A. DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), risiko defisit nutrisi didefinisikan sebagai risiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Fokus utama PPNI adalah pada aspek preventif agar kondisi risiko tidak menjadi aktual melalui pemantauan indikator-indikator penyebab seperti faktor ekonomi, psikologis, maupun biologis.
NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) NANDA mendefinisikan kondisi ini sebagai kerentanan terhadap asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik, yang dapat membahayakan kesehatan. Pakar dalam organisasi ini menekankan bahwa “risiko” merupakan penilaian klinis yang memerlukan intervensi segera untuk meminimalkan dampak buruk pada status kesehatan pasien di masa depan.
Lynda Juall Carpenito mendefinisikan risiko ini sebagai keadaan di mana individu berisiko mengalami atau mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak tepat untuk kebutuhan metabolik. Ia menekankan pentingnya melihat hubungan antara kondisi medis pasien dengan kemampuan fungsi tubuh dalam menyerap zat gizi.
Doenges, Moorhouse, & Murr Menurut pakar ini, risiko defisit nutrisi adalah situasi di mana terdapat potensi ketidakcukupan zat besi, vitamin, mineral, dan kalori yang dibutuhkan untuk fungsi seluler. Mereka menyoroti bahwa diagnosis risiko seringkali muncul akibat kondisi transisi, seperti pasca operasi atau saat pasien mengalami mual kronis yang belum menyebabkan penurunan berat badan secara signifikan namun sangat mengancam.
ASPEN (American Society for Parenteral and Enteral Nutrition) Para ahli di ASPEN mendefinisikan risiko ini dari sudut pandang klinis yang lebih spesifik, yaitu sebagai potensi gangguan pada keseimbangan antara asupan nutrien dan kebutuhan tubuh yang menyebabkan akumulasi defisit energi, protein, atau mikronutrien. Hal ini dianggap dapat mengganggu fungsi tubuh normal dan memperburuk hasil klinis (clinical outcomes).
B. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Ekspektasi utama dari intervensi keperawatan adalah Status Nutrisi Membaik [L.03030]. Keberhasilan diukur melalui parameter objektif dan antropometri:
- Peningkatan porsi makanan yang dikonsumsi sesuai target kebutuhan kalori.
- Stabilisasi atau peningkatan berat badan menuju rentang ideal.
- Indeks Massa Tumuh (IMT) berada dalam kategori normal.
- Hasil laboratorium (misalnya albumin serum dan hemoglobin) dalam batas normal sebagai indikator cadangan protein tubuh.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS (SIKI)
Manajemen Nutrisi [I.03119]
Observasi: Melakukan skrining nutrisi berkala, memantau asupan makanan, dan memonitor hasil laboratorium (terutama profil protein dan elektrolit).
Terapeutik: Memberikan makanan dengan modifikasi tekstur jika perlu, menyajikan makanan dalam suhu yang tepat, dan menjaga higiene oral untuk meningkatkan nafsu makan.
Edukasi: Mengajarkan manajemen diet yang diprogramkan kepada pasien dan keluarga.
Kolaborasi: Bekerja sama dengan ahli diet (nutrisionis) untuk menentukan densitas kalori dan komposisi makronutrien yang tepat.
Manajemen Gangguan Makan [I.03111]
Berfokus pada modifikasi perilaku dan pemantauan ketat terhadap pola konsumsi pada pasien dengan etiologi psikologis.
D. FAKTOR RISIKO
Karena ini adalah diagnosis risiko, poin-poin berikut adalah faktor penyumbang yang meningkatkan kemungkinan pasien mengalami defisit nutrisi di masa depan:
- Ketidakmampuan menelan makanan.
- Ketidakmampuan mencerna makanan.
- Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien.
- Peningkatan kebutuhan metabolisme.
- Faktor psikologis (misalnya: stres, keengganan untuk makan).
- Faktor ekonomi (misalnya: tidak mampu membeli makanan).
E. KONDISI KLINIS TERKAIT
Beberapa kondisi klinis yang sering menjadi latar belakang munculnya faktor risiko di atas adalah:
- Stroke (sering menyebabkan disfagia atau gangguan menelan).
- Parkinson (gangguan menelan dan motorik).
- Paralisis serebral (Cerebral Palsy).
- Cleft lip / Cleft palate (bibir sumbing/langit-langit terbelah pada bayi).
- Amubiasis (gangguan absorpsi akibat infeksi).
- Kanker (peningkatan metabolisme sel kanker, efek samping kemoterapi, atau lokasi tumor di pencernaan).
- Luka bakar (peningkatan ekstrem kebutuhan metabolisme dan protein untuk penyembuhan).
- Infeksi akut (meningkatkan laju metabolisme, sering disertai penurunan nafsu makan).
- AIDS (gangguan pencernaan kronis atau infeksi oportunistik di mulut/kerongkongan).
- Penyakit Crohn (gangguan inflamasi usus kronis yang menghambat absorpsi).
- Enterokolitis.
- Fibrosis kistik.
DAFTAR PUSTAKA
Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Flynn Makic, M. B., Martinez-Kratz, M. R., & Zanotti, M. (2020). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based Guide to Planning Care. Elsevier Health Sciences.
American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN). (2021). Appropriate Selection of Nutrition Support Therapy. Clinical Guidelines and Resources.
Carpenito, L. J. (2017). Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice. Lippincott Williams & Wilkins.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. F.A. Davis Company.
NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. Eleventh Edition. Oxford: Wiley Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2023). Healthy Diet: Fact Sheets. WHO Global Initiatives on Nutrition and Food Safety






