A. DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia): Pengeluaran feses yang lunak dan tidak berbentuk dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
Brunner & Suddarth: Suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari tiga kali sehari), peningkatan jumlah tinja (lebih dari 200 g/hari), dan perubahan konsistensi (menjadi cair).
Wong (Hockenberry & Wilson): Peningkatan motilitas dan malabsorbsi pada saluran pencernaan yang menyebabkan feses kehilangan konsistensi padatnya, sering kali disertai dengan kehilangan cairan dan elektrolit secara masif.
Potter & Perry: Gangguan eliminasi fekal yang melibatkan pengeluaran feses cair secara cepat, yang sering kali merupakan tanda adanya gangguan pada absorbsi atau sekresi di usus halus atau usus besar.
NANDA International: Pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk, yang seringkali dikaitkan dengan faktor infeksi, iritasi, atau gangguan malabsorbsi pada mukosa usus.
B. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Pakar keperawatan membagi penyebab diare ke dalam beberapa kategori utama yang mengganggu keseimbangan homeostasis usus:
- Faktor Infeksi: Masuknya mikroorganisme seperti bakteri (misalnya E. coli), virus (seperti Rotavirus), atau parasit yang menyerang dan merusak dinding mukosa usus.
- Faktor Malabsorbsi: Ketidakmampuan usus untuk menyerap zat tertentu, seperti pada kasus intoleransi laktosa. Hal ini meningkatkan tekanan osmotik dalam lumen usus sehingga menarik air masuk ke dalam usus (Diare Osmotik).
- Faktor Makanan: Konsumsi bahan makanan yang telah terkontaminasi toksin, makanan basi, atau makanan yang bersifat iritan kuat bagi mukosa lambung dan saluran usus.
- Faktor Psikologis: Kondisi ansietas atau stres berlebih yang merangsang sistem saraf otonom, sehingga meningkatkan motilitas atau gerakan peristaltik usus secara berlebihan.
C. GEJALA DAN TANDA KLINIS
Berdasarkan kriteria diagnosis keperawatan, data yang sering ditemukan pada pasien meliputi dua kategori utama:
Data Subjektif
- Pasien sering kali mengeluhkan adanya kram atau nyeri perut yang bersifat kolik, adanya desakan kuat untuk segera defekasi (urgensi/tenesmus), serta perasaan lemas yang disebabkan oleh kehilangan cairan.
Data Objektif
- Defekasi lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi feses cair.
- Bising usus terpantau hiperaktif, di mana frekuensinya melebihi batas normal 5–35 kali per menit.
- Ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada kasus yang lebih berat, seperti penurunan turgor
- kulit, mata cekung, serta mukosa bibir yang kering.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA
Berdasarkan algoritma manajemen klinis dan standar intervensi (SIKI), langkah-langkah yang diambil meliputi:
Manajemen Diare
- Melakukan identifikasi penyebab diare serta memonitor warna, volume, dan frekuensi feses secara berkala.
- Memonitor tanda dan gejala klinis hipovolemia atau dehidrasi.
- Memberikan asupan cairan oral seperti oralit atau larutan gula garam sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan.
- Pemantauan Cairan Melakukan pemantauan intake dan output cairan secara ketat dan akurat untuk mencegah terjadinya komplikasi syok hipovolemik.
Edukasi dan Kolaborasi
- Memberikan anjuran kepada pasien untuk menghindari jenis makanan yang bersifat pedas atau pembentuk gas.
- Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat anti-diare atau antibiotik jika terdapat indikasi kuat adanya infeksi bakteri.
E. TANDA MAYOR
Subjektif:
- (Tidak ada tanda mayor subjektif)
Objektif:
- Defekasi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
- Konsistensi feses cair atau lunak.
F. TANDA MINOR
Subjektif:
- Nyeri perut.
- Kram perut.
- Urgensi defekasi (perasaan ingin buang air besar yang mendesak).
Objektif:
- Perubahan frekuensi atau konsistensi feses.
- Peningkatan bising usus.
- Penurunan berat badan.Tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit menurun, mata cekung, mukosa bibir kering).Kelelahan, lemas.
- Perubahan nafsu makan.
G. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Infeksi saluran cerna (bakteri, virus, parasit).
- Keracunan makanan.
- Sindrom iritasi usus (IBS).
- Penyakit radang usus (Crohn’s disease, kolitis ulseratif).
- Malabsorpsi (misalnya, intoleransi laktosa).
- Alergi makanan.
- Efek samping obat (misalnya, antibiotik).
- Kondisi medis lainnya (misalnya, hipertiroidisme, diabetes).
- Stres atau kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th Edition). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children (11th Edition). St. Louis: Elsevier.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing (10th Edition). St. Louis: Elsevier.
World Health Organization (WHO). (2021). Diarrhoeal Disease: Fact Sheets. Geneva: World Health Organization.






