Profesi Kesehatan
Kegiatan Profesi kesehatan

PPPKMI, IKATWI, PARI 3 OP Kesehatan Yang Jarang Kita Ketahui

Diposting pada

PPPKMI, dan 2 OP Lain, yakni IKATWI dan PARI, jarang terdengar oleh telinga yang ternyata memiliki kontribusi besar buat bangsa dan negara.

Riska Ayu eka Putri. Profesi – Organisasi.co.id

Saat mendengar istilah profesi kesehatan, biasanya imajinasi kita langsung tertuju pada dokter atau perawat.

Mereka yang berseragam putih, membawa steteskop, dan bertanya dengan ramah kepada pasien, “Apa yang sakit pak/bu?”

Namun ternyata, bukan hanya mereka saja yang berperan besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan.

Kegiatan Penyuuluhan Kesehatan
Kegiatan penyuluhan Kesehatan

Jika kita memperhatikan setiap bagian di rumah sakit dengan seksama, ada banyak tenaga kesehatan lainnya yang seringkali luput dari perhatian.

Namun, beberapa di antaranya akan kita bahas dalam artikel ini, Mereka adalah tenaga pendidik kesehatan, terapis wicara, dan radiografer.

Popularitas mereka memang jarang kita tampilkan di dalam sinetron televisi atau media massa.

Tak pernah ada pula sinetron yang berjudul “Putri Cantik Jatuh Cinta Pada Radiografer Tampan”. Padahal jasa mereka tidak kalah besar dengan para dokter.

Seperti apa profesi mereka dan organisasi apa yang menaunginya? Mari kita berkenalan lebih dalam.

PPPKMI

Penyuluh dan pendidikan kesehatan, demikian singkatnya profesi kesehatan ini yang merupakan bagian dari 25 Organisasi Profesi Kesehatan, Tahun Berdiri Dan Syarat Anggota.

Asal Usul Organisasi Profesi PPPKMI

Meski kita telah lama memasuki era internet, masih banyak daerah pelosok di Indonesia yang belum terjangkau teknologi ini.

Belum lagi ketimpangan soal pasokan listrik, harga laptop yang mahal, dan sederet rintangan lainnya yang membuat informasi penting sulit dijangkau masyarakat.

Maka tak heran jika masyarakat di wilayah pelosok memiliki tingkat kesehatan yang rendah, sanitasi yang buruk, dan gaya hidup tak sehat.

Kendala seperti ini tentunya harus terjembatani agar seluruh masyarakat bisa menikmati hidup yang sehat dan bermakna. Nah, di situlah jasa besar para promoter dan pendidik kesehatan dapat kita rasakan.

Mereka menelusuri kampung-kampung sambil bermandi peluh untuk membantu individu, keluarga, dan komunitas dalam memaksimalkan dan mempertahankan gaya hidup sehat.

Seiring berjalannya waktu, jumlah tenaga promotor dan pendidik kesehatan pun kian bertambah, sehingga memerlukan sebuah organisasi profesi guna mempermudah koordinasi. Selain itu, keberadaan organisasi ini juga berfungsi untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi gagasan dan pengetahuan.

Maka terbentuklah organisasi non profit bernama PPPKMI (Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia)

Kapankah berdirinya PPPKMI?
Maka jawabannya adalah tepat pada tanggal 14 Februari 1988 di Jakarta.

Visi Misi Dan Program PPPKMI

PPPKMI berdiri di atas pondasi visi dan misi yang mulia sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasarnya:

Visi

Mewujudkan tenaga promkes yang tanggap, bermutu, dan beretika dalam mewujudkan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan demi tercapainya masyarakat sehat sejahtera dan mandiri.

Misi

  1. Menggerakkan peningkatan promotor dan pendidik kesehatan berkaitan dengan penataan/pengaturan dan pembinaannya, baik secara kuantitas maupun kualitas
  2. Membantu pemerintah untuk meningkatkan program edukasi kesehatan untuk memenuhi hak masyarakat guna mendapatkan informasi kesehatan yang benar
  3. Menggerakkan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang berbasis perilaku dan berkesinambungan
  4. Melakukan penelitian dan pengembangan program untuk mendukung kebijakan dan program promosi kesehatan
  5. Meningkatkan kemitraan dan kerjasama dengan berbagai pihak, baik lokal, nasional, maupun global dalam rangka mempromosikan perilaku sehat

Organisatoris lain membaca ini: PTGMI, Mengenal Profesi Kesehatan Gigi Sejak 1967

Program

Guna mewujudkan cita-cita tersebut PPPKMI menyelenggarakan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat umum, komunitas, dan individu. Program tersebut antara lain:

  1. Penelitian dan pengembangan program promkes
  2. Peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga promotor dan pendidik kesehatan
  3. Peningkatan kemitraan dan jejaring nasional, regional, dan global serta pengabdian masyarakat dalam promosi kesehatan
  4. Pengembangan organisasi
  5. Pengembangan humas dan hubungan luar negeri

Pada tahun 2013, PPPKMI menegaskan eksistensinya hingga ke tingkat internasional dengan menjadi anggota International Union of Health Promotion and Education (IUHPE). Ini adalah organisasi promosi dan edukasi kesehatan dunia yang telah berdiri sejak 65 tahun lalu.

Organisatoris lain membaca ini: 3 Organisasi Profesi: Sikap PTGMI, NIRA PPNI, KTA, IBI

Lambang dan Makna Logo PPPKMI

Organisasi profesi PPKMI memiliki logo yang terdiri dari gambar peta Indonesia di dalam lingkaran elips dengan lima garis.

Logo Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia PPPKMI
Logo Dari PPPKMI

Garis tersebut melambangkan azas Pancasila yang menjadi dasar organisasi ini.dan lima pilar kesehatan.


Sementara itu, gambar obor yang terlilit oleh ular melambangkan pencerahan kesehatan.

Tujuan Organisasi Profesi PPKMI

Tujuan organisasi ini sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar PPPKMI 2017-2021 Pasal II ayat 2 adalah:

  1. Melestarikan profesi promotor dan pendidik kesehatan masyarakat Indonesia
  2. Mengembangkan, mempraktekkan, mendayagunakan ilmu, dan seni promosi kesehatan serta keterampilan profesi dalam program pembangunan “Indonesia Sehat” berbasis perilaku
  3. Meningkatkan kapasitas promosi kesehatan utamanya kapasitas SDM Promkes Profesional
  4. Melakukan pembinaan kehidupan profesi, integritas moral, dan etika profesi serta melindungi dan memperjuangkan kepentingan  anggota dan profesi
  5. Menggalang kemitraan baik dengan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, antarprofesi kesehatan, LSM, swasta, media massa serta mengembangkan jejaring nasional, regional, dan global

Sumpah Profesi PPPKMI

Tenaga promosi kesehatan yang telah terdaftar sebagai anggota resmi PPPKMI dapat mengikuti sumpah profesi.

Setelahnya, anggota tersebut akan memperoleh surat keterangan bukti pengambilan sumpah yang menjadi syarat pengajuan STR Promkes.

Prosesi ini dapat terlaksanakan di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Pihak yang berhak mengambil sumpah adalah Pengurus Pusat atau Pengurus Daerah yang secara resmi mendapat mandat dari Pengurus Pusat.

Seringkali terdapat berbagai kendala yang membuat anggota sulit untuk pergi ke kantor Pengurus Pusat atau Daerah.

Apabila kondisi ini terjadi di lapangan, maka Pengurus Pusat/Daerah dapat memberikan mandat kepada Pengurus Kabupaten/Kota untuk bertindak sebagai pengambil sumpah.

Alamat Kantor dan Website PPPKMI

Bagi tenaga promker dan pendidik kesehatan yang ingin berkenalan lebih lanjut dengan organisasi ini.

Anda dapat mengunjungi kantor pusatnya yang beralamat di MIRACLE Building, Jalan Malaka Raya No. 27, Duren Sawit Jakarta Timur 13460. Anda juga dapat mengakses informasi lainnya dengan mengklik website https://pppkmi.org.

IKATWI

Kajian profesi IKATWI

Jika Anda penasaran bagaimana seorang terapis wicara bekerja, Anda sangat disarankan untuk menonton film berjudul The King’s Speech.

Dalam film tersebut, tokoh utamanya yang bernama Bernie tergambarkan memiliki kegagapan bicara sehingga sulit berkomunikasi dengan orang lain.

Kemudian seorang terapis membantunya hingga ia bisa berbicara dengan lancar.

Terapis wicara adalah mereka yang bekerja untuk mendiagnosa dan memberikan layanan terapi kepada orang dengan gangguan bicara, bahasa, suara, dan kefasihan yang merupaka akibat dari gangguan atau kelainan. Tak hanya itu, terapis wicara juga bertugas merehabilitasi pasien yang mengalami gangguan menelan. (Disfagia).

Hingga kini, jumlah terapis wicara di Indonesia masih sangat minim. Mereka pun terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa sehingga pasien di wilayah lain sangat sulit mendapatkan layanan terapi ini.

Hal ini berkaitan juga dengan jumlah lembaga pendidikan terapis wicara yang sangat minim. Saat ini hanya 5 kampus saja yang menawarkan jurusan ini di Indonesia.

Sejarah Pendirian IKATWI

Organisasi profesi IKATWI mengumpulkan para terapis wicara di Indonesia. Masyarakat tanah air pertama kali mengenal profesi ini melalui Kursus Speech Correction A dan B yang terselenggarakan pada tahun 1971.

Awalnya kursus ini hanya berdurasi selama 6 bulan. Kemudian sejak tahun 1973, programnya tersempurnakan dengan durasi lebih panjang yaitu 3 tahun.

Program tersebut terselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Bina Wicara. Kemudian pada tahun 1985, lembaga ini meleburkan diri dengan bidang fisioterapi dan merubah namanya menjadi Akademi Rehabilitasi Medik dengan jurusan Terapi Wicara.

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Bab II Pasal 2, profesi terapis wicara secara resmi sebagai salah satu tenaga kesehatan terapi.

Keputusan tersebut membawa dampak yang amat positif. Para terapis wicara akhirnya sepakat untuk membuat suatu organisasi untuk menaungi profesi ini. Awalnya, mereka membentuk suatu organisasi non formal bernama Ikatan Bina Wicara Indonesia (IKABWI) pada 1975.

Meski masih bersifat organisasi non formal dan belum mendata anggota secara akurat, IKABWI yang saat itu dengan pimpinan Bambang Setyono, Sp.Th. sudah memiliki beberapa program serta kerja sama dengan Departemen Kesehatan.

Pada tahun 1993, organisasi mengubah namanya menjadi IKATWI. Momentum ini juga bersamaan dengan penggantian jajaran kepengurusan.

Barulah pada tahun 2001, IKATWI sah menjadi organisasi formal setelah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya dalam Munas I IKATWI di Jakarta.

Sejak saat itu, pendataan dan registrasi anggota pun melakukan sehingga para anggota bisa memiliki kartu serta nomor anggota. 

Logo IKATWI dan Maknanya

Kepanjangan Nama IKATWI

IKATWI adalah singkatan dari Ikatan Terapis Wicara Indonesia.

Organisasi Profesi PARI

Selanjutnya juga ada organisasi profesi khusus mereka ahli Radiografi

Kepanjangan Nama PARI

PARI adalah singkatan dari Perhimpunan Radiografer Indonesia. Organisasi profesi ini merupakan satu-satunya yang menghimpun para radiografer di bumi pertiwi.

Logo PAri
Logo Resmi PARI (Foto: PARI)

Profesi yang satu ini memang tidak selalu kita jumpai di rumah sakit, kecuali apabila kita membutuhkan foto rontgen.

Ya! Mereka adalah para tenaga yang mengoperasikan mesin rontgen dan sumber radiasi lainnya.

Radiografer memang bisa kita katakan cukup baru. Ia mulai terkenal di Indonesia pada tahun 1950 saat bagian radiologi baru terbuka di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (waktu itu masih bernama CBZ).

Adalah dua orang radiolog Belanda bernama Prof. Dr. Vanderplats dan Prof. Knoch yang memimpin bagian tersebut.

Keduanya membawahi beberapa dokter pribumi di antaranya Prof Yohannes, Prof Siwabessy, Prof H.B.Syahrial Rasyad, dan Prof. Dr. H. Gani Ilyas.

Saat itu, tenaga operator terdiri dari para perawat senior yang mengikuti pelatihan singkat tentang tata cara mengoperasikan sumber radiasi.

Namun seiring waktu, para operator mendapatkan tuntutan untuk mendapatkan pendidikan formal agar bisa mengikuti laju perkembangan ilmu dan teknologi radiologi.

Mulai tahun 1954, jurusan Asisten Rontgen pertama di Indonesia pun terbuka.

Kegiatan belajar terlaksanakan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dengan siswa yang terdiri dari lulusan Sekolah Menengah Pertama. Program ini cukup menarik bagi para pelajar dan tetap ada hingga tahun 1968.

Kini pendidikan radiografer memiliki jenjang hingga spesialis. Namun sayangnya masih terpusat di Pulau Jawa.

Sejarah Pendirian PARI

Ide untuk mendirikan organisasi profesi radiologi tercetuskan oleh para lulusan Sekolah Asisten Radiologi (ASRO) pada tahun 1954.

Mereka merasa perlu berhimpun dalam suatu organisasi khusus agar komunikasi dan aspirasinya dapat tersalurkan.

Kemudian terbentuklah organisasi bernama Ikatan Asisten Rontgen Indonesia (IKASARI).

Bertambahnya jumlah tenaga radiographer di Indonesia mendorong para pelaku profesi ini untuk membentuk suatu organisasi yang lebih professional.

Maka berdirilah Persatuan Asisten Rontgen Indonesia (PARI) pada 1956.

Nama ini kemudian berubah menjadi Ahli Radiografi Indonesia pada tahun 1980 melalui Kongres ke-IV.

Sembilan tahun kemudian, barulah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PARI serta Kode Etik profesi radiographer. Disahkan.

Maksud dan tujuan PARI

Adapun maksud dan tujuan pembentukan organisasi PARI adalah sebagai berikut:

  1. Mempererat hubungan kekeluargaan sesama anggota
  2. Meningkatkan keahlian anggota
  3. Meningkatkan kesejahteraan sosial bagi anggota dan keluarganya
  4. Membantu pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan terutama dalam bidang kesehatan melalui pelayanan radiologi

Alamat kantor dan Wesbite PARI

Kantor pusat organisasi profesi PARI beralamat di Politeknik KEsehatan Jakarta II, Jalan Hang Jebat III Blok F-3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Website https://pari.or.id dapat diakses untuk mengetahui seluk beluk organisasi ini lebih lanjut.

Penutup

Setelah berkenalan dengan 3 organisasi profesi kesehatan di atas, agaknya pengetahuan kita menjadi lebih kaya tentang besarnya peran profesi-profesi tersebut. Patutlah kita memberikan acungan topi kepada mereka yang telah mengabdi untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. Karena tanpa mereka, peningkatan taraf kesehatan masyarakat hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Referensi

Profile IKATWI. https://www.ikatwi.or.id/sejarah. Diakses pada 31 Desember 2020.

Database BAN-PT. https://banpt.or.id/direktori/prodi/pencarian_prodi.php. Diakses pada 31 Desember 2020.

Terapis Wicara di Indonesia Dinilai Masih Sangat Kurang. 2018. Diakses pada 31 Desember 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *