Jenis dari lembaga internal kampus
Lembaga internal kampus dengan tugasnya (Foto: blog.cicil.co.id)

4 Wadah Organisasi Internal Kampus Paling Terkenal

Diposting pada

Lembaga Internal Kampus, menjadi wadah para mahasiswa mereka, dengan segudahng pemikiran yang ada. Hingga pada akhirnya melahirkan 4 wadah organisasi terkenal sepanjang peradaban. Lalu, bagaimana jelasnya?

Novianti – Organisasi.co.id

Sejarah Singkat HMI, PMII dan GMNI Serta IMM

HMI

Lembaga internal HMI
Sejarah HMI (Foto: jurmalfaktual.id)

HMI, adalah lembaga perkumpulan internal kampus mahasiswa yang lahir pada Bulan Februari tanggal 5 tahun 1947. Organisasi tersebut berdiri atas prakarsa Lafran Pane dan 14 orang rekannya, yang juga merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Islam saat itu.

Latar belakang dari berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam adalah, untuk mewujudkan ide membentuk suatu organisasi mahasiswa, juga memiliki kaidah keislaman.

Setelah mendapatkan dukungan, Lafran Pane akhirnya mengadakan pertemuan dengan mahasiswa Islam perguruan tinggi di Yogyakarta.

Tujuan dari pertemuan tersebut adalah, untuk membahas rencana pendirian organisasi baru, pada Bulan November tahun 1946. Namun rapat besar tersebut berakhir dengan kegagalan, dan tidak menghasilkan keputusan apapun.

Kegagalan pertemuan tersebut karena terjadinya perseteruan dua kubu yang hadir, yaitu PNY dan Pemuda Islam Indonesia.

Organisatoris lain baca ini: Organisasi IKATEMI dan IROPIN: 2 Fokus Kerja

Lafran Pane akhirnya mengadakan pertemuan kembali pada tanggal 5 Februari di Sekolah Tinggi Islam, dengan agenda pembentukan organisasi Islam yang memang sudah menjadi tujuannya semula.

Gerak cepat Lafran Pane untuk membuat HMI bukan tanpa alasan yang tepat. Saat itu dia melihat, bahwa masih banyak mahasiswa Islam yang belum memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar.

Penyebabnya adalah, masih banyaknya metode pendidikan yang tertular oleh ajaran komunis dan sosialis.

Berdirinya HMI merupakan terobosan baru dalam membentuk  lembaga organisasi internal kampus mahasiswa, yang juga dapat memberikan pemahaman dan pengamalan Islam kala itu.

PMII

Sejarah PMII (Foto: pwnysulsel.or.id)

Berdirinya PMII terjadi ketika para mahasiswa Nahdliyin, ingin membentuk organisasi dengan ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah atau Aswaja. Walaupun sebenarnya, sebelum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII ini berdiri, sudah ada banyak lembaga organisasi internal kampus lain yang hampir sama. Salah satunya adalah Organisasi Islam Nahdatul Ulama atau NU

Terdapatnya organisasi mahasiswa lain yang juga konsep yang sama, tidak menyurutkan tekad tersebut untuk membentuk Nahdliyin berskala nasional. Pada Bulan Maret tanggal 14-1 1960, terlaksanakan konferensi besar di Kaliurang Yogyakarta. Konferensi tersebut melakukan pembahasan tentang rencana berdirinya Organisasi Mahasiswa Nahdliyin

Selanjutnya lahir suatu panitia, yang menjadi cikal bakall berdirinya Organisasi Mahasiswa Nahdliyin. Ketigabelas mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa NU, yang datang dari berbagai daerah. Mereka mengadakan Musyawarah Mahasiswa NU, pada Bulan April tanggal 14-16 tahun 1960, di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama Surabaya

Hasil musyawarah tersebut terjadi di Balai Pemuda Surabaya, pada Bulan April tanggal 17 tahun 1960. Dan akhirnya, tanggal tersebut resmi menjadi tanggal berdirinya PMII. Namun pada tahun 1972, PMII mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi mandiri, yang tidak terhubung dengan organisasi manapun.

Deklarasi kemandirian PMII dicetuskan pada Bulan Juli tanggal 14 tahun 1972 di Murnajati Malang Jawa Timur. Deklarasi tersebut terkenal dengan istilah “Deklarasi Murnajati”. Namun walaupun begitu, sejarah dan pengaruh NU tidak dapat begitu saja terlepas dari jati diri mereka. Akhirnya, pada Bulan Oktober tanggal 27 tahun 1991, lahirlah “Interdependensi PMII-NU” pada Kongres X di Asrama Haji Pondok Gede.

Penegasan tersebut akhirnya melahirkan suatu pencanangan berupa “Implementasi Interdependensi PMII-NU”, pada Musyawarah Kerja Nasional. Musyawarah tersebut berjalan pada Bulan Desember tanggal 24 tahun 1991, di Cimacan Jawa Barat. 

Adapun prinsip-prinsip dari kesepakatan tersebut adalah:

  1. Ukhuwah Islamiyah
  2. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  3. Mabadi Khoiru Ummah
  4. Al-Musawah
  5. Hidup secara berdampingan dan berdaulat secara penuh.

GMNI

Sejarah GMNI (Foto: intim.news)

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI, terbentuk sebagai hasil kolaborasi antara organisasi mahasiswa. Organisasi tersebut juga menganut asas Marhaenisme, atau Ajaran Bung Karno. 

Ketiga organisasi tersebut adalah:

  1. Gerakan Mahasiswa Marhaenis, berdiri di Yogyakarta
  2. Pergerakan Mahasiswa Merdeka, berdiri di Surabaya
  3. Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, berdiri di Jakarta.

Proses penggabungan ketiga organisasi tersebut sudah mulai terlihat, ketika Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia melakukan pergantian pengurusnya. Saat itu pengurus lama Drs. Sjarief digantikan oleh S.M. Hadiprabowo. Hingga akhirnya, lahirlah keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi mahasiswa tersebut dalam satu ikatan.

Kemudian peristiwa tersebut terjadi dalam rapat pengurus Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia. Rapat tersebut terselenggara di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Setelah melewati serangkaian pembicaraan, akhirnya tercapai kesepakatan untuk melakukan fusi. Kesepakatan tersebut terjadi di rumah dinas Walikota Jakarta di Jalan Taman Suropati.

Persetujuan itu akhirnya terbentuk dengan restu dari Presiden Soekarno, dalam Kongres GMNI pertama tanggal 23 Maret 1954, di Surabaya.

Organisatoris lain baca ini: PPPKMI, IKATWI, PARI 3 OP Kesehatan Yang Jarang Kita Ketahui 

Tujuan dari lahirnya GMNI adalah, melahirkan kader bangsa untuk mewujudkan masyarakat Pancasila, yang sesuai dengan maklumat UUD 1945. GMNI memang merupakan organisasi, yang meyakini masyarakat Pancasila sejati. Para anggota Marhaen dapat terselamatkan dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan serta penindasan, karena Pancasila.


GMNI juga merupakan lembaga organisasi internal kampus yang berskala nasional, dan tidak melihat daerah, suku, agama, atau golongan tertentu. Sedang makna perjuangkan sesuai misi organisasi ini juga lebih berskala nasional, berasaskan Pancasila.

IMM

Lembaga internal kampus IMM
Sejarah IMM (Foto: republika.co.id)

Latar belakang dari berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini memiliki dua faktor utama yaitu.

Faktor Internal

Para mahasiswa Muhammadiyah memiliki keinginan, untuk dapat mengembangkan suatu ideologi, paham, serta harapannya. Sehingga untuk dapat mewujudkannya, memerlukan suatu wadah khusus, yang dapat menyiarkan ideologi tersebut kepada seluruh mahasiswa.

Pada tanggal 18 November 1955, Muhammadiyah akhirnya berhasil mewujudkan harapannya dalam mendirikan perguruan tinggi.

Namun harapan untuk membentuk organisasi mahasiswa belum dapat terwujud, karena saat itu Muhammadiyah masih memiliki perjanjian dengan Masyumi.

Salah satu klausul yang juga terdapat dalam perjanjian tersebut menyatakan, satu-satunya lembaga organisasi internal kampus mahasiswa islam yang diakui hanyalah HMI.

Mendekati Muktamar Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1962, seluruh mahasiswa Muhammadiyah melakukan kongres di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut, tercetus kembali keinginan untuk membentuk organisasi khusus itu. Harapan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak mahasiswa Muhammadiyah, yang ada di Jakarta. 

Melihat banyaknya desakan dan dorongan tersebut, akhirnya usulan tersebut disetujui oleh PP Muhammadiyah. Dan kemudian, persetujuan itu terjadi pada tanggal 14 Maret 1964.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah keadaan yang berasal dari lingkungan luar Muhammadiyah, yaitu berupa situasi dan dinamika kehidupan mahasiswa yang ada. Situasi umat Islam saat itu masih merupakan tradisi, paham, serta keyakinan, yang tidak sesuai dengan kaidah dan ajaran Islam. Beberapa diantaranya bahkan berupa takhayul, bid’ah dan khurafat.

Pada saat yang sama, kehidupan berbangsa dan bernegara juga terancam oleh pengaruh paham komunis PKI. Bentuknya berupa keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan konflik kekuasaan antar golongan dan partai politik. Upaya para pemuda HMI untuk dapat memperlihatkan eksistensi revolusionernya, tetap terhadang PKI untuk bubar jalan. 

Namun karena para pendiri HMI awalnya adalah orang – orang Muhammadiyah, maka berdirinya IMM mendapat dukungan penuh olehnya. Terutama, dalam menangkal pemaksaan   untuk membubarkan organisasi oleh PKI.

Makna Sebutan HMI Sesat

Pemikiran negatif terhadap HMI (Foto: lpmprogress.com)

HMI yang merupakan salah satu organisasi mahasiswa Islam, kiprahnya ikut mewarnai warna politik di Indonesia. Sayangnya, organisasi yang juga seharusnya dapat menyuarakan suara dari ideologi yang mereka yakini, malah berakhir dengan hujatan “HMI sesat!”.

Hujatan yang cukup kejam tersebut berawal dari dukungan organisasi mahasiswa tersebut terhadap Undang-undang Omnibus Law. Undang-undang yang cukup kontroversial tersebut, sebelumnya memang sudah mendapat perlawanan dari mayoritas kalangan elit mahasiswa. Dengan tambahan dukungan dari HMI, suasana menjadi sedikit tidak terkendali.

Emosi yang tidak terkendali tersebut, akhirnya berubah menjadi adu jotos antar mahasiswa. Terlepas dari adu fisik yang sudah terlanjur terjadi tersebut, ada baiknya jika kita menggali lebih dalam makna dari sebutan “HMI sesat” yang sempat viral di dunia maya tersebut. 

Organisatoris lain baca ini: 75 Organisasi Kepemudaan Nasional, Mahasiswa Dan Sayap Partai

Sebutan tersebut sebenarnya merupakan penggalan berita dari artikel yang dibuat oleh salah seorang mahasiswa Unindra. Dia menulis tentang pendapatnya yang bertajuk, “Sesat Berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law”. Tulisan tersebut merupakan tanggapannya atas konferensi Pers yang dilakukan kader HMI, untuk meminta pemerintah segera mengesahkan RUU Cipta Kerja tersebut.

Rivalitas HMI dan PMII

Rivalitas PMII vs HMI (Foto: mojok.co)

HMI dan PMII keduanya merupakan lembaga organisasi internal kampus mahasiswa yang ada di Indonesia. Keduanya juga memiliki tujuan yang sama, hanya berbeda dalam cara penyampaian. Keduanya juga cukup populer di kalangan masyarakat dan mahasiswa. Dapat terlihat dari jumlah anggotanya di seluruh indonesia.

Jika melihat fungsinya, kedua organisasi tersebut merupakan tempat bagi para mahasiswa dalam menyalurkan aspirasinya. Namun sayangnya, perbedaan yang ada justru malah membawa ke suatu persaingan yang tidak sehat. Bahkan kedua kelompok seperti seolah rela untuk saling menghianati kepercayaan masing-masing. 

Rivalitas keduanya sangat terlihat saat terjadi demonstrasi tahun 2020 terkait RUU Omnibus Low. Kedua organisasi tersebut terlihat seperti minyak di lautan, yang sulit untuk menyatu. Upaya untuk adanya perdamaian juga sudah pernah terjadi. Namun entah kenapa, seperti tidak ada cara ampuh apapun yang dapat menyatukan mereka.

Tanpa ingin berpihak kepada salah satu kubu, tulisan ini hanya untuk sekedar membantu mengingatkan keduanya. HMI dan PMII lahir karena ada tujuan mulia di baliknya. Dan yakinlah, melakukan perseteruan bukanlah salah satu dari tujuan tersebut. 

Kompetisi juga bukan merupakan pilihan bijak untuk saat ini, namun kolaborasi lah yang dapat membuat suatu perubahan untuk masyarakat luas. Ke arah yang lebih baik tentunya.

Perbedaan juga tidak selalu berarti buruk, namun bisa juga jadi indah. Semuanya tergantung dari kadar kedewasaan masing-masing pihak, untuk tahu cara menyikapinya. Seperti adanya pepatah yang mengatakan, “hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin”.

Alasan Perbedaan Pengkaderan Dalam Setiap Organisasi Mahasiswa

Perbedaan setiap mahasiswa (Foto: dw.com)

Kaderisasi merupakan pusat kehidupan bagi sebuah organisasi. Tanpa suatu kaderisasi, sulit bagi organisasi apapun untuk dapat meneruskan estafet perjuangan mereka di masa depan. Kaderisasi juga berfungsi untuk dapat menciptakan calon-calon penerus masa depan, terutama bagi organisasi mahasiswa. 

Pengkaderan juga terus terlaksana untuk dapat memilih tunas-tunas yang memiliki jiwa kepemimpinan, emosi yang stabil dan juga seorang yang kreatif. Selain itu, kaderisasi juga berguna untuk dapat melihat mental, kemampuan dan kepribadian calon pemimpinya. 

Namun dalam semua kriteria tersebut, faktor apa sajakah yang menjadi alasan dari terdapatnya perbedaan pada setiap lembaga organisasi internal kampus mahasiswa?

Perbedaan pertama yang mendasari terjadinya perbedaan pada organisasi mahasiswa adalah alasan strategi. Pasalnya, setiap organisasi memiliki strategi yang berbeda-beda dalam meraih sasarannya masing-masing.

Alasan kedua adalah ukuran dari organisasi tersebut. Ukuran organisasi dapat menjadi alasan, dalam kaderisasi organisasi mahasiswa umumnya. Dan alasan yang ketiga adalah faktor lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal. Keduanya dapat mempengaruhi kinerja dari organisasi mahasiswa itu sendiri.

Struktur Organisasi HMI, PMII, GMNI dan IMM

Struktur organisasi lembaga internal kampus
Struktur organisasi lembaga internal kampus (Foto: karakterunsulbar.com)

Bagan Organisasi HMI

Bagan Kekuasaan
  • Kongres, 
  • Konferensi Cabang/Musyawarah Anggota Cabang
Struktur Kepemimpinan
  • Pengurus Besar 
  • Cabang
  • Komisariat 
Majlis Konsultasi
  • Majlis Pekerja Kongres 
  • Majelis Konferensi Cabang 
  • Majlis Pekerja Rapat Anggota Komisariat 

Struktur Organisasi PMII

Ketua 
  • Ketua Umum
  • Lead I
  • Pemimpin II
  • Leader III
Sekretaris
  • Sekretaris Umum
  • Sekretariat I

Organisatoris lain baca ini: Kuliah Saja Tanpa Berorganisasi, Atau 2 2nya?

  • Bagian II dan III
Wakil Sekertaris
Wakil Bendahara
Biro Internal
  • Kaderisasi dan Pengembangan Anggota
  • Kajian Pengembangan Intelektual dan Research
  • Pemberdayaan Ekonomi dan Kelompok Profesional
  • Pendayagunaan Potensi dan Kelembagaan Organisasi
  • Hubungan, Komunikasi Pemerintah, dan Kebijakan Publik
  • Hubungan Komunikasi Organisasi Gerakan, Kepemudaan, dan Perguruan Tinggi
  • Pengembangan Media dan Informasi Koordinasi
  • Advokasi, HAM dan Lingkungan Hidup
  • Dakwah dan Kajian Islam
  • Komunikasi dan Hubungan Pesantren
  • Hubungan dan Komunikasi Lintas Agama

Bidang Eksternal

Bidang Keagamaan

Struktur Organisasi GMNI

  • Wakil Ketua Bidang Organisasi
  • Pendamping Ketua Bidang Kaderisasi
  • Wakil Ketua Bidang Politik
  • Sekertaris
  • Bendahara

Struktur Organisasi IMM

Ketua Umum
  • Organisasi   
  • Kader
  • Bidang Hikmah         
  • Ketua Bidang Tabligh Dan Kajian Keislaman      
  • Pemimpin Bidang Keilmuan      
  • Ketua Bidang Sosia Pemberdayaan Masyarakat 
  • Lead Bidang Kewirausahaan       
  • Ketua Bidang Media Dan Komunikasi      
  • Pimpinan Bidang Immawati      
  • Ketua Bidang Seni Budaya Dan Olahraga           

Sekretaris Umum     

  • Sekretaris Bidang Organisasi
  • Sekretariat Bidang Kader        
  • Sekretaris Bidang Hikmah     
  • Sekretaris Bidang Tabligh Dan Kajian Keilmuan       
  • Sekertaris Bidang Keilmuan  
  • Sekretaris Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat         
  • Sektretariat Bidang Media Dan Komunikasi    
  • Sekretaris Bidang Kewirausahaan    
  • Jubir Bidang Seni Budaya Dan Olahraga         
  • Sekretaris Bidang Immawati 

Anggota Bidang Organisasi           

  • Anggota Bidang Kader       
  • Komponen Bidang Hikmah    
  • Anggota Bidang Tabligh Dan Kajian Keislaman 
  • Anggota Bidang Keilmuan 
  • Komposisi Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat       
  • Anggota Bidang Kewirausahaan   
  • Komponen Bidang Media Dan Komunikasi 
  • Anggota Bidang Seni Budaya & Olahraga

Daftar Pustaka:

  1. https://tirto.id
  2. https://www.nu.or.id
  3. http://muhammadiyahstudies.blogspot.com
  4. https://id.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *