Jenis pidato bahasa jawa
Pidato bahasa jawa (Foto: lasopasan948.weebly.com)

Jenis Pidato dalam Bahasa Jawa: 3 Pembukaan Acara

Diposting pada

Jenis pidato bahasa jawa, adalah salah satu bahasa yang sering digunakan oleh beberapa orang, dalam mereka menjelaskan ide atau pemikiran mereka, yang tertuang dalam materi, menggunakan hal tersebut, Berikut beberapa pembahasannya, tentang definisi, sampai cara pembukaan acara. Ayu Maesaroh, Komunikasi Organisasi – organisasi.co.id

Banyak yang mengatakan bahwa berpidato adalah salah satu cara seseorang, untuk dapat membuktikan sudah berada di tahap mana, keahlian public speaking mereka.

Pun dengan tidak sedikit orang, yang kemudian menjadikan pidato, sebagai salah satu latihan dasar bagi mereka. Salah satunya adalah memupuk rasa percaya diri, ketika mengharuskan individu tersebut, berkata di depan banyak orang.

Oleh karenanya, sangat penting untuk melatih diri dengan berpidato. Dan secara tidak langsung, kita bisa lebih paham, tipe suara kita seperti apa, dan acara seperti apa yang pas, sesuai dengan suara diri kita masing-masing.

Karena, ditiap suara seseorang, mempunyai tone, atau bahkan pattern-nya sendiri. Baik untuk formal maupun informal. Atau pun menggunakan bahasa indonesia, ataupun jenis pidato dengan bahasa daerah, seperti jawa misalnya.

Dan bicara masalah jenis pidato dengan berbahasa jawa, topik ini mungkin jarang yang mengulik. Untuk itu, di artikel kali ini akan membahas sedikit tentang pidato berbahasa tersebut, serta tipsnya.

Definisi Pidato Bahasa Jawa

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang kini menjadi populer di kalangan orang banyak, terutama para turis mancanegara, yang kadang suka penasaran dengan bahasa daerah yang satu ini.

Meski demikian, apa sebenarnya pidato bahasa jawa tersebut? Jika ditelaah secara lebih detail, pidato bahasa jawa adalah cara mengemukakan pendapat seorang pemateri.

Di depan orang banyak dengan menggunakan bahasa jawa. Yang mana hal tersebut disesuaikan dengan mayoritas dari penonton acara pidato tersebut.

Biasanya berpidato dengan bahasa jawa, sering kita temui di beberapa pengajian akbar, yang terlaksana oleh suatu daerah. Mengingat notaben audience yang ada, adalah orang yang sudah dewasa, ataupun lanjut usia.

Jadi, kadang tidak sedikit dari para pemateri, menggunakan bahasa jawa halus, untuk memberikan kesan sopan, dan hormat kepada audience yang ada.

Organisatoris lain baca ini: 3 Cara Mudah Memblokir Pengguna Gelap Wifi Indihome

Bahasa jawa sendiri pada umumnya terdiri dari 2 jenis, ada yang dinamakan bahasa “ngoko”, yang mana bahasa jawa tersebut sering dipakai untuk interaksi kehidupan sehari-hari, dengan orang yang umurnya tidak jauh berbeda dari mereka.

Ada satu lagi yakni jawa “kromo”. Jenis inilah yang kadang sering dipakai untuk berpidato, atau berinteraksi dengan orang yang lebih tua, seperti kepada orang tua, guru, atau pun lainnya.

Untuk bisa berpidato bahasa jawa ini, seseorang tersebut harus sering berlatih, terutama dengan kosakata, agar nantinya makna dari apa yang kita bicarakan, bisa tersampaikan dengan sempurna.

Jenis Bahasa Jawa

Pengertian jenis pidato bahasa jawa
Huruf jawa (Foto: qureta.com)

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahasa jawa terdiri atas dua jenis, yakni “ngoko” dan juga “kromo”. Keduanya sering digunakan, hanya saja berlaku kepada orang yang berbeda-beda.

Untuk jawa “ngoko”, biasanya untuk kepada orang tua berinteraksi dengan orang yang lebih muda. Ataupun dengan teman sebaya mereka. Sehingga tujuannya adalah memberikan rasa keakraban dan kedekatan antara satu dengan lainnya.

Berbeda dengan bahasa “kromo” atau lebih fokusnya adalah jawa halus, yang mana menitiberatkan pada interaksi untuk orang muda, dengan orang yang lebih tua, dalam hal ini adalah umur mereka.

Jadi, tujuannya adalah menghormati orang yang lebih tua tersebut, berinteraksi dengan kita, dan menginterpretasikan sisi santun dari orang tersebut.


Jenis Pidato Bahasa Jawa

Selaras dengan hal tersebut, ada yang hal lain yang juga perlu menjadi perhatian dari seseorang, jika ingin melaksanakan pidato bahasa jawa.

Ialah dari jenis pidatonya. Pidato bahasa jawa, mempunyai beberapa jenis, dan hampir sama dengan yang pada umumnya.

Namun, jenis pidato ini sangat bergantung dengan bahasa yang akan berlaku untuk satu acara tertentu. Jadi, tidak bisa menggunakan asal bahasa jawa. Atau dengan kata lain “yang penting menggunakan bahasa jawa”.

Beberapa jenis tersebut antara lain:

Resmi / Sesorah Resmi

Untuk yang pertama ini, lebih menitikberatkan pada pidato bahasa jawa menggunakan bahasa jawa halus / inggil, sesuai dengan acara resmi yang sudah terselenggara.

Entah itu seminar menggunakan bahasa jawa, pidato di beberapa acara seperti peringatan hari kartini, dan sebagainya.

Setengah Resmi

Ini yang membedakan antara pidato pada umumnya, dan yang menggunakan bahasa jawa. Jenis setengah resmi maksudnya adalah, seorang berpidato menggunakan bahasa yang campuran.

Artinya kadang menggunakan bahasa “ngoko”, ada yang menggunakan bahasa jawa “kromo”, atau jawa halus. Untuk penggunaan jenis ini, biasanya pada acara yang semi resmi. Yang tidak terlalu kaku, dan tidak begitu terpaku dengan aturan yang ada.

Tidak Resmi / Ora Resmi

Yang terakhir adalah jenis tidak resmi, atau pidato ora resmi. Karena tidak resmi, biasanya acara yang terselenggara lebih casual.

Untuk para audience biasanya anak-anak muda, yang mana tidak begitu suka dengan bahasa yang terlalu kaku, ataupun semi formal. Tujuannya agar lebih dekat dengan mereka, dan gagasan apa yang ingin tersampaikan, bisa mereka tangkap dengan baik.

Itulah beberapa jenis dari pidato bahasa jawa, yang bisa menjadi referensi kalian nantinya.


Langkah Pembuatan Naskah Pidato Bahasa Jawa

Setelah dari jenis tersebut, bagaimana caranya membuat pidato bahasa jawa? Mengingat untuk bahasa jawa ini cukup lumayan sulit.

Yang pasti kita harus tahu terlebih dahulu, jenis acaranya, apakah formal atau pun tidak formal, sampai kepada semi formal. Setelah itu, baru menentukan bahasa jawa seperti apa, yang pas untuk acara tersebut.

Jika sudah, maka berikut cara membuat naskahnya:

Ide / Gagasan

Yang pertama adalah ide atau gagasan. Ide dalam hal ini, hampir sama dengan tujuan. Namun lebih menitikberatkan ide apa yang dapat kita sampaikan kepada mereka.

Agar nantinya audience dapat mengambil poin yang kita sampaikan. Bahkan mungkin bisa mengimplementasikannya.

Tujuan

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, tujuan disini, adalah poin-poin penting yang ada dalam ide atau gagasan tersebut.

Bisa tersampaikan dengan baik, serta para audience mendapatkan poin yang kita maksud, serta mereka dapat mengimplementasikannya di kehidupan sosial mereka.

Kerangka

Setelah mengetahui keduanya, baru menyusun kerangka yang ada, secara sempurna dan runtut. Kerangka ini terbagi atas beberapa hal, seperti:

Tema

Tema dalam hal ini, adalah hal utama untuk menentukan kerangka selanjutnya. Menentukan beberapa poin yang ingin kita bahas, dan makna yang akan kita sampaikan kepada audience.

Pembukaan teks naskah

Pembukaan teks naskah dalam hal ini berisi tentang salam, ucapan terimakasih kepada para audience dan penyelenggara, karena telah memberikan kesempatan kepada pemateri, untuk hadir dalam acara tersebut.

Isi naskah sesuai tema

Isi naskah dalam hal ini, ialah poin-poin penting, atau penjelasan penting mengenai apa yang ingin dibicarakan, hal apa yang dapat audience dapatkan atas materi yang pemateri berikan kepada mereka.

Penutup

Untuk penutup berisi tentang pengakhiran dari materi pidato yang tersampaikan. Kemudian ucapan terimakasih kepada audience.

Karena sudah mau mendengarkan materi yang mereka sampaikan. Biasanya untuk hal ini langsung penutup, dan pemateri kadang diminta kesediaannya untuk memimpin doa dari penutupan acara.

Ke empat kerangka tersebut harus selaras dengan tema usungan dari acara. Jika tidak, maka ditakutkan akan membuat kebingungan dari audience.

Sehingga mereka tidak bisa meyerap lebih baik tentang poin-poin yang telah terancang sebelumnya.


Tips Pembukaan Acara dalam Bahasa Jawa

Pembawa acara bahasa jawa (Foto: masmaksum.com)

Adapun beberapa tips mudah untuk pembukaan dalam acara yang menggunakan bahasa jawa. Perlu diingat juga, bahwa jenis acara resmi, biasanya para pembuka acara harus menggunakan pakaian resmi.

Ataupun pakaian adat, yang mana menginterpretasikan bahwa acara tersebut memang penuh dengan aturan yang ada.

Untuk jenis ini, biasanya acara pernikahan, yang disertai dengan ritual adat jawa. Entah itu untuk Jawa bagian barat, timur, ataupun tengah.

Maka, berikut tips membuka acara dalam bahasa jawa:

Bahasa yang Santun

Jawa, identik dengan gaya bahasa yang santun, lemah lembut, tidak terlalu terburu-buru. Juga tidak boleh terlalu cepat dalam membuka acara, terutama untuk acara resmi. Baik pernikahan, pengajian, dan sebagainya.

Pun dengan gestur tubuh dari seorang pembawa acara, yang juga harus merepresentasikan kesantunan, daripada orang jawa.

Mengucapkan Salam yang Baik

Pun dengan salam yang harus baik, tidak boleh dilebih-lebihkan, atau mengurangi volume suara. Harus pas. Yang mana bertujuan, agar audiencen menotice, bahwa acara akan terselenggarakan dalam waktu dekat.

Membaca Runtutan Acara

Setelah itu baru membacakan beberapa runtutan acara yang akan terselenggara. Harus jelas dan sesuai dengan aturan yang ada, sehingga nantinya audience akan memahami, kapan pidato ataupun acara inti terlaksana.

Dalam pembacaan ini juga menggunakan bahasa yang santun, sehingga sesuai dengan acara yang ada.

Jadi, berikut contoh teks pembukaannya:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatu

Dumateng poro sepuh kalih pinih sepuh ingkang kulo hormati

Dumateng poro sedoyonipun poro rawuh, ingkang kulo hormati.

Sepindan, monggo kita sareng-sareng manjataken puji lan syukur ingkang Gusti Allah Ta’ala, ingkang sampun paringanaken kesehatan kalihipun keberkahan, sehinggo, kito sedoyo saged rawuh dateng acara niki, ingkang sehat walafiat, ugi mboten diparingi alangan setunggolipun.

Organisatoris lain baca ini: Konsep Fonologi (Fonetik Fonemik) Dan Intonasi: Pengertian, Jenis Dan Contoh

Kaping kalihupun, sholawat kalih salam tansah kito raosaken puji syukur dumateng Nabi Muhammad SAW. Ingkang mbekto Ummat Islam ing jaman jahhiloyah, dhateng ing jaman Islamiyyah, shehinggo kito sedoyo saged raosake sak meniko.

Wonten mriki, kulo minangki pranoto hadicoro, bade matur ingkang susunan acara, ingkang kalampah sak mangke:

  1. Setunggal inggih puniko Pembukaan
  2. Kaping kalihipun pembacaan ayat suci Al-Qur’an
  3. Tigo, inggih puniko sambutan
  4. Kaping sekawan inti
  5. Soho terakhir, acara Penutup, kalih doa penutup.

Penutup

Itulah beberapa pembahasan mengenai jenis pidato bahasa jawa. Dari beberapa poin tadi, dapat kita simpulkan, bahwasannya, pidato dengan menggunakan bahasa tersebut, sedikit berbeda dengan biasanya.

Ada keterikatan aturan yang ketat, sehingga seorang pemateri ataupun pembawa acara, tidak boleh sembarangan menggunakan jenis bahasa jawa.

Harus disesuaikan dengan tema acara, serta dominan audience pada acara tersebut. Jika universal, bisa menggunakan bahasa yang semi formal.

Jika memang acara tersebut benar-benar formal dan bahkan sakral, bisa menggunakan bahasa formal. Agar lebih terlihat santun, dan menghormati satu sama lain.

Sekian ulasan kali ini, mengenai jenis pidato bahasa jawa, semoga menginspirasi.

Daftar Pustaka

  1. Pidato bahasa jawa
  2. Contoh teks bahasa jawa
  3. Cara membawakan acara menggunakan bahasa jawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *