Gedung DPR RI | Tragedi 28 Agustus Hingga Menimbulkan Kisruh

Apa saja yang ada di gedung DPRI RI
Sumber: jatimtimes

Gedung DPR RI, tempat yang katanya menjadi penampung aspirasi rakyat, nyatanya menjadi tempat melanggengkan para tikus berdasi untuk semakin membuat rakyat menjerit dengan beragam kebijakan mereka. Lalu, rakyat harus percaya kepada siapa? ~ Trias Politika

Rakyat ditindas, lalu dilindas, slogan seperti ini rasanya menggaung hingga ke ujung penjuru Indonesia yang pada tanggal 28 Agustus 2025 hingga sekarang.

Bacaan Lainnya

Membekas hingga sekarang terkait tragedi rakyat Indonesia bernama Alm. Affan Kurniawan yang menjadi korban akibat tragedi dilindas oleh anggota Brimob menggunakan mobil Baraccuda.

Gedung DPRI Republik Indonesia atau RI, rasanya seperti tempat yang terlihat tenang, dengan semua anggota yang seperti enggan menanggapi beragam polemik hari ini.

Agustus seperti menjadi saksi bulan, bahwa rakyat Indonesia menuntut beragam keadilan yang selama ini terngiang di jagad media, yang berakhir menguntungkan para penguasa. Sebegitukah tidak pedulinya mereka?

DPR Seperti Layaknya Tikus Berdasi

Meski begitu mari kita kilas balik beragam polemik yang terjadi dan menimbulkan kisruh yang sangat besar sampai sekarang terkait para penguasa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR RI.

Seperti yang kita tahu bahwa rasanya sudah sangat lama Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR, memiliki citra yang buruk akibat ulah mereka sendiri dan sikap mereka sendiri.

Bahkan di detik ini pun, hal tersebut semakin memuncak, rakyat seperti benar-benar enggan dengan Lembaga Pemerintah satu ini .

Apalagi dengan kejadian di 28 Agustus 2025 yang selamanya akan menjadi sejarah kelam di era yang mungkin kita anggap sudah sangat maju.

Jadi, gebrakan apa saja dari DPR RI yang membuat mereka memiliki citra yang sangat buruk?

1. Kebijakan Berprinsip Tumpul ke Atas Tajam Ke bawah

Seperti yang kita tahu dalam gedung DPR RI, tempat tersebut seperti layaknya tempat kantor dimana mereka bekerja dalam merancang beragam kebijakan.

Gunanya adalah agar Indonesia menjadi negara yang maju, dan lepas dari status berkembang. Meski begitu rasa-rasanya tidak seperti demikian.

Justru semakin hari masyarakat semakin dibuat sengsara dengan kebijakan berlabel seenak jidat mereka.

Mulai dari rakyat yang terus diperas penghasilannya guna memenuhi jumlah pajak yang mereka inginkan. Rakyat yang mulai dibungkam suaranya dengan berbagai cara, dan sebagainya.

Dan keinginan rakyat soal para koruptor yang dirampas ASETNYA, seperti agenda yang haram bagi mereka, dan memilih melanggengkan.

2. Pengesahan Kebijakan dengan Sistem SKS (Sistem Kebut Semalam)

Yang mana sistem ini juga kerap ada dalam Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Bahkan kebutannya melebihi mahasiswa yang mengebut untuk tugas terakhir skripsi.

Seperti tampak tidak mementingkan kanan kiri, tidak melihat apakah akan banyak korban dari kebijakan yang dibuat, dan hanya berpacu pada palu dan kata “ya”, “sah”, dan sebagainya dalam rapat.

Barulah ketika banyak perdebatan, demo, bahkan merenggut nyawa, DPR mulai memperbaiki apa yang kurang. Walaupun di lapangan hal tersebut jarang di lakukan.

3. Di anggap Sebagai Tikus Berdasi

Yang mana kemudian hal tersebut berbuah pada julukan Si tikus berdasi. Mendefinisikan para kelompok Lembaga sombong, angkuh, bahkan acuh terhadap rakyat.

Seolah nama “rakyat” di jual secara cuma-cuma ketika mereka merancang kebijakan yang berujung menguntungkan para DPR RI di dalam Gedung mereka sendiri.

Apalagi dengan kasus korupsi yang banyak menyenggol nama-nama anggota DPR dengan jumlah yang sangat fantastis.

Bahkan angka tersebut rasa-rasanya seperti bisa menjadi modal Indonesia berubah menjadi macan ASIA.

4. Janji Berbenah yang Tak Pernah Berbenah

Kuping seperti sudah tipis, gendang telinga rasanya seperti disengaja di tutup oleh diri mereka sendiri.

Kalimat yang kerap banyak di gunakan oleh beberapa rakyat dengan segala kekecewaan mereka terhadap Pemerintah, termasuk DPR.

Bahkan orang yang awalnya acuh dengan beragam isu Pemerintah, mulai menyadari bahwa selama ini mereka seperti tidak pernah memihak kepada rakyat.

Janji dan rasa dermawan yang pernah di rasakan oleh kalangan rakyat pada musim PEMILU, rasanya hanya sebagai pemanis awal saja.

Yang bahkan mungkin dalam otak mereka, rancangan tersebut tidak pernah ada dalam buku rencana hidupnya sebagai anggota dewan.

Lalu pertanyaannya, rakyat harus percaya kepada siapa?

Tragedi 28 Agustus 2025

tragedi karena gedung dpr ri
Sumber: CNN indonesia

Puncak sejarah yang tertoreh pun terjadi pada tanggal 28 Agustus 2025, namun bukan sejarah baik. Melainkan sejarah yang sangat kelam, mengandung kecaman dari banyak pihak dari rakyat.

Rakyat seperti di perlihatkan betapa bejad-nya para Pemerintah di gedung DPR Republik Indonesia (RI), di singgah sananya.

Seorang bermana Affan Kurniawan, pria berusia 21 Tahun yang harus merenggut nyawa demi sesuap nasi untuk keluarganya, di lindas aparat Brimob tanpa belas kasih dengan alasan ingin melindungi para anggota Dewan.

Mobil yang sempat berhenti, lalu melaju gas tanpa rasa belas kasih melindas Affan Kurniawan yang sudah tergeletak di jalan.

Fenonema itu terlihat oleh banyak pasang mata, bahkan itu seperti memori yang akan tetap ada di setiap mata rakyat Indonesia.

Semua rakyat marah, benci, dan dendam terhadap tragedi tersebut. Mereka yang berlabel sebagai pejabat seperti cuci tangan terhadap tragedi tersebut.

Bahkan pihak dari pelaku dengan entengnya meminta maaf, mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa di hindari karena mereka takut mereka akan habis di tangan rakyat.

Padahal yang sebenarnya, mereka berada pada mobil Baraccuda yang terbuat dari baja. Dengan berat hampir lebih dari 10 ton.

Menggilas rakyatnya sendiri, memakai mobil yang di beli dengan uang rakyatnya sendiri.

Pertanyaan yang akan bermunculan lagi, jadi rakyat harus meminta belas kasih kepada siapa? Akankah hidup kita sebagai rakyat akan aman dan tentram? Tapi hal itu kenapa rasanya seperti pengharapan dan bukan tujuan?

Aksi Demo Dimana-mana

Aksi Demo hingga 29 Agustus 2025
Sumber: CNN Indonesia

Semua Gedung dari DPRI baik RI maupun daerah, di detik ini berubah menjadi satu titik amukan massa yang tidak terima dengan kejadian tersebut.

Tragedi yang berawal dari menuntut keadilan kepada para Anggota Dewan, beralih kepada bermusuhan dan dendam dengan Aparat.

Dimana saja aksi itu terjadi?

1. Makassar

Di daerah ini, beberapa tragedi terjadi. Daerah seperti berubah menjadi lautan api dengan membakar berbagai fasilitas pejabat dan aparat sebagai bentuk kemarahan mereka.

Mulai dari:

  1. Gedung DPRD Sulsel
  2. Pembakaran Mobil Kejati Sulsel
  3. Pos Polisi dari Makassar juga ikut terbakar.

2. Semarang, Jawa Tengah

Di Jawa Tengah, Semarang juga demikian. Beberapa titik seperti di Simpang Lima menjadi tumpuan tempat untuk menyuarakan kekecewaan atas tragedi 28 Agustus 2025.

Beberapa fasilitas umum pun jadi korban kerusakan. Hingga saat ini, demo pun masih berlanjut.

3. Solo Jawa Tengah

Tidak jauh dari daerah sebelumnya, Solo pun bergerak menggelar demo sebagai protes mereka terhadap tragedi 28 Agustus 2025 akibat para pejabat di Gedung DPRI Republik Indonesia (RI) yang enggan menemui massa.

Akibatnya gedung DPRD di bakar massa dan bentrok pun tidak terelakkan. Sampai saat ini, demo masih berlanjut.

4. DKI Jakarta

Menjadi saksi tempat di mana tragedi itu terjadi, dan banyak pasang mata yang melihat hal tersebut. Kemarahan bahkan sampai detik ini tidak bisa di padam oleh siapapun.

Akibatnya beberapa fasilitas umum menjadi amukan, Gedung DPR rusak akibat para anggota dewan enggan bertemu dengan massa.

Kesimpulan

Sebenarnya ada masih banyak lagi, bahkan daerah dari Sabang sampai Merauke menyuarakan hal yang sama.

Pemerintah terutama DPR, sampai sekarang enggan bertemu dan malah kabur ke Negara lain untuk menyelamatkan diri.

Memang benar, maling akan selamanya maling meskipun mereka berbentuk orang penting berdasi. Mereka adalah kelompok orang yang bermodal mulut dan fikiran yang carut marut.

DPR jika memang mewakilkan suara rakyat, keluarlah dan temui kita rakyat yang sebenarnya adalah bos anda.

Jika memang ingin berbenah dan lebih baik lagi, hal tersebut jadi satu langkah sangat baik bahkan tidak akan ada adilan dari siapapun jika memang para anggota dewan melakukan, dan melaksanakan apa yang jadi tuntutan.

Sumber:

  1. liputan6
  2. beritasatu
  3. sindonews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *