Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)

Standar Diagnosa
Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)

Berikut ini Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) yang berjumlah 149 yang bersumber dari organisasi resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Pembagian Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) Berdasarkan Kategori

Berikut ini bisa menjadi sumber kepada para Akademisi, Praktisi dan mahasiswa keperawatan dalam hal pembagian SDKI sesuai dengan kategori, dengan menggunakan ICNP International Classification for Nursing Practice, yakni sebagai berikut:

Bacaan Lainnya

1. Fisiologis

Subkategori: Respirasi

a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

b. Gangguan Penyapihan Ventilator (D.0002)

c. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

d. Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004)

e. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

f. Risiko Aspirasi (D.0006)

Subkategori: Sirkulasi

a. Gangguan Sirkulasi Spontan (D.0007)

b. Penurunan Curah Jantung (D.0008)

c. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)

d. Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan (D.0010)

e. Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011)

f. Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif (D.0012)

g. Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif (D.0013)

h. Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0014)

i. Risiko Perfusi Renal Tidak Efektif (D.0015)

j. Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0016)

k. Risiko Perdarahan (D.0017)

l. Risiko Syok (D.0039)

Subkategori: Nutrisi dan Cairan

a. Berat Badan Lebih (D.0018)

b. Defisit Nutrisi (D.0019)

c. Diare (D.0020)

d. Disfungsi Motilitas Gastrointestinal (D.0021)

e. Hipervolemia (D.0022)

f. Hipovolemia (D.0023)

g. Ikterus Neonatus (D.0024)

h. Kesiapan Peningkatan Keseimbangan Cairan (D.0025)

i. Kesiapan Peningkatan Nutrisi (D.0026)

j. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027)

k. Menyusui Tidak Efektif (D.0029)

l. Obesitas (D.0030)

m. Risiko Berat Badan Lebih (D.0031)

n. Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)

o. Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)

p. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)

q. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0038)

Subkategori: Eliminasi

a. Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)

b. Inkontinensia Fekal (D.0041)

c. Inkontinensia Urin Berlanjut (D.0042)

d. Inkontinensia Urin Berlebih (D.0043)

e. Inkontinensia Urin Fungsional (D.0044)

f. Inkontinensia Urin Stress (D.0045)

g. Inkontinensia Urin Urgensi (D.0046)

h. Kesiapan Peningkatan Eliminasi Urin (D.0047)

i. Konstipasi (D.0049)

j. Retensi Urin (D.0050)

k. Risiko Konstipasi (D.0052)

Subkategori: Aktivitas dan Istirahat

a. Disorganisasi Perilaku Bayi (D.0053)

b. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

c. Gangguan Pola Tidur (D.0055)

d. Intoleransi Aktivitas (D.0056)

e. Keletihan (D.0057)

f. Kesiapan Peningkatan Tidur (D.0058)

g. Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi (D.0059)

h. Risiko Intoleransi Aktivitas (D.0060)

Subkategori: Neurosensori

a. Disrefleksia Otonom (D.0061)

b. Gangguan Memori (D.0062)

c. Gangguan Stimulus Visual (D.0063)

d. Konfusi Akut (D.0064)

e. Konfusi Kronis (D.0065)

f. Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (D.0066)

g. Risiko Konfusi Akut (D.0067)

Subkategori: Reproduksi dan Seksualitas

a. Disfungsi Seksual (D.0069)

b. Pola Seksual Tidak Efektif (D.0071)

c. Risiko Disfungsi Seksual (D.0072)

d. Risiko Kehamilan Tidak Dikehendaki (D.0073)

2. Psikologis

Subkategori: Nyeri dan Kenyamanan

a. Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)

b. Nausea (D.0076)

c. Nyeri Akut (D.0077)

d. Nyeri Kronis (D.0078)

e. Nyeri Melahirkan (D.0079)

Subkategori: Integritas Ego

a. Ansietas (D.0080)

b. Berduka (D.0081)

c. Distres Spiritual (D.0082)

d. Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

e. Gangguan Identitas Diri (D.0084)

f. Keputusasaan (D.0088)

g. Kesiapan Peningkatan Konsep Diri (D.0089)

h. Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090)

i. Kesiapan Peningkatan Koping Komunitas (D.0091)

j. Ketidakberdayaan (D.0092)

k. Ketidakpatuhan (D.0114)

l. Penurunan Koping Keluarga (D.0093)

m. Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko (D.0099)

n. Waham (D.0105)

Subkategori: Pertumbuhan dan Perkembangan

a. Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)

b. Risiko Gangguan Perkembangan (D.0107)

c. Risiko Gangguan Pertumbuhan (D.0108)

3. Perilaku

Subkategori: Kebersihan Diri

a. Defisit Perawatan Diri (D.0109)

Subkategori: Penyuluhan dan Pembelajaran

a. Defisit Pengetahuan (D.0111)

b. Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif (D.0115)

c. Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0116)

d. Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif (D.0117)

4. Relasional

Subkategori: Interaksi Sosial

a. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)

b. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)

c. Isolasi Sosial (D.0121)

d. Penampilan Peran Tidak Efektif (D.0125)

e. Risiko Gangguan Perlekatan (D.0127)

5. Lingkungan

Subkategori: Keamanan dan Proteksi

a. Defisit Kesehatan Komunitas (D.0110)

b. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)

c. Hipertermia (D.0130)

d. Hipotermia (D.0131)

e. Perilaku Kekerasan (D.0132)

f. Perlambatan Pemulihan Pascabedah (D.0133)

g. Risiko Cedera (D.0136)

h. Risiko Infeksi (D.0142)

i. Risiko Jatuh (D.0143)

j. Risiko Luka Tekan (D.0144)

k. Termoregulasi Tidak Efektif (D.0149)

Sejarah SDKI

Sejarah lahirnyanya Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) merupakan tonggak penting dalam transformasi profesi keperawatan di Indonesia. Sebelum adanya standar ini, praktik keperawatan di Indonesia cenderung menggunakan referensi asing yang sering kali tidak selaras dengan konteks budaya dan hukum lokal.

Berikut adalah uraian sejarah perkembangan SDKI secara kronologis:

A. Era Pra-Standarisasi (Sebelum 2016)

Ketergantungan pada Standar Asing: Selama puluhan tahun, institusi pendidikan dan rumah sakit di Indonesia merujuk pada standar internasional, terutama NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association International).

Kendala Bahasa dan Budaya: Penggunaan istilah asing sering menimbulkan hambatan komunikasi (misinterpretasi) dan sulit diaplikasikan sepenuhnya pada sistem kesehatan di Indonesia.

Ketidakseragaman Dokumentasi: Tanpa standar nasional, setiap rumah sakit memiliki format dan istilah diagnosis yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk melakukan audit mutu asuhan keperawatan secara nasional.

B. Proses Inisiasi dan Penyusunan (2014 – 2016)

Amanat Undang-Undang: Lahirnya UU Keperawatan No. 38 Tahun 2014 menjadi pendorong utama. Undang-undang ini mengamanatkan bahwa perawat wajib memberikan asuhan keperawatan sesuai standar profesi.

Pembentukan Pokja SDKI: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) membentuk Kelompok Kerja (Pokja) SDKI. Tim ini terdiri dari:
a. Pakar keperawatan dari berbagai universitas (akademisi).
b. Praktisi keperawatan dari berbagai rumah sakit pusat.
c. Perwakilan dari ikatan dan himpunan spesialis keperawatan.

Riset dan Adaptasi: Pokja melakukan telaah mendalam terhadap ribuan data diagnosis, melakukan sinkronisasi dengan International Classification for Nursing Practice (ICNP), serta menguji validitas terminologi yang sesuai dengan kebijakan kesehatan di Indonesia.

C. Peluncuran Resmi (Desember 2016)

Penerbitan Edisi 1: SDKI Edisi 1 resmi diterbitkan dan diluncurkan oleh PPNI pada 29 Desember 2016.

Tujuan Utama: Menjadi acuan tunggal bagi perawat dalam menegakkan diagnosis keperawatan guna meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

D. Era Implementasi dan Integrasi (2017 – Sekarang)

Sosialisasi Nasional: PPNI melakukan sosialisasi masif ke seluruh DPW (Provinsi) dan DPD (Kabupaten/Kota) untuk menyeragamkan pemahaman para perawat.

Lahirnya Standar Pelengkap: Untuk melengkapi proses asuhan, PPNI kemudian menyusun:
a. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) pada tahun 2018.
b. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) pada tahun 2018.

Digitalisasi: Di era saat ini, SDKI mulai diintegrasikan ke dalam sistem informasi rumah sakit (SIMRS) dan aplikasi digital untuk mempercepat pendokumentasian berbasis kode (misalnya: D.0001, D.0002).

E. Dampak bagi Profesi Keperawatan

Hadirnya SDKI secara historis mengubah kedudukan perawat menjadi lebih profesional karena:

Otonomi Klinis: Memiliki landasan hukum yang kuat dalam menentukan masalah kesehatan pasien secara mandiri (mandiri keperawatan).

Keadilan Data: Data keperawatan di Indonesia kini memiliki statistik yang jelas (misalnya: diagnosis apa yang paling sering muncul di Indonesia), yang sangat berguna untuk riset dan kebijakan kesehatan pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *