A. DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Berisiko mengalami penurunan frekuensi normal defekasi yang disertai dengan pengeluaran feses sulit atau tidak tuntas serta feses kering dan keras. Definisi ini menekankan pada aspek preventif sebelum gangguan fungsional permanen terjadi pada sistem eliminasi.
NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Rentan mengalami penurunan frekuensi normal pola eliminasi defekasi, yang dapat mengganggu kesehatan. Fokus utamanya adalah pada identifikasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk mencegah terjadinya konstipasi aktual.
Ackley & Ladwig Keadaan di mana seseorang berisiko mengalami perubahan dalam kebiasaan usus yang normal, ditandai dengan penurunan frekuensi buang air besar atau pengeluaran feses yang keras dan kering. Pakar ini menekankan pentingnya pengkajian terhadap pola gaya hidup sebagai indikator risiko primer.
Carpenito-Moyet Suatu kondisi di mana individu berisiko tinggi mengalami stasis pada usus besar, yang mengakibatkan eliminasi jarang, feses keras, atau keduanya. Definisi ini menyoroti mekanisme patofisiologi berupa perlambatan motilitas di dalam kolon.
World Gastroenterology Organisation (WGO) Risiko terjadinya gangguan fungsional usus yang ditandai dengan gejala-gejala seperti mengejan, feses yang keras, dan perasaan evakuasi yang tidak tuntas. WGO memandang risiko ini sebagai spektrum multidimensi yang dipengaruhi oleh diet, hidrasi, dan aktivitas fisik.
B. FAKTOR RISIKO
Faktor yang meningkatkan kerentanan individu terbagi menjadi tiga kategori utama:
Fisiologis:
- Penurunan motilitas gastrointestinal (misalnya pada lansia atau pasca bedah).
- Ketidakcukupan asupan serat dan cairan (hidrasi).
- Kelemahan otot abdomen yang diperlukan untuk mengejan.
- Kondisi aganglionik (misalnya penyakit Hirschsprung).
Psikologis:
- Kondisi konfusi, depresi, atau gangguan emosional yang memengaruhi aktivitas sistem saraf otonom pada usus.
Situasional:
- Gaya hidup sedenter (kurang aktivitas fisik).
- Kebiasaan menahan dorongan defekasi.
- Efek samping farmakologis (misalnya penggunaan opioid, antasida kalsium, atau penyalahgunaan laksatif).
- Perubahan lingkungan atau ketidakadekuatan privasi saat toileting.
C. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Tujuan utama dari intervensi pada diagnosa risiko ini adalah mencapai Eliminasi Fekal Membaik (L.04033), yang ditandai dengan:
- Kontrol pengeluaran feses yang adekuat.
- Konsistensi feses yang lunak dan berbentuk.
- Frekuensi defekasi kembali ke pola normal individu (biasanya 1-3 kali sehari hingga 3 kali seminggu).
- Penurunan keluhan mengejan berlebih atau perasaan tidak tuntas.
- Auskultasi peristaltik usus yang normal (5-35 kali/menit).
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
Pencegahan Konstipasi (I.04160) Langkah-langkah strategis untuk memitigasi risiko meliputi:
Observasi Klinis
- Melakukan identifikasi faktor risiko spesifik yang dominan pada pasien.
- Memantau tanda-tanda awal konstipasi seperti perubahan frekuensi dan konsistensi feses.
- Mengevaluasi penggunaan obat-obatan yang berpotensi menurunkan motilitas usus.
Tindakan Terapeutik
- Menjadwalkan waktu defekasi yang teratur (misalnya setelah makan saat refleks gastrokolik meningkat).
- Melakukan massage abdomen secara sirkular sesuai arah kolon (asendens ke desendens) untuk menstimulasi peristaltik.
- Membatasi konsumsi zat yang bersifat diuretik atau mengiritasi, seperti kafein berlebih.
Edukasi Kesehatan
- Menganjurkan hidrasi yang adekuat (target 1500–2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi).Menyarankan diet tinggi serat secara bertahap (target 25–30 gram/hari) untuk meningkatkan volume feses.
- Mendorong mobilisasi rutin, seperti berjalan kaki 15-20 menit setiap hari, untuk merangsang aktivitas motorik usus.
E. KONDISI KLINIS TERKAIT
Kondisi klinis berikut sering dikaitkan dengan peningkatan risiko konstipasi:
- Tumor usus
- Penyakit Parkinson
- Penyakit Alzheimer
- Sindrom Iritasi Usus (IBS)
- Kanker payudara (sering terkait obat atau pengobatan)
- Kanker ovarium (sering terkait massa tumor atau pengobatan)
- Fissura ani
- Wasir (Hemoroid)
- Hipotensif sphincter ani
- Penggunaan obat-obatan tertentu (seperti opioid, antikolinergik, antasida dengan aluminium/kalsium, zat besi)
DAFTAR PUSTAKA
Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Makic, M. B. F., Martinez-Kratz, M. R., & Zanotti, M. (2020). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based Guide to Planning Care (12th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.
Carpenito-Moyet, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis (15th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Thieme.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Gastroenterology Organisation (WGO). (2018). WGO Global Guideline: Constipation – A Global Perspective. Milwaukee: World Gastroenterology Organisation.






