Contoh Teori Organisasi Klasik: 14 Konsep dasar Aliran

contoh teori organisasi klasik

Berbagai teori organisasi bermunculan, salah satunya adalah teori organisasi klasik. Saat ini contoh teori organisasi klasik telah jarang muncul karena banyaknya sisi merugikan yang terkandung di dalamnya. Namun sebenarnya teori ini juga memberikan keadilan bagi para karyawan.

Tika, Konsep organisasi.co.id

Bacaan Lainnya

Teori Organisasi Klasik

Organisasi klasik mulai berkembang di abad 19. Ia muncul dengan penggambaran akan sebuah lembaga yang memiliki pusat dan tugas-tugas terbagi-bagi. Dalam teori ini terkandung makna bahwa petunjuk teknis suatu pekerjaan bersifat kaku sehingga sulit bagi pelaku untuk berkreativitas.

Keadaan ini mirip dengan diktator yang mengharuskan semua berjalan sesuai aturan dan sistem yang berlaku. Bahkan ketika jaman telah berubah, apapun yang ada dalam organisasi ini tidak boleh berubah. Contoh teori organisasi klasik adalah apa yang terjadi dalam sistem organisasi kerajaan.

Organisatoris lain baca ini: Organisasi Fungsional Tingkat Molekul: 2 Contoh Bagan

Organisasi Klasik Menurut Para Ahli

organisasi kepemudaan
organisasi pemuda (organisasi.co.id)

Contoh organisasi klasik pada jaman dulu cukup banyak sesuai dengan pendapat para ahli mengenai hal itu. Mereka memiliki pandangan amsing-masing mengenai jenis organisasi ini. Mereka adalah:

a. Mitchell

Beliau berpendapat bahwa dulu pada kisaran tahun 2000 Sebelum Masehi, terdapat pemikiran mengenai organisasi di Yunani dan Romawi. Kala itu organisasi yang banyak muncul adalah Gereja serta Negara yang merupakan sebutan bagi negara kota. Jadi teori organisasi klasik adalah apa yang dianut oleh Gereja dan Negara.

Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran seperti Aristoteles terkait organisasi negara. Revolusi Industri di Inggris menjadi salah satu faktor pencetus oganisasi di dunia dan membawa perubahan di sisi sosial, teknologi, dan ekonomi. Lahirlah masalah baru yang memaksa adanya organisasi untuk mengelola manajemen yang ada.

Bahkan saat itu pengelolaan juga berlaku secara individualis. Lama-lama sistem ini runtuh. Mitchell kemudian juga menyimpulkan bahwa di dalam teori organisasi klasik terdapat asumsi jika organisasi selalu mempunyai struktur yang logis dan rasional secara pencapaian efisiensi maupun ekonomis.

Jika manusia adalah makhluk rasional maka akan sangat mudah untuk mencapai kepentingan mereka apalagi terkait peingkatan upah dan produktivitas pekerja.

Jadi dalam organisasi klasik, pusat perhatian ada pada penciptaan suatu teknik-teknik yang bersifat rasional. Hal itu mengarah dalam bentuk koordinasi dan akhirnya membuat hubungan-hubungan yang baik dari suatu organisasi. Teori ini yakin jika pendekatan rasional akan membantu pencapaian suatu tujuan.

b. Max Weber

Max Weber memiliki pendapat mengenai teori organisasi klasik dan kaitannya dengan prinsip-prinsip yaitu peraturan yang tegas dan sanagt jelas, memiliki ruang lingkup kompetensi yang sangat jelas, serta memiliki sumber dari kewenangan yang merupakan keterampilan keahlian, kompetensi, dan teknis.

Selain itu para staf administrasi juga harus berpisah kedudukananya dengan pemilik modal. Bahkan sebuah organisasi juga harus memiliki sistem dan prosedur yang terpisahkan dari kepemimpinan. Ini adalah salah satu cara untuk membuat keputusan yang objektif dan rasional.

Dalam contoh teori organisasi klasik terdapat prinsip hierarki. Artinya bagian-bagian yang berada di posisi lebih rendah akan selalu berada di bawah perintah. Mereka juga selalu berada di bawah pengawasan dari mereka yang memiliki posisi lebih tinggi. Jadi garis komunikasi akan bersifat vertikal.

Semua aturan-aturan dan kaitannya dengan keputusan akan terarsip secara tertulis sehingga tidak menjadi rahasia.

Tindakan-tindakan tersebut akan terbagi atas prinsip-prinsip struktural dan prinsip-prinsip prosesual. Dalam prinsip strukural, pekerjaan bukan sesuatu yang mudah karena bersifat emosional sekaligus efisien. Dengan demikian konflik kepentingan menjadi minimum.

Secara sesuatu akan bersifat umum dan tegas terutama dengan adanya perumusan fungsi yang tegas dan jelas. Orang-orang di dalam birokrasi akan menempati kedudukan yang tepat.

Sedangkan aspek prosesual merupakan akar dari model birokrasi. Hal ini mengndung konsep kekuasaan dan otoritas yang sah dalam hal melakukan kontrol. Orang yang menerima tugas dapat menggunakannya untuk pihak lain dengan catatan pihak tersebut berada di bawahnya.

Tiga otoritas seseorang yaitu otoritas birokratis, otoritas kharismatik, dan otoritas tradisionl. Masing-masing otoritas tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda namun secara bersama-sama menyatu dalam satu tujuan.

c. Taylor

Dalam teorinya, ia memiliki perhatian yang bersar dalam hal peningkatan produktivitas para pekerja. Ia memiliki gagasan akan cara terbaik dalam melakukan pekerjaan sehingga dari sinilah manajemen ilmiah lahir.

Caranya adalah dengan menganalisa pekerjaan secara ilmiah melalui studi mengenai kegiatan dan waktu yang detail. Beliau juga berpendapat bahwa dalam Teori organisasi klasik seharusnya terdapat proses selesi, standarisasi, hingga proses penempatan dan pelatihan yang mudah.

Dengan demikian kita dapat menjadi tahu mengenai keahlian yang cocok pada bidang pekerjaan tertentu. Pemberian insentif bagi pekerja adalah salah satu cara meningkatkan efisiensi kerja. Jadi terdapat kaitan antara produktivitas dengan penghargaan ekonomis.

d. Fayol

Contoh teori organisasi klasik bagi Fayol adalah mengenai bagaimana cara memecahkan fungsional kegiatan yang bersifat administratif. Kegiatan administrasi meliputi perencanaan, pengorganisasian, perintah, koordinasi, hingga kontrol. Sebenarnya ini merupakan pengembangan lanjutan dari teori Taylor.

Inilah yang menjadi dasar-dasar dan fungsi dalam manajemen. Empat belas dasar-dasar tersebut antara lain adanya:

  • Disiplin
  • Pembagian kerja
  • Tanggung jawab
  • Kepentingan umum lebih utama daripada kepentingan individu
  • Kesatuan perintah
  • Pemberian upah pekerja
  • Kesatuan arah
  • Rantai perintah
  • Sentralisasi
  • Keadilan
  • Ketertiban
  • Inisiatif
  • Kestabilan masa kerja pekerja
  • Semangat jiwa kesatuan

Bahkan akhirnya prinsip-prinsip ini menjadi contoh bagi ahli lainnya.

e. Luther Gulick dan Lyndall Urwick

Satu pemikiran dengan Fayol, mereka menemukan teori klasik dengan prinsip-prinsip seperti penempatan orang-orang yang tepat di dalam struktur organisasi dan pengakuan dari seseorang yang berada di posisi puncak sebagai sumber wewenang.

Adapun prinsip lainnya adalah adanya kaitan dengan perintah, penggunaan staf umum dan khusus, pelimpahan serta penggunaan prinsip-prinsip pengecualian, membentuk departemenisasi berdasarkan proses, tujuan, orang, dan tempat, mempertimbangkan pengawasan yang tepat, dan menempatkan tanggung jawab agar sepadan dengan wewenang.

f. James D. Mooney dan Alan C. Reiley

Menurut mereka, pengembangan struktur organisasi adalah struktur piramida walaupun itu merupakan organisasi klasik. Otoritas yang jelas dan pengembangan tugas akan muncul di situ. Mereka juga melihat bahwa koordinasi adalah aspek penting di setiap pergerakan organisasi. Jadi koordinasi adalah induk berbagai prinsip.

Mereka juga menambahkan bahwa adanya prinsip koordinasi sangat penting untuk menyatukan macam-macam tindakan sehingga dapat mencapai tujuan yang objektif.

Ada pula prinsip jenjang dengan penggambaran susunan hierarki atas organisasi bahkan di dalam pendelegasian wewenang yang muncul.

Prinsip lainnya merupakan penyusunan fungsi di sebuah pengorganisasian tugas-tugas yang ada menjadi bagian unit-unit di dalam suatu departemen. Terakhir adalah mengenai prinsip staf yang menggambarkan perbedaan dalam tugas mereka.

Cirinya adalah dengan melihat perilaku organisasi klasik di dalamnya.

Ciri-Ciri Organisasi Klasik

teori organisasi klasik
Perumpamaan organisasi (tabloidmitra.com)

Sebagai tambahan pengetahuan bagi kita, untuk mempermudah pemahaman mengenai organisasi klasik, ada baiknya kita memperdalam ciri-ciri organisasi tersebut. Mulai dari bagaimana mereka membagi tugas, bagaimana sistem organisasi yang ada termasuk juga bahasan mengenai hukuman dan hadiah untuk pekerja dalam organisasi tersebut.

Pembagian Kerja

Pendapat para ahli yang telah kita bahas sebelumnya menggambarkan adanya pembagian kerja yang sesuai dengan bidang tertentu yang diperlukan di dalam organisasi tersebut. Dari sinilah pemimpin memiliki kemampuan untuk mengevaluasi kinerja bawahannya.

Tanggung jawab

Saat adanya tugas di bidang tertentu, seseorang akan memiliki tanggung jawab. Bilamana mereka tidak bertanggungjawab maka mereka akan mendapatkan sanksi. Tanggung jawab tersebut tentunya harus sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

Pengarahan dari Pemimpin

Dalam organisasi klasik, kita mengenal adanya perintah dari pemimpin. Perintah itu terkesan kaku demi mencapai tujuan organisasi dengan lebih cepat. Pimpinan memegang kuasa penuh. Semua keputusan berada di tangannya termasuk pemberian hadiah atau hukuman bagi pekerja.

Sanksi

Organisasi klasik memiliki sanksi yang tegas. Jika mereka lalau dari tanggung jawab, maka hukuman telah menanti. Seperti inilah sistem tradisionl yang tidak dapat berubah dengan seketika.

Organisasi klasik untuk saat ini telah jarang kita temukan. Kebanyakan organisasi maupun perusahaan telah mencantumkan prinsip kebersamaan dan gotong royong dalam asas mereka. Dengan demikian kesejahteraan anggota dapat terjalin dengan baik sebagaimana pada Koperasi.

Memang bukan berarti di Indonesia hal ini sudah tidak ada sama sekali. Masih ada perusahaan yang bersifat kaku dalam segi aturan dan juga kesejahteraan karyawannya. Dalam sebuah organisasi, apabila hal itu tidak menguntungkan dua belah pihak, masih ada Undang-Undang di Indonesia yang akan menuntutnya.

Jadi di negara kita karyawan juga memiliki hak untuk hidup layak, terjamin kesehatannya, dan masih banyak hak lainnya termasuk cuti. Untuk urusan penghargaan dan lainnya memang kembali kepada organisasi masing-masing. Apabila karyawan bekerja dengan baik seharusnya ia mendapatkan hadiah atas kerja kerasnya.

Tidak ada kreativitas

Jangan harap seorang pekerja bisa berkreasi dengan tugasnya. Bahkan mengetahui cara kerja bagian lain pun kemungkinan besar tidak akan bisa. Mereka hanya akan menekuni bidang yangitu-itu saja selama mungkin bertahun-tahun.

Bisa dibilang para pekerja adalah mesin berjalan. Mereka tunduk pada aturan dan sudah hafal letak tatanan dan lainnya dari apa yang mereka kerjakan. Dari sinilah lantas produktivitas kerja meningkat karena mereka sangat menguasai bagian mereka.

Untuk urusan ini memang sebaiknya pemimpin mencari solusi untuk menjaga kesejahteraan karyawan. Lama kelamaan mereka akan merasa jenuh dan bisa saja memutuskan berhenti bekerja.

Organisatoris lain baca ini: Gerakan Dasar Wushu: 5 Makna gerakan Wushu

Penutup

Teori organisasi klasik memberikan beberapa poin penting yang perlu kita ingat. Sekalipun bersifat kaku, namun teori ini mengedepankan pembagian kerja dan aturan yang jelas. Setiap orang dalam sebuah organisasi mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka.

Akan tetapi seiring dengan berkembangnya jaman, beberapa ahli juga menyatakan adanya sikap-sikap yang dapat membantu menyejahterakan anggota organisasi. Keadilan menjadi salah satu prinsipnya termasuk juga hukuman. Kesannya teori organisasi ini memang untuk perusahaan dan karyawan.

Intinya pemimpin harus tetap memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Hanya saja kreativitas pekerja tidak dapat muncul dalam teori organisasi ini. Inilah yang menjadi kekurangan dalam organisasi klasik. Kejenuhan pekerja masih jauh dari pemikiran pimpinan.

Daftar Pustaka

Pengantar Organisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *