HARGA DIRI RENDAH KRONIS [D.0086]

A. DEFINISI

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan klien yang berlangsung dalam waktu lama dan terus-menerus. PPNI menekankan bahwa kondisi ini merupakan pola yang menetap dan bukan sekadar reaksi situasional terhadap suatu peristiwa.

NANDA International Evaluasi diri negatif atau perasaan negatif tentang diri sendiri atau kemampuan diri, yang berlangsung minimal selama tiga bulan. Definisi ini menonjolkan aspek durasi sebagai pembeda utama antara kondisi kronis dengan kondisi situasional yang terjadi secara mendadak.

Bacaan Lainnya

Gail W. Stuart Suatu keadaan di mana individu mengalami penilaian diri yang negatif mengenai keberhargaan diri secara berkepala dingin dan menetap. Stuart memandangnya sebagai bagian dari rentang respons konsep diri yang maladaptif, di mana individu gagal mengintegrasikan aspek positif ke dalam gambaran dirinya.

Townsend & Morgan Penilaian negatif terhadap diri sendiri yang berkembang dari waktu ke waktu sebagai hasil dari kegagalan yang dirasakan atau kurangnya dukungan positif. Mereka menekankan bahwa harga diri rendah kronis sering kali merupakan hasil dari proses internalisasi kritik yang diterima individu selama bertahun-tahun.

Carpenito-Moyet Keadaan di mana individu mengalami perasaan evaluasi diri negatif yang berlanjut tentang diri sendiri atau kemampuan diri dalam menanggapi situasi kehidupan. Carpenito menekankan adanya keyakinan bahwa diri mereka tidak berharga, tidak berdaya, dan tidak memiliki harapan yang sudah mendarah daging.

B. ETIOLOGI DAN ANALISIS FAKTOR RISIKO

Secara patofisiologis dan psikososial, kondisi ini dipicu oleh interaksi kompleks antara faktor lingkungan dan internal:

Kegagalan Berulang Akumulasi pengalaman negatif yang membentuk skema kognitif “ketidakberdayaan yang dipelajari” (learned helplessness).

Paparan Trauma & Penguatan Negatif Riwayat penolakan, perundungan (bullying), atau pola asuh otoriter yang kurang memberikan pengakuan positif.

Ketidaksesuaian Budaya Tekanan untuk memenuhi standar ideal yang tidak realistis dalam lingkungan sosial atau budaya tertentu.

Gangguan Psikiatri Sering menjadi komorbiditas atau sekuel dari depresi berat atau gangguan kepribadian tertentu.

C. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, diagnosis ini ditegakkan jika ditemukan ≥80% dari indikator berikut:

Gejala Subjektif

  1. Verbalisasi diri yang negatif (merasa tidak berguna, tidak berharga).
  2. Perasaan malu atau bersalah yang berlebihan secara konstan.
  3. Ketidakmampuan untuk menerima pujian atau penilaian positif.
  4. Kecenderungan melebih-lebihkan kegagalan dan meremehkan keberhasilan.

Gejala Objektif

  1. Postur Tubuh: Menunduk, kontak mata minimal atau menghindari lawan bicara.
  2. Perilaku: Enggan mencoba aktivitas atau tantangan baru karena ketakutan akan kegagalan.
  3. Karakteristik Komunikasi: Bicara pelan, pasif, atau ragu-ragu.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Tujuan utama intervensi adalah Harga Diri Meningkat (L.09069) dengan kriteria hasil:

Aspek Penilaian Diri Peningkatan penilaian diri positif dan penerimaan terhadap diri sendiri serta penurunan verbalisasi negatif dan perasaan tidak berdaya.

Aspek Perilaku Teramati Peningkatan minat dalam partisipasi sosial dan pengambilan keputusan, serta postur tubuh yang lebih terbuka dan percaya diri.

E. STRATEGI INTERVENSI BERDASARKAN STANDAR IPE (INTERPROFESSIONAL EDUCATION)

Intervensi keperawatan difokuskan pada restrukturisasi kognitif dan penguatan perilaku:

Promosi Harga Diri (I.09308)

  • Mengidentifikasi kekuatan internal pasien dan memotivasi verbalisasi positif.
  • Membantu pasien menetapkan tujuan yang realistis guna meminimalkan risiko kegagalan.
  • Memfasilitasi lingkungan yang mendukung eksplorasi diri tanpa penghakiman.

Manajemen Perilaku (I.12463)

  • Memberikan penguatan positif (positive reinforcement) segera setelah pasien menunjukkan perilaku adaptif.
  • Menciptakan jadwal kegiatan terstruktur untuk memberikan rasa kendali pada pasien.

Promosi Koping (I.09312)

  • Melatih keterampilan sosial dan teknik pemecahan masalah konstruktif.
  • Mendorong pengungkapan perasaan secara asertif.

F. KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Cedera traumatis
  2. Pembedahan
  3. Kehamilan
  4. Stroke
  5. Penyalahgunaan zat
  6. Demensia
  7. Penyakit kronis
  8. Pengalaman tidak menyenangkan

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association (APA). (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.

Carpenito-Moyet, L. J. (2021). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing (10th ed.). St. Louis: Elsevier Mosby.

Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2020). Pocket Guide to Psychiatric Nursing. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *