DISFUNGSI SEKSUAL (D.0069)

A. DEFINISI

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia): Perubahan fungsi seksual selama fase respon seksual berupa hasrat, terangsang, orgasme, dan/atau resolusi yang dipandang tidak memuaskan, tidak bermakna, atau tidak adekuat.

American Psychiatric Association (DSM-5): Suatu kelompok gangguan yang heterogen yang secara khas ditandai oleh adanya gangguan klinis yang signifikan pada kemampuan seseorang untuk berespon secara seksual atau untuk merasakan kenikmatan seksual.

Bacaan Lainnya

World Health Organization (WHO): Berbagai cara di mana seseorang tidak mampu berpartisipasi dalam hubungan seksual seperti yang mereka inginkan, yang dapat berupa kurangnya minat, kurangnya kenikmatan, kegagalan respon fisiologis yang diperlukan, atau ketidakmampuan untuk mencapai orgasme.

Berman, Snyder, & Frandsen (Kozier & Erb): Suatu kondisi gangguan kesehatan yang melibatkan masalah pada fungsi seksual yang dapat disebabkan oleh faktor organik (fisik), psikogenik (psikologis), atau kombinasi keduanya, yang menghalangi individu atau pasangan untuk menikmati aktivitas seksual.

Marilynn E. Doenges: Perubahan dalam tingkat kepuasan seksual yang dirasakan atau diekspresikan, yang mengakibatkan gangguan pada kualitas hubungan atau konsep diri, sering kali dipicu oleh proses penyakit, cedera, atau masalah psikososial.

    B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

    Penyebab disfungsi seksual bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi antara komponen biologis, psikologis, dan sosial:

    Faktor Bio-Fisik Perubahan struktur tubuh akibat prosedur pembedahan, trauma, efek samping farmakoterapi (seperti antihipertensi atau antidepresan), proses penyakit kronis (diabetes melitus, penyakit kardiovaskular), serta pengaruh radiasi.

    Faktor Psikososial Kurangnya privasi, ketiadaan pasangan, konflik nilai, hingga riwayat penganiayaan fisik atau seksual.

    Faktor Edukasional Kesalahan informasi terkait seksualitas atau kurangnya paparan informasi yang akurat mengenai kesehatan reproduksi.

      C. INDIKATOR KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

      Untuk menegakkan diagnosis ini secara akurat, klinis harus mengidentifikasi minimal 80% dari indikator subjektif berikut (mengingat diagnosis ini dominan pada persepsi pasien):

      1. Laporan perubahan aktivitas atau peran seksual.
      2. Perubahan pada eksitasi (perangsangan) seksual.
      3. Keluhan penurunan hasrat seksual (libido).
      4. Adanya rasa nyeri saat melakukan hubungan seksual (dispareunia).
      5. Perasaan bahwa hubungan seksual yang dilakukan tidak memberikan kepuasan.

      D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

      Tujuan utama dari intervensi keperawatan adalah mencapai Fungsi Seksual Membaik (L.07055). Kriteria keberhasilan secara klinis meliputi:

      1. Peningkatan kepuasan hubungan seksual secara verbal.
      2. Penurunan keluhan nyeri (dispareunia).
      3. Kembalinya hasrat dan eksitasi seksual ke tingkat optimal.
      4. Integrasi aspek fisik dan sosioemosional yang lebih harmonis dalam kinerja seksual.

      E. INTERVENSI KEPERAWATAN MANAJERIAL (SIKI)

      Pendekatan intervensi dibagi menjadi dua strategi utama:

      Edukasi Seksualitas (I.12447)

      • Memberikan pemahaman mendalam mengenai anatomi dan fisiologi sistem reproduksi.
      • Menjelaskan perkembangan seksualitas sesuai siklus kehidupan guna mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan.Mengajarkan komunikasi asertif untuk menghadapi tekanan sosial terkait aktivitas seksual.

      Konseling Seksualitas (I.07214)

        • Memfasilitasi komunikasi terbuka antara pasien dan pasangan.
        • Mengidentifikasi faktor pemicu stres, kecemasan, atau depresi yang berkontribusi pada disfungsi.
        • Memberikan bimbingan spesifik mengenai modifikasi aktivitas seksual sesuai kondisi kesehatan individu.

        F. KONDISI KLINIS TERKAIT

        Kondisi klinis yang sering berkaitan dengan disfungsi seksual meliputi berbagai masalah fisiologis maupun psikologis:

        1. Penyakit kronis: Diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal kronis, kanker, atau penyakit hati kronis.
        2. Gangguan persarafan: Cedera saraf tulang belakang, multiple sclerosis, stroke, atau neuropati diabetik.
        3. Masalah hormon: Hipogonadisme (kadar testosteron rendah), menopause (perubahan estogren), atau gangguan tiroid.
        4. Gangguan vaskular: Aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) yang mempengaruhi aliran darah ke organ seksual.
        5. Pengaruh obat-obatan: Efek samping dari obat antihipertensi, antidepresan, antipsikotik, atau terapi hormonal.
        6. Penyalahgunaan zat: Alkohol kronis atau penggunaan narkoba.
        7. Penyakit urogenital: Pembesaran prostat (BPH), endometriosis, fibroid uterus, atau nyeri panggul kronis.
        8. Tindakan medis: Pasca operasi besar (seperti prostatektomi, histerektomi), atau efek terapi radiasi dan kemoterapi.
        9. Gangguan psikologis: Depresi berat, kecemasan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).
        10. Riwayat trauma: Pelecehan seksual atau kekerasan seksual.

        DAFTAR PUSTAKA

        American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5®). Arlington: American Psychiatric Publishing.

        Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. Boston: Pearson.

        Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2014). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

        Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

        Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

        World Health Organization (WHO). (2018). International Classification of Diseases for Mortality and Morbidity Statistics (11th Revision). Geneva: WHO.

        Pos terkait

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *