A.DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia): Konstipasi adalah penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak. Kondisi ini berfokus pada perubahan kebiasaan buang air besar yang mengakibatkan ketidaknyamanan fisik.
Brunner & Suddarth: Suatu kondisi abnormal di mana terdapat gangguan pada frekuensi defekasi, volume feses, serta peningkatan kekerasan feses. Kondisi ini sering kali merupakan gejala dari penyakit dasar atau gangguan fungsional kolon dan rektum.
Potter & Perry: Gangguan pada saluran pencernaan yang ditandai dengan feses yang keras, kering, dan sulit dikeluarkan, yang sering kali disebabkan oleh pergerakan sisa makanan yang lambat melalui usus besar, sehingga air terlalu banyak diserap.
World Gastroenterology Organisation (WGO): Kondisi klinis yang ditandai dengan frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali seminggu, adanya kesulitan saat mengeluarkan feses (mengejan), atau perasaan tidak tuntas (inkomplit) setelah defekasi.
NANDA International: Penurunan frekuensi normal defekasi yang disertai dengan pengeluaran feses yang sulit atau tidak lengkap dan/atau pengeluaran feses yang sangat keras dan kering.
B. DEFINISI ILMIAH
Konstipasi merupakan manifestasi klinis yang ditandai dengan penurunan frekuensi defekasi normal yang disertai dengan pengeluaran feses yang sulit atau tidak tuntas, serta tekstur feses yang kering dan keras. Secara fisiologis, kondisi ini terjadi akibat perlambatan transit feses di dalam kolon, yang menyebabkan penyerapan air secara berlebihan oleh mukosa usus besar.
C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Penyebab terjadinya konstipasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa faktor pemicu:
Faktor Fisiologis
- Penurunan Motilitas Gastrointestinal: Sering terjadi pada kondisi imobilisasi atau penuaan.
- Ketidakadekuatan Asupan Serat dan Cairan: Serat berfungsi meningkatkan volume feses dan merangsang peristaltik, sementara cairan menjaga konsistensi feses agar tetap lunak.
- Kelemahan Otot Abdomen: Menurunkan tekanan intra-abdomen yang diperlukan untuk proses ekspulsi feses.
Faktor Psikologis
- Gangguan emosional, depresi, atau kondisi konfusi yang memengaruhi refleks defekasi.
Faktor Situasional
- Perubahan kebiasaan makan, lingkungan toilet yang tidak memadai, atau aktivitas fisik yang kurang dari anjuran harian.
D. KRITERIA DIAGNOSIS (INDIKATOR KLINIS)
Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan temuan data mayor dan minor sebagai berikut:
Data Mayor
Subjektif: Laporan defekasi kurang dari 2 kali seminggu; pengeluaran feses terasa lama dan sulit.
Objektif: Feses teraba keras; peristaltik usus menurun (kurang dari 5-30 kali per menit).
Data Minor
Subjektif: Mengejan saat defekasi (valsalva maneuver).
Objektif: Distensi abdomen; adanya massa pada rektal (skibala); teraba massa pada kolon saat palpasi.
E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Tujuan utama intervensi adalah tercapainya Eliminasi Fekal Membaik (L.04033) dengan kriteria hasil:
- Kontrol pengeluaran feses meningkat.
- Keluhan defekasi lama dan sulit menurun.
- Mengejan saat defekasi menurun.
- Konsistensi feses dan frekuensi defekasi kembali ke rentang normal.
- Nyeri dan distensi abdomen berkurang/hilang.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Tindakan yang dilakukan mencakup manajemen eliminasi secara mandiri maupun kolaboratif melalui Manajemen Konstipasi (I.04155):
Observasi
- Monitor tanda dan gejala konstipasi (frekuensi, konsistensi, volume); identifikasi faktor risiko (obat-obatan, diet).
Terapeutik
- Lakukan masase abdomen sesuai arah peristaltik; sediakan makanan tinggi serat; berikan air hangat setelah makan.
Edukasi
- Anjurkan peningkatan asupan cairan (jika tidak ada kontraindikasi); ajarkan cara mencatat pola eliminasi.
Kolaborasi
- Pemberian agen farmakologis seperti pencahar (laksatif) atau supositoria jika diperlukan.
G. KONDISI KLINIS TERKAIT
Beberapa kondisi klinis yang sering berhubungan atau menjadi penyebab terjadinya diagnosa Konstipasi [D.0049] meliputi:
- Stroke
- Diabetes melitus
- Kehamilan
- Obesitas
- Imobilitas (penurunan aktivitas fisik)
- Tindakan pembedahan
- Penggunaan obat-obatan tertentu (mis. opioid, antasida mengandung alumunium, obat antiparkinson)
- Demam
- Lansia
- Cedera medula spinalis
- Penyakit Hirschsprung
DAFTAR PUSTAKA
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2021-2023. Oxford: Thieme.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.
World Gastroenterology Organisation (WGO). (2018). WGO Global Guidelines: Constipation – A Global Perspective. Milwaukee: World Gastroenterology Organisation.






