BERDUKA [D.0081]

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Respon psikososial yang ditunjukkan oleh individu sebagai akibat dari kehilangan yang nyata, baik berupa orang, objek, fungsi, status, maupun hubungan, yang menuntut proses adaptasi internal dan eksternal.

NANDA International Suatu proses kompleks yang mencakup respon emosional, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual di mana individu, keluarga, dan komunitas mengintegrasikan kehilangan yang aktual, adaptif, atau diantisipasi ke dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Elisabeth Kübler-Ross Sebuah mekanisme pertahanan emosional yang terdiri dari lima tahap (penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan) yang berfungsi sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi perasaan dan memberikan kerangka kerja guna memahami proses pembelajaran hidup setelah kehilangan.

William Worden Sebuah proses aktif yang melibatkan empat tugas utama penyelesaian duka (Tasks of Mourning), yaitu menerima realitas kehilangan, memproses rasa sakit akibat duka, menyesuaikan diri dengan dunia tanpa almarhum atau objek yang hilang, serta menemukan koneksi yang bertahan lama sambil melanjutkan hidup.

George Engel Suatu respon terhadap kehilangan yang setara dengan proses penyembuhan luka fisik, di mana individu harus melewati fase syok, peningkatan kesadaran akan kehilangan, hingga tahap restorasi atau resolusi emosional.

    B. PERSPEKTIF PAKAR

    Elisabeth Kübler-Ross, seorang pakar pionir dalam studi kematian dan kehilangan, mengidentifikasi bahwa individu yang mengalami berduka umumnya melewati fase-fase berikut, meskipun tidak selalu berurutan (non-linear):

    1. Penyangkalan (Denial): Penolakan sementara terhadap realitas untuk melindungi diri dari syok emosional.
    2. Marah (Anger): Proyeksi kekecewaan terhadap diri sendiri, orang lain, atau situasi.
    3. Tawar-menawar (Bargaining): Upaya untuk menunda kenyataan melalui janji atau negosiasi batin.
    4. Depresi (Depression): Kesadaran penuh akan kehilangan yang memicu kesedihan mendalam dan penarikan diri.
    5. Penerimaan (Acceptance): Tahap di mana individu mulai mengintegrasikan kehilangan dan siap melanjutkan hidup.

    C. ETIOLOGI (PENYEBAB)

    Faktor penyebab terjadinya masalah keperawatan ini meliputi:

    1. Kematian anggota keluarga atau orang yang bermakna.
    2. Antisipasi kematian (berduka antisipatorik).
    3. Kehilangan fungsi tubuh atau bagian tubuh (misal: amputasi, kehilangan kemampuan kognitif).
    4. Kehilangan status sosial, peran, atau harta benda yang bernilai signifikan.

    D. INDIKATOR KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

    Berdasarkan standar keperawatan nasional, diagnosis ini ditegakkan apabila ditemukan minimal 80% dari kriteria berikut:

    Data Subjektif Mengungkapkan perasaan sedih, merasa bersalah atau menyalahkan orang lain, menyatakan ketidaksiapan menerima kehilangan, serta merasa putus asa.

    Data Objektif Reaksi menangis, gangguan pada pola tidur, serta penurunan kemampuan berkonsentrasi pada aktivitas rutin.

      E. RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN

      Tujuan utama intervensi adalah mencapai Tingkat Berduka Membaik (L.09094) dengan kriteria hasil: verbalisasi menerima kehilangan meningkat, perasaan sedih dan bersalah menurun.

      Dukungan Proses Berduka (I.09274)

      1. Identifikasi kehilangan yang dihadapi pasien.
      2. Fasilitasi pasien dalam mengekspresikan perasaan melalui teknik komunikasi terapeutik.
      3. Diskusikan strategi koping yang sehat untuk menghadapi masa transisi.

      Dukungan Emosional (I.09256)

      1. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk berventilasi.
      2. Berikan dukungan empati tanpa menghakimi reaksi emosional pasien.
      3. Edukasi keluarga mengenai fase-fase berduka agar dapat memberikan dukungan sosial yang adekuat.

      F. KONDISI KLINIS TERKAIT

      1. Kematian anggota keluarga atau orang terdekat
      2. Amputasi
      3. Cedera medula spinalis
      4. Kondisi kehilangan perinatal
      5. Penyakit terminal (mis. kanker)
      6. Putus hubungan kerja

      DAFTAR PUSTAKA

      American Nurses Association (ANA). (2020). Nursing: Scope and Standards of Practice, 4th Edition. Silver Spring: American Nurses Association.

      Engel, G. L. (1964). Grief and Grieving. The American Journal of Nursing, 64(9).

      Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2018–2020. Oxford: Wiley-Blackwell.

      Kübler-Ross, E., & Kessler, D. (2014). On Grief and Grieving: Finding the Meaning of Grief Through the Five Stages of Loss. New York: Scribner.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Worden, J. W. (2018). Grief Counseling and Grief Therapy: A Handbook for the Mental Health Practitioner (5th Edition). New York: Springer Publishing Company.

      World Health Organization (WHO). (2022). Mental Health and Psychosocial Support: Addressing Bereavement and Grief in Clinical Settings. Geneva: WHO Press.

      Pos terkait

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *