Organisasi Semi Militer
Organisasi masa Jepang (Foto: beritaku.id)

5 Organisasi Semi Militer Jepang Pra Kemerdekaan

Diposting pada

Jepang membentuk organisasi semi militer untuk memperkuat posisi, dalam melawan sekutu, setelah menduduki Indonesia Tahun 1942.

I & W Organon, Organisasi.Co.Id

Oleh: Riska Putri
Penulis Jenis Organisasi Nasional Dan Internasional

Porak porandanya pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour ibarat genderang perang untuk Perang Dunia II.

Di Asia, Jepang pun semakin percaya diri menduduki berbagai daerah dan mengambil alih kuasa dari tangan sekutu. Termasuk tanah air Indonesia.  

Lain dari pemerintah Kolonial Belanda yang menduduki Indonesia untuk meraup sebanyak-banyaknya pundi kekayaan.

Pemerintah Jepang hanya memiliki satu tujuan: menjadikan bumi pertiwi sebagai basis militer untuk membantu memenangkan perang.

Perbedaan visi inilah yang menjadikan pemerintahan Belanda dan Jepang terasa amat berbeda.

Salah satu yang amat mencolok adalah pembentukan organisasi-organisasi militer dan semi militer guna mempersiapkan pemuda Indonesia untuk bertempur ke medan perang.

Pada awalnya, Jepang hanya mendirikan organisasi militer Heiho dan PETA di mana anggotanya mengikuti pendidikan dengan secara khusus.

Memasuki tahun ke dua Perang Dunia II, awan hitam mulai menaungi Jepang dan kekalahan demi kekalahan mulai mereka alami.

Karena kian terpojok, Jepang berinisiatif membentuk 4 organisasi semi militer untuk memperkokoh kekuatan militernya.

Organisatoris lain baca ini: 75 Organisasi Kepemudaan Nasional, Mahasiswa Dan Sayap Partai

Apa yang pengertian organisasi semi militer?
Apa fungsi dan peran organisasi ini? Simak penjelasan berikut ini.

Definisi Organisasi Semi Militer

Organisasi Semi Militer Jepang
Organisasi Bentukan Militer Jepang (Foto: Edukasinesia)

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan organisasi semi militer atau paramiliter sebagai “Segala yang berkaitan dengan pasukan keamanan yang tersusun seperti pasukan militer dan berfungsi sebagai unsur pembantu tentara.”

Meskipun organisasi paramiliter tidak dalam formasi sebagai bagian dari angkatan militer.

Tetapi intensitas, kekuatan senjata, pelatihan, dan struktur organisasi mereka setara dengan angkatan infanteri ringan militer.

Organisasi paramiliter umumnya di pimpin pula oleh komando militer meski hanya berperan menyokong militer pada masa perang.

Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang

Jepang memandang pemuda Indonesia sebagai kelompok masyarakat yang memiliki potensi besar untuk menyokong kebutuhan perang.

Selain fisik dan semangat mereka yang tinggi, sebagian besar pemuda Indonesia juga tidak pernah mencicipi pendidikan Barat. Sehingga mudah untuk terdoktrin dan loyalitasnya mudah terkendali.

Maka dari itulah, Jepang membentuk 5 organisasi semi militer yang mereka kemas sedemikian rupa sehingga menarik minat para pemuda.

Sebagian besar anggota semi militer tidak sebagai prajurit untuk maju ke medan perang, melainkan bertugas menyiapkan segala fasilitas perlengkapan perang.

Mulai dari perlengkapan fisik (senjata, seragam, dan lainnya) hingga penyediaan asupan makanan bagi para tentara.

Adapun kelima organisasi semi militer yang merupakan bentukan Jepang adalah sebagai berikut:

Seinendan (Korps Pemuda)

Jepang membungkus program ini dengan dalih mempersiapkan para pemuda untuk dapat mempertahankan tanah airnya sendiri.

Masker ini tentunya menarik hati para pemuda dan masyarakat Indonesia yang telah lama merindukan kemerdekaan.

Dalam anggaran dasar pembentukan Seinendan, di sebutkan bahwa pelajaran yang dapat di berikan dalam pelatihan anggota Seinendan antara lain:


  1. Pelatihan Bahasa : Jepang dan Indonesia
  2. Pelajaran Latihan: pelatihan watak, pidato, latihan militer, olah raga, menangkis dan menjaga serangan udara,
  3. Pembelajaran Kepandaian : Kursus yang sesuai dengan keperluan daerah, misalnya kerajinan, pertanian, kesenian, dan lainnya,
  4. Pelajaran Kesenian Rakyat : Lagu-lagu, tari, dan kesenian rakyat Jepang dan Jawa

Kebudayaan daerah dan bahasa Indonesia tidak d ihapuskan secara radikal, namun di apresiasi serta menjadi bagian dari pelatihan.

Hal ini membuat program Seinendan terasa nyaman di hati masyarakat dan dapat terterimakan dengan baik.

Unit program Seinendan terbentuk mulai dari tingkat terbawah seperti di pabrik dan kampung.

Pada tiap unit, menunjuk satu orang pemimpin yang mereka anggap cakap untuk mengarahkan dan mengontrol setiap kegiatan kelompok.

Nippon juga melibatkan aparatur daerah untuk mengelola Seinendan di wilayahnya masing-masing.

Seinendan juga sering menjadi pasukan “pembantu” untuk bekerja bakti membersihkan dan memperbaiki fasilitas umum.

Hal ini menimbulkan rasa kekeluargaan dan kepercayaan warga bahwa Seinendan terbentuk untuk dari rakyat Bumi Putera untuk rakyat Bumi Putera.

Namun sesungguhnya anggota Seinendan sebagai persiapan tenaga cadangan untuk sewaktu-waktu di terjunkan ke medan tempur guna memenangkan Jepang dalam perang Asia Timur Raya.

Pasukan Seinendan terproyeksikan untuk mengamankan barisan belakang pasukan militer Nippon.

Karena itulah, Seinendan bercorak militer di mana setiap anggotanya mendapatkan pelatihan fisik, menyerang, dan pertahanan diri.

Seinendan berdiri pada tanggal 29 April 1943.

Karena tidak ada syarat khusus untuk menjadi bagian dari organisasi ini, jumlah anggota awalnya cukup banyak yaitu 3500 orang pemuda. Yang berasal dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Jumlah ini terus bertambah hingga menyentuh angka 500.000 orang di akhir masa pendudukan Jepang.

Organisatoris lain baca ini: Pengertian Organisasi, Berorganisasi Dan Manfaat

Keibodan

Dalam pembukaan Anggaran Dasar Pembentukan Keibodan, secara gamblang tersebutkan bahwa Keibodan terbentuk untuk membantu dan menunjang korps kepolisian yang mereka anggap masih lemah.

Bahkan terdapat kalimat yang berbunyi, “Keibodan itu harus memikul beban sebagian pekerjaan kepolisian,” sehingga mengeratkan tali persahabatan organisasi semi militer ini dengan polisi.

Keibodan terbentuk di tiap desa dengan merekrut pemuda (selain warga Jepang) yang berusia 20-35 tahun. Semuanya mendapatkan kewajiban memiliki kondisi fisik yang prima dan berperangai mulia.

Jumlah anggota di tiap unit Keibodan berkisar antara 50-150 orang.

Sebagaimana organisasi semi militer bentukan Jepang lainnya, Keibodan memiliki susunan organisasi yang rapi. Dengan pimpinan yakni seorang Dantyoo (Ketua), Hukudantyoo (Ketua Muda), dan beberapa orang Hantyoo (Kepala Bagian).

Untuk menetapkan orang-orang yang mengisi posisi tersebut, dapat di adakan pemilihan atau pengajuan diri.

Tugas dan fungsi Keibodan bak pinang dibelah dua dengan satuan kepolisian. Mereka bertugas untuk:

  1. Melakukan penjagaan dan penyelidikan terhadap usaha mengenai kabar yang penting dan penipuan
  2. Menjaga dari serangan udara, pantai, dan laut
  3. Melakukan penjagaan dan pertolongan apabila terjadi bencana alam
  4. Menjaga dan mengejar perampok, pencuri, dan penjahat lainnya
  5. Melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang mengancam keamanan atau mencurigakan
  6. Mengadakan jaga malam bersama ronda kampong
  7. Melakukan segala kegiatan yang perlu untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan daerah

Keikutsertaan dalam kelompok semi militer ini bersifat sukarela, artinya anggota tidak mendapatkan bayaran apapun.

Jabatan sebagai ketua, ketua muda, dan kepala bagian pun di nyatakan oleh Jepang sebagai gelar kehormatan.

Keibodan di latih oleh anggota kepolisian. Dalam kondisi tertentu, beberapa unit anggota Keibodan di perbolehkan melakukan latihan gabungan dan mengundang anggota kepolisian serta pegawai pemerintah Nippon untuk menjadi tutor.

Organisasi yang berdiri pada 29 April 1943 ini memiliki nama yang berbeda-beda di tiap daerah. Di Sumatera bernama Bogodan sementara di Kalimantan bernama Borneo Konan Kokokudan/Sameo Konen Hokokudan.

Fujinkai

Kaum hawa pun tidak lepas dari perhatian pemerintah Jepang. Untuk itu di bentuklah organisasi Fujinkai sebagai wadah aktualisasi diri bagi wanita.

Sejatinya, kesadaran perempuan untuk berserikat dan berkontribusi dalam usaha perjuangan kemerdekaan telah hadir sebelum Jepang bertamu.

Organisasi Fujinkai
Organisasi Fujinkai Bentukan Jepang (Foto:Beritaku.Id)

Pada era pemerintah Kolonial, gerakan keperempuanan mulai bermunculan seperti lahirnya organisasi Poetri Mardika serta terselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia.

Mulanya para wanita menentang keras untuk bergabung dengan Fujinkan. Namun Jepang juga secara tegas melarang kehadiran dan kegiatan organisasi lain selain yang secara resmi bentukan pemerintahan Jepang.

Maka, dengan berat hati mereka pun memutuskan untuk bergabung dengan Fujinkai.

Organisasi yang berdiri pada 3 November 1943 ini memakai dasar-dasar organisasi perempuan militan Jepang yaitu Dai Nippon Fujinkai yang telah lama ada di tanah asalnya.

Tugas utama mereka adalah mendukung perekonomian dan pengadaan alat perang.

Namun karena industri alat berat belum ada di Indonesia, anggota Fujinkai terkerahkan untuk urusan domestik seperti mengajar baca tulis, berkebun dan membuat baju untuk para pekerja romusha.

Selain itu, mereka juga bertugas membantu tentara dengan mengobati mereka yang terluka, menjahitkan pakaian, “serta menghibur” tentara Jepang dan PETA.

Keikutsertaan perempuan dalam Fujinkai bersifat penjukkan, artinya semua istri pegawai pemerintah setempat di wajibkan bergabung sesuai perintah pemerintah pusat.

Perempuan tidak memiliki kuasa untuk menolak karena hal itu bisa berujung pada pemecatan suaminya.

Posisi mereka di dalam organisasi di tentukan oleh jabatan sang suami dalam pemerintahan. Sebenarnya mirip dengan struktur organisasi PKK (Dalam hal struktur kepengurusan)

Ketika kondisi Jepang semakin kritis dalam peperangan, anggota Fujinkai di paksa menyerahkan harta dan perhiasannya guna membiayai perang.

Hal ini di lakukan dengan dalih sebagai simbol kebaktian seorang istri terhadap suaminya.

Suatu kejadian yang amat pahit sekaligus memperlihatkan posisi perempuan sebagai warga kelas dua.

Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakyat)

Organisasi ini bentukan Jepang untuk menggantikan Pusat Tenaga Rakyat. Hokokai tidak melibatkan pejabat atau pemerintah Jepang sebagai anggotanya.

Organisasi ini bertujuan menghimpun para pemimpin dari berbagai organisasi dan tokoh masyarakat, baik pribumi maupun etnis tertentu seperti Tionghoa, Arab, dan India.

Ruh organisasi Jawa Hokokai adalah 3 pokok semangat kebaktian yaitu mengorbankan diri, mempererat persaudaraan, dan melaksanakan sesuatu dengan bukti.

Perkumpulan ini di pimpin oleh Gunseikan, sementara Soekarno sebagai tokoh sentral pada waktu itu menduduki jabatan penasihat utama.

Organisasi yang terafiliasi dengan Jawa Hokokai antara lain Himpunan Kebaktian Dokter (Ishi Hokokai), Himpunan Kebaktian Pendidik (Kyōiku Hokokai), Organisasi Wanita (Fujinkai), dan Pusat Budaya (Keimin Bunka Shidōsho).

Organisasi ini berkewajiban menggerakkan anggotanya untuk mengumpulkan segala macam sumber daya penting guna menyokong kebutuhan perang Jepang.

Hal-hal yang wajib mereka setorkan antara lain padi, besi tua, permata, emas, dan benda berharga lainnya.

Segala macam kegiatan, baik bermuatan politis maupun tidak, hanya boleh terselenggara atas persetujuan dan pengawasan dari pemerintah Jepang. 

Pada akhir periode pendudukan Jepang, organisasi yang berdiri pada 8 Januari 1944 ini memiliki jumlah anggota sekitar 1 juta orang.

Tujuan Pendirian Organisasi Semi Militer

International Committee of the Red Cross menyebutkan, secara umum organisasi semi militer memiliki dua tujuan utama yaitu:

  1. Menyokong angkatan bersenjata dalam mempertahankan keamanan nasional dari serangan eksternal, dan
  2. Menyelenggarakan operasi keamanan internal

Sebagian besar organisasi semi militer yang ada di berbagai negara saat ini, secara khusus melatih untuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan penjagaan kestabilan nasional.

Serupa dengan angkatan militer, paramiliter juga di persiapkan untuk menghadapi konflik bersenjata.

Dalam konteks pendudukan Jepang di Indonesia, seluruh organisasi semi militer berdiri untuk menyokong cita-cita kemenangan Nippon. Dalam Perang Asia Timur Raya, baik secara langsung maupun tak langsung.

Sokongan ini dapat berupa pengadaan ransum, pakaian, hingga sumbangan berupa logam mulia untuk menambah kekurangan biaya perang.

Dalam perkembangannya, organisasi-organisasi tersebut berhasil melahirkan tekad militant di hati setiap warga negara Indonesia sehingga mereka berani merebut kemerdekaan.

Daftar Pustaka

  1. Kan Po, Majalah Berita Pemerintah. Diterbitkan oleh Gunseikanbu edisi 1. Terbit bulan 8 tahun 2602 (tahun Jepang). Diakses dari shorturl.at/pxUX3 pada 20 Deseber 2020.
  2. The Law of Armed Conflict. 2002. Diterbitkan oleh International Committee of the Red Cross.
  3. Donysetiawan,
  4. Kelaspintar,
  5. Beritaku.Id

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *