Metode dalam penyusunan pidato
Metode penyusunan pidato (Foto: maglearning.id)

Metode Penyusunan Pidato: Pengertian dan 5 Metode

Diposting pada

Perasaan gugup dan gagap saat tampil bicara di depan umum kerap muncul, pahami dulu pengertian dan metode penyusunan pidato untuk menghindari hal tersebut.

Noi’Retno, Komunikasi – Organisasi.co.id

Kok bisa ya dulu pidato Bung Tomo membakar semangat para pejuang peristiwa 10 November di Surabaya? Para pahlawan tak gentar menghadapi ratusan prajurit Inggris dan perjuangkan ibu pertiwi.

Kita juga bisa jadi sosok orator hebat seperti Bung Tomo! Jangan insecure, pahami perlahan seluk beluk pidato mulai dari pengertian hingga metodenya berikut ini.

Pengertian Komunikasi Dalam Organisasi: Pidato Dan Sambutan

Pengertian penyusunan pidato (Foto: ranalino.id)


Ketika acara seremonial, kita seringkali mendengar istilah sambutan dan pidato dari pewara.

Sambutan biasanya diberikan oleh penyelenggara atau tokoh penting dari tuan rumah untuk menerima tamu yang datang. Sementara biasanya, pidato atau memberikan informasi, gagasan, atau persuasi tertentu kepada khalayak.

Keduanya merupakan bagian dari keterampilan berbicara atau nama bekennya public speaking.

Jika kita membuka kamus, pidato berarti pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Lalu, sambutan juga yang mengandung arti pidato itu sendiri.

Kalau menurut ahli bernama Saksomo (2009), “Berpidato merupakan penampilan diri seseorang di hadapan pendengar untuk menyampaikan isi hati atau buah pikiran dengan rangkaian kata-kata dengan harapan agar pendengar tergugah hati nuraninya dan tergerak pikirannya”.

Mereka yang menyampaikan pidato terkenal dengan orator (nama lain bagi para penyampai orasi) atau juru pidato. Mereka berupaya memantik, menyadarkan, bahkan menggerakkan massa dengan perkataannya.

Luar biasa memang pengaruh dari sebuah pidato.

Contohnya saja metode penyusunan pidato para pahlawan zaman penjajahan di Indonesia. Pidato tersebut mampu menggerakkan pemuda untuk merebut kemerdekaan dan menjadi negara berdaulat.

Sampai sini, setidaknya kita sudah mengenal apa itu pidato ya!

Coba perhatikan orang-orang yang biasa berpidato. Mereka tampak lancar berbicara tanpa gugup dan terbata-bata.

Seolah apa yang mereka ucapkan penuh keyakinan dan berada di luar kepala. Tapi, kalau kita mencobanya kadang tak bisa seperti mereka. Kenapa, ya?

Organisatoris lain baca ini: Menembak dan Berburu: Sejarah, Induk Organisasi

Barangkali, persiapan kita masih kurang. Sebab, berpidato itu tidak semudah berbicara seperti mengobrol dengan teman sehari-hari.

Ada proses penyusunan teks pidato sampai akhirnya bisa kita sampaikan ke orang-orang. Langsung saja, kita cari tahu berbagai metode penyusunan pidato berikut ini.


Metode Penyusunan Pidato

Jenis metode penyusunan pidato
Jenis metode penyusunan pidato (Foto: antero.co)


Kebingungan mau mulai menyusun pidato dari mana? Coba ikuti satu persatu metode ini, temukan kecocokanmu sendiri!

Metode Definitif


Secara istilah, definitif artinya sudah pasti atau bersifat sementara. Metode penyusunan pidato definitif biasanya berakar pada definisi yang diberikan para pakar.

Contohnya, kita mengutip salah satu pendapat ahli mengenai apa itu pidato. Kemudian, kita memberikan keterangan secara singkat untuk memperjelas isi kutipan tersebut.

Selain itu, penjelasan yang diutarakan ketika berpidato berasal dari definisi-definisi tersusun. Akhirnya, kita menjadi pengambil kesimpulan dari seluruh definisi dan bisa memberi definisi versi kita sendiri.

Metode definitif biasanya berlaku untuk meyakinkan khalayak mengenai sebuah gagasan. Jadi, kumpulan definisi itu memperkuat secara eksplisit, sehingga memberikan kesan ilmiah dan obyektif.

Metode Uraian


Metode uraian dalam penyusunan pidato ini lebih rinci dan mendalam daripada metode definitif. Orator menyusun pidato dengan menguraikan satu persatu pembahasan.

Kalaupun ada pendapat penting atau bukti nyata yang tercantum, posisinya bisa di mana saja. Baik menjadi penguat gagasan secara implisit atau awal dari pengembangan gagasan.

Organisatoris lain baca ini: Voli Dan Basket, Pencipta Atlet cantik Nasional dan Dunia

Contohnya, seseorang yang menyusun teks pidato mengenai pentingnya menanam pohon. Maka, pengembangan gagasannya meliputi rincian bagaimana pohon membantu manusia dan kondisi pohon yang memprihatinkan.

Jenis gagasan pidato yang membawa permasalahan dan tuntutan tindakan biasanya menggunakan metode ini. Sebab, sebelum khalayak setuju menyerukan penyelesaian masalah, mereka harus paham titik-titik permasalahannya.

Metode Perbandingan


Ketika kita ingin mengangkat dua sudut pandang, dua bentuk, atau dua sisi suatu hal, maka metode ini tepat digunakan. Metode perbandingan bermuara pada penyerahan kembali keputusan di tangan pendengar.

Maksudnya, peran dan fungsi orator adalah menghadirkan kedua hal yang bisa jadi sama atau berbeda. Menjelaskan pula persamaan, perbedaan, serta pengaruh keduanya.

Karena orator perlu menemukan perbandingan itu, maka setiap unsur dari kedua hal yang orator angkat mesti rijid. Ketika membandingkan, maka sandingkanlah unsur-unsur yang setara dari kedua hal itu.

Metode Ilustrasi


Metode ilustrasi memiliki kekhasan tersendiri. Hal ini karena adanya pengaruh dari narasi dan deskripsi yang hadir dalam pidato.

Pidato yang mengandung narasi atau runtutan hal yang memiliki alur disebut naratif. Sementara itu, pidato deskriptif mengandung penggambaran suatu hal.

Organisatoris lain baca ini: Konsep Organisasi Olahraga, Sejak 4000 SM Dalam Skala Dunia

Baik metode dalam penyusunan pidato naratif maupun deskriptif memberikan kesan lebih dekat kepada gagasan yang orator bawa. Ada efek empati berdasarkan realitas dan fakta yang hadir dalam benak para pendengarnya.

Metode Analisis


Metode penyusunan pidato yang terakhir ini barangkali menjadi tantangan bagi para orator. Terutama bagi kamu yang ingin mengemukakan sudut pandang atas suatu peristiwa menurut dirimu sendiri.

Hal tersebut karena metode analisis membutuhkan keterampilan dan kepekaan. Mulai dari mengenali dan menjelaskan peristiwa, menganalisanya, sampai mengambil kesimpulan yang bisa kamu klaim sendiri sebagai pendapatmu.

Tidak hanya berhenti di sana. Tugas selanjutnya adalah bagaimana kita sebagai seorang orator bisa menyampaikan itu sesederhana mungkin.

Pada akhirnya, setiap metode memiliki tantangannya masing-masing. Jadi, kamu mau coba yang mana dulu nih?

Ingat, kalau sudah jadi orator hebat jangan sombong ya. Terus semangat dan berlatih!

Daftar Pustaka:


  1. http://ainurrika52.blogspot.com
  2. https://pendidikanmu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *