Intervensi keperawatan bukanlah realitas tanpa berpikir kritis. Dan kepadanya perawat harus memahami bagaimana dara menentukannya yang mereka pelajari sejak mahasiswa.
Penentuan intervensi keperawatan telah distandarkan oleh PPNI melalui buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Banyak mahasiswa yang telah memiliki buku SDKI, SLKI, SIKI hingga SOP, dengan buku yang tebal sedemikian tersebut, namun mereka tersesat tidak mengetahui bagaimana alur pemakaiannya.
Bahkan perlu untuk memahami bagaimana menentukan SIKI yang sesungguhnya. Maka Postingan ini akan sangat membantu anda dalam hal proses penentuan Standar Intervense Keperawatan Indonesia (SIKI). Untuk kebutuhan penyelesaian tugas maupun sarana belajar.
Intervensi keperawatan merupakan seluruh tindakan atau terapi yang dilakukan oleh perawat berdasarkan pengetahuan dan penilaian klinis guna mencapai hasil (outcome) yang diharapkan.
Intervensi ini menjadi dasar pelaksanaan tindakan keperawatan. Adapun tindakan keperawatan adalah aktivitas spesifik yang dilakukan untuk menjalankan intervensi tersebut.
Komponen Intervensi Keperawatan
Sebelum menentukan intervensi, perawat perlu memahami tiga komponen utama, yakni; Label, Definisi dan Tindakan.
1. Label
Ini adalah kata kunci, dan jika menyebut kunci maka posisinya sangat menentukan.
Label adalah nama dari intervensi keperawatan yang berfungsi sebagai kata kunci untuk mengenali intervensi tersebut. Label ini akan membantu perawat dalam mengenali arah rencana sebab hal tersebut mengarahkan substansi akan rencana yang akan dilaksanakan.
Label biasanya terdiri dari satu atau lebih kata yang diawali dengan kata benda (nomina), bukan kata kerja, dan berperan sebagai penjelas intervensi.
Dalam SIKI, terdapat 18 jenis deskriptor label, yaitu:
- Dukungan (memfasilitasi atau mempermudah)
- Edukasi (memberikan informasi atau mengajarkan)
- Kolaborasi (kerja sama)
- Konseling (bimbingan)
- Konsultasi (memberi pertimbangan tambahan)
- Latihan (mengajarkan keterampilan)
- Manajemen (analisis data)
- Pemantauan (monitoring dan analisis)
- Pemberian (menyiapkan dan memberikan)
- Pemeriksaan (observasi teliti)
- Pencegahan (mengurangi risiko)
- Pengontrolan (mengendalikan)
- Perawatan (merawat dan mengidentifikasi)
- Promosi (meningkatkan)
- Rujukan (tindak lanjut)
- Resusitasi (tindakan cepat mempertahankan hidup)
- Skrining (deteksi dini)
- Terapi (memulihkan kesehatan)
Definisi Deskriptor Label SIKI
- Dukungan
Deskriptor ini merujuk pada upaya perawat dalam memfasilitasi, mempermudah, atau memberikan bantuan secara emosional maupun fisik agar pasien mampu menghadapi kondisi kesehatannya dengan lebih baik. Tindakan dalam kelompok ini sering kali berfokus pada penguatan mekanisme koping, penyediaan motivasi, serta penciptaan lingkungan yang kondusif guna mendukung kemandirian pasien dalam proses pemulihan. - Edukasi,
Edukasi merupakan serangkaian tindakan yang berfokus pada penyampaian informasi, pemberian instruksi, atau pengajaran konsep kesehatan kepada pasien dan keluarga guna meningkatkan pengetahuan. Melalui deskriptor ini, perawat berperan sebagai pendidik yang membantu individu memahami kondisi medis, prosedur pengobatan, hingga perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk menunjang kualitas hidup yang lebih optimal. - Kolaborasi
Kolaborasi menitikberatkan pada bentuk kerja sama interprofesional antara perawat dengan tenaga kesehatan lainnya, seperti dokter, ahli gizi, atau apoteker, dalam mengelola masalah kesehatan pasien. Fokus utamanya adalah menyelaraskan rencana asuhan guna memastikan pelayanan yang komprehensif, terpadu, dan berorientasi pada keselamatan pasien melalui pembagian peran serta tanggung jawab yang jelas. - Konseling
Konseling adalah proses pemberian bimbingan psikologis yang bertujuan untuk membantu pasien dalam mengenali masalah, mengeksplorasi perasaan, dan menentukan solusi secara mandiri. Perawat bertindak sebagai konselor yang memberikan arahan terstruktur guna memfasilitasi perubahan perilaku, penyelesaian konflik internal, atau adaptasi terhadap krisis kesehatan yang dialami oleh pasien. - Konsultasi
Deskriptor ini mencakup kegiatan perawat dalam memberikan pertimbangan tambahan, saran pakar, atau pendapat profesional kepada pihak lain yang membutuhkan solusi atas masalah keperawatan yang kompleks. Konsultasi bertujuan untuk memperluas perspektif dalam pengambilan keputusan klinis melalui pertukaran informasi teknis yang mendalam antara pemberi konsultasi dan pihak yang meminta bantuan. - Latihan
Latihan berfokus pada kegiatan mengajarkan dan melatih keterampilan motorik atau kognitif tertentu secara berulang guna meningkatkan kapasitas fungsional pasien. Tindakan ini umumnya diterapkan pada pasien yang mengalami penurunan kemampuan fisik atau mental, di mana perawat membimbing pelaksanaan aktivitas spesifik agar pasien dapat mencapai kemandirian kembali secara bertahap. - Manajemen
Manajemen dalam konteks ini melibatkan proses pengorganisasian, koordinasi, dan analisis data terkait kondisi klinis atau administratif untuk memastikan pelayanan berjalan efektif. Perawat melakukan pengolahan informasi secara sistematis guna merancang strategi penanganan yang tepat, mengelola sumber daya yang tersedia, serta memastikan setiap aspek asuhan terintegrasi dengan baik. - Pemantauan
Pemantauan atau monitoring merupakan aktivitas pengumpulan dan analisis data secara kontinu terhadap parameter kesehatan pasien guna mendeteksi perubahan kondisi secara dini. Tindakan ini bersifat proaktif dan berkelanjutan, di mana perawat melakukan penilaian berkala terhadap respons pasien terhadap terapi guna memberikan dasar objektif dalam pengambilan keputusan klinis selanjutnya. - Pemberian
Deskriptor pemberian mencakup seluruh rangkaian aktivitas menyiapkan hingga menyalurkan substansi atau tindakan tertentu, seperti obat-obatan atau nutrisi, secara langsung kepada pasien. Perawat bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dosis, waktu, serta cara penyampaian guna memastikan efikasi terapeutik tercapai dan meminimalkan risiko kesalahan dalam pelaksanaan prosedur medis. - Pemeriksaan
Pemeriksaan adalah tindakan observasi yang dilakukan secara teliti dan sistematis menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, atau auskultasi untuk menilai status kesehatan pasien. Melalui deskriptor ini, perawat mengumpulkan data objektif yang akurat mengenai kondisi fisik maupun fungsional guna menegakkan penilaian keperawatan yang valid dan berbasis bukti nyata. - Pencegahan
Pencegahan merujuk pada upaya proaktif yang dirancang untuk mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan baru atau mencegah komplikasi dari kondisi yang sudah ada. Fokus utamanya adalah identifikasi dini faktor risiko serta penerapan intervensi yang mampu mengeliminasi atau meminimalisir potensi bahaya sebelum dampak negatif secara fisik maupun psikis terjadi pada pasien. - Pengontrolan
Pengontrolan melibatkan tindakan untuk mengendalikan, membatasi, atau mengatur parameter kesehatan yang menyimpang agar tetap berada dalam rentang normal atau aman. Perawat melakukan intervensi yang bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien, mencegah fluktuasi gejala yang ekstrem, serta memastikan bahwa respons fisiologis pasien tetap terkendali selama periode perawatan. - Perawatan
Perawatan merupakan inti dari praktik keperawatan yang mencakup aktivitas merawat, memelihara kebersihan, hingga mengidentifikasi kebutuhan dasar pasien sehari-hari. Deskriptor ini lebih menekankan pada aspek pelayanan langsung (hands-on care) yang diberikan untuk menjaga kenyamanan fisik pasien serta memberikan perlindungan terhadap integritas tubuh selama masa pemulihan di fasilitas kesehatan. - Promosi
Promosi adalah upaya yang diarahkan untuk meningkatkan taraf kesehatan, kesejahteraan, dan potensi hidup pasien ke tingkat yang lebih optimal dari kondisi sebelumnya. Tindakan ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi lebih kepada penguatan aspek positif kesehatan individu melalui advokasi, motivasi gaya hidup sehat, dan penguatan sumber daya internal pasien. - Rujukan
Rujukan merupakan tindakan memindahkan tanggung jawab atau mengarahkan pasien kepada fasilitas atau tenaga ahli lain yang lebih kompeten untuk penanganan masalah kesehatan tertentu. Langkah ini diambil sebagai bentuk tindak lanjut medis guna memastikan pasien mendapatkan pelayanan spesifik yang tidak tersedia pada unit pelayanan saat ini, demi keberlanjutan asuhan yang berkualitas. - Resusitasi
Resusitasi mencakup serangkaian tindakan darurat yang dilakukan secara cepat dan tepat untuk mempertahankan hidup pasien yang mengalami kegawatan mengancam nyawa, seperti henti jantung atau napas. Intervensi ini menuntut kecepatan respons dan ketepatan teknis dari perawat dalam memberikan bantuan hidup dasar maupun lanjut guna memulihkan fungsi organ vital pasien sesegera mungkin. - Skrining
Skrining adalah tindakan deteksi dini yang dilakukan melalui survei atau pemeriksaan singkat terhadap populasi atau individu tertentu untuk mengidentifikasi adanya risiko penyakit tersembunyi. Tujuan utama dari deskriptor ini adalah menemukan indikasi masalah kesehatan sedini mungkin sehingga intervensi medis dapat diberikan lebih awal sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi lebih berat. - Terapi
Terapi merupakan kategori intervensi yang secara langsung bertujuan untuk memulihkan kesehatan, menyembuhkan penyakit, atau mengurangi penderitaan pasien melalui metode tertentu. Tindakan dalam kelompok ini bersifat kuratif, di mana perawat mengimplementasikan teknik-teknik pengobatan atau prosedur pemulihan yang telah terbukti secara klinis mampu memperbaiki status kesehatan pasien secara signifikan.
2. Definisi
Definisi menjelaskan makna dari label intervensi.
Penulisannya menggunakan kata kerja (verba) yang menggambarkan tindakan perawat, bukan aktivitas pasien.
3. Tindakan
Tindakan merupakan aktivitas nyata yang dilakukan perawat untuk mengimplementasikan intervensi.
Tindakan ini terdiri dari empat kategori:
a. Observasi
Bertujuan mengumpulkan dan menganalisis data kondisi pasien.
Contoh kata: periksa, identifikasi, monitor.
b. Terapeutik
Tindakan langsung untuk memperbaiki kondisi kesehatan pasien.
Contoh kata: berikan, lakukan.
c. Edukasi
Bertujuan meningkatkan kemampuan pasien dalam merawat dirinya.
Contoh kata: anjurkan, ajarkan, latih.
d. Kolaborasi
Dilakukan bersama tenaga kesehatan lain bila diperlukan.
Contoh kata: kolaborasi, rujuk, konsultasikan.
Catatan penting:
Hindari penggunaan kata “kaji” pada tahap intervensi karena istilah tersebut digunakan pada tahap pengkajian (sebelum diagnosis).
Cara Menentukan Intervensi Keperawatan
Dalam menentukan intervensi, perawat harus mempertimbangkan beberapa aspek berikut:
1. Karakteristik Diagnosis Keperawatan
Intervensi harus diarahkan untuk mengatasi penyebab (etiologi) atau tanda dan gejala.
Jika penyebab tidak dapat diatasi secara langsung, maka fokus intervensi diarahkan pada gejala.
Untuk diagnosis risiko, intervensi bertujuan menghilangkan faktor risiko.
2. Luaran Keperawatan yang Diharapkan
Luaran (outcome) menjadi pedoman dalam memilih intervensi yang tepat.
Luaran ini merupakan hasil akhir yang ingin dicapai setelah tindakan keperawatan diberikan.
3. Keterlaksanaan Intervensi
Perawat perlu mempertimbangkan:
- Waktu
- Ketersediaan tenaga
- Sumber daya
Hal ini penting agar intervensi dapat dilaksanakan secara realistis.
4. Kemampuan Perawat
Perawat harus memiliki:
- Pemahaman ilmiah terkait intervensi
- Keterampilan teknis (psikomotor)
Beberapa intervensi membutuhkan keahlian khusus, seperti:
- Manajemen alat pacu jantung
- Ventilasi mekanik
- Terapi komplementer (akupresur, bekam, hipnosis)
5. Penerimaan Pasien
Intervensi harus sesuai dengan nilai, budaya, dan kondisi pasien agar dapat diterima dengan baik.
6. Hasil Penelitian
Pemilihan intervensi sebaiknya didasarkan pada bukti ilmiah.
Jika bukti belum tersedia, perawat dapat menggunakan prinsip ilmiah atau berkonsultasi dengan tenaga ahli.
Referensi
- PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: PPNI.
