A. DEFINISI
International Continence Society (ICS): Suatu keluhan keluarnya urin secara involunter (tidak disadari) yang disertai oleh atau segera didahului oleh rasa urgensi (keinginan kuat untuk berkemih yang sulit ditunda).
Smeltzer & Bare: Suatu kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk menahan keluarnya urin akibat kontraksi kandung kemih yang tidak terkendali (overaktif) sebelum mencapai toilet.
Black & Hawks: Kegagalan fungsi penyimpanan kandung kemih yang mengakibatkan pengeluaran urin secara tidak sengaja segera setelah perasaan ingin berkemih yang kuat muncul secara mendadak.
Ackley & Ladwig: Pengeluaran urin secara paksa yang berkaitan dengan kontraksi otot detrusor kandung kemih yang prematur atau hiperaktif, sering kali dipicu oleh stimulus eksternal.
Potter & Perry: Bentuk inkontinensia urin yang disebabkan oleh kontraksi otot polos kandung kemih yang tidak terkoordinasi, sering kali dikaitkan dengan sindrom kandung kemih overaktif (Overactive Bladder Syndrome).
B. KONDISI KLINIS TERKAIT
Kondisi ini umumnya muncul pada pasien dengan riwayat medis atau patofisiologi sebagai berikut:
- Sistitis: Inflamasi pada dinding kandung kemih yang meningkatkan sensitivitas reseptor regangan.
- Hiperplasia Prostat Jinak (BPH): Terjadi pada laki-laki di mana obstruksi outlet menyebabkan otot detrusor bekerja lebih keras dan menjadi tidak stabil.
- Stroke atau Penyakit Parkinson: Kerusakan pada jalur saraf pusat yang mengatur penghambatan kontraksi kandung kemih.
- Diabetes Melitus: Neuropati diabetik dapat memengaruhi persarafan kandung kemih.
- Sklerosis Multipel (MS): Gangguan transmisi sinyal saraf yang mengontrol sfingter dan otot detrusor.
C. KRITERIA DIAGNOSIS
Tanda dan Gejala Mayor
- Subjektif: Keinginan berkemih yang sangat kuat (urgensi) yang disertai dengan pengeluaran urin tidak terkendali.
- Objektif: (Tidak tersedia untuk kategori mayor pada diagnosis ini, fokus utama pada keluhan subjektif pasien).
Tanda dan Gejala Minor
- Subjektif: —
- Objektif: Pengeluaran urin sebelum mencapai toilet (tidak mampu menunda berkemih).
D. INTERVENSI UTAMA (MANAJEMEN INKONTINENSIA URIN)
Tindakan keperawatan difokuskan pada pemulihan pola eliminasi dan penguatan mekanisme kontrol:
- Latihan Berkemih (Bladder Training):
- Mengatur jadwal berkemih secara bertahap (misalnya setiap 2 jam) untuk melatih kandung kemih menampung volume urin yang lebih besar.
- Mengajarkan teknik relaksasi saat rasa urgensi muncul untuk menekan kontraksi detrusor.
- Latihan Otot Panggul (Kegel Exercise):
- Memperkuat otot-otot dasar panggul untuk membantu menahan aliran urin saat tekanan kandung kemih meningkat.
- Modifikasi Gaya Hidup:
- Membatasi asupan zat iritan kandung kemih seperti kafein, alkohol, dan pemanis buatan.
- Mengatur pola hidrasi (tidak minum terlalu banyak menjelang waktu tidur).
- Manajemen Lingkungan:
- Memastikan akses ke toilet tidak terhambat untuk mengurangi waktu tempuh saat urgensi terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Flynn Makic, M. B., Martinez-Kratz, M. L., & Zanotti, M. (2020). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based Guide to Planning Care. St. Louis: Elsevier.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Management for Positive Outcomes. St. Louis: Elsevier Saunders.
International Continence Society (ICS). (2021). Standards of Terminology in Lower Urinary Tract Function. Bristol: ICS Publications.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: DPP PPNI.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.






