RISIKO GANGGUAN SIRKULASI SPONTAN [D.0010]

A. DEFINISI

Definisi Menurut PPNI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) Beresiko mengalami ketidakmampuan mempertahankan sirkulasi yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Fokus utama diagnosis ini adalah pada aspek preventif bagi pasien yang menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik yang mengancam jiwa.

Definisi Menurut American Heart Association (AHA) Kondisi kerentanan tinggi terhadap henti sirkulasi yang sering kali didahului oleh tanda-tanda peringatan fisiologis. AHA menekankan bahwa risiko ini berkaitan erat dengan rantai kelangsungan hidup (Chain of Survival), di mana pengenalan dini terhadap perubahan status klinis dapat mencegah terjadinya henti jantung total.

Bacaan Lainnya

Definisi Menurut Black & Hawks (Pakar Keperawatan Medikal Bedah) Suatu keadaan di mana mekanisme pompa jantung dan perfusi jaringan sistemik berada dalam risiko kegagalan sekunder akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokardium. Hal ini melibatkan penilaian kritis terhadap ancaman syok kardiogenik atau aritmia letal.

Definisi Menurut StatPearls (Advanced Cardiac Life Support) Keadaan risiko tinggi yang dikarakteristikkan oleh adanya gangguan pada fungsi listrik dan mekanis jantung yang berpotensi menyebabkan hilangnya curah jantung secara tiba-tiba. Kondisi ini menuntut pemantauan parameter High-Quality sirkulasi untuk menghindari kolaps kardiovaskular.

Definisi Menurut Urden, Stacy, & Lough (Pakar Keperawatan Kritis) Ketidakmampuan potensial jantung untuk mempertahankan aliran darah ke organ vital akibat penurunan kontraktilitas miokard, gangguan irama, atau penurunan volume intravaskular yang ekstrem, yang jika tidak segera diintervensi, akan berlanjut menjadi kegagalan sirkulasi spontan.

    B. FAKTOR RISIKO (ETIOLOGI)

    Faktor-faktor yang meningkatkan probabilitas terjadinya kegagalan sirkulasi meliputi ketidakseimbangan fisiologis dan patologis sebagai berikut:

    1. Gangguan Elektrolit Berat: Ketidakseimbangan ionik seperti hipokalemia atau hiperkalemia yang mengganggu potensial aksi miokardium.
    2. Hipoksia Jaringan: Penurunan suplai oksigen ke otot jantung yang memicu iskemia dan ketidakstabilan elektrikal.
    3. Hipotermia: Penurunan suhu inti tubuh yang menghambat metabolisme seluler dan kontraktilitas jantung.
    4. Asidosis: Penurunan pH darah yang ekstrem (metabolik maupun respiratorik) yang mengganggu fungsi enzimatis jantung.
    5. Kekurangan Volume Cairan (Hipovolemia): Penurunan beban awal (preload) secara drastis akibat perdarahan hebat atau dehidrasi berat.
    6. Kondisi Mekanis & Toksin: Adanya hambatan fisik seperti tamponade jantung, tension pneumothorax, atau paparan zat toksik (overdosis obat).

    C. INDIKATOR KLINIS & PEMANTAUAN

    Pakar keperawatan kritis menekankan pentingnya kewaspadaan pada “Tanda Bahaya” (Red Flags) untuk mencegah progresi menjadi henti jantung:

    • Pemantauan Hemodinamik: Perubahan tekanan darah sistolik yang drastis (< 90 mmHg) dan fluktuasi laju nadi yang ekstrem.
    • Status Pernapasan: Frekuensi napas yang tidak stabil (> 30 kali/menit atau < 6 kali/menit) sebagai indikator kegagalan oksigenasi.
    • Irama Jantung: Munculnya aritmia maligna pada monitor EKG 12 sadapan (seperti ventricular tachycardia atau blok jantung derajat tinggi).

    D. INTERVENSI PREVENTIF (MANAJEMEN KEPERAWATAN)

    Strategi intervensi difokuskan pada stabilisasi kondisi sebelum sirkulasi benar-benar terhenti (mengacu pada standar SIKI I.02076):

    • Identifikasi Dini: Melakukan stratifikasi risiko menggunakan skor klinis (misalnya skor TIMI atau GRACE pada sindrom koroner akut).
    • Stabilisasi Sirkulasi: Mempertahankan akses intravena yang adekuat dan pemberian terapi oksigen untuk menjaga saturasi jaringan.
    • Manajemen Nyeri & Ansietas: Mengurangi beban kerja jantung melalui tirah baring dan teknik relaksasi.
    • Kolaborasi Farmakologis: Pemberian antiangina, antikoagulan, atau koreksi elektrolit sesuai indikasi medis.

    E. DATA MAYOR

    1. Objektif: Tidak berespon (Coma/Unconscious).
    2. Objektif: Frekuensi nadi <50 kali/menit atau >150 kali/menit (Aritmia letal).
    3. Objektif: Tekanan darah sistolik <60 mmHg atau tidak terukur.
    4. Objektif: Frekuensi napas <6 kali/menit atau >30 kali/menit, atau apnea.
    5. Objektif: Kesadaran menurun atau tidak sadar total.

    F. DATA MINOR

    1. Objektif: Suhu tubuh <34,5 °C (Hipotermia).
    2. Objektif: Gambaran EKG menunjukkan aritmia letal (mis. VF, VT tanpa nadi, Asistol, PEA).
    • Objektif: Data laboratorium menunjukkan adanya asidosis metabolic/respiratorik, gangguan elektrolit berat, atau hipoksia berat.
    • Objektif: Produksi urine urine oligurua atau anuria.
    • Objektif: Kulit pucat, dingin, atau mottling (bercak-bercak).

    G. KONDISI KLINIS TERKAIT

    Beberapa diagnosis medis atau kondisi klinis yang sering menyertai atau mendasari diagnosis risiko ini meliputi:

    1. Sindrom Koroner Akut (SKA): Termasuk STEMI dan NSTEMI.
    2. Gagal Jantung Kongestif (CHF).
    3. Penyakit Jantung Katup.
    4. Kardiomiopati atau Miokarditis.
    5. Aritmia Jantung: Terutama yang mengancam jiwa.
    6. Syok: Baik Syok Kardiogenik, Hipovolemik, Anafilaktik, maupun Septik.
    7. Perdarahan Hebat: Mis. ruptur aorta, perdarahan gastrointestinal masif.
    8. Trauma Dada Berat: Yang berpotensi menyebabkan tamponade atau tension pneumothorax.
    9. Emboli Paru masif.
    10. Gagal Napas Akut.
    11. Overdosis Obat atau Keracunan.
    12. Tenggelam (Near Drowning).

    DAFTAR PUSTAKA

    American Heart Association (AHA). (2020). Part 3: Adult Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation Journal.

    Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th ed.). St. Louis, MO: Elsevier Saunders.

    Carpenito, L. J. (2017). Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice (15th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

    Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales. Philadelphia: F.A. Davis Company.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    StatPearls Publishing. (2024). Advanced Cardiac Life Support (ACLS). National Center for Biotechnology Information (NCBI) – National Library of Medicine.

    Urden, L. D., Stacy, K. M., & Lough, M. E. (2020). Critical Care Nursing: Diagnosis and Management. St. Louis, MO: Elsevier.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *