Tanda Mayor dan Minor SDKI, Definisi dan Perbedaan

Tanda Mayor dan Minor dalam SDKI
Tanda Mayor dan Minor dalam SDKI

Apa itu tanda Mayor dan Minor, bagaimana pengertian dan perbedaan keduanya? Kajian ini menjadi hal penting bagi mahasiswa dan profesi kesehatan sebab kadang tdk bisa membedakan keduanya.

Benarkah bahwa hal tersebut harus 80%, bagaimana jika hanya 79%?

Bacaan Lainnya

Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), penentuan sebuah diagnosis tidak secara sembarangan, melainkan harus memenuhi kriteria indikator diagnostik yang terdiri dari tanda dan gejala.

Berikut adalah penjelasan mengenai maksud dan perbedaan antara Tanda Mayor dan Tanda Minor:

A. Maksud dan Definisi Tanda Mayor Minos

1. Tanda dan Gejala Mayor

Tanda mayor adalah indikator klinis yang paling valid dan memiliki frekuensi kemunculan yang tinggi dalam populasi untuk mendukung sebuah diagnosis.

Dalam aturan SDKI, sebuah diagnosis keperawatan baru dapat kita tegakkan jika minimal 80% sampai 100% tanda mayor terdapat pada pasien. Dalam bentuk tanda dan gejala secara subjektif maupun objektif.

2. Tanda dan Gejala Minor

Adapun Tanda minor adalah indikator klinis yang tidak selalu ada dan nampak pada setiap kasus, namun jika muncul, tanda ini akan memperkuat atau mendukung validitas diagnosis tersebut. Tanda minor biasanya bersifat melengkapi gambaran klinis pasien.

Tanda ini tidak menjadi sebuah keharusan dalam penegakan sebuah diagnosa. Ada dan tidak adanya bukanlah hal “mesti”.

B. Perbedaan Subjektif dan Objektif (Tanda Mayor/Minor)

Dalam hal mayor minor tersebut keluhan akan terbagi menjadi subjektif dan objektif.

Baik pada kategori Mayor maupun Minor, data terbagi menjadi dua jenis berdasarkan sumber perolehannya, yakni:

1. Data Subjektif

  • Maksud: Data yang perolehan dari hasil anamnesis atau wawancara langsung kepada pasien atau keluarga. Dan mereka harus mengucapkan secara lisan.
  • Karakteristik: Bersifat persepsual (apa yang menjadi keluhan pasien). Dan ini sangat subjektif.
  • Contoh: Klien mengaluh pusing, Klien merasa haus, klien merasakan nyeri, atau keluarga klien mengatakan bahwa keluarganya (pasien) sesak napas.

2. Data Objektif

  • Maksud: Data yang merupakan hasil langsung oleh perawat melalui observasi, pemeriksaan fisik, atau hasil pemeriksaan penunjang (laboratorium/radiologi). Yakni perawat melihatnya, meraba, mendengarkan dari data tersebut.
  • Karakteristik: Dapat diukur dan dilihat secara nyata oleh tenaga kesehatan.
  • Contoh: Tekanan darah 90/60 mmHg, turgor kulit menurun, hasil natrium serum rendah.

C. Tabel Perbandingan Karakteristik

KarakteristikTanda MayorTanda Minor
Bobot ValiditasSangat Tinggi (Wajib ada)Pendukung (Opsional)
Syarat DiagnosisHarus ditemukan minimal 80%Tidak ada syarat minimal persentase
Fungsi UtamaMenentukan tegaknya diagnosisMemperjelas gambaran kondisi pasien
KehadiranSering muncul pada kasus tersebutMuncul hanya pada sebagian pasien

D. Contoh Implementasi pada Diagnosis SDKI

Sebagai ilustrasi, kita ambil diagnosis Hipovolemia (D.0023):

1. Tanda Mayor

  • Objektif: Frekuensi nadi meningkat, turgor kulit menurun, tekanan darah menurun. (Tanpa adanya data objektif ini, perawat tidak bisa langsung menyimpulkan Hipovolemia).

2. Tanda Minor

  • Subjektif: Mengeluh haus.
  • Objektif: Konsentrasi urin meningkat, berat badan turun tiba-tiba. (Data ini memperkuat keyakinan perawat bahwa pasien memang kekurangan cairan).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *