POLA SEKSUAL TIDAK EFEKTIF (D.0071)

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kekhawatiran atau ketidakpuasan dalam mengekspresikan seksualitas. Definisi ini merujuk pada standar asuhan keperawatan di Indonesia yang menekankan pada persepsi pasien terhadap fungsi dan ekspresi seksualnya.

NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Suatu kondisi di mana individu mengekspresikan kekhawatiran tentang seksualitas mereka. Fokus utama diagnosis ini adalah pada aspek psikologis dan interpersonal yang menghalangi kepuasan seksual, bukan pada kerusakan fisik organ reproduksi.

Bacaan Lainnya

World Health Organization (WHO) Suatu hambatan dalam mencapai kesehatan seksual yang merupakan keadaan kesejahteraan fisik, emosional, mental, dan sosial dalam hubungannya dengan seksualitas. Pola yang tidak efektif mencerminkan kegagalan dalam memiliki pengalaman seksual yang aman dan menyenangkan, bebas dari paksaan atau diskriminasi.

Masters & Johnson Ketidakmampuan individu atau pasangan untuk menavigasi fase-fase dalam siklus respons seksual (excitement, plateau, orgasm, dan resolution) secara harmonis karena adanya hambatan komunikasi atau tekanan situasional yang mengganggu kenyamanan psikis.

Lynda Juall Carpenito Keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam kesehatan seksual yang menyebabkan perubahan dalam cara pandang terhadap seksualitas atau aktivitas seksual. Carpenito menekankan bahwa ini sering kali berhubungan dengan perubahan peran atau status kesehatan fisik yang memengaruhi citra diri.

    B. DEFINISI ILMIAH

    Pola seksual tidak efektif merupakan suatu kondisi klinis di mana individu mengekspresikan kekhawatiran atau ketidakpuasan mengenai seksualitasnya, yang berpotensi menghambat pemenuhan kebutuhan akan intimasi, ekspresi seksual, dan kesehatan reproduksi. Berbeda dengan disfungsi seksual yang berfokus pada hambatan mekanis atau fisiologis, pola seksual tidak efektif lebih menitikberatkan pada persepsi interpersonal dan hambatan situasional.

    C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

    Berdasarkan tinjauan klinis, terdapat beberapa faktor determinan yang menyebabkan ketidakefektifan pola seksual, antara lain:

    1. Hambatan Situasional: Kurangnya privasi (misalnya saat hospitalisasi) atau ketiadaan pasangan yang stabil.
    2. Konflik Psikologis: Adanya konflik orientasi seksual, ketakutan akan kehamilan yang tidak direncanakan, atau kecemasan terhadap penularan infeksi menular seksual (IMS).
    3. Hambatan Relasional: Gangguan komunikasi dengan pasangan atau adanya perubahan dalam hubungan interpersonal.
    4. Defisit Pengetahuan: Kurangnya paparan informasi yang akurat mengenai kesehatan seksual dan perubahan fisiologis tubuh.

    D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

    Untuk menegakkan diagnosis ini, perawat harus mengidentifikasi minimal 80% dari tanda dan gejala berikut:

    Gejala Subjektif

    • Mengeluh adanya hambatan atau kesulitan dalam melakukan aktivitas seksual.
    • Mengungkapkan adanya perubahan bermakna dalam perilaku atau aktivitas seksual.
    • Menyatakan adanya perubahan dalam persepsi orientasi seksual.

    Gejala Objektif

    • Adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan melalui interaksi dengan pasangan atau saat mendiskusikan topik seksualitas.

    E. TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (SLKI)

    Intervensi diarahkan untuk mencapai luaran Pola Seksual Membaik, dengan kriteria hasil:

    1. Verbalisasi kepuasan terhadap pola seksualitas meningkat.
    2. Verbalisasi aktivitas seksual berubah/menurun menjadi menurun (skala perbaikan).
    3. Keluhan sulit melakukan aktivitas seksual menurun.

    F. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS (SIKI)

    Menurut standar intervensi, langkah-langkah yang diambil meliputi:

    1. Edukasi Seksualitas: Memberikan informasi yang komprehensif mengenai fungsi seksual, manajemen stres terkait performa seksual, dan teknik komunikasi intim.
    2. Konseling Seksualitas: Memfasilitasi diskusi terbuka mengenai kekhawatiran pasien, membantu identifikasi stresor, dan memberikan dukungan emosional untuk meningkatkan kepercayaan diri seksual.
    3. Identifikasi Risiko: Memantau faktor-faktor lingkungan atau medis yang dapat memperburuk pola seksual (misalnya efek samping medikasi atau prosedur bedah). 

    G. KONDISI KLINIS TERKAIT

    Kondisi klinis yang sering dikaitkan dengan munculnya masalah Pola Seksual Tidak Efektif antara lain:

    1. Berbagai jenis penyakit fisik yang kronis atau akut (mis. diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal).
    2. Prosedur pembedahan yang mempengaruhi organ reproduksi atau citra tubuh (mis. mastektomi, histerektomi, kolostomi, prosedur urologi).
    3. Gaya hidup yang tidak sehat (mis. obesitas, merokok).
    4. Masalah psikologis atau gangguan kesehatan mental (mis. depresi, kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia).
    5. Trauma seksual masa lalu.
    6. Penyalahgunaan zat atau kecanduan (alkohol, obat-obatan terlarang). Penggunaan obat-obatan tertentu secara jangka panjang yang memiliki efek samping seksual (mis. antidepresan, antihipertensi, terapi hormon)

    DAFTAR PUSTAKA

    Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Wolters Kluwer.

    Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

    Masters, W. H., & Johnson, V. E. (1966). Human Sexual Response. Toronto; New York: Bantam Books.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    World Health Organization (WHO). (2023). Sexual Health and Its Linkages to Reproductive Health: An Operational Approach. Geneva: WHO Press.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *