GANGGUAN CITRA TUBUH (D.0083)

A. DEFINISI

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan struktur, bentuk, atau fungsi tubuh. Definisi ini menekankan pada respons subjektif individu terhadap kondisi fisik yang tampak secara objektif.

NANDA International Konfusi dalam gambaran mental diri fisik individu. NANDA menyoroti bahwa gangguan ini merupakan masalah psikososial di mana persepsi mental seseorang tidak lagi selaras dengan realitas fisik mereka.

Bacaan Lainnya

Gail W. Stuart Suatu sikap, persepsi, keyakinan, dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya. Stuart menekankan bahwa citra tubuh bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh suasana hati serta pengalaman hidup yang merespon perubahan fisik.

Ackley & Ladwig Suatu gangguan dalam cara seseorang melihat dirinya sendiri, yang sering kali dipicu oleh perubahan nyata atau yang dirasakan pada penampilan atau fungsi fisik. Hal ini mencakup elemen kognitif (pikiran) dan afektif (perasaan) terhadap tubuh.

Potter & Perry Sikap seseorang terhadap tubuhnya, termasuk tinggi badan, berat badan, bentuk, fungsi organ, serta kemampuan fungsional. Gangguan terjadi ketika ada ketidakmampuan untuk mengintegrasikan perubahan fisik ke dalam konsep diri yang positif.

    B. ETIOLOGI (FAKTOR PENYEBAB)

    Faktor-faktor yang memicu munculnya gangguan ini diklasifikasikan menjadi beberapa kategori utama:

    Perubahan Biofisik Kerusakan integritas struktur tubuh akibat trauma, amputasi, luka bakar, obesitas, atau kondisi dermatologis seperti jerawat yang parah.

    Perubahan Fungsional Penurunan atau hilangnya fungsi organ akibat proses penyakit seperti stroke (hemiplegi), kelumpuhan, atau perubahan fisiologis alami seperti kehamilan.

    Efek Terapeutik Dampak dari tindakan medis atau prosedur pengobatan, seperti pembedahan yang meninggalkan bekas luka luas, kemoterapi yang menyebabkan alopesia (kerontokan rambut), atau dampak terapi radiasi.

    Faktor Psikososial & Perkembangan Ketidaksesuaian antara tuntutan budaya atau standar kecantikan sosial dengan kondisi diri, serta transisi perkembangan seperti pubertas atau proses penuaan.

    C. INDIKATOR KLINIS (TANDA & GEJALA)

    Penegakan diagnosis ini didasarkan pada data berikut yang harus ditemukan minimal 80% pada pasien:

    Data Subjektif

    1. Verbalisasi perasaan negatif terhadap perubahan tubuh.
    2. Mengungkapkan keputusasaan, rasa malu, atau perasaan tidak berharga.
    3. Fokus berlebihan pada bagian tubuh yang hilang atau berubah fungsinya.

    Data Objektif

    1. Kehilangan atau perubahan nyata pada anggota tubuh secara struktur maupun fungsi.
    2. Perilaku menghindari, seperti menolak melihat atau menyentuh bagian tubuh yang terganggu.
    3. Penyembunyian bagian tubuh secara sengaja (misalnya menggunakan pakaian yang sangat longgar untuk menutupi bagian tertentu).
    4. Penurunan keterlibatan dalam interaksi sosial atau isolasi diri.

    D. LUARAN KEPERAWATAN

    Tujuan utama intervensi adalah Citra Tubuh Meningkat [L.09067], dengan kriteria hasil sebagai berikut:

    1. Pasien mampu melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah secara bertahap.
    2. Verbalisasi kecacatan atau kehilangan bagian tubuh membaik yang menunjukkan adanya penerimaan diri.
    3. Keinginan untuk melakukan manajemen penampilan diri meningkat, seperti berdandan atau menggunakan alat bantu secara mandiri.

    E. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA

    Langkah-langkah klinis difokuskan pada dua strategi utama:

    Promosi Citra Tubuh [I.09305]

    Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan dan pengaruh budaya atau agama. Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.

    Terapeutik: Fasilitasi diskusi mengenai perubahan tubuh dan pengaruhnya terhadap harga diri. Bantu pasien dalam mengembangkan harapan yang realistis terhadap pemulihan.

    Edukasi: Latih penggunaan alat bantu seperti prostesis, wig, atau kosmetik, dan dorong partisipasi dalam kelompok pendukung (support group).

      Promosi Koping [I.09312]

      Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Bantu pasien mengidentifikasi metode penyelesaian masalah yang konstruktif serta memanfaatkan sistem pendukung yang tersedia.

      Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi untuk mengelola kecemasan terkait penampilan dan latih keterampilan sosial untuk meningkatkan kepercayaan diri di depan umum.

      F. KONDISI KLINIS TERKAIT

      1. Mastektomi
      2. Amputasi
      3. Jerawat
      4. Parut atau luka bakar yang terlihat
      5. Obesitas
      6. Hiperpigmentasi pada kehamilan
      7. Gangguan psikiatri
      8. Program terapi neoplasma
      9. Alopecia chemically indused

      DAFTAR PUSTAKA

      Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Makic, M. B., Martinez-Kratz, M. R., & Zanotti, M. (2019). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based Guide to Planning Care. St. Louis, Missouri: Elsevier.

      Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2021-2023. Oxford: Thieme Publishers.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing (10th Ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

      Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis, Missouri: Elsevier Health Sciences.

      Pos terkait

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *