Zaman agama terdapat masa ulul azmi yang berjaya
Nabi-nabi Ulul Azmi (Foto: zakat.or.id)

Zaman Agama (Ulul Azmi)

Diposting pada

Zaman agama, adalah suatu masa, yang mana hal tersebut menjadi sebuah anugerah bagi bumi. Yang mana mereka mendapatkan rahmat dari-Nya, lewat para Nabi, dengan semua kesabaran mereka, hingga mendapat gelar Ulul Azmi.

Riska Putri – Organisasi.co.id

Manusia pada zaman purba, hidup di Bumi yang masih panas sambil ditemani berbagai hewan ganas. Ia menyaksikan kehidupan datang dan pergi, musim berganti, petir menyambar, serta berbagai kejadian yang tak terjelaskan.

Seiring bergulirnya proses evolusi, otak manusia pun menjadi semakin cerdas. Semula manusia hanya mampu bersembunyi dari hal-hal yang tak ia mengerti, perlahan ia mulai berani untuk mencari tahu.

Ia keluar dari gua gelapnya dan memperhatikan alam semesta. Pengamatannya menumbuhkan benih-benih pemahaman akan adanya sesuatu atau seseorang yang memiliki kekuatan begitu besar yang mengatur jagat raya.

Spesies Homo heidelbergensis menjadi manusia purba pertama yang melakukan ritual agama. Mereka hidup di era Paleolitikum yang mulai pada 2,6 juta tahun yang lalu. Pada 300.000 tahun yang lalu, mereka mulai melakukan penguburan terhadap saudaranya yang meninggal. Hal ini menandakan munculnya kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian.

Organisatoris lain baca ini: Induk Organisasi Biliar: Olahraga Lintas Zaman dan Kelas

Berakhirnya Zaman Es mengubah banyak sisi kehidupan manusia pada masa itu. Tak hanya kebiasaan dan gaya hidup, keyakinan dan agama pun mulai terstruktur. Manusia mulai menciptakan simbol religius tentang kekuatan supernatural dan membangun kuil-kuil pemujaan.

Penemuan-penemuan purba itu membuat para ilmuwan menduga bahwa keyakinan akan adanya Tuhan telah tertanam dalam otak manusia. Hal ini pun terbukti benar adanya melalui penelitian yang diterbitkan pada tahun 2009. Adalah Professor Grafman, peneliti di National Institute of Neurological Disorders and Stroke yang mengemukakannya.

Maka bisa dikatakan bahwa agama merupakan komponen yang tak dapat dipisahkan dari seorang manusia. Ke mana langkahnya pergi, agama akan selalu ada di hati.

Dalam artikel ini, kita akan fokus membahas Zaman Agama Islam sebagai salah satu agama yang paling berpengaruh di dunia. Simak penjelasannya berikut ini.

Definisi Zaman Agama (Sejak Kapan Ulul Azmi Bermula)

Zaman ulul azmi (Foto: kisahteladan.web.id)

Zaman agama adalah era di mana Nabi Nuh sebagai nabi pertama yang mendapatkan gelar Ulul Azmi, mulai menyerukan agar umatnya bertaqwa kepada Allah SWT. Seperti halnya keempat nabi lainnya yang dianugerahi gelar itu, Nabi Nuh juga memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi kaumnya yang ingkar.

Sejarawan masih memperdebatkan tentang kapan tepatnya Nabi Nuh hidup dan banjir bandang yang berkaitan dengan beliau sekaligus menjadi salah satu momentum terbesar dalam peradaban manusia terjadi. Peneliti bernama Dr. John Osgood menyebutkan banjir tersebut terjadi sekitar 3.428 tahun yang lalu atau 1447 sebelum masehi.

Sulit pula menemukan bukti berapa tepatnya usia Nabi Nuh ketika banjir itu melanda. Maka bisa kita asumsikan saja bahwa Zaman Agama dengan turunnya wahyu Allah oleh Nabi Nuh saat sekitar abad 3.400 tahun yang lalu.

Sebuah ekspedisi yang terlaksana oleh kelompok penjelajah dari Noah’s Ark Ministries International mengemukakan bukti-bukti meyakinkan bahwa kapal besar Nabi Nuh mendarat di Pegunungan Ararat, Turki. Lokasi tepatnya berada di ketinggian 4.000 mdpl.  

Definisi Ulul Azmi, Ciri-Ciri Zaman Agama (Ulul Azmi)

Ciri Nabi Ulul Azmi (Foto: idntimes.com)

Istilah Ulul Azmi terdiri dari 2 kata yaitu Ulul dan Azmi. Ulu atau Uli memiliki arti “pemilik”, sementara Azmi berarti tekad atau keteguhan hati. Maka gabungan dari kedua kata itu bermakna “pemilik tekad atau keteguhan hati yang kuat”. Hal itu sangat menggambarkan karakter para nabi yang dianugerahi gelar ulul azmi.

Secara umum, pada Zaman Agama manusia memiliki pemikiran yang lebih maju jika kita bandingkan dengan zaman prasejarah. Mereka mampu menyelesaikan permasalahan yang lebih rumit dengan menciptakan berbagai inovasi dan solusi.

Manusia di Zaman Agama sebagian besar sudah tinggal menetap, memiliki perkampungan, memiliki pemimpin, bahkan harta benda. Mereka juga telah memiliki nilai serta norma tentang apa yang baik dan buruk. Namun mereka lebih mengedepankan napsu dari pada akal sehingga seringkali saling merugikan dan menumpahkan darah dengan sewenang-wenang.

Agama ibarat rambu-rambu jalan bagi pengendara. Sementara itu para nabi bak polisi yang mengatur jalannya lalu lintas dan memastikan pengendara mematuhi semua rambu-rambu itu. Agama memberi batas tentang apa yang boleh dan tidak boleh sehingga manusia dapat berbuat baik dan adil kepada diri sendiri serta sesamanya.

Organisatoris lain baca ini: Bela Diri Muslimah Terbaik, Jenis Dan Perbedaan

Tidak seperti di zaman prasejarah di mana manusia melakukan segala cara untuk bertahan hidup meski harus saling bunuh, di zaman agama, manusia lebih menahan diri. Hal itu karena manusia lebih memikirkan konsekuensi apa yang mereka dapatkan setelah kematian.

Meski begitu, tentu masih banyak manusia yang ingkar dan mengesampingkan perintah agama. Hal ini akan terus terjadi hingga akhir zaman (kiamat).

Yang Termasuk Nabi Ulul Azmi Dan Kitabnya

Ayat tentang Nabi Ulul Azmi dalam Al-Qur’an (Foto: kumparan.com)

Terdapat 5 orang nabi yang Allah anugerahkan gelar Ulul Azmi oleh Allah Swt., antara lain Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad.

Tidak ada bukti tersurat, baik dalam Al-Quran maupun hadits, bahwa Nabi Nuh AS mendapatkan kitab atau suhuf. Namun sebagaimana yang telah ada dalam Al-Quran, beliau mendapatkan firman langsung dari Allah yang berisi larangan dan perintah yang harus dilakukan.

Nabi selanjutnya yang memperoleh gelar Ulul Azmi adalah Nabi Ibrahim yang juga melanjutkan estafet dakwah. Diperkirakan beliau hidup antara tahun 1996-1821 sebelum masehi. Beliau disebut juga sebagai bapak para nabi karena keturunannya banyak yang menjadi nabi. Termasuk Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ibrahim mendapat 10 suhuf, yaitu lembaran berisi wahyu dari Allah SWT yang tidak wajib ia sampaikan kepada manusia. Hal ini tertuang sebanyak 3 kali dalam Al-Quran salah satunya dalam surah An-Najm ayat 36-38:

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى . وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى . أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ….


“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Sementara itu, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai isi suhuf yang turun kepada Nabi Ibrahim. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan suhuf Ibrahim berisi nasehat dan hukum-hukum (Laqa’ Bab al-Maftuh, 176). Ensiklopedia Fikih menguraikan bahwa suhuf Ibrahim dan Daud berisi nasehat dan perumpamaan saja dan tidak mengandung pembahasan mengenai hukum (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 15/167).

Nabi Ulul Azmi ketiga adalah Nabi Musa AS. Beliau lahir pada akhir abad ke-14 ketika peradaban masyarakat Mesir tengah maju namun berakhlak keji. Raja Ramses II (Firaun) yang memerintah ketika Nabi Musa AS lahir, memperbudak dan memperjualbelikan rakyatnya. Ketika Allah Swt menurunkan wahyu kepada Nabi Musa, ia menyerukannya dengan penuh tawakkal meski harus melawan kekuasaan absolut Raja Ramses II.

Nama Para Ulul Azmi dalam Zaman Agama

Nama Para Ulul Azmi (Foto: brainly.co.id)

Ketika Nabi Musa dan pengikutnya kian terdesak oleh kedzaliman raja, Allah SWT memerintahkan beliau untuk membelah lautan dan hijrah ke tempat yang lebih baik. Sesampainya di tempat itu, Allah SWT menenggelamkan Firaun yang berusaha mengejar rombongan Nabi Musa AS.

Di tanah yang baru, Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa setelah beliau berpuasa 40 hari di Gunung Sinai. Kitab itu berisi 10 butir perintah pokok (Ten Commandment) yang harus dilaksanakan kaum Yahudi.

Lama setelah Nabi Musa wafat, lahirlah Nabi Isa AS dari rahim seorang perawan suci bernama Mariam. Sejak pertama kali menghirup udara Bumi, beliau menunjukkan kekuasaan Allah Swt melalui berbagai mukjizat. Namun hingga akhir hayatnya, umatnya ingkar sehingga Allah Swt. melaknat mereka semua.

Nabi Isa mendapatkan wahyu berupa kitab Injil. Para ilmuwan non-Muslim menyimpulkan bahwa Injil yang dimaksud dalam Al-Quran adalah Kitab Perjanjian Baru, Injil Barnabas, atau Injil Thomas. Namun pemuka agama dan ilmuwan Muslim meyakini bahwa Al-Quran yang Allah turunkan kepada Nabi Isa AS adalah Injil yang murni tanpa penambahan atau pengurangan oleh manusia manapun dan berbeda dengan Injil yang ada saat ini.

Para Ulul Azmi Lainnya…

Sekitar 1.000 tahun lamanya bumi terlena dengan sifat kemunkaran, hingga cahaya pengampunan, kasih sayang, dan petunjuk dari Allah Swt tercurah kembali ke Bumi lewat Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir pada tahun 570 masehi dan memperoleh wahyu pertama yang menandai mulainya era kenabian pada 610 masehi.

Organisatoris lain baca ini: Olahraga Panahan Sejak 5000 Tahun Lalu

Al-Quran merupakan kitab yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.  Kitab itu turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Mulanya Al-Quran bertuliskan di atas pelepah kurma, kulit lembu, batu, dan media lainnya karena teknologi kertas belum ada pada masa Rasulullah.

Sejak masa kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiqi, mushaf Al-Quran yang berceceran itu mulai dikumpulkan. Akibat dokumentasi yang belum baik itu pulalah, para sahabat harus menghapal seluruh ayat dalam Al-Quran di luar kepala.

Sayangnya, Perang Yamamah membuat para penghafal Al-Quran mati syahid. Dari situ, muncullah kekhawatiran akan hilangnya Al-Quran. Akhirnya, mushaf yang sudah terkumpul pun tersatukan menjadi satu buku pada era khalifah Utsman bin Affan. Kebijakan ini juga membuat Al-Quran mudah membawanya dan disebarluaskan hingga ke berbagai penjuru dunia.

Kelebihan Kekurangan Zaman Ulul Azmi

Salah satu kelebihan dari daftar Nabi Ulul Azmi (Foto: zakat.or.id)

Kelebihan Zaman Ulul Azmi adalah manusia hanya memiliki satu pemimpin agama dan ia pasti dapat dipercaya karena ia berinteraksi langsung dengan Allah SWT. Satu-satunya yang menghalangi manusia untuk beriman adalah keangkuhan dan egonya sendiri.

Di sisi lain, Zaman Ulul Azmi juga memiliki kekurangan yang khas. Teknologi yang belum terlalu maju membuat penyebaran ajaran agama menjadi lambat dan membutuhkan banyak sumber daya. Para ulama harus melakukan perjalanan ribuan kilometer untuk menyebarkan ilmunya kepada orang-orang di luar daerahnya sendiri.

Orang-orang yang ingin mempelajari agama pun tak jarang harus rela meninggalkan kehidupannya di kampong halaman. Hal ini terjadi pada imam besar Al-Ghazali yang ikhlas melepas status dan kekayaannya yang melimpah demi mereguk ilmu agama Islam dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sementara di zaman milenial ini, teknologi telah berhasil menghancurkan batas-batas jarak dan waktu. Sehingga siapapun bisa menuntut ilmu dengan mudah dan murah. Institusi pendidikan agama pun sudah menjamur ke berbagai daerah, hingga ke kampung-kampung. 

Namun karena kemudahan itu pula, begitu banyak orang yang mengaku sebagai pemuka agama meski tidak punya ilmu apapun. Sehingga ketika manusia haus akan ilmu agama, sangat mudah sekali terbawa arus oleh aliran yang salah. Di berbagai kanal website atau media social, bertebaran ustad dadakan yang asal berpendapat tanpa dalil.

Teknologi tidak hanya membawa kemudahan dalam mengakses informasi, namun juga kemudahan akan tersebarnya informasi yang salah dan menyesatkan.

Peninggalan Zaman Ulul Azmi

Zaman agama yang meninggalkan beragam peninggalan berharga bagi ummat islam
Salah satu peninggalan Rosulullah (Foto: muslim.okezone.com)

Ajaran yang tersampaikan oleh para nabi Ulul Azmi memberikan dampak yang sangat besar dalam segala sendi kehidupan manusia hingga hari ini.

Salah satu contoh penting adalah gunanya 10 butir perintah pokok (Ten Commandment) yang tercantum dalam Taurat sebagai landasan hukum di seluruh dunia. Taurat melarang manusia untuk saling membunuh yang berarti juga bahwa manusia harus menghargai kehidupan.

Hidup satu manusia dengan manusia lainnya dipandang sama penting dan semuanya harus patuh kepada hukum. Poin ini menjadi pondasi prinsip bahwa semua orang, tak peduli apapun latar belakangnya, memiliki nilai yang setara di hadapan hukum.

Peninggalan pada Masa Ulul Azmi dalam Al-Qur’an

Selain itu, Al-Quran juga menjadi kitab yang menginspirasi banyak penemuan fenomenal hingga berhasil mengakhiri zaman kegelapan. Salah satu contohnya adalah penjelasan tersirat mengenai benda-benda luar angkasa yang berputar dalam garis edarnya masing-masing.

Organisatoris lain baca ini: Sejarah Dan Induk Olahraga Dayung

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al Anbiya:33).

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”(QS Yaa Siin: 38-40).

Selama ratusan tahun, ayat ini hanya menjadi misteri bagi umat manusia akibat keterbatasan teknologi dan daya pikir mereka. Namun setelah teknologi kian maju, manusia dapat membuktikan kebenaran ayat ini.

Ternyata setiap planet di tata surya memiliki garis edarnya masing-masing dan berputar mengelilingi matahari dalam jangka waktu tertentu. Dan matahari pun bergerak secepat 17.280.000 kilometer per hari ke arah bintang Vega dalam garis edarnya yang bernama Solar Apex.

Tak hanya itu, Al-Quran juga menjelaskan tentang fungsi gunung di Bumi, sungai di bawah laut, dua laut yang tidak pernah bersatu, dan fenomena alam lainnya. Sedikit demi sedikit kebenaran Al-Quran semakin valid dan manusia hanya bisa menunduk malu sekaligus takjub pada keagungan Allah SWT. Wallahu allam bissawab.

Daftar Pustaka

  1. Gearhart, Regan. 2015. Prehistoric Religion. Indiana University of Pennsylvania.
  2. John Osgood. 1981. The Date of Noah’s Flood. Creation Magazine 4(1):10–13, March 1981.
  3. Oliver, Leaman. 2006. The Qur’an: An Encyclopedia. Taylor & Francis ISBN 978-0-415-32639-1.
  4. https://biography.yourdictionary.com
  5. https://monitor.co.id
  6. https://umma.id
  7. https://www.nationalgeographic.com
  8. https://www.crf-usa.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *