar penting dalam pendidikan holistik.
Tidak hanya membantu menyiapkan anak-anak untuk sukses secara akademik, namun juga menjadi manusia yang lebih bermakna.
Sumber:
- Ricky Avandra, Neviyarni S Irdamurni, 2023, Pembelajaran Sosial Emosional Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Sekolah Dasar, Universitas Negeri Padang.
- Edita Darmayanti, Ferdinandus E.Dole, 2021, Maria Kristina Ota, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kedisiplinan Belajar Peserta Didik di Sekolah Dasar, Universitas Flores Ende.
- Ondang Permata Sari, Eva Imania Eliasa, 2021, Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja Usia 12-15 Tahun Mempengaruhi Gaya Belajar Siswa : Studi Literatur, Universitas Negeri Yogyakarta.
- Saparwadi, Ahmad Sahrandi, 2021, Mengenal Konsep Daniel Goleman dan Pemikirannya Dalam Kecerdasan Emosi, Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan.
- Id.Scribd.com
