Kjokkenmoddinger

Membandingkan Peninggalan Kjokkenmoddinger dengan Abris Sous Roche

Diposting pada


Peninggalan Zaman Mesolitikum

Zaman Mesolitikum

Peninggalan Kjokkenmoddinger berasal dari zaman Mesolitikum. Zaman tersebut adalah masa pra-aksara, zaman batu yang berlangsung sejak zaman dulu kala yaitu antara Paleolitikum dan Neolitikum. Beberapa orang menyebut zaman Mesolitikum dengan Zaman Batu Tengah atau Batu Madya.

Periode atau lama tidaknya periode Mesolitikum pada setiap dunia dapat berbeda-beda. Oleh sebab itu kebudayaan yang dihasilkan pada zaman Mesolitikum juga berbeda tergantung pada setiap wilayah masing-masing.

Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah merasakan zaman Mesolitikum. Di Indonesia, kita dapat menemukan peninggalan zaman tersebut di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Flores. Dari peninggalan-peninggalan tersebut, kita dapat mengetahui kebiasaan sehari-hari, kepercayaan dan bagaimana manusia purba dapat bertahan hidup.

Ciri-ciri Zaman Mesolitikum

Kamu dapat mengetahui zaman Mesolitikum dengan ciri-ciri sebagai berikut

Manusia pada zaman tersebut mencari makan dengan cara berburu, meramu serta bercocok tanam.

  1. Ada Kjokkenmoddinger dan abris sous roche
  2. Penduduk hidup dengan gaya hidup semi nomaden dan memiliki tempat tinggal seperti goa serta tepi pantai
  3. Mereka menggunakan alat-alat yang sebagian besar terbuat dari tulang dan batu-batuan kasar.
  4. Penduduk sudah mengenal seni lukis
  5. Manusia sudah mengenal kepercayaan

Peninggalan

Ada banyak peninggalan dari zaman Mesolitikum. Berikut ini adalah berbagai peninggalan yang ada pada zaman Mesolitikum

  • Kjokkenmoddinger
  • Abris sous roche
  • Kapak genggam. Pada tahun 1925, Von Stein Callenfels mengadakan sebuah penelitian di bukit kerang, tepatnya pada sepanjang pantai timur Sumatra. Pada llokasi tersebut dia menemukan kapak genggam yang berbeda dari chopper pada periode Paleolitikum. Kapak tersebut lalu memiliki nama pebble atau juga banyak orang menyebut kapak Sumatra. Pebble terbuat dari batu kali yang pecah serta sisi luar kasar sedangkan dalamnya bisa kasar bisa tidak, sesuai dengan tujuan memakai kapak tersebut.
  • Kapak Pendek. Selain menemukan kapak genggam, Von Stein Callenfels jjuga menemukan kapak pendek atau hachecourt. Kapak ini memiliki bentuk yang lebih pendek jika dibandingkan dengan kapak Sumatra. Oleh sebab itu kapak yang satu ini bernama kapak pendek.
  • Batu pipisan. Kita dapat menemukan batu pipisan di pulau Jawa. Dengan menemukan batu pipisan, kita dapat mengetahui bahwa manusia pada zaman tersebut menumbuk makanan mereka.
  • Lukisan. Salah satu peninggalan yang cukup mengesankan adalah lukisan. Lukisan dapat berarti sebagai hasil kebudayaan tertinggi mereka. Lukisan yang paling berpengaruh terhadap penelitian pada zaman ini adalah gambar babi hutan yang sedang berlari. Kamu dapat menemukan lukisan-lukisan pada dinding goa. Selain itu, terdapat lukisan berupa cap tangan berwarna merah.


Pengertian Peninggalan Kjokkenmoddinger Pada Zaman Mesolitikum


Peninggalan Kjokkenmoddinger adalah salah satu peninggalan pada masa Mesolitikum. Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur yang merupakan salah satu hasil kebudayaan dari zaman tersebut. Di Indonesia, sampah dapur ini merujuk pada timbunan sampah dari cangkang kerang yang sudah menumpuk

Sampah-sampah cangkang kerang yang terbentuk pada zaman prasejarah juga memiliki nama lain yaitu shell midden. Manusia purba memanfaatkan kerang untuk membuat berbagai peralatan seperti alat serut, alat potong dan mata kali. Selain itu mereka juga menggunakan kerang sebagai alat tukar dan perhiasan.

Jenis manusia purba yang menghasilkan peninggalan kjokkenmoddinger adalah homo sapiens. Selain sebutan tersebut, homo sapiens juga sering memiliki istilah lain yaitu manusia purba modern.

Ciri-Ciri Peninggalan Kjokkenmoddinger

Peninggalan kjokkenmoddinger memiliki beberapa ciri-ciri. Ciri-ciri tersebut yang membedakan kjokkenmoddinger dengan tumpukan sampah biasa. Berikut ini adalah ciri-ciri dari peninggalan kjokkkenmoddinger.

  • Terbuat dari sampah cangkang. Peninggalan kjokkenmodinger juga bernama sampah dapur. Nama tersebut memiliki arti yaitu sampah dari sisa-sisa cangkang kerang. Mereka makan isi daging kerang lalu cangkang kerang mereka tumpuk. Mereka tidak membuang cangkang tersebut begitu saja. Meskipun tergolong sampah, pada saat itu cangkang kerang dapat memiliki nilai lebih
  • Peninggalan kjokkenmodinger terdapat pada pesisir pantai. Peninggalan yang satu ini memiliki salah satu ciri yaitu mudah ditemukan di pesisir pantai. Karena tebuat dari kerang, maka sebagian besar manusia purba yang memiliki sampah ini tinggal di pesisir pantai. Mereka mencari kerang untuk dimakan. Sebagian besar manusia purba yang makan kerang adalah manusia purba yang tinggal di pesisir pantai. Oleh sebab itu tidak heran jika peninggalan kjokknmoddinger banyak terdapat pada pesisir pantai.
  • Kjokknmoddinger telah menyatu dan memadat dalam kurun waktu yang lama. Cangkang kulit kerang memang dapat memiliki nilai lebih misalnya dapat berguna sebagai nilai tukar, untuk perrhiasan dan sebagainya. Akan tetapi jika terllu banyak sampah cangkang kerang yang dihasilakan maka pada akhirnya sampah tersebut hanya akan menumpuk. Lama-kelamaan cangkang kerang akan menyatu dan memadat. Hal tersebut tentunya membutuhkan waktu yang lama. Proses terjadinya peninggalan kjokknmoddinger merupakan proses alam yang cukup lam dan terpengaruh oleh banyak faktor, salah satunya cuca.


Bentuk dan Lokasi Peninggalan Kjokkenmoddinger

Bentuk Peninggalan Kjokkenmoddinger

Peninggalan Kjokknmoddinger sejatinya berasal dari cangkang kerang. Oleh sebab itu, bentuk dari peninggalan tersebut adalah tumpukan cangkang kerang. Mungkin ada beberapa bagian yang masih terlihat seperti cangkang kerang utuh akan tetapi sebagian besar sudah tidak berbentuk seperti cangkang kerang yang utuh.

Cangkang kerang yang ditumpuk dalam kurun waktu ratusan tahun tentu akan mengalami perubahan bentuk. Hal tersebut disebabkan karena adanya pengaruh suhu. Tumpukan cangkang kerang bisanya berada pada luar ruangan sehingga terkena sinar matahari dan hujan secara langsung. Belum lagi jika lokasi tumpukan cangkang dekat dengan tepi pantai, maka akan terkena asinnya air laut. Oleh sebab itu tidak heran jika beberapa cangkang kerang menyatu menjadi satu.

Lokasi Peninggalan Kjokkenmoddinger

Peninggalan Kjokkenmoddinger sebenarnya dapat kamu temukan di bebeapa pesisir pantai seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi dan sebagainya. Akan tetapi jika kamu ingin melihat peninggalan kjokknmoddinger yang masih lestari, kamu bisa melihatnya di Situs Cagar Budaya Bukit Kerang Kawal Darat. Tempat tersebut berada pada Desa Kawal, Bintan, Kepulauan Riau.

Kamu akan terkejut melihat peninggalan yang satu ini karena pada cagar alam tersebut, tinggi kjokknmodinger adalah kurang lebih 4 m dari perumkaan tanag atau 10 m dari permukaan laut. Luas dari gundukan cangkang kerang tersebut 18×24 m.

Pengertian abris sous roche

Abis sous roche merupakan goa-goa yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh manusia purba. Selain itu, mereka juga menggunakannya untuk berlindung dari berbagai macam binatang dan cuaca pada masa Mesolitikum. Manusia yang mendukung abris sous roche adalah manusia purba Papua Melanosoide. Berbeda dengan Kjokkenmoddinger, abris sous roche hanalah sebuah ceruk yang ada di dalam batu karang yang cukup memberikan mereka perlindungan.

Jika diibaratkan dengan kondisi sekarang, abris sous roche adalah rumah bagi manusia purba. Rumah ini dapat menjadi bukti bahwa terdapat kemajuan atau perkembangan dari kehidupan manusia purba. Mereka sudah berupaya untuk melindungi diri dari berbagai bahaya yang terdapat pada lingkungan sekitarnya dengan lebih baik.

Pada masa tersebut mereka dapa menjumpai dengan mudah berbagai goa yang terbentuk secara alami. Erosi dapat menjadi penyebab terbentuknya goa-goa alami tersebut. Meskipun begitu, ada juga yang memang sudah terbentuk dari struktur batuan padat.


Ciri dan Bentuk Peninggalan abris sous roche

Abris sous roche Sumber: cerdika.com

Setiap peninggalan sejarah pasti memiliki ciri-ciri sehingga membedakan dengan peninggalan sejarah lainnya, termasuk abris sous roche. Berikut ini adalah ciri-cirinya.

  1. Abris sous roche banyak ditemukan di zaman Mesolitikum. Zaman Mesolitikum menjadi zaman dimana manusia purba sudah memiliki pikiran untuk mencari tempat tinggal meskipun mereka masih berpindah-pindah.
  2. Abris sous roche memiliki bentuk goa yang menyerupai ceruk batu karang.
  3. Terdapat banyak perkakas dari tulang di sekitar goa. Goa menjadi tempat bagi manusia purba melakukan aktivitas. Oleh sebab itu tidak heran jika terdapat banyak perkakas.
  4. Perkakas yang ditemukan di sekitar goa berukuran kecil
  5. Menggambarkan pola bentuk hunian

Abris sous roche memiliki bentuk seperti goa. Goa ini pada umunya terbentuk secara alami. Faktor yang menjadi penyebab terbentuknya goa ini bermacam-macam tergantung wilayah dimana goa tersebut berada.

Pada daerah yang kering, erosi angin menjadi faktor utama yang membentuk goa. Pada daerah yang lembab, faktor utama penyebab goa ini terbentuk adalah pembekuan air menjadi es. Bantuan yang lebih lembut dan memiliki pori-ppori pada bagian bawah terdorong oleh ekspansi air yang membeku tersebut.

Lokasi abris sous roche

Ada berbagai lokasi penemuan dari abris sous roche pada Indonesia yaitu:

Goa Lawa

Pada tahun 1928-1931, Voin Stein Callanfels melakukan penelitian di Goa Lawa. Lokasninya dekat dengan Sampung, Ponorogo. Di Goa Lawa, terdapat banyak peninggalan seperti alat-alat yang terbuat dari batu, flakes, ujung panah, kapak dan batu-batu penggilingan. Selain itu juga terdapat perlatan lainnya seperti peralatan dari tulang dan tanduk rusa.

Peralatan yang ada pada goa ini banyak terbuat dari tulang sehingga juga disebut dengan Sampung Bone Culture. Jika kita melihat peninggalannya, maka abris sous roche tersebut dapat kita simpulkan bahwa goa ini digunakan sebagai tempat tinggal dalam waktu yang cukup lama. Akan tetapi pada goa tidak ditemukan kapak pendek.

Abris Sous Roche Besuki

Selain Voin Stein Callanfels, Van Heekeren juga manemukan abris sous roche di Besuki (Bojonegoro). Pada goa ini juga terdapat kapak pendek, ujung panah dan berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari tulang. Selain itu, peninggalan lainnya yang terdapat pada goa tersebut adalah peralatan dari kerang dan tulang belulang manusia Papua Melanesoide.

Abris Roche Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan merupakan daerah yang memiliki cukup banyak abris sous roche. Bahkan pada akhir abad lalu, beberapa abris sous roche di daerah Lamoncong masih dihuni oleh suku Toala. Pada saat melakukan penyelidikan pada tahun 1893-1896, suku Toala diyakini sebagai keturunan langsung dari manusia purba dan masih memikiki hubungan keluarga dengan suku Wedda.


Pada tempat ini juga terdapat peninggalan seperti flakes dan berbagai alat yang terbuat dari tulang. beberapa flakes tersebut terdapat banyak ujung-ujung panah yang mempunyai keistimewaan karena sisi-sisinya bergerigi.

Abris sous roche di Timor dan Rote

Selain ada di Sulawesi, ternyata abris sous roche juga dapat kita temukan di daerah Timor dan Rote. Orang yang berjasa menemukan peninggalan sejarah tersebut adalah Alferd Buhler. Selain itu, Alferd juga menemukan peninggalan berupa flakes yang unik. Hal yang membuat flakes tersebut unik adalah ujung-ujung flakes terbuat dari batu indah yaitu chalcedon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *