A. DEFINISI
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kekurangan atau kelebihan kuantitas dan/atau kualitas hubungan sosial. Definisi ini merujuk pada ketidakmampuan individu untuk membina hubungan yang efektif, baik karena kurangnya inisiatif maupun pola interaksi yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
NANDA International Suatu kondisi di mana individu mengalami atau berisiko mengalami pertukaran sosial yang tidak cukup atau berlebihan, atau memiliki kualitas yang tidak efektif. Fokus utama pada definisi ini adalah kegagalan dalam mencapai kenyamanan atau kepuasan dalam interaksi interpersonal.
Mary C. Townsend Suatu keadaan di mana seorang individu memiliki partisipasi yang terbatas atau tidak memadai dalam pertukaran sosial, yang sering kali berkaitan dengan gangguan konsep diri atau adanya hambatan perkembangan yang menghalangi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain secara harmonis.
American Psychological Association (APA) Suatu hambatan dalam proses komunikasi verbal dan nonverbal serta tindakan antar-individu yang bertujuan untuk saling memengaruhi. Gangguan ini mencakup ketidakmampuan untuk merespons isyarat sosial secara tepat, yang mengakibatkan kesulitan dalam membangun ikatan emosional.
Sheila L. Videbeck Suatu perilaku yang tidak sesuai atau kurangnya kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain dalam lingkungan sosial. Videbeck menekankan bahwa gangguan ini sering kali muncul sebagai manifestasi dari kecemasan berat, harga diri rendah, atau gangguan proses pikir yang mengganggu fungsi interpersonal.
B. DEFINISI ILMIAH
Gangguan interaksi sosial merupakan suatu kondisi klinis yang ditandai dengan adanya defisit atau eksesitas dalam kuantitas maupun kualitas hubungan sosial individu. Secara psikososial, hal ini mencerminkan kegagalan adaptasi interpersonal di mana individu mengalami hambatan dalam memulai, mempertahankan, atau merespons pertukaran sosial yang bermakna, yang sering kali berdampak pada isolasi diri atau konflik relasional.
C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
Berdasarkan tinjauan klinis, gangguan ini dipicu oleh berbagai faktor determinan, antara lain:
- Faktor Perkembangan: Hambatan maturasi atau gangguan neurologis (misalnya riwayat distres fetal atau persalinan lama) yang memengaruhi kemampuan kognitif sosial.
- Dinamika Keluarga: Disfungsi sistem keluarga, hubungan orang tua-anak yang tidak memuaskan, atau pengabaian selama masa pertumbuhan.
- Psikopatologi: Keberadaan perilaku impulsif, agresif, atau menentang yang menghalangi integrasi sosial yang harmonis.
- Faktor Lingkungan: Ketidakteraturan lingkungan atau ketiadaan figur pendukung terdekat.
D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)
Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan kemunculan tanda dan gejala berikut:
Data Subjektif: Individu mengungkapkan perasaan tidak nyaman dalam situasi sosial, serta mengalami kesulitan dalam mengomunikasikan atau menerima ekspresi perasaan dari orang lain.
Data Objektif: Teramati adanya penurunan responsivitas terhadap orang lain, minimnya minat dalam melakukan kontak emosional maupun fisik, serta hambatan dalam interaksi verbal yang efektif.
E. LUARAN KEPERAWATAN
Tujuan utama intervensi adalah mencapai Interaksi Sosial Meningkat (L.13115) dengan kriteria hasil yang terukur:
- Peningkatan perasaan nyaman dalam situasi sosial.
- Kemampuan yang lebih baik dalam mengomunikasikan perasaan.
- Responsivitas yang meningkat terhadap kehadiran orang lain.
- Minat yang stabil untuk terlibat dalam kontak emosional dan fisik yang sehat.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN TERINTEGRASI
Manajemen keperawatan difokuskan pada dua pilar utama intervensi:
Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
Observasi: Mengidentifikasi penyebab spesifik defisit keterampilan sosial dan menetapkan fokus pelatihan.
Terapeutik: Memberikan motivasi berkelanjutan, umpan balik positif (reinforcement), dan melibatkan keluarga dalam proses latihan.
Edukasi: Melatih keterampilan komunikasi secara bertahap dan menganjurkan evaluasi mandiri pasca-interaksi.
Promosi Sosialisasi (I.13498)
Terapeutik: Memfasilitasi keterlibatan dalam kegiatan kelompok, mendorong partisipasi dalam aktivitas komunitas, dan mendiskusikan batasan serta kekuatan dalam berkomunikasi.
Edukasi: Menganjurkan peningkatan kejujuran diri, menghormati hak orang lain, dan latihan bermain peran (role play) untuk meningkatkan kompetensi sosial.
G. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Retardasi mental
- Gangguan autistik
- Attention deficit/hiperactivity disorder (ADHD)
- Gangguan perilaku
- Oppositional defiant disorder
- Gangguan tourette
- Gangguan kecemasan perpisahan
- Sindrom down
DAFTAR PUSTAKA
American Psychological Association. (2022). APA Dictionary of Psychology: Social Interaction. Washington, DC: American Psychological Association.
Nanda International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023 (12th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice (9th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing (8th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.




