A. DEFINISI
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Berisiko mengalami variasi kadar bilirubin tak terkonjugasi di dalam sirkulasi yang dapat menyebabkan warna kuning pada kulit dan membran mukosa neonatus. Diagnosis ini menekankan pada kerentanan bayi berusia kurang dari 28 hari terhadap kondisi hiperbilirubinemia akibat masa transisi fisiologis.
NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Kerentanan terhadap akumulasi bilirubin tak terkonjugasi dalam sirkulasi (kurang dari 15 mg/dl) yang dapat terjadi pada bayi dalam kurun waktu 24 jam setelah kelahiran hingga usia 28 hari, yang dapat mengganggu kesehatan. Fokus utamanya adalah pada ambang batas keamanan kadar bilirubin serum.
American Academy of Pediatrics (AAP) Suatu kondisi klinis pada bayi baru lahir yang ditandai dengan pewarnaan kuning pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebihan. AAP menekankan bahwa risiko ini meningkat secara signifikan pada bayi dengan usia gestasi di bawah 38 minggu dan mereka yang mengalami kesulitan dalam pemberian ASI.
Hockenberry & Wilson (Wong’s Nursing Care) Risiko terjadinya pewarnaan kuning pada jaringan tubuh bayi yang disebabkan oleh deposisi bilirubin sebagai hasil dari penghancuran sel darah merah fetal yang cepat dan imaturitas hati untuk mengonjugasi pigmen tersebut secara efisien. Pakar ini menyoroti aspek biologis pemecahan eritrosit sebagai pemicu utama.
World Health Organization (WHO) Kondisi risiko tinggi pada periode postnatal di mana bayi gagal melakukan pembersihan bilirubin secara adekuat melalui feses dan urine. WHO memandang diagnosa ini sebagai prioritas pemantauan dalam asuhan keperawatan neonatal untuk mencegah terjadinya kernikterus atau kerusakan otak permanen.
B. PENJELASAN MENYELURUH RISIKO IKTERIK NEONATUS
Definisi Ilmiah Risiko ikterik neonatus adalah kerentanan neonatus terhadap akumulasi bilirubin tidak terkonjugasi (unconjugated bilirubin) di dalam sirkulasi darah yang bermanifestasi pada pewarnaan kuning pada kulit dan membran mukosa. Kondisi ini secara klinis terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi bilirubin dan kemampuan hati untuk melakukan konjugasi serta ekskresi selama masa transisi ekstrauterin.
C. FAKTOR RISIKO (ETIOLOGI)
Berdasarkan standar klasifikasi keperawatan dan tinjauan klinis dari American Academy of Pediatrics (AAP), faktor risiko yang dapat memicu kejadian ikterik pada neonatus meliputi:
- Faktor Maturitas: Usia kehamilan kurang dari 38 minggu (prematuritas) yang menyebabkan imaturitas fungsi hati dalam proses konjugasi.
- Nutrisi dan Hidrasi: Keterlambatan dalam memulai pemberian ASI atau ketidakadekuatan asupan nutrisi yang menyebabkan peningkatan sirkulasi enterohepatik bilirubin.
- Kondisi Fisiologis: Penurunan berat badan abnormal (lebih dari 7–10% pada bayi cukup bulan), keterlambatan pengeluaran mekonium, dan usia bayi kurang dari 7 hari.
- Inkompatibilitas Darah: Adanya riwayat inkompatibilitas golongan darah (ABO atau Rhesus) antara ibu dan janin.
- Riwayat Keluarga: Adanya saudara kandung yang memiliki riwayat ikterik neonatus sebelumnya yang memerlukan terapi sinar (fototerapi).
D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan tingkat risiko menurun dengan kriteria hasil Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125) atau Adaptasi Neonatus Membaik (L.10098), yang ditandai dengan:
- Kadar bilirubin serum dalam rentang normal sesuai usia gestasi.
- Membran mukosa dan kulit tidak berwarna kuning.
- Sklera mata tampak putih (anikterik).
E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Manajemen risiko dilakukan melalui pendekatan Fototerapi Neonatus (I.03091) dan Edukasi Orang Tua, dengan langkah-langkah ilmiah sebagai berikut:
- Pemantauan Klinis: Melakukan inspeksi visual pada kulit bayi di bawah cahaya terang (alami) dan melakukan penekanan pada kulit (blanching) untuk melihat warna dasar jaringan.
- Monitor Laboratorium: Memantau kadar bilirubin total, direk, dan indirek secara berkala sesuai nomogram risiko.
- Optimalisasi Hidrasi: Mendorong pemberian ASI eksklusif setiap 2–3 jam (minimal 8–12 kali dalam 24 jam) untuk merangsang peristaltik usus dan mempercepat ekskresi bilirubin melalui feses.
- Perlindungan Mata dan Genitalia: Jika fototerapi dimulai, pastikan penggunaan penutup mata (eye protector) dan perlindungan area genitalia guna mencegah efek samping radiasi sinar biru.
F. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Neonatus kurang bulan.
- BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).
- Inkompatibilitas golongan darah (ABO, Rh).
- Defisiensi enzim G6PD.
- Sepsis neonatorum.Asfiksia neonatorum.
- Prematuritas.
- Kelahiran dengan alat (vakum, forcep).
- Gagal nafas.
- Pemberian ASI yang tidak adekuat
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation. Pediatrics, 150(3).
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. 11th Edition. St. Louis: Elsevier.
NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. 12th Edition. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2022). Postnatal Care of the Mother and Newborn: Standards for Improving Quality of Maternal and Newborn Care in Health Facilities. Geneva: WHO Press.






