INKONTINENSIA URIN REFLEKS (D.0045)

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengeluaran urin yang tidak terkendali pada interval waktu yang dapat diprediksi ketika volume kandung kemih tertentu tercapai. Kondisi ini secara spesifik merujuk pada hilangnya kontrol volunter terhadap proses berkemih akibat gangguan neurologis.

NANDA International Kehilangan urin secara involunter yang terjadi pada interval yang agak dapat diprediksi ketika volume kandung kemih tertentu tercapai. Definisi ini menekankan pada aktivitas refleks detrusor yang muncul tanpa adanya dorongan untuk berkemih.

Bacaan Lainnya

Brunner & Suddarth (Hinkle & Cheever) Kondisi pengosongan kandung kemih yang disebabkan oleh hilangnya kontrol neurologis di atas tingkat sakral, yang mengakibatkan kontraksi detrusor spontan (refleks) segera setelah kandung kemih terisi sampai batas volume tertentu, tanpa adanya sensasi keinginan berkemih.

Kozier & Erb (Berman, Snyder, & Frandsen) Suatu pola eliminasi urin yang ditandai dengan pengeluaran urin yang tidak disadari pada interval yang dapat diramalkan. Hal ini sering dikaitkan dengan lesi pada medula spinalis yang memutus komunikasi antara pusat saraf kranial dan sakral.

International Continence Society (ICS) Bentuk disfungsi kandung kemih neurogenik yang ditandai dengan detrusor overactivity akibat lesi saraf suprasakral. Kondisi ini menyebabkan kandung kemih berkontraksi secara otomatis sebagai respon refleks terhadap pengisian, tanpa adanya inhibisi dari korteks serebri.

    B. DEFINISI ILMIAH

    Inkontinensia urin refleks didefinisikan secara klinis sebagai pengeluaran urin secara involunter (tidak disadari) yang terjadi ketika volume kandung kemih mencapai ambang batas tertentu, akibat adanya aktivitas refleks detrusor yang tidak terhambat. Kondisi ini umumnya dikaitkan dengan gangguan pada sistem saraf pusat di atas level arkus refleks sakralis, sehingga koordinasi antara kandung kemih dan otak terputus.

    C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

    Penyebab utama dari fenomena ini melibatkan gangguan pada jalur konduksi impuls saraf, antara lain:

    Gangguan Neurologis Suprasakral Kerusakan pada medula spinalis di atas tingkat C2 (misalnya cidera medula spinalis atau tumor) yang menyebabkan hilangnya kontrol inhibitorik dari pusat berkemih di pons.

    Kerusakan Jaringan Lokal Perubahan struktural pada dinding kandung kemih, seperti yang diinduksi oleh terapi radiasi kronis, yang dapat memicu hipereksitabilitas otot detrusor.

    Disfungsi Refleks Detrusor Terjadinya kontraksi kandung kemih spontan tanpa adanya sensasi keinginan berkemih yang normal.

    D. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

    Untuk menegakkan diagnosa ini, diperlukan validasi klinis minimal 80% dari kriteria berikut:

    Data Subjektif Absensi sensasi penuh pada kandung kemih atau sensasi berkemih. Dribbling (urin menetes). Nokturia (terbangun malam hari untuk berkemih secara tidak sadar). Enuresis.

    Data Objektif Peningkatan volume residu urin pasca-berkemih (post-void residual). Pola berkemih yang teratur namun tidak disadari pada interval volume tertentu.

    E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

    Intervensi bertujuan untuk mencapai Kontinensia Urin (L.04036) dengan kriteria hasil: Peningkatan kemampuan mengontrol pengeluaran urin. Penurunan residu volume urin. Perbaikan sensasi berkemih (jika memungkinkan secara neurologis). Penurunan frekuensi dribbling dan hesitansi.

    F. INTERVENSI KEPERAWATAN UNGGULAN (SIKI)

    Kateterisasi Urin (I.04148) Pemasangan selang kateter secara intermiten atau menetap untuk mengosongkan kandung kemih secara terjadwal guna mencegah distensi berlebih dan refluks ureter.

    Perawatan Inkontinensia Urin (I.04163) Identifikasi pola eliminasi dan pemicu kontraksi detrusor. Manajemen jadwal asupan cairan (terutama membatasi cairan menjelang waktu tidur). Edukasi penggunaan alat bantu atau pakaian pendukung (misalnya adult diapers atau condom catheter pada laki-laki).

    Latihan Otot Panggul (Kegel Exercise) Pada beberapa kasus dengan lesi inkomplit, penguatan dasar panggul dapat membantu meningkatkan resistensi uretra.

    G. KONDISI KLINIS TERKAIT

    1. Cedera/tumor/ infeksi medula spinalis
    2. Cystitis
    3. Pembedahan pelvis
    4. Sklerosis multiple
    5. Kanker kandung kemih atau pelvis
    6. Penyakit parkinson
    7. Demensia

    DAFTAR PUSTAKA

    Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. 10th Edition. Boston: Pearson.

    Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.

    International Continence Society (ICS). (2020). Standards for Terminology and Classification of Neuropathic Lower Urinary Tract Dysfunction. Journal of Neurourology and Urodynamics.

    NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. 12th Edition. Oxford: Wiley-Blackwell.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *