Pan Xiaoting, Induk Organisasi Biliar Asia
Pan Xiaoting, Pemain Biliar Dari Induk Olahraga Asia (Foto: Naviri)

Induk Organisasi Biliar: Olahraga Lintas Zaman dan Kelas

Diposting pada

Olahraga lintas batas dan zaman, Biliar (Bilyard) memiliki Induk Organisasi, peraturan dan sejarah dari permainan alat mahal dengan pemain dari berbagai kalangan

Retno Lestari, Olahraga – Organisasi.co.id

Salam olahraga, organisatoris! Kali ini, kita berkenalan dengan olahraga billiard. Apa tuh?

Olahraga biliar merupakan olahraga tradisional yang kemudian telah berkembang dalam dunia olahraga modern, dengan organisasi pengembangan merujuk pada struktur induk.

Saat ini, olahraga biliar sudah masuk menjadi salah satu cabang perlombaan di Indonesia.

Di dalam acara olahraga tingkat nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), ataupun tingkat internasional seperti Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games.

Ada yang bilang sama dengan pool, ada yang bilang juga kalau itu sebutan lain untuk olahraga bola sodok.

Baca organisasi lain: Induk Organisasi Dunia Olahraga, 71 Nasional Dan Internasional

Daripada hanya tahu dari ‘katanya-katanya’ orang, lebih baik sobat organisatoris simak informasi berikut ini.

Sejarah Billiard

Olahraga biliar meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Eropa. Dahulu, keturunan bangsawan maupun rakyat biasa turut memainkan olahraga ini.

Tetapi, ternyata biliar merupakan hasil dari evolusi, dari permainan luar ruangan ke dalam ruangan. Lalu seperti apa ya biliar di luar ruangan?

Kalau sobat organisatoris menebak biliar di luar ruangan sama-sama berada di atas meja, tidak begitu.

Pendahulu kita memainkan olahraga ini di atas rumput. Khususnya, mereka yang tinggal di Eropa Utara dan Perancis. Tidak ada yang mengetahui sebutan permainan ini saat itu. Hanya saja, bentuk permainannya serupa dengan kroket.

Bola Dan Stick Biliar
Bola Dan Stick Biliar (Foto:Epjok)

Waktu itu, permainan dengan mendorong bola menuju target. Orang Perancis menyebut bola ‘bille’. Alat mendorongnya adalah tongkat kayu. Salah satu jenis alat pendorongnya disebut ‘billiart’.

Hubungan antara tongkat kayu dan bola sodok memang memungkinkan menjadi asal usul istilah ‘billiard’.

Namun, belum ada literatur yang mengungkap kepastian spekulasi tersebut.

Hal yang pasti adalah bahwa permainan ini sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Eropa di sekitar tahun 1600-an. Sampai-sampai, William Shakespeare mengabadikannya dalam karya berjudul Antony dan Cleopatra.

Seperti dugaan kita pada masa itu, permainan biliar semakin meluas. Buku pertama tentang peraturan biliar juga terbit di sekitar tahun itu.

Sobat organisatoris bisa lhoo berpetualang menelusuri sejarah biliar. Pertama, melalui film “The Hustler” tahun 1961.

Film ini berkisah tentang seorang penipu biliar. Kedua, melalui sekuelnya. Judulnya adalah “The Color of Money”.

Film tahun 1986 itu menceritakan pemain profesional biliar yang membawa biliar ke generasi baru dengan cara berbeda.

Kedua film di atas di sebut-sebut berpengaruh terhadap kebudayaan biliar yang terbentuk.

Termasuk pengubahan terhadap kamar-kamar biliar yang ada. Mulai dari yang biasa digunakan kelas atas maupun rakyat biasa.

Sejak saat itu, stigma kamar biliar yang pada 1920 lekat dengan perkumpulan liar mulai pudar.

Baca organisasi lain: Induk Organisasi Basket Nasional dan Internasional, Sejak 1891

Jenis-Jenis Permainan Biliar

Di Inggris, ada penyebutan Biliar Inggris. Klaimnya, istilah tersebut melekat pada permainan biliar dengan tiga bola dan enam kantong (lubang bola) di atas meja persegi panjang besar.

Permainan ini kemudian menjadi tradisi di sana pada tahun 1770 hingga 1920-an. Euforia biliar Inggris serupa dengan euforia permainan bisbol di Amerika.


Kalau di Indonesia, mungkin serupa euforia sepak bola. Semua kalangan bisa duduk menonton bersama pertandingannya maupun memainkannya di kehidupan sehari-hari.

Xiaofang Fu Pemain Paling Cantik
Xiaofang Fu Pemain Biliar Dengan Cara Bermain Yang Hebat (Foto: Wartainfo)

Selain itu, ada permainan biliar Amerika. Popularitas biliar Amerika berlangsung sampai tahun 1870-an.

Sebutan permainan biliar Amerika yaitu American Four-Ball Billiard. Seperti namanya, ada empat bola yang digunakan.

Dua bola berwarna merah dan dua bola berwarna putih. Kantongnya juga ada empat. Masyarakat memainkannya di atas meja besar berukuran 11-12 kaki.

Perbedaan dari kedua macam biliar di atas adalah jumlah bola dan kantong. Demikian pula dengan jenis permainan Fifteen Ball Pool atau 61-Pool, Eight-Ball, Straight Pool, dan Nine-Ball.

Fifteen Ball Pool menggunakan 15 bola yang diberi nomor satu sampai lima belas.

Sebutan lainnya 61-Pool karena permainannya menggunakan sistem poin. Jadi, total poin pada seluruh bola adalah 120.

Ketika ada pemain yang mengantongi bola dan mengumpulkan 61 poin (setengah dari seluruh poin), maka pemain tersebut adalah pemenangnya. Sementara itu, Eight-Ball, Straight Pool, dan Nine-Ball baru muncul sekitar tahun 1900-1920-an.

Macam-macam jenis permainan biliar tersebut berasal dari kekhasan setiap masyarakatnya. Sebab, biliar muncul dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Eropa dulu untuk menghilangkan kejenuhan di sela-sela kesibukan.

Peralatan dan Istilah Khusus dalam Permainan Biliar

Istilah ‘biliar’ bisa jadi memang benar berasal dari bahasa Perancis. Apalagi mengetahui bahwa tongkat dan bola adalah unsur utama permainan ini. Tanpa keduanya, maka tidak mungkin ada biliar.

Tongkat biliar dikembangkan pada akhir tahun 1600-an. Tongkatnya terdiri dari bagian kepala, badan, dan pegangan tongkat, Dahulu, gada berfungsi sebagai tongkat dalam biliar.

Ujung gada atau kepala tongkat yang sangat besar, meembuat para pemain mengakalinya.

Ketika bola berada di lokasi sempit, mereka akan memutarbalikkan tongkat. Alias, pegangan tongkat berubah menjadi kepala tongkat.

Bermain Biliard
Bermain Biliar (Foto: Arsitag)

Baru kemudian, tongkat yang semula gada tersebut mengalami berbagai inovasi.

Sampai akhirnya berwujud tongkat biliar yang kita gunakan saat ini. Namanya yaitu pool cue atau stik.

Untuk bola, ada istilah cue ball atau bola putih. Sebagian pemain juga menyebutnya ‘gaco’.

Bola putih ini adalah bola pertama yang harus tersodok pemain untuk menggerakkan bola lainnya.

Nah, nama untuk bola lainnya itu tidak memiliki istilah khusus. Sobat organisatoris bisa menyebutnya ball atau bola saja.

Selanjutnya, meja biliar adalah pool tables atau pool saja. Meja ini merupakan bidang datar tempat permainan berlangsung. Meja berbentuk persegi panjang berukuran 50 x 100 inchi.

Di meja ini ada kelengkapan lain yaitu diamond. Alat tersebut untuk mengukur jalannya bola berdasarkan sudut-sudut yang terbentuk.

Peralatan dasar terakhir yaitu chalk. Kalau sobat organisatoris pernah memperhatikan, pemain seringkali mengoleskan sesuatu kepada tongkat. Itu biasa berlaku sebelum mereka menyodok bola. Itulah chalk, berguna untuk mengantisipasi bola terpeleset dari cue.

Selain nama-nama alatnya, berikut ini beberapa istilah yang lazim berguna dalam permainan biliar, yakni:

  • Pocket atau kantong, merupakan tempat bola masuk di meja.
  • Grip yaitu gengaman tangan pemain ketika mendorong bola masuk.
  • Bridge, merupakan penghubung antara stik dengan bola putih.
  • Scratch, sebutan bagi situasi ketika bola putih masuk ke dalam kantong atau keluar dari meja permainan.
  • Missed cue, sebutan bagi situasi melesetnya stik ketika mendorong bola putih.

Teknik dan Peraturan Bermain Biliar

Ada beberapa peraturan umum. Yang diterapkan hampir di semua jenis biliar. Mengenai apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan selama bermain biliar, yaitu:

  • Setiap pemain tidak boleh mengintimidasi pemain lainnya.
  • Walk over semacam diskualifikasi bisa dikenakan terhadap pemain apabila melanggar waktu toleransi keterlambatan. Baik kehadiran maupun durasi pemukulan bola.
  • Ketika memukul bola, kaki pemain harus menyentuh lantai setidaknya satu kaki. Jika tidak maka hal itu foul.
  • Apabila bola cue ball masuk ke kanton, maka hal itu sebagai pelanggaran.
  • Bagian tubuh maupun pakaian pemain yang mengenai bola di dalam meja, merupakan pelanggaran.
  • Tidak boleh menaruh stik di atas meja permainan.
  • Tidak boleh memukul bola ketika masih ada bola yang bergerak di atas meja permainan.

Setelah memahami minimal peraturan  di atas dengan baik, waktunya sobat organisatoris belajar bermain biliar. Teknik-tekniknya apa saja ya?

Ada empat teknik dasar. Pertama, stop shoot. Caranya yaitu dengan memukul bola putih tepat di tengah-tengah.

Jika kita lakukan dengan tepat dan sejajar, bola tidak akan melaju terlalu lambat atau cepat. Artinya, bola akan berhenti di tempat.

Kedua, follow shoot. Teknik ini bisa berguna kalau sobat organisatoris ingin bola bergerak cepat.

Caranya yaitu dengan memukul bola putih di titik tengah sedikit ke atas. Akibatnya, pukulan akan menghasilkan sudut pantul yang lebih sempit sehingga laju bola cepat.

Ketiga, spin shoot. Caranya yaitu dengan memukul bola putih di titik sedikit ke kanan atau ke kiri. Bergantung ke arah mana kita menginginkan bola putih bergerak. Jika ke kanan, maka pukul di titik sedikit ke kiri. Karena teknik ini, bola bisa bergerak ke arah yang tidak terduga atau bahkan memantul ke sisi-sisi meja.

Keempat, draw shoot. Teknik ini adalah kebalikan dari teknik follow shoot. Karena, bola putih dipukul di titik tengah sedikit ke bawah. Cara ini akan memberikan efek berupa gerakan mundur pada bola.

Induk Organisasi Olahraga Biliar Nasional dan Internasional

Ada nggak sih organisasi biliar di Indonesia? Kan asalnya jauh dari Eropa.

Ya ada dong!

Baca juga Organisasi lain: Induk Organisasi Atletik: Olahraga Dunia Sejak 2250 SM

Induk Organisasi Biliar Indonesia

Di Indonesia, terdapat struktur induk organisasi permainan ini bernama Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI).

Yang mewadahi semua club dan pemain biliar setiap daerah. POBSI juga memiliki cabang di berbagai daerah.

Saat ini, Hary Tanoesoedibjo adalah Ketua Umum dari Pengurus Besar POBSI (PB POBSI). Beliau bersama sejumlah pengurus menjabat pada periode masa bakti tahun 2019-2023.

Logo POBSI Induk Olahraga Biliar Indonesia
Logo Resmi POBSI (Foto:Pobsi.org)

POBSI berdiri di Indonesia pada tanggal 9 Oktober 1953. Bukan dari tokoh ternama, olahraga biliar bisa masuk begitu saja ke kehidupan masyarakat.

Kemudian, masyarakatlah yang semakin mengangkat eksistensi olahraga biliar di Indonesia.

Tentu saja sobat organisatoris bisa mengetahui lebih banyak tentang POBSI atau bergabung menjadi anggotanya.

Alamat sekretariat POBSI pusat ada di Pintu VII Stadion Utama, Gelora Bung Karno, Senayan, RT 8/RW 1, Pasar Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Bisa juga mendatangi sekretariat terdekat di daerah masig-masing.

Induk Organisasi Biliyard Tingkat Dunia

Sesudah bicara POBSI nasional, inilah organisasi biliar tingkat internasional.

Pada level dunia, olahraga ini memiliki organisasi bernama World Pool-Billiard Asociation (WPA).

WPA berdiri di German pada November tahun 1987. Pendirian WPA merupakan hasil dari kesepakatan forum federasi biliar Eropa.

Logo Induk Organisasi Biliar Dunai WPA Pool
Logo WPA Pool (Foto:Wpapool)

Tidak lama setelahnya, Asian Pocket Billiard Union (APBU) terbentuk. Di bawah APBU inilah, POBSI bergerak.

Meskipun induknya adalah WPA, Indonesia bersama negara-negara Asia yang bermain biliar tergabung di dalam APBU.

Kemudian Kazuo Fujima dari Jepang yang membuka peluang Asia berpartisipasi di European Championships di Stockholm, Sweden.

Dari sana, perkembangan turnamen biliar internasional terus terjadi.

Saat ini, WPA memiliki berbagai kategori turnamen. Mulai dari Turnamen 9-Ball untuk laki-laki, perempuan, dan tingkat junior.

Ada juga Turnamen 8-Ball untuk laki-laki dan Turnamen 10-Ball untuk perempuan maupun laki-laki.

Jadi, sobat organisatoris mau ikut turnamen yang mana?

Mimpi dulu, lalu wujudkan. Semangat dan terus berlatih ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *