A. DEFINISI
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Inkontinensia Urin Stres adalah pengeluaran urin involunter yang terjadi secara tiba-tiba pada saat tekanan intra-abdominal meningkat.
International Continence Society (ICS) Kebocoran urin involunter saat terjadi pengerahan tenaga atau aktivitas fisik, atau saat bersin atau batuk, yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme penutupan uretra.
Brunner & Suddarth (Hinkle & Cheever) Kehilangan urin yang tidak disengaja melalui uretra yang utuh sebagai akibat dari peningkatan tekanan intra-abdomen yang mendadak, yang melampaui resistensi uretra terhadap aliran urin.
Kozier & Erb (Berman, Snyder, & Frandsen) Suatu kondisi di mana terjadi kebocoran urin dalam jumlah sedikit (biasanya kurang dari 50 ml) akibat aktivitas yang meningkatkan tekanan di dalam perut, yang sering kali berkaitan dengan kelemahan struktur pendukung panggul.
International Consultation on Incontinence (ICI) Manifestasi objektif dari kebocoran urin saat beraktivitas yang secara klinis berhubungan dengan ketidakmampuan otot dasar panggul dan fasia endopelvik untuk mendukung leher kandung kemih dan uretra.
B. DEFINISI ILMIAH
Inkontinensia urin stres merupakan suatu kondisi klinis yang ditandai dengan kebocoran urine involunter (di luar kendali) yang terjadi secara mendadak saat melakukan aktivitas yang meningkatkan tekanan intra-abdomen. Secara patofisiologis, hal ini disebabkan oleh kelemahan otot dasar panggul atau disfungsi sfingter uretra eksternal, sehingga tekanan uretra tidak mampu melawan tekanan di dalam kandung kemih saat terjadi tekanan fisik.
C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
Penyebab utama dari gangguan ini melibatkan kegagalan mekanisme penutupan uretra. Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi:
- Kelemahan Otot Dasar Panggul: Sering dikaitkan dengan riwayat persalinan pervaginam, trauma perineum, atau penuaan.
- Peningkatan Tekanan Intra-abdomen: Dipicu oleh aktivitas seperti batuk, bersin, tertawa, mengangkat beban berat, atau olahraga intens.
- Defisiensi Sfingter Intrinsik: Kerusakan pada mekanisme sfingter uretra itu sendiri.
- Perubahan Hormonal: Penurunan kadar estrogen pada masa menopause yang menyebabkan atrofi jaringan urogenital.
D. KRITERIA DIAGNOSIS (INDIKATOR KLINIS)
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), diagnosis ini dapat ditegakkan dengan temuan:
Gejala Mayor Laporan pengeluaran urin involunter kurang dari 50 ml yang terjadi saat ada peningkatan tekanan abdominal (batuk, bersin, atau aktivitas fisik).
Gejala Minor Pasien melaporkan adanya pengeluaran urin saat melakukan aktivitas spesifik atau adanya dorongan untuk berkemih saat tekanan meningkat.
E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Tujuan utama intervensi adalah mencapai Kontinensia Urin Membaik (L.04036), dengan kriteria hasil:
- Kemampuan berkemih meningkat.
- Nokturia menurun.
- Residu urin setelah berkemih (Vesica urinaria) menurun.
- Verbalisasi pengeluaran urin involunter menurun.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN(SIKI)
Intervensi yang dapat dilakukan berdasarkan manajemen klinis meliputi:
Latihan Otot Dasar Panggul (Kegel Exercise): Melakukan instruksi untuk mengkontraksikan otot pubokoksigeus secara teratur guna meningkatkan kekuatan tonus otot di sekitar uretra.
Manajemen Eliminasi Urin:
- Identifikasi faktor penyebab (misal: asupan cairan, konsumsi kafein).
- Monitor waktu-waktu terjadinya inkontinensia.
Pelatihan Kandung Kemih (Bladder Training): Mengatur jadwal berkemih secara bertahap untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dan kontrol sfingter.
G. KONDISI KLINIS TERKAIT
Beberapa kondisi klinis yang sering berkaitan dengan atau menjadi penyebab dari Inkontinensia Urin Stres adalah:
Obesitas
- Kehamilan
- Proses melahirkan (persalinan pervaginam)
- Menopause
- Infeksi saluran kemih (ISK)
- Riwayat operasi abdomen
- Riwayat operasi prostat
- Penyakit Alzheimer
- Cedera medula spinalis
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, P., et al. (2017). Incontinence: 6th International Consultation on Incontinence. Tokyo: International Continence Society (ICS).
Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2020). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. England: Pearson Education.
Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.






