Teori kontingensi
Definisi teori kontingensi (Foto: mediaindonesia.com)

Teori Kontingensi dalam Organisasi: Pengertian, 4 Aliran

Diposting pada

Teori Kontingensi, adalah pedoman untuk gaya kepemimpinan yang baik sesuai dengan situasi dari organisasi atau perusahaan yang dikelola. Terdapat pembahasan mengenai pengertia, hingga ke model kepemimpinan lainnya.

Ayu Maesaroh – organisasi.co.id

Kembali dengan membahas sebuah teori dalam organisasi, yang pernah tidak ada habisnya, dengan sudut pandang yang beberapa teori tersebut miliki.

Dan rasanya sebuah teori seperti sudah tidak asing untuk kita dalam kehidupan sehari-hari, karena memang terkadang dalam hidup butuh yang namanya sebuah landasan akan suatu hal.

Sehingga kita tidak akan seperti manusia yang kebingungan, ada di belah pihak mana sebenarnya ia, ketika menghadapi sebuah permasalahan, dengan tuntutan ia harus memilih salah satunya.

Dikarenakan teori sangat penting dalam berbagai hal, tidak heran jika di kehidupan manusia yang begitu lama di bumi, telah menorehkan suatu hal baru untuk kemajuan mereka.

Terutama dalam memanageman orang, dengan background yang berbeda-beda, serta harus mempersatukan visi misi yang ada.

Sungguh, hal tersebut benar-benar tidak mudah, menyatukan satu pemikiran dari sekian banyak kepala, dengan berbagai pandangan yang ada, kemudian diajak untuk bekerjasama.

Butuh waktu yang cukup lama, agar semua pemikiran menjadi sama, dan mewujudkan tujuan yang telah terancang sedemikian rupa.

Dan begitulah yang sering dirasakan oleh para organisator, atau beberapa perusahaan yang ada. Yang mana mereka membutuhkan para ahli di bidang yang mereka inginkan.

Namun terlebih dahulu harus menyamakan satu tujuan, satu visi dan misi. Agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Begitu juga dengan orang yang dimintai ajakan untuk bekerjasama, atau menawarkan diri untuk saling berkolaborasi.

Harus ada kesiapan untuk saling bahu-membahu, berfikir, berdiskusi, untuk melaksanakan berbagai rancangan yang ada, dan sebagainya.

Oleh karenanya ada beberapa teori yang ada, yang nantinya akan dikupas tuntas dalam artikel kali ini.

Teori Kontingensi dalam Organisasi

Pengertian teori kontingensi
Ilustrasi teori kontingensi (Foto: psikologimultitalent.com)

Pernah dengar bahwasannya jika kamu ingin mendapatkan sebuah penghargaan dari seseorang atas apa yang kamu raih, maka kamu harus mengapresiasi terlebih dahulu orang lain?

Atau perkataan lain seperti “jika kamu ingin dihargai oleh orang lain, maka kamu harus menghargai orang lain”, begitukah?

Seperti itulah mungkin prinsip yang mungkin lebih mudahnya dari teori kontingensi ini. Yang mana teori tersebut pada dasarnya, jika seorang pemimpin menginginkan kelompok atau anggota yang solid, dan berkomitmen tinggi.

Maka semuanya tergantung dari gaya kepemimpinan yang seorang pemimpin tersebut berikan kepada pada karyawannya. Yang mana hal tersebut menurutnya dapat menjadi alternatif untuk bisa mewujudkan tujuan yang sudah terencana.

Meliputi dari interaksi pemimpin dengan karyawannya, dan sejenisnya. Hingga pada titik sejauh mana gaya kepemimpinan tersebut, menghasilkan interaksi yang baik, yang berujung kepada prodiktifitas yang baik juga.

Atau lebih mudahnya adalah, sebuah gaya kepemimpinan dapat berhasil dengan baik, jika gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang ada.

Organisatoris lain baca ini: 3 Teori Psikologi Industri dan Organisasi

Teori ini sudah ada sejak pada tahun 1960-andenga seorang ahli yang dipopulerkan oleh Fred Fiedler, yang mana ada begitu banyak teori kepemimpinan yang bermunculan. Mulai dari teori klasik, neo klasik, modern, sampai dengan teori ilmiah sekalipun.

Adapun model dari kontingensi, yang beliau perkenalkan dalam teori beliau perkenalkan. Yang mana menjadi tolak ukur untuk keberhasilan sebuah kepemimpinan seseorang.


Model Kontingensi Fiedler (Fiedler Contingency Model)

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Fiedler menjabarkan ada beberapa model dari teori ini, yang mana dapat mengukur sejauh mana pengaruh dari gaya kepemimpinan yang berlaku pada organisasi tersebut.

Kemudian berkolerasi pada situasi sekitarnya, yang mana juga memberikan andil cukup besar pada sebuah keberhasilan dari gaya kepemimpinan seseorang tersebut di sebuah organisasi.

Oleh karenanya, Fiedler, memperkenalkan yang namanya LPC, atau singkatan dari Least Preferred Coworker Scale. Adalah salah satu komponen yang menjadi pengukuran keberhasilan gaya kepemimpinan seseorang.

Terdapat dua prinsip skor yang menjadi patokannya, antara lain:

Skor LPC Tinggi

Maka dapat dikatakan seorang pemimpin tersebut lebih kepada people – oriented – lead. Yang mana pemimpin tersebut lebih menitiberatkan kepada hubungan antar manusia ketika menyelesaikan masalah.

Juga bergantung kepada orang lain, ketika permasalahan tersebut berkaitan dengan tugas yang dimandatkan kepada mereka.

Skor LPC Rendah

Jika skor LPC rendah, maka seorang pemimpin lebih prefer kepada gaya kepemimpinan TOL, atau singkatan dari task – oriented – leadership.

Gaya kepemimpinan ini lebih kepada tugas, atau task yang ada. Hal ini lebih efektif untuk jenis pemimpin yang mempunyai kekuatan lebih tinggi, dengan struktur yang telah mapan juga.

Itulah segelintir dari pembahasan dari teori kepemimpinan dengan berorientasi pada situasi serta gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin.

Teori Kepemimpinan Lain

Teori kepemimpinan lainnya (Foto: suarajakarta.co)

Adapun beberapa teori lain dengan menitikberatkan hal yang berbeda-beda, beberapa teori tersebut antara lain:


Teori Situasional Hersey dan Blanchad

Yang pertama adalah teori situasional dari Hersey dan Blanchad. Teori ini lebih menitikberatkan kepada seseorang dalam memilih sistem kepemimpinan yang baik untuk suatu perusahaan atau organisasi tersebut.

Kemudian setelahnya seseorang tersebut memilih gaya kepemimpinan yang seperti apa, yang pas untuk organisasi atau perusahaan yang mereka bangun.

Artinya, seseorang tersebut dapat mengerti bagaimana situasi dari perusahaannya. Seperti misalnya jika sedang dalam masalah krisis, berarti seorang pemimpin tersebut akan menggunakan sistem otoriter, untuk mengembalikan keadaan perusahaan.

Kemudian akan bersikap demokratis, ketia perusahaan sudah berada di jalan stabil, serta pada keadaan yang sudah semakin membaik.

Oleh karenanya, Hersey dan Banchard dalam teori mereka, membagi beberapa hal yang menjadi dasar dari gaya situasional ini, antara lain:

Mengarahkan

Gaya kepemimpinan pertama adalah mengarahkan, yang mana gaya tersebut hampir mirip dengan gaya otoriter. Artinya bawahan mendapatkan pengarahan dari pemimpin, juga mendapatkan bagaimana caranya agar bisa melakukan arahan tersebut.

Gaya ‘Menjual’

Selain teori kontingensi yang sudah kita singgung, Hersey dan Banchard juga mengatakan bahwa gaya ini, lebih kepada diskusi antara bawahan dengan atasan atau pemimpin.

Dengan tujuan pemimpin ialah ‘menjual’ ide dari para karyawan yang ada. Sehingga mereka akan dengan sadar, ikut berpartisipasi dalam melaksanakan ide tersebut.

Gaya Demokrasi

Seperti namanya, gaya ini lebih mengarah kepada pemimpin mendengarkan berbagai usulan dari para karyawannya, yang kemudian menetapkan mana yang terbaik.

Begitu juga dengan masalah lain, seperti ikut andil dalam menyelesaikan masalah, mencari solusi yang tepat, yang nantinya akan berujung kepada keputusan secara bersama-sama.

Kepemimpinan Mendelegasi

Artinya, seorang pemimpin sudah mendelegasikan kepada para karyawannya untuk memutuskan, memilah dan memilih mana yang terbaik untuk para karyawannya.

Organisatoris lain baca ini: Kepemimpinan dalam Organisasi:6 Jenis, Fungsi, Bentuk

Ibaratnya seperti ‘lepas tangan’ dari pemimpin, yang kemudian memberikan kelonggaran bagi karyawannya untuk menentukan mana yang sebaiknya dilakukan, mana yang tidak.

Itulah sedikit pembahasan mengenai teori situasional Hersey dan Banchard, yang bisa menjadi referensi.


Teori Pertukaran Pemimpin-Anggota

Yang selanjutnya adalah teori pertukaran pemimpin – anggota. Jika dalam teori kontingensi mengatakan bahwa keberhasilan sebuah tujuan dari perusahaan, bergantung pada gaya mereka memimpin para anggotanya, mulai dari perlakuan mereka dan sebagainya.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan itu. Yang mana seorang akan mendapatkan tujuan yang telah dimandatkan oleh pemimpin, tergantung dari karyawan mereka memperlakukan para pemimpinnya.

Dan dalam teori ini, mengatakan tidak semua karyawan bisa mendapatkan perlakuan yang sama. Untuk teori ini, terdapat dua kriteria yang menjadi patokan, antara lain:

Kriteria Pengikut

Pengikut dalam hal ini adalah seorang karyawan. Yang mana mereka dievaluasi berdasarkan beberapa hal seperti keramah-tamahan mereka, kompetensi mereka, keterbukaan, dan sejenisnya.

Kriteria Pemimpin

Begitu juga dengan kriteria pemimpin, yang juga mendapatkan evaluasi. Evaluasi tersebut meliputi keramahan, harapan dari supervisor kepada para pengikut, kepemimpinan yang transformasional, dan sebagainya.

Itulah beberapa pembahasan mengenai teori pertukaran pemimpin – anggota.


Teori Jalur-Tujuan (House’s Path Goal Theory)

Teori ini hampir sama dengan teori sebelumnya yakni kontingensi, yang mana sebuah perusahaan akan mendapatkan hasil produktifitas dari para pengikutnya.

Tergantung dari sang pemimpin, apakah ia dapat memberikan motivasi, dorongan, pengarahan, serta bantuan kepada para karyawannya, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Yang kemudian terdapat beberapa tipe jenis gaya kepemimpinan, yang juga hampir sama dengan sebelumnya. Robert House sebagai orang yang menemukan teori Path Goal Theory ini, membaginya dalam beberapa, antara lain:

Gaya Kepemimpinan Pengarahan

Jenis ini lebih menitiberatkan kepada pemimpin untuk bisa mengarahkan karyawan agar bisa lebih baik lagi. Dengan memberikan pelatihan kepada karyawan.

Kemudian menetapkan sebuah standarisasi dari kinerja yang ada, kemudian mengkooridinasikan kepada mereka, serta mengarahkan mereka untuk bisa mematuhi kriteria atau peraturan yang ada.

Support Leadership

Adalah jenis gaya kepemimpinan yang lebih menitikberatkan kepada pemimpin ikut berpartisipasi dalam membantu permasalahan yang dirasakan oleh karyawannya.

Baik dalam permasalahan dalam organisasi atau perusahaan, dan sebagainya. Dengan bentuk perhatian atau lewat sebuah bantuan.

Kepemimpinan Partisipatif

Adalah gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada seorang pemimpin yang berkonsultasi kepada karyawannya, untuk bisa mendapatkan pandangan lain ketika ada sebuah masalah tertentu.

Organisatoris lain baca ini: Organisasi Elton Mayo Klasik vs Modern: Pengertian dan 3 Ciri

Secara tidak langsung, karyawan akan merasa memiliki perusahaan atau organisasi tersebut.

Gaya Kepemimpinan Orientasi Prestasi

Adalah seorang pemimpin yang mematok sebuah prestasi atau penghargaan tertentu, dengan harapan para karyawannya dapat mencapai prestasi tersebut.

Juga yang sudah mendapatkannya pun, bisa mempertahankan prestasi mereka, di kriteria yang sudah terancang sedemikian rupa.

Itulah beberapa ulasan mengenai teori House’s Path Goal Theory.


Teori Model Partisipasi-Pemimpin Vroom dan Yetton

Yang terakhir adalah teori model partisipasi -pemimpin dari vroom dan Yetton. Teori ini lebih menitikberatkan kepada partisipasi dari pemimpin dalam menentukan seperangkat peraturan yang ada.

Lalu seorang pemimpin tersebut juga berpartisipai dalam menentukan berapa jumlah orang yang dapat ikut membantunya dalam mengambil sebuah keputusan.

Maka tidak heran jika dalam teori ini, sangat disarankan untuk pemimpin dapat mengambil keputusan yang benar-benar matang, sehingga akan menuai keberhasilan yang sesuai dengan rencana awal mereka.

Penutup

Itulah beberapa pembahasan mengenai teori kontingensi beserta beberapa teori lain mengenai gaya kepemimpinan. Dari hal itu kita bisa menyimpulkan bahwa pada dasarnya seseorang bisa memilih gaya kepemimpinan yang pas.

Sesuai dengan situasi dan kondisi dari perusahaan atau organisasi yang kita pimpin. Kemudian kita bisa memilih kembali, seperti apa kepemimpinan yang pas untuk organisasi atau perusahaan, yang telah berbeda situasinya.

Pun dengan menggunakan beberapa teori lain, yang mana memperlakukan karyawan sesuai dengan etika atau perlakuan mereka kepada pemimpinnya.

Sekian ulasan kali ini, semoga menginspirasi.

Daftar Pustaka

  1. Yussy Bhayapradesita, jurnal skripsi, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Path-Goals Terhadap Intensitas Turnover Dimensiasi Oleh Komitmen Organisasional (Studi Pada Karyawan Bank Rakyat Indonesia Kantor Cabang Kediri)”, Universitas Brawijaya Malang, hal. 6 – 7
  2. Lina Anatan, “Model Kontingensi Keefektifan Kepemimpinan: Kontroversi dan Relevansi”, Jurnal Manajemen vol 10, no 2, 2011, hal. 6
  3. https://cerdasco.com/kepemimpinan-kontingensi/
  4. https://glints.com/id/lowongan/gaya-kepemimpinan-situasional/#.YMcc06gzbIU
  5. Teori Pertukaran Pemimpin Anggota

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *