Hachecourt
(Foto: yuksinau.id)

Hachecourt: Kapak Pendek, 3 Peninggalan Kebudayaan

Diposting pada

Hachecourt salah satu peninggalan pada zaman praaksara kebudayaan masa paleolithikum. Benda peninggalan tersebut sebagai salah satu hasil manusia zaman purba. Lalu, seperti apa bentuk kapak pendek?

Fifih Fauziyah, Struktur Organisasi – organisasi.co.id

Manusia hidup telah melalui beberapa zaman, zaman praaksara salah satunya. Seperti apa zaman praaksara?

Merupakan sebuah istilah bagi zaman yang sama sekali manusia belum kenal dengan tulisan.

Praaksara tersebut terbagi menjadi dua paduan yaitu pra artinya sebelum, dan aksara artinya tulisan. Itulah kenapa masa praaksara merupakan masa sebelum hadirnya tulisan.

Zaman praaksara tersebut salah satu zama prasejarah, mengapa? Karena zaman sejarahnya manusia awal pertama sekali, tepatnya sesudah berakhirnya praaksara.

Zaman tersebut diperkirakan berjalan sampai 3juta hingga 10ribu tahun yang lalu, kemudian manusia kenali tulisan di masa sejarah.

Kala itu, manusia hidup di zaman purba hanya manfaatkan benda yang ada di alam sekitar untuk bisa bertahan hidup.

Hal demikian terbukti adanya berbagai macam peninggalan yang dapat para arkeolog temukan.

Meski masa itu sama sekali manusia belum kenali tulisan tetapi manusia tersebut mampu manfaatkan pikirannya untuk dapat membuat alat maupun perkakas berdasarkan kebutuhan hidupnya.

Peralatan maupun perkakas tersebut menjadi benda peninggalan prakarsa. Ada pula berbagai peninggalan lain merujuk terhadap seni, kepercayaan, serta budaya yang hidup pada masa zaman tersebut.

Zaman mesolitikum merupakan salah satu zaman prasejarah, adalah zaman batu yang mana manusia menggunakan batu untuk alat ketika beraktivitas dalam kesehariannya.

Zaman ini disebut zaman batu tengah yang terjadi ketika masa holsen 10ribu tahun lalu.

Jika dibandingkan dengan zaman-zaman batu sebelumnya, zaman tersebut manusia mulai berkembang dengan kebudayaan sangat cepat daripada sebelumnya.

Perkembangan budaya tersebut karena terpengaruh beberapa faktor, yaitu keadaan alam lebih stabil. Jadi, manusia di zaman tersebut hidup lebih tenang, hingga dapat mengembangkan kebudayaan.

Mengenal Bentuk Hachecourt

Dr. PV VAN Sein Callenfels menemukan Hachecourt atau kapak pendek di bukit kerang. Tetapi panjangnya berbeda dengan Pebble, yang mana kapak tersebut lebih pendek. Sehingga dikatakan istilah Hachecourt.

Kapak pendek memiliki bentuk pendek serta kecil, bahkan lebih kecil daripada kapak genggam. Memiliki ukuran kisaran setengah dari kapak genggam.

Kapan pendek itu memiliki bentuk setengah lingkaran serta ada bagian runcing serta tajam pada bagian lengkungannya.

Kapak pendek atau Hachecourt merupakan jenis kapak genggam dengan bentuk sekitar setengah lingkaran, terbuat dengan cara memukul, serta memecahkan batunya tidak dengan mengasahnya.

Tajamnya ada di sisi lengkung serta tidak mengetahui dengan pasti seperti apa kegunaan alat tersebut.

Fungsi Kapak Pendek

Kapak pendek atau Hachecourt seringklai manusia gunakan untuk memotong buah, gambit tanah untuk ambil makanan yang terdapat pada dalam tanah misalnya umbi-umbian. Kapak ini terdapat di sepanjang pantai Sumatera.

Pada masa kebudayaan tersebut, manusia purba telah mulai kenali cara cocok tanam dengan menggunakan alat seadanya dan lebih berkembang daripada sebelumnya.

Sehingga peralatan tersebut dapat digunakan dan mempunyai fungsi untuk cocok tanam, bahkan dapat untuk potong daging hewan buruan, guliti binatang, serta memotong kayu.

Peninggalan Kebudayaan Kapak Pendek Adalah Pada Masa?

Definisi hachecourt
(Foto: belajarmandiriyuk.com)

Berbagai benda peninggalan praaksara sebagai salah satu hasil budaya zaman purba yang telah terkubur kisaran puluhan bahkan ratusan tahun masa lampau.

Dengan melihat benda-benda peninggalan tersebut, kita dapat berpikir manusia harus belajar dari berbagai pengalaman yang telah manusia sebelumnya alami, karena pengalaman adalah guru yang terbaik.

Pengalaman itu dapat menghasilkan alat lebih baik lagi dari alat sebelumnya yang sudah kita gunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, seperti mencari serta olah makanan dan untuk pertahankan hidup.

Faktor usaha, berpikir keras, dan pengalaman memiliki pengaruh pada penciptaan kebudayaan serta peradaban lebih baik.


Salah satunya yaitu menciptakan Hachecourt, yang termasuk pada masa prasejarah di zaman paleolithikum yang akan kita bahas. Di bawah ini terdapat hasil budaya manusia sebelum aksara maupun praaksara.

Studi Peninggalan Kebudayaan Zaman Praaksara

Sama sekali tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa pemilik dari benda-benda peninggalan tersebut, bagaimana benda-benda tersebut dibuat dan untuk kepentingan apakah benda-benda tersebut mereka ciptakan.

Maka itu harus memperlukan ilmu bantu yaitu geologi, arkeologi, serta antropologi budaya.  Geologi sangat kita perlukan agar dapat mengetahui usia benda dan dapat mengukur benda yang terkubur sesuai dengan lapisan bumi.

Arkeologi tersebut memiliki fungsi agar dapat mengetahui peninggalan purbakala maupun zaman saat belum kenal dengan tulisan.

Adapun antropologi pembudayaan sangat mereka perlukan untuk bisa mengetahui kebudayaan dari peninggalannya.

Peninggalan kebudayaan Zaman Praaksara

Zaman aksara terbagi menjadi tiga bagian yaitu Paleothikum, Neolithikum serta Megalithikum.

Peninggalan zaman kebudayaan Paleolithikum

Di bawah ini informasi mengenai pembahasan peninggalan kebudayaan zaman praaksara lebih tepatnya yaitu Paleothikum.

Kapak genggam

Tahun 1935, di Punung Kab Pacitan Ralph Von Koenigswald menemukan alat-alat, alat tersebut yaitu kapak genggam terbuat dari Lempung dan batu. Memiliki bentuk fisik yang kasar.

Alat-alat tersebut memiliki istilah lain yaitu chopper maupun alat penetak. Alat-alat yang banyak Ralph temukan di Pacitan merupakan istilah kebudayaan Pacitan.

Organisatoris lain baca ini: Tujuan Pemberontakan OPM, Sejarah Dan Fakta

Hasil penelitian dari kebudayaan tersebut sangat bermanfaat untuk manusia. Tidak hanya di Pacitan, di Parigi serta Gombong, Sukabumi, serta Lahat.

Alat yang satu ini telah banyak penyebaran penemuannya, bahkan di luar Indonesia sekalipun di gua Choukoutien Peking.

Kapak Sumatera

Jenis kapak yang satu ini merupakan terkenal dengan istilah pebble merupakan hampir sama dengan kapak genggam terbuat dari belahan batu kali.

Bagian sisi luarnya telah halus hanya didiamkan saja sedang bagian sisi dalamnya terbelah berdasarkan keperluan. Kapak tersebut ada di Kjokkenmoddiner pada sepanang pantai Aceh serta Medan.

Kapak Pendek

Jenis Hachecourt ini hampir sama dengan kapak gengam memiliki bentuk kira-kira setengah lingkaran, yang dapat berfungsi untuk memukul serta memecahkan batu.

Ketajamannya ada di bagian sisi lengkungnya, namun kegunaannya sama sekali belum jelas untuk apa. Hachecourt tersebut ada di Kjokkenmoddinger.

Pipisan

Jenis ini merupakan batu-batu Penggiling dengan landasannya. Yang mana pipisan ini berfungsi tidak hanya tempat menggiling makanan, namun untuk haluskan cat yang merah sama halnya terlihat dari bekasnya.

Aktivitas yang satu ini berkaitan upacara ritual serta kepercayaan. Alat tersebutpun dapat mereka temukan di sepanjang Sumut laut, antara Langsa dengan Medan Sumut.

Peninggalan Kebudayaan Zaman Neolithikum

Sesudah kita bahas peninggalan di zaman Paleolithikum, segera bahas peninggalan kebudayaan zaman Neolithikum.

Kapak Persegi

Istilah kapak persegi ini mulanya dari von Heine Geldern sesuai dengan penampang dari alatnya yaitu persegi panjang maupun memiliki bentuk trapesium.

Yang mana alat ini memiliki bentuk memanjang dengan bentuk persegi serta pada bagian pangkal tidak sebagai tempat tangkai.

Selain memiliki fungsi untuk kapak-kapak persegipun dapat berfungsi sebagai keperluan lain sesuai dengan ukuran serta bentuknya.

Kapak persegi inipun memiliki ukuran kecil untuk potong kayu sedang kapak persegi memiliki ukuran lebih besar dengan bentuk beliung maupun pacul yang berfungsi untuk alat cangkul.

Kapak inipun terbuat dari bahan batu chalcedon dan api. Dari penelitian kapan persegi ini mulanya dari Asia kemudian menyebar ke Indonesia dari jalan Barat.

Kapak Bahu

Jenis kapak ini hampir sama dengan kapak persegi, di tangkainya ada leher hingga menyerupai seperti botol persegi.

Umumnya wilayah Indonesia terdapat kapak bahu yang tidak kita kenal, hanya terdapat pada daerah Sulsel Minahasa, kapak yang satu ini dapat siapapun temukan.

Kapak Lonjong

Kapak lonjong ini landasannya terhadap penampang alang dengan bentuk lonjong yang ujung pangkalnya runcing serta melebar.

Bahan-bahan untuk pembuatan kapak tersebut yaitu batu kali memiliki warna kehitaman yang mempunyai banyak ukuran dari yang kecil sampai besar.

Daerah pusatnya yaitu Papua, bahkan ada pula di Siram Gorong Minahasa serta Sarewak.

Berdasarkan penelitian, yang mana kapak lonjong mulanya dari Asia serta penyebarannya ke wilayah Negara Indonesia dari Jalan Timur.

Pakaian

Zaman praaksaranpun mengenali pakaian. Hal demikian terbukti dengan adanya penemuan alat pukul kayu biasanya untuk membuat pakaian berasal dari kulit kayu yang ada di Sulsel dan Kalimantan.

Sehingga dapat membuat pakaian kulit kayu, yang mana pada zaman ini manusia  telah pandai tenun tekstil yang sedikit halus.

Tetapi peninggalannya tidak dapat semuanya kita ketahui karena tidak akan tahan lama.

Petujuk mengenai hal demikian dapat kita dapatkan dari hiasan tenunan yang ada di periuk belanga berasal dari zaman prasejarah.

Peninggalan Kebudayaan Zaman Megalithikum

Berikutnya mari kita bahas mengenai peninggalan kebudayaan zaman Megalithikum.

Sarkofagus

Peninggalan jenis ini dapat kita sebut pula dengan peti bangunan atau keranda berupa tempat menyimpan mayat.

Memiliki bentuk seperti resume maupun palung terbuat dari batu yang utuh serta ada penutupnya.

Sebuah tempat penemuan peninggalan yang satu ini yaitu di Bali, bahkan ada pula di Jawa Timur, Bondowoso. Memiliki isi tulang belulang manusia barang perunggu serta besi dan manik-manik.

Menhir

Ini merupakan salah satu peninggalan tugu maupun tiang dari bahan batu untuk tanda peringatan yang melambangkan roh nenek moyang hingga menjadikan benda pujian.

Menhir inipun tidak sedikit ada di dataran tinggi yaitu di gunung-gunung Palembang serta Bengkulu, Gunung Kidul, Ngada, Rembang, dan lainnya.

Dolmen

Merupakan meja batu yang memiliki kaki menhir sebagai tempat sesajen serta pemujaan terhadap nenek moyang, yang mana memiliki fungsi untuk penutup sarkofagus maupun keranda.

Dolmen ini tidak sedikit ditemukan di Besuki, Jawa Timur, sehingga menamainya Pandhusa.

Kubur Batu

Jenis peninggalan yang satu ini merupakan peti mati terbuat dari bahan batu. Bagian sisi-sisinya berdinding papan batu dengan alas serta bidang bagian atasnya terbuat dari papan bahan batu.

Organisatoris lain baca ini: 5 Organisasi Semi Militer Jepang Pra Kemerdekaan

Peninggalan megalitikum ini tidak sedikit ada di Pasemah Wonosari serta Cirebon. Waruga merupakan kubur batu yang memiliki bentuk bulat maupun kubus.

Bangunannya dari satu yang besar utuh. Warga ini banyak di Sulut dan tengah.

Patung atau Arca

Merupakan bangunan zaman praaksara terbuat dari bahan batu yang memiliki bentuk seperti binatang dan manusia, sehingga melambangkan nenek moyangnya serta sebagai pujaan para leluhur. Peninggalan tersebut banyak terdapat di Sulteng.

Punden Berundak

Jenis bangunan megalithikum yaitu susunan batu tingkat sebagai tempat nenek moyang memuja-muja. Peninggalan tersebut ada di Lebak Sibedug, Leles Garut, Banten Selatan dan Kuningan. Perkembangannya merupakan dasar untuk pembuatan candi maupun bangunan keagamaan lain.

Persebaran Penemuan Kapan Pendek

(Foto: pendidikan.co.id)

Persebaran penemuan kapak pendek atau Hachecourt seringkali kita temukan di Sumatera, Aceh dan Medan serta ada bersama kapak genggam yang terdapat pada tumpukan kjokkemoddinger.

Zaman batu muda, yang mana masa yang satu ini terdapat 10ribu tahun Sebelum Masehi, bahkan sebelum zaman kerajaan yang ada di Indonesia.

Masa yang satu ini, manusia membuat kapak pendek atau Hachecourt  yang memberikan manfaat untuk kehidupan manusia di jamannya.

Manusia prasejarah sebelumnya hidup berpindah-pindah tempat atau nomaden, pada zaman tersebut telah banyak yang sudah menetap.

Zaman batu muda/mesolithikum merupakan zaman peralihan Paleothikum menuju Neolithikum. Sama halnya dengan masa sekarang manusia bekerja sehari-hari berburu serta tangkap ikan.

Seringkali hal-hal baru mereka tetapkan, menetap terhadap sebuah tempat, banyak di goa-goa abris sous dan di Kjokenmoddinger.

Lalu  menemukan pekerjaan yang baru, salah satunya bercocok tanam. Banyak pula peninggalan praaksara karena banyak jenis manusia purba di Negara kita.

Daftar Pustaka

  1. Hasil kebudayaan mesolitikum
  2. Peninggalan zaman praaksara
  3. Sejarah zaman peninggalan praaksara
  4. Zaman mesolitikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *