Komponen pada Intonasi
Komponen dan Pembagian Pada Intonasi

Komponen Intonasi Saat Berbicara: Ada 7 Hal Penting

Diposting pada

Saat tampil menjadi pembicara, harus mengenal komponen dalam intonasi untuk menciptakan penampilan yang lebih memukau, apasaja komponennya?

Disposito, Komunikasi – organisasi.co.id

Dari Salam, muqoddimah, isi hingga salam penutupan, ceramah, khutbah, orasi, kuliah, seminar, seorang pembawa materi menciptakan sudut pandang dari pendengar.

Ada yang tertarik namun ada pula yang menolak untuk mengikuti seluruh alur pesan. Salah satu faktor kuat penyebabnya adalah intonasi dari pembicara maupun pemateri.

Versi video silahkan bukan link berikut:

Kami merangkum dengan jelas tentang bagaimana komponen suatu intonasi, serta bagaimana membedakannya secara keseluruhan. Maka para pembaca akan memahami secara lengkap dari pada komponen yang mempengaruhi intonasi tersebut.

Organisatoirs lain baca ini: Kata Pembuka Saat Memimpin Sidang, 8 Variasi

Seseorang yang membawakan pidato tentang kegiatan organisasi, atau seorang MC dengan susunan acara yang sudah ia susun dan mereka narasikan pada depan publik.

Maupun seorang dosen atau guru atau pula penceramah. Serta seorang mahasiswa yang menghadapi ujian skripsi dengan susunan mukaddimah kata yang baik, harus terlafaskan dengan kemampuan komunikasi (pengucapan intonasi) yang baik.

Yang handal adalah mereka yang memiliki kemampuan komunikasi meyakinkan. Artikel ini menjawab pertanyaan, bagaimana bisa dalam hal tertentu, seseorang memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dari yang lainnya?

Yang jelas kesemua komponen tersebut (berikut ini) adalah berikatan satu sama lain dan tidak terpisahkan. Ibarat kendaraan (mobil) dengan bagian-bagiannya.

Ada setir, sopir, ban, velg, mesin, interior, kelistrikan, kursi rangka, kaca, spion dan lain sebagainya. Dalam satu rangkaian.

Intonasi juga demikian, maka berikut akan kami jelaskan tentang komponen, pengertian dan bagaimana cara membedakan antar komponen dalam intonasi tersebut.

Komponen Yang Mempengaruhi Intonasi

Sebelum membahas mengenai komponen-komponennya, maka sebaiknya kita membuka kembali pengertian dasar dari intonasi.

Apa itu intonasi?

Yang kita pelajari dari pelajaran SMP hingga kuliah, guru atau dosen bahasa Indonesia kita mengajarkan konsep retorika, bahwa retorika terdiri dari 3 bagian. Yaitu: intonasi, mimik dan penguasaan bahasa.

Intonasi merupakan tinggi rendahnya nada suara.
Namun kadang kita masih keliru dengan tinggi rendahnya tersebut. Sebab hampir tidak bisa kita bedakan antara tingga rendahnya nada (intonatif) dengan tinggi rendahnya (volume) suara. Intonasi dan volume adalah satu bagian namun tetap berbeda satu sama lainnya.

Intonasi adalah tekanan, namun tetap berbeda dengan power. Sampai disini kita mulai bingung.

Kita langsung saja mengkaji secara lengkap ada beberapa bagian pada intonasi suara manusia, yakni:

  1. Pitch (Nada Aksentuasi/Stressing),
  2. Power,
  3. Tempo,
  4. Artikulasi,
  5. Volume,
  6. Jeda,
  7. Emosi,
  8. Phrasering,
  9. Inflection dan
  10. Timbre.

Agar tidak bolak balik dalam memberikan pengertian dan memaknai, maka kita akan mengupasnya satu persatu

Pitch (nada), Komponen Utama Intonasi

Pitch itu merupakan ketepatan nada. Berlaku pada musik dan suara. Siapa penyanyi favorit anda? Kenapa mengidolakannya?

Penyanyi yang diiringi oleh musik, harus ada keselarasan antara nada suara dan musik. Nah inilah pitch control. Ini salah satu alasan kenapa anda mengidolakan penyanyi tersebut. Nadanya tepat. Dalam pelajaran SMP juga kita mendapatkan pelajaran tentang tangga nada. Do re, mi, fa, so, la, si, du.

Saat berbicara juga memakai nada itu. Artinya penempatan nada yang tepat, mempengaruhi makna suara.

Komponen pada Intonasi
Nada suara merupakan komponen dalam intonasi suara (Sumber: Tambahpinter)

Sebagai contoh pengucapan:

Saya tidak menerima kamu merobek catatanku.
Bisakah kamu membantu saya memperbaiki pagar masjid tersebut?

Dua kalimat diatas, bagaimana perbedaan nadanya? Tentu ada perbedaan dari keduanya. Itulah pengenalan nada suara secara umum.

Kalimat pertama, tekanan tinggi pada kata tidak menerima, merobek. Itu kita sebut dengan aksentuasi, atau stressing (tekanan). Atau melakukan tekanan pada kata tertentu.


Kalimat kedua, bisakah kamu, memperbaiki pagar masjid.

Pitch dan aksentuasi (stressing) adalah 2 hal berbeda namun sama dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Organisatoirs lain baca ini: Menjadi Orator, Kuasai 9 Teknik Menguasai Panggung

Power,

Power adalah kekuatan pada tekanan. Jika pitch adalah nada (tinggi rendahnya nada). Maka pawer adalah “energi” pada nada tersebut.

Power dalam hal intonasi Suara
Tendangan kuda ini menggunakan power

Jika power memiliki makna kekuatan energi. Tentu kekuatan bertujuan memberikan tekanan pada bagian lainnya. Power dapat kita temukan pada penggalan kata (suku kata) maupun antar kata.

“Zaman mesolitikum”
Zaman mesolitikum terdiri dari 2 kata dan 7 suku kata,
2 kata yakni: zaman dan mesolitikum,
7 suku kata yaitu: Za-man-me-so-li-ti-kum.

Contoh, coba power anda dengan menyebutkan kata ini:

Iya ma, saya akan mengerjakannya.
Siapa yang merusak laptopku ini?

Kata iya ma (ketika berbicara pada ibu) tentu powernya lebih lembut (lemah) sebab jika memberikan power kuat, akan bermakna lain.

Sementara kata siapa merusak laptopku, tekanannya kuat (keras), untuk mencari siapa pelakunya dan juga sebagai reaksi emosi atau kecemasan.

Tempo

Berikutnya yang menjadi faktor keindahan saat berintonasi adalah tempo.

Jika dalam lagu, tempo adalah ketukan antara satu nada ke nada lainnya yang bisa kita ukur dengan BPM (beat per minute) dari 20 BPM – 200 BPM.

Tempo dalam hal serangan
Strategi serangan tiki taka dalam pemainan bola dengan tempo tertentu

Dari yang paling lambat hingga yang tercepat (Larghissimo hingga prestissimo). Cukup kita kenal saja, sebab istilah-istilah itu ada pada seni musik.

Yang akan kita perjelas dari tempo pada intonasi adalah sebagaimana tempo adalah ketetapan nada. Atau yang menetapkan sebuah nada dengan nada lainnya di nyanyikan secara cepat atau lambat.

Ataukah anda mau menggunakan istilah speed (kecepatan). Boleh menggunakan istilah tersebut untuk lebih mudahnya.

Coba perhatikan susunan kalimat ini, anda sedang buru-buru mau kekantor atau kesekolah setelah selesai sarapan. Saat kendaraan anda sudah siap start. Tiba-tiba ibu anda bertanya “Ana, apakah kamu sudah makan?” maka kira-kira apa jawaban anda.

Sudah maa (dengan tempo cepat).

Atau coba perhatikan lagu-lagu asal malaysia, yang lebih lambat temponya.

Sampai disini sudah paham kan apa pengertian tempo?

Untuk membuat pengertian semakin berat, maka tempo itu kelihatan dari speed saat berbicara.

Maka kita sepaham kan bahwa tempo itu memiliki makna yang sama dengan speed?

Artikulasi

Yang tidak kalah menarik adalah artikulasi.

Bicara kumur-kumur atau jelas.

Artikulasi adalah kejelasan penyebutan kata. Antara kata satu dengan kata lainnya. Maupun dari suku kata yang satu dengan yang berikutnya.

Artikulasi Dalam Intonasi Suara
Hal yang mempengaruhi artikulasi atau pengucapan kata yang kita kenal dengan fonetik fonemik

Artikulasi berhubungan dengan fonetik dan fonemik. Ada pada artikel berikut ini mengenai penjelasan Jenis Fonetik Dalam Komunikasi: Pengertian, 4 Manfaat.

Cara simpel membedakannya adalah suasana santai dan panik. Biasanya yang santai dan rileks cara pengucapan artikulasinya baik, sementara yang panik biasanya artikulasinya tidak jelas secara fonetik (penyebutan huruf-huruf).

Sebenarnya kata artikulasi itu dari bahasa kedokteran yaitu Articulatio yang memiliki makna kelenturan persendian. Jadi ketika kita mengadobsi dalam komunikasi (person maupun organisasi) maka bermakna kelenturan kata-kata dalam bertutur.

Contoh, untuk melatih artikulasio, adalah dengan mengucapkan berulang-ulang kalimat berikut:

Diurut kepalanya diparut kelapanya,

Atau

Ular lari lurus melingkar diatas pagar.

Bagaimana lidah kamu, setelah mengulang dengan cepat kalimat diatas. Makanya jangan tertawakan orang berbicara kumur-kumur yah, sebab barusan juga anda melakukan hal yang sama? heheh.

Volume

Hal berikutnya yang mempengaruhi Intonasi adalah volume suara. Tidak bisa kita menghindari bahwa pada nada (pitch) yang tinggi dan power kuat, akan bersamaan dengan volume yang tinggi.

Volume suara
Volume suara saling mengisi antara satu dengan yang lain.

Namun pada beberapa contoh lain, volume rendah meski dengan nada dan power kuat. Dapat kita artikan bahwa volume adalah tinggi rendahnya suara itu sendiri.

Pasti anda suka menonton channel youtube kan? Kalau iya jangan lupa subscribe channel ini dosen organisasi (hehe, sekalian promosi untuk kebaikan anda semua para organisatoris).

Lanjut, saat kita menonton biasanya suara dari channel tersebut terlalu tinggi atau rendah, maka kita melakukan pengaturan volume suara?

Akan tetapi meski kita meninggikan suara atau merendahkan volume, namun nada suara tetap. Nah itulah volume suara. Terdengar, jelas atau sangat tinggi.

Pengukuran volume suara adalah dB, atau desibel.

Kalimat berikut ini menjadi contoh buat anda:

Rony, kamu dimana? (anda memanggil untuk kelima kalinya adik anda yang tidak memberikan jawaban).
Berapa harga paket pulsa 25.000 nya? (anda bertanya pada counter pulsa, dengan posisi duduk berhadapan).

Apa masih kurang jelas dengan penjelasan ini? Kalau belum jelas, gini. Apa kalimat yang anda lontarkan saat bertengkar karena melihat sidia mengkhianati anda. Sementara anda menemukan bukti, dan dia terus menyangkal?

Jeda

Sehebat apapun menyampaikan sebuah pesan, dengan gaya intonasi yang baik, power full serta tempo menarik. Namun jangan lupa untuk memainkan jeda. Pause atau tahan sejenak. Simpelnya diam untuk beberapa detik.

Jeda sejenak
Jeda sejenak saat bicara (Sumber: muda news)

Hal ini memiliki manfaat, agar proses penyampaian pesan sesuai dengan tujuan karena jeda tersebut memberikan kesempatan pendangar untuk memaknai pesan.

Pembaca teks (narasi) berita memberikan tanda khusus saat penyampaian berita dengan tanda “/”. Tanda / tersebut bermakna berhenti sejenak atau jeda.

Perhatikan para pembaca berita, sekelas Fitri Megantara, Najwa Shihab ataupun Zha Zha Yusari Yahya, Helmi Yohanes dan sebagainya.

Mereka ketika berada di depan kamera, maka pada sisi lain ada layar yang mereka bacakan berupa manuskrip (manuscription) berita dengan tanda-tanda / khusus tersebut dari prompter. Mereka membaca dengan teratus pada jeda tertentu.

Contoh, baca narasi berikut menirukan para penyiar, dan setiap tanda / harus jeda sejenak:

Proses penangkapan/ pelaku penembakan/ di Semarang/ Jawa Tengah// Diwarnai dengan perlawanan/ yang menyebabkan polisi/ melepaskan tembakan/ peringatan// kepada pelaku/

Horee…. cara membacakan kamu mirip dengan penyiar, hehe.

Organisatoirs lain baca ini: Hindari 7 Kalimat (kata) ini, Saat anda Memimpin Sidang Atau Pidato

Komponen Emosi Pada Intonasi

Quality dan emosi. Atau kondisi jiwa dan hati pembicara. Emosi harus ikut dalam memperbaiki kualitas intonasi. Yang profesional, harus mampu memainkan peran dan mengatur emosi sesuai dengan tugas kegiatan publik yang mereka kerjakan.

Kembali perhatikan para host dan pembawa acar TV, semua tampil elegan dan memukai. Namun tahukah anda bahwa kodrat manusia pasti mengalami beberapa masalah.

Misalnya ketika para host ini menuju tempat kerja, bisa jadi mobil mereka ditabrak atau sopir mereka terlambat tiba dan sebagainya. Akan tetapi ketika tampil pada tugasnya, mereka mampu dengan sempurna mempersembahkan tontonan pada para penonton.

Atau ketika kita sedang mengikuti ceramah agama dari channel youtube. Kita ikut menangis (seperti menangisnya saat ditinggalkan kekasih) karena penceramah mengikutkan dan memainkan emosi dalam bertutur.

Pembicara harus mampu menyatukan emosi dalam konten. Sebab emosi ini mempengaruhi quality (kualitas). Serta membentuk mimik dan gestur.

Komponen Tambahan Dalam Hal Intonasi

Penjelasan dalam bentuk audio visual bisa klik url berikut: Komponen tambahan Intonasi

7 hal diatas merupakan bagian utama dari intonation, berikut ini tambahan yang juga tidak bisa kita lupakan untuk memperkaya pemahaman kita, yaitu:

Phrasering

Dalam penulisan lain dari phrasering adalah frasering.

Berikutnya yang menjadi komponen dan memberikan pengaruh pada intonasi adalah phrasering. Adalah pemenggalan antara kalimat satu dengan kalimat lain. Tentu ini berhubungan dengan tanda titik (.) dan koma (,) maupun tanda baca lainnya seperti: ?, !, ; dan sebagainya.

Dalam hal penulisan website tentu berbeda dengan penulisan puisi, dalam hal search engine optimization (SEO). Maka phrasering tersebut menjadi penanda antar kalimat.

Apa perbedaan antara jeda dengan phrasering? Kan sama-sama berhenti.

Jeda adalah berhenti sejenak antara kata, sementara phrasering antar kalimat.

Namun dalam hal komunikasi antara jeda dengan frasering memiliki tujuan yang sama, untuk mengumpulkan energi (power) dan memberikan kesempatan peserta untuk mencernah pesan yang kita sampaikan.

Mengenai contoh daripada fhrasering ini sangat jelas. Perhatikan dimana ada tanda baca. Maka itu satu 1 frasering.

Inflection

Inflection atau infleksi ini merupakan tata bahasa dalam bahasa Inggris. Yang didalamnya terdapat penambahan huruf penanda tunggal maupun jamak. Namun tidak mengurangi makna.

Fonetik berubah namun fonemik tidak berubah. Pengucapan berbeda namun makna tidak hilang. Seperti: Cat dengan Cat’s. 1 kucing dengan banyak kucing. Semua miliki makna yang sama, yakni kucing.

Intinya infleksi ini adalah penggantian kata tertentu tanpa mengurangi makna dari kalimat.

Soekarno, selain menggunakan perulangan kata dan intonasi-intonasi yang kuat. Juga sering menggunakan infleksi.

Saya tidak sebagai presiden mandataris, namun saya sebagai penyambung lidah rakyat. Makna kata “presiden mandataris dan penyambung lidah rakyat” adalah sama, yaitu pelayan rakyat.

Contoh infleksi yang lain:

Aku mencintaimu.
Aku tidak sedang merayumu, aku hanya takut kehilanganmu.

Jadi infleksi ini, telah terjadi perluasan makna. Dari bahasa Inggris ke Indonesia. Yang pada hakikatnya memiliki makna yang sama.

Timbre

Timbre sebenarnya banyak kita gunakan dan kita kenal pada paduan suara yakni warna suara. Kembali kita ke masa SMA bahwa guru seni mengajarkan jenis warna suara wanita: Sopran (tinggi), mezzosopran, alto (rendah). Sementara untuk pria adalah: tenor, bariton dan bass.

Pusing yah.

Gini, warna suara setiap orang berbeda. Ada yang normal sebagaimana kebiasaan kita. Namun ada yang warna suaranya kayak terkecik. Atau suara dalam. Nah itulah timbre.

Sebenarnya timbre ini ciri khas setiap orang yang melalui fase latihan atau kebiasaan. Mereka yang terbiasa menjadi seorang orator, akan memiliki suara “berat” atau “ngebass” yang seksi kan bagi seorang lelaki.

Kesimpulan

Sampai disini, otak kita mulai pusing, sebenarnya inti dri intonasi itu apa, kok panjang sekali penjelasannya. Sabar para pembaca. Kami akan simpulkan bahwa:

  1. Intonasi jika kita artikan tekanan suara, maka itu berarti yang utama dalam intonasi tersebut adalah pitch, volume, emosi dan power.
  2. Jika intonasi kita maknai sebagai gaya, maka itu berarti intonasi selain dari keempat hal tersebut (point 1 diatas) maka mengandung pula, tempo artikulasi dan jeda.
  3. Yang melengkapi intonasi adalah: frasering (phrasering), infleksi dan timbre.

Demikian penjelasan dari artikel ini, semoga memberikan manfaat buat anda

Source:

  1. Cara mengatur intonasi presentasi
  2. Mengatur Intonasi
  3. Teknik Vokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *