KETEGANGAN PERAN PEMBERI ASUHAN [D.0124]

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI): Kesulitan dalam melakukan peran pemberi asuhan dalam memelihara kesehatan, memberikan perawatan personal, kemandirian dan aktivitas sehari-hari bagi anggota keluarga atau orang terdekat.

NANDA International (Herdman & Kamitsuru): Kesulitan dalam memenuhi tanggung jawab pengasuhan, baik di dalam keluarga maupun dalam hubungan signifikan lainnya, yang sering kali bermanifestasi sebagai kelelahan fisik dan emosional yang mendalam.

Bacaan Lainnya

Marilynn E. Doenges: Suatu kondisi di mana pemberi asuhan merasakan tekanan atau beban yang luar biasa akibat tuntutan perawatan fisik, sosial, dan psikologis dari individu yang dirawat, sehingga mengganggu fungsi kehidupan pribadi pengasuh itu sendiri.

Steven H. Zarit: Sebuah fenomena psikososial yang melibatkan respon emosional negatif terhadap ketidakseimbangan antara tuntutan perawatan dan sumber daya yang tersedia, yang secara spesifik berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup pemberi asuhan.

Lynda Juall Carpenito: Suatu keadaan di mana seorang individu mengalami risiko atau sedang mengalami distres fisik, emosional, sosial, dan finansial saat mencoba untuk memenuhi tuntutan peran sebagai pemberi asuhan bagi orang lain.

    B. DEFINISI ILMIAH

    Ketegangan peran pemberi asuhan (caregiver role strain) merupakan suatu fenomena klinis di mana seorang individu yang memikul tanggung jawab perawatan bagi anggota keluarga atau orang terdekat mengalami kesulitan signifikan dalam memenuhi tuntutan fisik, emosional, sosial, dan finansial. Secara konseptual, hal ini sering dikaitkan dengan beban pengasuh (caregiver burden) yang dapat mengancam kesejahteraan psikologis baik pengasuh maupun penerima asuhan.

    C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

    Secara klinis, ketegangan ini dipicu oleh interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal:

    1. Kondisi Penerima Asuhan: Kompleksitas klinis, kronisitas penyakit (misalnya demensia, kanker), atau perilaku disruptif dari pasien.
    2. Keterbatasan Sumber Daya: Kurangnya waktu istirahat (rekreasi), dukungan sosial dari kerabat lain, atau ketidakadekuatan lingkungan fisik.
    3. Konflik Peran: Adanya persaingan komitmen antara peran sebagai pengasuh dengan tanggung jawab pekerjaan atau peran keluarga lainnya.
    4. Kapasitas Pengasuh: Kurangnya pengetahuan teknis mengenai prosedur perawatan dan mekanisme koping yang tidak efektif.

    D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

    Berdasarkan tinjauan klinis, diagnosa ini ditegakkan apabila terdapat data subjektif berupa kekhawatiran yang menetap, meliputi:

    1. Kekhawatiran akan kemungkinan pasien mengalami perawatan ulang di rumah sakit (readmission).
    2. Kecemasan mengenai keberlanjutan perawatan jangka panjang.
    3. Perasaan tidak mampu atau kurang kompeten dalam menjalankan peran pengasuhan secara efektif.

    E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

    Target utama dari asuhan keperawatan adalah Peran Pemberi Asuhan Membaik (L.13121), dengan kriteria keberhasilan:

    1. Peningkatan kemampuan dalam memberikan asuhan harian secara mandiri.
    2. Peningkatan efikasi diri dalam merawat pasien.
    3. Penurunan tingkat kecemasan terkait prognosis dan keberlanjutan perawatan.

    F. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA (SIKI)

    Strategi penatalaksanaan difokuskan pada pemberdayaan pengasuh melalui:

    Edukasi pada Pengasuh (I.12402):

    1. Mengidentifikasi kesiapan psikologis dan sumber dukungan yang tersedia.
    2. Melatih keterampilan perawatan diri pasien (seperti eliminasi, higiene, dan mobilisasi).
    3. Mendiskusikan pembatasan peran untuk mencegah kelelahan fisik.

    Promosi Pengasuhan (I.13495):

      1. Memfasilitasi transisi peran dan pengembangan ekspektasi yang realistis.
      2. Mengintegrasikan pengasuh ke dalam kelompok pendukung (support group) untuk berbagi beban emosional.

      G. KONDISI KLINIS TERKAIT

      1. Kondisi kronis (mis. cedera kepala berat, cedera medula spinalis, keterlambatan perkembangan)
      2. Kondisi kelemahan progresif (mis. distrofi muskuler, sklerosis multipel, demensia, penyakit alzheimer, PPOK tahap terminal, gagal ginjal, dialysis ginjal)
      3. Penyalahgunaan zat
      4. Kondisi akhir hayat (menjelang ajal)
      5. Kondisi psikiatrik (mis. gangguan kepribadian, skizofrenia

      DAFTAR PUSTAKA

      Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis (15th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer Health.

      Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span (10th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

      Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023 (12th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Zarit, S. H., & Zarit, J. M. (2015). Mental Disorders in Older Adults: Fundamentals of Assessment and Treatment. New York: Guilford Publications.

      Pos terkait

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *