Prabowo dan Macron hadapi krisis global. Bahas kepemimpinan, janji kampanye, ekonomi lesu, dan peluang Pilpres 2029. Simak ulasannya di sini! ~ Trias Politika
Denny Setyawan
Kepemimpinan Prabowo di Tahun Pertama Menjabat
Satu tahun pertama Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden bikin banyak orang penasaran.
Gaya militernya yang tegas, cocok nggak sih buat ngatur pemerintahan sipil yang lebih kompleks?
Publik ingin tahu, apakah janji-janji kampanye bisa langsung jalan, atau justru ketabrak realita lapangan.
Begitu di lantik, Prabowo langsung tancap gas. Fokus awalnya cukup jelas, pertahanan, pangan, dan diplomasi luar negeri.
Prabowo nggak banyak basa-basi, langsung ambil langkah besar, termasuk memprioritaskan pertemuan penting seperti Prabowo Macron di Jakarta pada Mei 2025.
Salah satu program yang cukup ambisius adalah proyek food estate.
Kawasan-kawasan di Kalimantan Tengah dan Papua kembali di jadikan lokasi uji coba kedaulatan pangan nasional.
Tapi, di lapangan pelaksanaannya nggak selalu berjalan mulus.
Laporan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan adanya tantangan berupa dampak lingkungan dan gesekan sosial di wilayah pelaksanaan.
Artinya niat besar belum tentu cukup kalau eksekusinya tidak di tata dengan matang dan melibatkan masyarakat setempat.
Prabowo terlihat aktif membangun citra di luar negeri.
Pertemuan Prabowo Macron di Jakarta jadi headline besar dan di posisikan sebagai simbol arah diplomasi baru Indonesia.
Salah satu hasilnya adalah kerja sama sektor pertahanan dan transfer teknologi, termasuk kontrak pembangunan kapal selam antara PT PAL dan Naval Group Prancis.
Kalau bicara soal gaya kepemimpinan, Prabowo cenderung dominan.
Banyak keputusan strategis ia buat cepat, kadang tanpa banyak penjelasan terbuka ke publik.
Reshuffle, perombakan lembaga, sampai arah kerja sama luar negeri pun sering muncul tiba-tiba.
Sebagian orang merasa tidak di libatkan dalam proses-proses penting.
Padahal, transparansi itu penting banget buat menjaga kepercayaan rakyat. Apalagi sekarang, komunikasi satu arah sudah ketinggalan zaman.
Selama tahun pertama, sebagian besar program masih berada di tahap awal. Hasilnya belum bisa langsung di rasakan.
Tapi publik mulai menagih, kapan janji-janji besar itu berdampak nyata?
Ujian kepemimpinan Prabowo justru di mulai sekarang.
Keberanian membuat keputusan perlu di sandingkan dengan keberanian menjelaskannya secara terbuka.
Dan yang paling penting, seperti dalam pertemuan Prabowo Macron dan mitra global lain, rakyat ingin tahu, adakah perubahan yang betul-betul menyentuh hidup mereka?
Organisatoris lain juga baca ini: BSU Kemnaker Go Id atau SSO BPJSKetenagakerjaan Go Id
Janji Kampanye dan Realisasi Melalui HI

Saat masa kampanye, Prabowo nggak cuma bicara soal makan bergizi dan stabilitas harga pangan.
Prabowo juga menekankan pentingnya biar gimana caranya Indonesia punya postur pertahanan yang kuat dan berdikari, termasuk lewat kerja sama strategis di bidang teknologi militer.
Diplomasi pertahanan itu bisa di jadiin bagian penting dari janji besarnya buat jadiin Indonesia lebih disegani secara global.
Setelah menjabat, janji itu mulai terlihat bentuknya lewat penguatan kerja sama luar negeri, terutama sama negara-negara produsen alat pertahanan.
Salah satu yang kelihatan adalah kerja sama Prabowo dan Macron, yang jelas banget sewaktu kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia pada 28 Mei 2025.
Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Prancis menandatangani 21 kesepakatan strategis, termasuk dalam bidang pertahanan dan teknologi industri.
Mestinya, kerja sama itu nggak tiba-tiba muncul. Dari bulan Maret 2024.
Kementerian Pertahanan juga meneken kontrak pembangunan dua unit kapal selam Scorpène Evolved dari PT PAL dan Naval Group Prancis.
Proyek ini isinya transfer teknologi, produksi dalam negeri, sama pelatihan teknis, semua sesuai sama janji kampanye biar bisa membeli sekaligus menguasai teknologi, lewat kedekatan Prabowo dengan Macron.
Presiden Macron mendukung pendekatan Prabowo untuk menguatkan militer Indonesia, dan dalam beberapa kesempatan mengatakan Indonesia jadi mitra strategis utama di Asia Tenggara.
Di tengah ketegangan geopolitik global, Macron menilai kemitraan ini penting buat menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Prabowo juga sempet punya janji buat membuka akses kerja sama internasional di bidang pendidikan vokasi dan energi terbarukan.
Hal itu bisa di lihat juga dari paket kesepakatan dengan Macron, termasuk pertukaran pelajar, penguatan lembaga pelatihan, dan pengembangan energi hijau.
Meski masih dalam tahap awal, tapi janji-janji kampanye dulu di tunjukkan buat masuk ke jalur diplomasi produktif, ya tentunya antara Prabowo Macron.
Tapi publik tetap menunggu sejauh mana kerja sama ini bakalan punya dampak nyata buat kehidupan kita sehari-hari.
Apakah benar-benar akan memperkuat industri dalam negeri, membuka lapangan kerja, atau cuma berhenti di meja konferensi?
Di sinilah ujian realisasi di mulai, nggak cuma menandatangani MoU Prabowo Macron, tapi mastiin semua proses berjalan, dan tentunya nguntungin rakyat Indonesia.
Kalau janji-janji internasional berhasil di jalankan.
Prabowo bakalan naik kasta, tercatat menjadi presiden aktif diplomasi dengan negara luar, sekaligus bisa gunain relasi global buat memperkuat pondasi dalam negeri.
Prabowo terlihat memanfaatkan diplomasi ini buat nunjukin bahwa Indonesia tidak pasif di tengah konflik global, Indonesia bisa membuat poros hubungan yang juga saling menguntungkan.
Hubungan dengan Prancis di pilih karena di anggap cukup netral, tapi tetap kuat secara ekonomi, militer, dan politik.
Di tengah ketegangan antara Amerika dan Tiongkok, Indonesia seperti sedang membangun jalur ketiga.
Yang jadi pertanyaan publik sekarang, apakah semua kerja sama itu bisa berdampak langsung ke rakyat?
Atau cuma di jadiin headline kapal selam dan konferensi pers di istana?
Apakah ada hasil konkret seperti lapangan kerja, penguatan industri lokal, dan meningkatnya kepercayaan global pada Indonesia?
Justru yang paling di harapkan itu hasil, bukan gengsi.
Kalau di jalankan serius dan tepat sasaran, hubungan Prabowo Macron bisa jadi pintu masuk menuju era baru diplomasi Indonesia.
Indonesia nggak bakal cuma jadi penonton di forum internasional, tapi pemain aktif yang patut di segani.
Organisasi lain juga baca ini: Pembina dan Penasihat: 2 Cara Penggunaan
Ekonomi Indonesia Lesu dan Diplomasi Macron

Indonesia menghadapi tanda-tanda perlambatan ekonomi sejak awal 2025.
Data resmi dari BPS nunjukin pertumbuhan kuartal I cuma 4,87% YoY, pertumbuhan paling lambat dalam tiga tahun terakhir.
World Bank juga memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh dengan rata-rata 4,8% per tahun selama 2025-27.
Dengan risiko pengaruh bisa datang dari kondisi global yang tidak stabil.
Kondisi kayak gitu bisa memunculkan pertanyaan, seberapa efektif kebijakan domestik dalam membalikkan tren ini?
Pemerintah juga sempat merilis stimulus senilai US$ 1,5 miliar.
Mulai dari subsidi upah dan potongan tarif tol, tapi analis mengingatkan kalau stimulus ini cuma ramuan sementara kalau tidak di ikuti reformasi struktural.
Makannya Prabowo mulai menggunakan diplomasi sebagai alat buat mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi yang paling menonjol sudah jelas, kolaborasi dengan Prancis di bawah arahan Prabowo Macron.
Diplomasi yang di lakukan Prabowo adalah bagian dari strategi pemulihan ekonomi.
Setelah berbagai indikator makro menunjukkan perlambatan, pendekatan luar negeri seperti yang Prabowo lakukan dengan Macron jadi cara untuk membuka keran investasi baru dan teknologi strategis.
Alih-alih mengandalkan jalur konvensional seperti insentif fiskal, Prabowo Macron menjadi model diplomasi ekonomi berbasis kerja sama langsung antarnegara.
Salah satu sektor utama adalah industri pertahanan. Kesepakatannya berisi letter of intent buat membeli pesawat tempur Rafale, kapal selam Scorpene, dan frigat ringan.
Proyek ini menjanjikan transfer teknologi dan pembangunan kapasitas lokal, yang bisa menciptakan peluang industri dalam negeri dan tentunya lapangan kerja teknik tinggi.
Kerja sama energi juga ikut di perluas.
Macron menekankan dukungan Prancis dalam transisi energi bersih di Indonesia, termasuk material penting untuk baterai dan kendaraan listrik.
Hal ini akan membantu Indonesia buat ngembangin sumber daya kritis dan meningkatkan nilai tambah dari ekspor mineral seperti nikel dan bauksit.
Diplomasi juga di arahkan ke isu investasi global. Indonesia menawarkan peluang investasi mineral kritis dalam pembicaraan tarif dengan AS.
Memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dagang dan membuka peluang formal lewat sovereign wealth fund Danantara.
Hal itu ngebuktiin kalau diplomasi dengan negara seperti Prancis maupun Amerika Serikat di gunakan sebagai salah satu instrumen mendatangkan modal global.
Relations Prabowo Macron juga memberi dampak pada sentimen pasar.
Kunjungan Macron ke Indonesia di iringi pertemuan bisnis yang menghasilkan komitmen bisnis senilai sekitar US$ 11 miliar.
Tentunya ini memicu optimisme investor, lebih-lebih juga mendorong penguatan persepsi stabilitas ekonomi Indonesia di tengah krisis global.
Tapi tantangan masih besar. Laju investasi dan konsumsi domestik masih lemah, serapan belanja pemerintah melambat, dan sektor manufaktur belum pulih sepenuhnya.
Berarti diplomasi luar negeri kayak upaya Prabowo Macron harus di tunjang oleh reformasi internal dan implementasi kebijakan makro.
Buat menjaga momentum, pemerintah menawarkan kebijakan impor lebih mudah dan pengurangan hambatan regulasi untuk mendukung ekspor dan produksi lokal.
Tapi efeknya baru bisa terasa di kuartal berikutnya.
Hubungan Prabowo Macron termasuk bagian dari strategi pragmatis untuk memperlambat gejolak ekonomi.
Tapi tingkat keberhasilan diplomasi ini tergantung pada kemampuan pemerintah menanamkan hasil pertemuan ke dalam program ekonomi yang nyata, inklusif, dan permanen.
Organisasi lain juga baca ini: Bansos Kemensos BNPT | 5 Aturan dan Cara Ceknya
Prediksi Prabowo Maju Pilpres 2029 dan Hubungan Global

Hubungan antara Prabowo Macron memberi efek positif pada citra Prabowo, baik di dalam negeri maupun dunia internasional.
Lantas, apakah peran diplomasi global ini bisa jadi amunisi dalam Pilpres 2029?
1. Diplomasi dan Persiapan Pilpres 2029
Sosok Prabowo kini tampil sebagai presiden yang bisa berdialog setara dengan negara besar.
Pertemuan dengan Macron, serta agenda-agenda praktis seperti 21 kesepakatan strategis dan promosi di Hadiah Bastille Day di Paris.
Memberi kesan kalau Prabowo sedang memimpin dan mempersiapkan sesuatu.
Menurut survei LSI Indikator Jan 2025, elektabilitas Prabowo tetap kuat, sekitar 68-70% unggul dari calon potensial mana pun.
Meski belum ada survei langsung terkait efek diplomasi ini, sejumlah analis politik memperkirakan kalau citra global bisa memperkuat dukungan.
Terutama kalangan kelas menengah atas dan pemilih muda yang menilai prestise global itu penting.
2. Elektoral Domestik vs Diplomasi Global
Momentum diplomasi internasional yang dibangun Prabowo saat bertemu dengan Emmanuel Macron malah muncul di tengah kondisi dalam negeri belum stabil.
Harga kebutuhan pokok masih tinggi, penyerapan APBN belum optimal, dan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Dalam situasi ini, citra Prabowo yang terkesan elegan dan penuh strategi bisa saja dikagumi sebagian pemilih.
Tapi sebagian lainnya justru skeptis, mempertanyakan apakah citra sebagai “presiden global” benar-benar bisa mengatasi masalah sehari-hari rakyat.
3. Skema Strategi Koalisi Pilpres 2029
Terkait Pilpres 2029, ada tiga kemungkinan besar. Pertama, Prabowo maju lagi sebagai capres.
Dukungan dari koalisi Gerindra dan mitra politik bisa diperkuat dengan citra internasional dari relasi Prabowo.
Tapi usia yang akan menyentuh 77-78 tahun tetap menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
Kedua, Prabowo tidak maju tapi mengusung figur muda, seperti Gibran.
Dalam skenario ini, warisan hubungan luar negeri bisa tetap digunakan sebagai nilai jual.
Ketiga, Prabowo memilih menjadi kingmaker, memanfaatkan pengaruh diplomasi global sebagai modal buat calon yang ia dukung.
Semua skenario ini menempatkan diplomasi sebagai aset elektoral.
4. Pengaruh Diplomasi terhadap Strategi Kampanye 2029
Citra global Prabowo akan sangat efektif di segmen pemilih profesional, diaspora, sampai kalangan kelas menengah atas yang melihat kepemimpinan internasional jadi modal penting.
Efek diplomasi harus bisa di buktikan. Contohnya kerjasama dengan Macron menghasilkan lapangan kerja.
Program vokasi pertahanan, atau transfer teknologi yang terasa dampaknya secara langsung. Jika tidak, hubungan Prabowo Macron cuma di anggap kosmetik politik.
5. Risiko dan Hambatan Pilpres 2029
Menjadikan diplomasi sebagai jualan politik juga menyimpan risiko.
Pertama, bisa di tuduh sekadar pertunjukan elitis yang jauh dari kepentingan rakyat.
Kedua, jika ekonomi dalam negeri tetap melemah, kerja sama luar negeri bisa di cap tidak relevan.
Tekanan dari oposisi juga berpotensi besar. Mereka bisa menyerang dengan pertanyaan klasik, “apa hasil nyatanya?”
Maka narasi kampanye harus jelas. Contoh yang seperti, “karena bertemu Macron, kita dapat proyek industri pertahanan dan 10.000 lapangan kerja.”
Kesimpulan
Diplomasi Prabowo Macron punya potensi kuat sebagai bagian dari warisan politik lima tahun ke depan.
Tapi efeknya cuma bisa bertahan kalau hasilnya benar-benar bisa dirasakan publik.
Citra global harus menjadi nilai tambah, bukan cuma mengganti isu-isu lokal!
Untuk menjadikannya modal elektoral yang utuh, Prabowo perlu menjaga stamina politik.
Menjamin keberlanjutan hasil kesepakatan internasional, dan memastikan diplomasi terhubung dengan kehidupan sehari-hari rakyat.
Kalau itu terjadi, maka hubungan global bisa jadi bukti nyata dari pemimpin yang konkret dan visioner.
Sumber
- liputan6
- brin.go.id
- setkab.go.id
- ksp.go.id
- Navalnews
- business-Indonesia
- worldbank
- wikipedia.org
- bps.go.id
- reuters.com
- usasean.org
