A. DEFINISI ILMIAH
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Gangguan menelan adalah fungsi menelan tidak normal atau mengalami defisit pada struktur atau fungsi oral, faring, atau esofagus. Kondisi ini secara spesifik merujuk pada ketidakmampuan untuk memindahkan makanan atau cairan secara aman dari mulut menuju lambung.
ASHA (American Speech-Language-Hearing Association) Disfagia atau gangguan menelan didefinisikan sebagai gangguan pada keamanan, efisiensi, atau kemampuan koordinasi dalam proses menelan. Hal ini melibatkan kesulitan dalam membentuk bolus makanan di mulut hingga masuk ke kerongkongan, yang sering kali berdampak pada risiko penetrasi atau aspirasi ke dalam jalan napas.
WHO (World Health Organization) Gangguan menelan merupakan defisit fungsional yang termasuk dalam klasifikasi gangguan fungsi pencernaan, di mana terdapat hambatan dalam proses mekanis yang memfasilitasi perjalanan nutrisi dan hidrasi dari rongga mulut melalui faring menuju saluran pencernaan bagian bawah.
Bulechek, Butcher, Dochterman, & Wagner (NIC) Gangguan menelan adalah ketidakmampuan untuk menggerakkan makanan dari mulut ke lambung secara efektif karena kerusakan pada fase volunter (mulut) atau fase involunter (faringeal dan esofageal) dari mekanisme menelan.
Logemann (Pakar Rehabilitasi Menelan) Gangguan menelan adalah suatu kondisi di mana terdapat disfungsi pada satu atau lebih dari empat fase menelan (persiapan oral, oral, faringeal, dan esofageal), yang sering kali disebabkan oleh perubahan fisiologis atau anatomi yang menghambat proses pembersihan bolus secara tuntas dan aman.
B. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Pakar keperawatan dan medis mengklasifikasikan penyebab gangguan menelan ke dalam beberapa kategori utama:
- Gangguan Neurologis Kerusakan pada pusat kontrol menelan di otak (misal: Stroke, Cedera Kepala, Penyakit Parkinson) yang mengganggu koordinasi saraf kranial (N.V, N.VII, N.IX, N.X, N.XII).
- Defisit Struktural Adanya obstruksi mekanis seperti tumor esofagus, striktur (penyempitan), atau trauma pada area leher dan tenggorokan.
- Masalah Muskular Kelemahan otot-otot pengunyah dan otot faring yang sering ditemukan pada penderita Myasthenia Gravis atau distrofi otot.
- Faktor Fungsional Penurunan kesadaran atau efek samping tindakan medis (misal: intubasi jangka panjang).
C. KRITERIA DIAGNOSIS (INDIKATOR KLINIS)
Berdasarkan standar diagnosis, tanda dan gejala yang harus divalidasi meliputi:
Data Subjektif
- Pasien mengeluh sulit menelan (dysphagia), merasa ada makanan yang mengganjal di tenggorokan, atau nyeri saat menelan (odynophagia).
Data Objektif
- Batuk sebelum, saat, atau setelah menelan.
- Tersedak saat makan atau minum.Makanan tertinggal di rongga mulut (pocketing).Refluks nasal atau keluarnya makanan melalui hidung.
- Suara serak atau “suara basah” (wet voice) setelah menelan.
D. LUARAN KEPERAWATAN (TARGET HASIL)
Fokus utama hasil yang diharapkan adalah Status Menelan Membaik (L.06052), dengan kriteria:
- Peningkatan kemampuan mengunyah dan mempertahankan makanan di mulut.
- Refleks menelan yang tepat waktu.
- Tidak ada tanda-tanda aspirasi (paru tetap bersih).
- Frekuensi tersedak menurun atau hilang.
E. INTERVENSI KEPERAWATAN TERPADU
Penatalaksanaan komprehensif menurut panduan klinis internasional meliputi:
Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum
- Identifikasi diet yang dianjurkan (misal: tekstur lembut atau cairan kental).
- Posisikan pasien tegak (90 derajat) saat makan dan minimal 30 menit setelah makan untuk mencegah refluks.
Pencegahan Aspirasi
- Monitor tingkat kesadaran dan refleks batuk secara berkala.
- Sediakan peralatan penghisap (suction) di samping tempat tidur untuk keadaan darurat.
Terapi Menelan (Pakar Rehabilitasi)
- Kolaborasi dengan terapis wicara untuk latihan penguatan otot orofaringeal.
- Gunakan teknik modifikasi perilaku menelan seperti Chin-Tuck Maneuver (menekuk dagu saat menelan) untuk melindungi jalan napas.
F. KONDISI KLINIS TERKAIT
Beberapa kondisi klinis yang sering menjadi penyebab atau berhubungan dengan diagnosis Gangguan Menelan antara lain:
Gangguan Neuromuskular:
- Stroke atau Cerebrovascular Accident (CVA
- Trauma Kepala atau Cedera Otak.Penyakit Parkinson.Multiple Sclerosis.Myasthenia Gravis.Guillain-Barré Syndrome.Cerebral Palsy.
- Demensia berat (misal: Alzheimer).
Gangguan Struktural/Mekanis:
- Kanker Kepala dan Leher (mulut, tenggorokan, esofagus).
- Obstruksi Mekanis (misal: tumor, striktur esofagus).Pembesaran Tiroid.Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD) kronis yang menyebabkan jaringan parut.
- Anomali Kongenital (misal: atresia esofagus, sumbing).
Trauma atau Pascabedah:
- Pembedahan di area leher atau tenggorokan.Luka bakar korosif (zat kimia) pada esofagus.
- Post-trakeostomi (tergantung kondisi).
Kondisi Lain:
- Penyakit Jantung Bawaan.
- Prematuritas (pada bayi).
DAFTAR PUSTAKA
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). (2023). Adult Dysphagia: Clinical Topics and Evidence-Based Practice. Maryland: ASHA Press.
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions Classification (NIC). (7th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.
Logemann, J. A. (1998). Evaluation and Treatment of Swallowing Disorders. Austin, Texas: Pro-Ed.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2018). International Classification of Functioning, Disability and Health: Focus on Digestive and Metabolic Functions. Geneva: WHO Publishing.
