Prof Budi Anna Keliat, Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa
Prof Budi Anna Keliat, Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa

Fondasi Luhur Untuk Prof Dr Budi Anna Keliat, Usor-Usor

Diposting pada

Professor Ilmu Keperawatan Jiwa Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc, Bagaimana kehidupan dalam potret masa kecil hingga pendidikan lanjut?.

Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc, merupakan professor ketiga Indonesia dalam kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa.

Kemampuan menemukan Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa (MPKP Jiwa), serta Community Mental Health Nursing (CMHN). Bukanlah sesuatu yang lahir tanpa sebab akibat, tentu pengalaman masa kecil ketika SD, SMP hingga SMA sangat berperan dalam hal ini.

Potret dan karya Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc, bisa kita temukan pada mahasiswa keperawatan maupun praktisi, sebab tercatat hingga tahun 2018 sebanyak 37 buah. Jurnal nasional 39, jurnal internasional 39, peneliti 21 buah serta HAKI 68.

Artikel ini agak berbeda sebab mengupas kehidupan masa lalu ketika ia masih kecil, oleh karena menemukan ide pemikiran Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc tentang Ilmu Keperawatan Jiwa, sesuatu yang sangat mudah. Sebab dunia digital maupun cetak telah menyuguhkan berbagai karya miliknya.

Maka dengan bangga kami mempersembahkan sebuah tulisan inspiratif, Fondasi luhur sang guru besar dengan Motto Usor-usor.

Apa itu usor-usor, mari kita menyelam dalam aksara perjalanan kisahnya yang penuh makna!

Dari Kaki Gunung Sinabung

Kuta Buluh Simole, Kabupaten Karo Sumatera Utara. Dari sini kita bisa menyaksikan keindahan alamnya yang membalur rindu. Hijau dan menjadi tempat favorit para pendaki gunung. Gunung Sinabung menawar lereng yang eksotik.

Jika tidak siap mental, jangan pernah mendekati gunung ini, sebab sekali anda datang, maka sukmamu akan terpahat oleh keindahan pinusnya. Bukan hanya itu, tapi juga keramahan dan pekerti warganya yang baik, bersahabat secara kekeluargaan.

Gunung Sinabung
Gunung Sinabung, Medan Sumatera Utara (Sumber: Kompas)

Pada kawasan kakinya yang menjungtai kebawah, pada area kakinya yang menghampar, terdapat satu Kecamatan yang bernama Kecamatan Kuta Buluh Simole. Dari sinilah asal dari Tengguli Ginting Suka dan Menteri P. Keliat.

Organisatoris lain baca ini: Daftar Professor Keperawatan Terupdate Tahun 2021

Orangtua Prof Budi Anna Keliat

Tengguli Ginting Suka memiliki anak bernama

  1. Iting Ginting Suka
  2. Ulbah Ginting Suka
  3. Ukur Ginting Suka
  4. Armada Ginting Suka,
  5. Brigjen (Purn) Idaman Ginting Suka,

Sementara Menteri P. Keliat. memiliki keturunan bernama:

  1. Sulaeman Keliat,
  2. Paulus P. Keliat
  3. Terkelin Rim Keliat,
  4. Tetap Ate Keliat,
  5. Lukas Keliat.

Pernikahan antara Paulus P. Keliat dengan Iting Ginting Suka, tanggal 21 Mei 1951 kemudian melahirkan anak, yakni:

  1. Budi Anna Keliat,
  2. Perwira Keliat,
  3. Sri Deli Keliat, dan
  4. Harmoni Keliat.

Menteri P. Keliat. Berpenampilan necis, keren dan gagah. Kadang kacamata hitam menghiasi wajahnya. Dengan kulitnya yang macho sebagai seorang lelaki.

Selalu memakai jas putih, maklum dia bertugas juru tulis desa. Bagian administrasi dalam berbagai hal. Seluruh urusan, dari persuratan hingga pengurusan pajak dan kepemilikan tanah menjadi bagiannya.

Suatu ketika Menteri P. Keliat, yang memegang kunci data administrasi desa. Suatu hari ia diajak korupsi, untuk sebuah pekerjaan. Namun lelaki keren tersebut, bertekad untuk memakan yang haknya dan tidak akan mengambil hak orang lain.

Akhirnya Menteri P. Keliat mengambil sebuah keputusan yang sulit, tetapi karena karakternya kuat, maka ia memilih berhenti bekerja dan menjadi tukang jahit dan jual obat. Baginya ini lebih mulia, sebagai penjahit dan penjual obat daripada harus korupsi.

Suatu sore yang indah di kaki Gunung Sinabung, terdengar letusan yang keras, dengan beberapa kali tembakan. Semua orang kaget dan ternyata lelaki itu adalah Menteri P. Keliat harus gugur (meninggal) oleh kesewenangan penjajah belanda, pada tahun 1943.

Peristiwa itu bertepatan dengan dipenjaranya Paulus P. Keliat oleh Belanda karena melawan kolonial, ia hanya mendengarkan kabar dari balik jeruji besi sehingga ia tidak sempat melihat pemakaman ayahnya.

Ia tertangkap karena merupakan salah pasukan yang melawan penjajah Belanda ketika itu. Kesedihan mendera dirinya karena tidak sempat menatap wajah dan jasad ayahnya, yang tertembus peluru.

Rumah Dan Ruang Berbagi

Sebuah rumah berukuran sekira 6×15 meter, dengan pekarangan yang luas. Rumah ini sederhana, meski ia anak orang “berada”. Sebab Tengguli Ginting Suka adalah termasuk pengusaha jual beli hasil bumi pada Kuta Buluh Simole.

Namun Iting Ginting Suka, orangtua (ibu) dari Budi Anna Keliat lebih memilih sederhana dan berusaha secara mandiri. Maka rumah yang terletak pada Jl. Sei Batu Gingging no 35B , Medan Baru tersebut, menjadi tempat merancang masa depan keluarga. Dan memancang cita-cita dengan podasi alas pikir dan usaha yang baik.

Kerja keras, dan biarkan peluh bercucuran, dengan tenaga penuh mengabdi untuk keluarga. Iting Ginting Suka bersama suami Paulus P. Keliat, tinggal bersama anak-anaknya.

Dan tidak hanya itu, mereka juga menampung banyak keluarga dari daerah.

Dirumah berlantai semen beratap zeng tersebut tinggal Tetap Ate Keliat dan Istrinya (Netha Br Karo)

Serta Ukur Ginting Suka, Armada Ginting Suka dan Brigjen(Purn) Idaman Ginting Suka yang kelak menjadi pasukan pengamanan presiden (Paspampres).

Tidak hanya menampung saudara masing-masing, tetapi juga dari sepupu dan keluarga jauh, termasuk diantaranya: Rusia Keliat, Dines Keliat, Tiptip Sebayang, Karina Sebayang, Sadan Sebayang serta Pertama Surbakti.

Paulus P. Keliat adalah sosok dengan kasih sayang dan semua teladan dari bolang khususnya:

  1. Pekerja keras
  2. Disiplin
  3. Pantang menyerah
  4. No korupsi dan KKN

Pekarangan dan Sungai

Dengan jarak 60 Kilometer dari Kuta Buluh Simole, mereka dalam satu rumah menempati kediaman dengan dinding papan. Pada bagian belakang rumah (posisi mengarah kekanan) terdapat pondok sebagai dapur.

Pada sisi kanan ada sumur, dengan 2 kamar mandi.

Rumah yang pada pekarangannya penuh dengan tanaman sayur, singkong dan lain-lain tersebut tidak pernah sepi. Suasana dapur yang ramai, termasuk ramainya asap kayu bakar. Maklum, keluarga ini lebih alami dalam hal-hal seperti makanan.

Maka kayu bakar menjadi bahan api untuk memasak yang utama, sehingga dalam pondok dapur yang berukuran 3 x 3 meter tersebut terdapat dapur dengan tungku.

Pada bangunan yang menempati lahan ukuran lebar 20 x 50 meter (seluas 1000 meter persegi) tersebut, menjadi kenangan masa kecil yang tak lebur oleh zaman pada nostalgianya.

Bagian belakang, karena posisi rumah yang melintang, juga melintas sungai dengan gemersik airnya. Dalam beberapa kali kesempatan. Beberapa orang yang tinggal pada rumah tersebut, memancing ikan lele pada sungai yang bening.

Meski airnya cukup untuk berenang, namun Budi Anna Keliat tidak berani masuk kedalam sungai tersebut, maka jangan heran jika sampai sekarang ia tidak menguasai cara mengapung dalam air (berenang).

Tempat Tidur Keluarga

Pada rumah tersebut terdapat 3 kamar ayah dan ibu: 1 untuk ayah dan 1 untuk kamar anak perempuan: Budi Anna Keliat, Sri Deli Keliat dan sepupu perempuan bapak yang tinggal dirumah tersebut karena melanjutkan pendidikan di Medan.

Pada sisi lain terdapat lumbung sebagai tempat tidur untuk yang laki-laki, mereka kadang berempat pada tempat tersebut, tanpa menggunakan kasur.

Ada juga kamar yang menggunakan tirai, sebagai tempat tidur Tetap Ate Keliat bersama istri.

Pembagian dan disiplin keluarga mulai diatur pada masa itu, dari yang kecil hingga yang dewasa, semua mendapatkan jatah kerja. Menyapu, mencuci, memasak membersihkan rumah, cuci piring dan sebagainya.

Semua diperlakukan sama, seperti aturan yang bangun lebih awal maka pekerjaannya menyapu (tugas paling mudah), tentu hal ini memberikan motivasi agar bangun lebih awal.

Tengguli Ginting Suka (kakek dari Budi Anna Keliat, matrilineal), selalu memberikan pesan, ketika bermalam pada rumah tersebut. Dan ini yang menjadi ingatan masa kecil Budi Anna Keliat.

Jangan Matahari Lebih Dulu Terbit Daripada Bangunmu (Tengguli Ginting Suka)

Suasana rumah itu harmonis, mereka seperti mengetahui siapa mengerjakan apa. Entah kalau ini menjadi inspirasi konsep MPKP Jiwa dan CMHN yang kelak ia terapkan.

Organisatoris lain baca ini: Organisasi PPNI: Sejarah Berdiri, Ketua Dari Masa Ke Masa

Masa Kecil (SD) Prof Budi

Dunia profesi keperawatan, ketika menyebut Prof Budi, dari sabang sampai Merauke, mayoritas akan mengenali bahwa yang dimaksud dari nama tersebut adalah Prof. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc.

Merupakan salah satu dari 18 guru besar (data Oktober 2021). Tidak hanya menjadi kebanggaan tapi juga telah menjadi idola para dosen dan perawat jiwa.

Sebagai kakak yang tertua, maka posisi Budi Anna Keliat memiliki “hak veto” kepada adik-adiknya. Sebab pada dasarnya ketika kedua orangtuanya tidak ada di rumah maka Budi Anna kecillah yang menjadi pemimpin bagi ketiga adiknya.

Pada rumah tersebut, tidak memiliki meja dan kursi, dengan melantai mereka duduk sejajar pada ruang makan. Menikmati makanan secara bersama-sama dan tentu dengan semangat kekeluargaan.

Sesekali ia menegur adiknya ketika keliru dalam hal tutur hingga etika, dengan menegur secara langsung atau dengan tatapan mata.

Perwira Keliat termasuk anak yang paling patuh, matanya tidak pernah menang terhadap mata Budi Anna Keliat. Maklum, Perwira Keliat Dengan Budi anna Keliat berjarak 5 tahun dari segi umur.

Ruang tamu, ada kursi dan meja rotan, tempat ini sering menjadi tempat bercengkrama keluarga, dan kedua orangtuanya sering terlihat menggunakan papan catur untuk mereka bermain.

Benar saja kedua pekerja Umar Bakri tersebur, terlibat dalam pertarungan sengit pada papan catur, terkadang dahi mereka mengkerut untuk melancarkan serangan demi serangan. Sebab keduanya mau memenangkan pertarungan, hampir tidak memiliki pilihan untuk remis (draw).

Budi Anna Keliat selain memperhatikan keduanya bertarung, juga bertugas untuk mengamankan adik-adiknya. Yang sesekali hendak mengambil bidak catur. Yang dimainkan oleh kedua orangtuanya.

Skak, pada kesempatan ini bapak menang. Pertandingan kemudian berlanjut, kali berikutnya ibu yang memenangkan pertarungan ini.

Sekolah Rakyat (1959 – 1964)

Layaknya sekolah dasar (SD), Budi anna Keliat melanjutkan pendidikan pada Sekolah Rakyat Negeri 52, Jln Sei Petani Medan Baru Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Jarak sekolah ke rumah sekira 1,5 kilometer. Masa SD Budi Anna keliat kecil menikmati perjalanan kesekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda.

Ia termasuk murid yang disiplin, urusan pakaian ia tidak pernah melanggar, sepatu lengkap. Dengan sepatu Ape, sejenis sepatu olahraga dengan tali pengikat yang setia di depan sepatu tersebut. Meski terkadang kuku sakit, namun ia tetap memakainya.

Bapak Darius, Guru Kelas VI SR (SD) adalah guru yang sangat ia kenal, sebab kedisiplinannya dalam mengarahkan para siswa. Selain itu ia juga tegas.

Sepulang sekolah dan waktu bermain.

Permainan yang paling sering ia mainkan adalah 2 atau 3 Bola tenis dipantulkan ke dinding, maklum pada tahun tersebut belum ada permainan seperti yang ada sekarang. Usah menyebut android, sebab televisipun pada masa itu masih hitam putih dan “banyak semutnya” ketika menonton.

Lebih banyak hal yang berhubungan dengan motorik, dengan keterbatasan teknologi ketika dibandingkan masa sekarang. Namun permainan memantul bola tenis ke dinding adalah permainan yang sangat menyenangkan.

Di dekat sekolah ada kantor PLN. Kantor dengan dinding yang luas tersebut. Sangat cocok dengan permainan memantul bola tenis. Bunyi bola tenis dengan gaya gravitasi pada hukum Newton dua.

Tentu Budi Anna Keliat belum mengetahui ketika itu hukum newton tersebut, sebab pada masa SD saat itu, ia sangat menikmati permainan, yang ketika bola tenis basah, akan meninggalkan bekas di dinding kantor PLN.

Menyapa Kuburan

Pada Jln Sei Batu Gingging menuju ke sekolah melewati kuburan, menyeramkan tentunya apalagi dalam kondisi sepi. Selain rumput yang tumbuh melambat pada kuburan tersebut juga terdapat beberapa pohon.

Pada bagian depan ada kantor departemen Agama. Suatu ketika ada seorang nenek yang bekerja pada keluarga Budi. Memberitahu resep pada Budi Anna Keliat, agar tidak diganggu oleh penghuni kuburan.

Ilusatrasi Kuburan
Ilustrasi: Kuburan (Sumber, Zona Surabaya Raya)

Jika kamu lewat pada kuburan tersebut, maka katakan “Misi saya mau lewat”. Karena sebagai anak-anak maka iapun mematuhi arahan nenek tersebut. Maka murid SD yang setia memakai tas kain ini.

Setiap melewati kuburan akan berbicara sendiri “Misi saya mau lewat” kepada hamparan kuburan yang diam membisu.

Meski tanpa ada jawaban, kalimat “Misi saya mau lewat” terus ia ucapkan.

Belakangan ia ketahui bahwa kalimat tersebut merupakan sugesti menghilangkan ketakutan dari seramnya kuburan.

Jualan Kayu bakar Dan Hasil Bumi

Iting Ginting Suka, selalu mendapatkan kayu bakar dari sekitar Kota Medan, untuk tetap bisa memasak. Maka kayu bakar tersebut tertumpuk pada bagian depan rumah ini.

Terkadang ibunya tersebut menjualnya kepada orang lain yang membutuhkan.

Namun tidak hanya kayu bakar, tetapi juga hasil bumi seperti jeruk, bawang, kemiri, Kacang tanah. Menjadi komoditas untuk jual beli hasil bumi.

Selain itu dari Medan dikirim ke kampung ikan lele dalam tempatnya yg berisi air. Untuk dijual didaerah asalnya.

Ketika kacang tanah tiba pada rumah tersebut, maka mereka para penghuni rumah berlomba untuk mengupasnya.

Maklum, kacang tanah tersebut masih lengkap dengan kulitnya setelah dikeringkan dari daerah. Kadang masih ada sisa-sisa tanah yang menempel. Meninggalkan bekas pada tangan.

Mereka yang tinggal pada rumah tersebut melakukan perlombaan membuka kulit kacang, bunyi kulit kacang yang khas menjadi seperti suara musik. Sesekali mereka tertawa, dan saling mengganggu satu sama lain.

Siapa yang mampu mengupas minimal 1 kilogram akan mendapatkan upah kerja dari ibu pegawai negeri tersebut yang sedang mencari pendapatan tambahan. Gbera

Uang kecil pada masa itu sangat laku, sebab kondisi perekonomian negara pada tahun-tahun 60an masih sangat sulit. Mirip masa susahnya pada musim covid-19, kali yah?

Meski kondisi ekonomi terbatas, namun rumah tersebut tidak pernah sepi. Rumah yang ramai memberi tumpangan kepada keluarga rupanya merupakan situasi yang turun temurun.

Menjadi tempat tinggal alternatif keluarga yang kekota atau melanjutkan pendidikan. Atau sekedar bermalam beberapa hari karena ada kebutuhan di kota yang mendapatkan julukan melayu deli tersebut.

Organisatoris lain baca ini: Manfaat Organisasi Profesi BK: 3 Tugas dan Wewenang

Masa SMP Budi A Keliat

Dimana pendidikan SMP Keliat, B.A?

Tepatnya, pada SMP (Sekolah Menengah Pertama) Nasrani Bersubsidi Medan, yang terletak pada Jln Candi Biara Kampung keling dengan jarak dari rumah ke sekolah, sejauh 3 KM. Ia tempuh dengan naik sepeda.

Ketika berangkat ia mengayuh sepeda sendirian, sesekali ia bertemu dengan teman sekolah pada pertigaan jalan, tepatnya pada Jln Iskandar Muda.

Ada siswa yang lain berjalan kaki, dengan jarak tempuh hingga 4 kilimeter. Pada sekolah tersebut ia bertemu dengan teman-teman sekolah seperti seseorang yang masih ia ingat hingga sekarang, yakni ia memanggilnya Kak Ros (tentu ini bukan Kak Ros dalam Ipin Upin).

Memiliki suku yang sama, sebagai suku Karo, tegas dan tegap dalam berjalan. Menjadi role model buatnya.

Disini ia mengenal Bapak Sitompul, Kepala Sekolah yang berkharisma.

Ia sangat menyukai mata pelajaran Aljabar (Matematika)

Ayah Marah Dalam Kelas

Paulus P Keliat (ayah Budi Anna Keliat) seorang PNS yang diperbantukan, sebagai guru menggambar dan bahasa Indonesia pada sekolah (SMP) tersebut tempatnya menimba ilmu. Ayahnya tegas dan disiplin.

Suatu ketika, ayahnya mengajar dalam kelas. Namun ada siswa yang melakukan sebuah kesalahan fatal, dan akhirnya ia marah kepada siswa.

Suasana satu ruangan hari itu sangat tegang, seumpama ada semut besar menggigitpun, tidak ada yang berani berteriak, semua mematung. Bahkan suara nafas merekapun sekeras usaha mereka redam, meski detak jatung para siswa ini tidak beraturan. Keringat dingin.

Prak! Dengan sekali hentakan kaki ke lantai, membuat seluruh siswa makin tegang. Yang siswa lelaki menciutlah nyalinya.

Namun entah kenapa, sepatu yang ia kenakan pada kaki kanan lelaki yang memiliki badan atletis tersebut, terlempar.

Budi Anna Keliat, serba salah. Hendak mengambil sepatu yang dipergunakan oleh sang ayah, namun niatnya terhenti sebab ia takut mendapatkan amarah dari ayahnya.

Meski ayahnya marah dalam kelas, tetapi seluruh siswa tidak ada yang membullynya. Seluruh siswa sadar posisi, sebagai seorang siswa dan sangat menghormati guru.

Antri Beli Es Potong

Dengan menggunakan bahan air dan beberapa pewarna yang dibungkus dengan plastik Es lilin, terbentuklah es potong setelah dibekukan dalam lemari es.

Ini merupakan jajanan terbaik di SMP Nasrani bersubsidi Medan tersebut.

Dari namanya, maka jajanan ini adalah benda yang terpotong-potong, dan dengan menggunakan tusuk sate (terbuat dari bambu) sebagai pegangan.

Pada saat keluar main (istrahat), maka para siswa termasuk Budi Anna Keliat mengambil posisi antri sebagai pembeli. Jajanan ini sangat laris, sehingga jangan heran. Ketika waktu istrahat telah selesai, bahkan masih ada siswa yang tidak kebagian. Termasuk dirinya.

Es Potong yang termuat pada kotak bagian belakang sepeda sang penjual, selalu setia hadir pada SMP tersebut, hampir setiap hari. Dengan bunyi loncengnya yang khas.

Kegiatan Ekstra Kokurikuler

Pada masa ini, ia menjadi seorang atlit Catur. Dengan inspirasi dari ayah dan ibu yang selalu bermain catur ketika di rumah. Ternyata membuatnya menguasai strategi catur. Bayangkan, ia akhirnya menjadi juara dua dalam sebuah kesempatan pertarungan catur antar siswa se Kota Medan.

Sehingga para dosen dan perawat jiwa kudu mikir, bahwa selain ilmu keperawatan jiwa, maka harus hati-hati kalau mau menantangnya bermain “strategi perang” lapangan catur.

Selain itu, ia juga bergabung dalam kegiatan Praja Muda Karana (Pramuka).

Pada bagian depan SMP tempat ia menimba ilmu, terdapat gugus pramuka. Tepatnya di komplek Polres Kota Medan.

Disini ia belajar dan mahir tentang simpul-simpul pramuka, hingga menguasai memainkan tongkat pramuka dan bendera semaphore (semapor atau semapur).

Maka jangan heran salam pramuka, sering ia pergunakan dalam kegiatan CMHN (Community Mental Health Nursing).

Lancang depan, grak!
Lancang kanan, grak!
Aba-aba berbaris ini sangat ramai ketika pagi didepan kelas sebelum masuk kelas. Tepatnya berbaris di kelas masing-masing, Guru seni suara memimpin, diteras. Selanjutnya menyanyikan lagu perjuangan seperti Berkibarlah benderaku dan lain sebagainya. Lagu favoritnya.

Momen ini sangat menarik dan terkenan selalu.

Dengan memakai baju terusan (rok) ia tidak pernah memakai celana panjang.

Tetap dengan setia menemani sepatu Ape sebagai alas kaki favoritnya.

Masa SMP ini, belum ada seragam SMP sebagaimana sekarang. Siswa masih memakai baju bebas kesekolah. Tentu bukan pakaian ala sekarang yang penuh dengan jombe-jombe (tali disana sini).

Mengetam Pada Masa SMP

Pada saat Mama papa ngajar, ketika musim panen tiba maka nenek ke ladang untuk ngetap mencari nafkah dengan memotong padi. Penghasilannya, setiap berhasil memotong padi sebanyak 10 ikat, maka 1 ikat sebagai upahnya.

Maka tanggung jawab sekarang berpindah kepadanya terhadap adik-adiknya.

Sang ayah menyiapkan semacam kandang ayam berbentuk rumah panggung dan belum terpakai untuk ayam pada bagian depan rumah. Sebagai tempat bermain.

Sebelum berangkat sang bunda telah menyiapkan nasi dan lauknya untuk mereka. Usah berpikir dia bersama adik-adiknya akan jajan, selain jajanan yang hampir tidak pernah ada, juga kondisi ekonominya saat itu cukup pas-pasan.

Toga Kehormatan
Pemasangan Toga Kehormatan Prof Budi Anna Keliat (Foto: Budiannakeliat.com)

SMA

Beralamat pada Jln S Parman, Medan Sekolah Menengah Atas Nasrani Bersubsidi Medan. Jarak tempuh 2 kilometer,
dengan naik sepeda selama kurang lebih 25 menit.

Tepat ketika ia naik kelas dua SMA, ia tidak sendiri, namun bersama dengan adik pertama (anak kedua), Perwira Keliat.
Sebab adik lelaki tersebut masuk sekolah SMP Nasrani bersubsidi Medan (tempat ia sebelumnya menimba ilmu).

Posisi SMA, antara rumahnya dengan SMP.

Dalam kenyataannya, jika kesekolah, maka SMA tempat Budi Anna Keliat lebih dekat. Sehingga ketika kesekolah maka ia lebih duluan sampai, selanjutnya Perwira Keliat, mengayuh sepeda sendiri menuju SMP.

Adiknya yang kelak menjadi Pensiunan TVRI (Pembaca Berita). Selalu ia tunggu sepulang sekolah, sebab Perwiralah yang membawa sepeda.

Keterlambatan Perwira

Suatu ketika, waktu pulang sekolah telah tiba. Sekira 10 menit menunggu, Perwira belum kelihatan. Ia khawatir adiknya ada apa-apa, bukan hanya itu, perut mulai menagih waktu makan saat itu.

Sesekali Budi Anna Keliat menatap jalan S Parman mengarah ke Jalan Candi Biara. Namun lelaki yang berperawakan kurus tersebut belum juga tampak.

Sekira 1 jam ia menunggu, akhirnya Perwira tiba mengayuh sepeda dengan terburu-buru. Sebab ia sadari keterlambatannya. Bermain bola disekolah akan berefek fatal buat dirinya.

Pada posisi jarak 15 meter, Budi Anna Keliat mengunci matanya pada adik lelaki tersebut, yang tak berani menahan pandangannya. Lelaki itu berhenti sambil menurunkan kakinya.

“Kamu darimana saja?” Budi Anna Keliat bertanya dengan tatapan mata yang tajam.
“Kenapa terlambat” Belum Periwira menjawab, ia kembali tertekan dengan pertanyaan kedua.

Perwira menjelaskan alasan keterlambatannya, justru jawaban tersebut membuatnya semakin mendidih, bercampur rasa lapar akibat pulang terlambat.

Perwira Yang Terhukum

Maka pada siang menjelang sore ketika itu, ia menghukum sang adik,

“Udah kamu yang bonceng saya” tegasnya.

Perwira kaget, dengan hukuman tersebut namun tidak berani mengungkapkan keterbatasannya.

Secara fisik ia tidak mampu dengan perintah ini. Namun tetap ia membonceng sang kakak, yang kelak ia bertemu saat dewasa ketika bekerja pada TVRI Jakarta.

Karena badan yang kecil (usia kelas 1 SMP), sementara ia telah kelas 2 SMA, tentu anak lelaki tersebut membutuhkan tenaga ekstra agar sepeda tetap bisa berjalan.

Perasaan dongkol masih menyelimutinya, bahkan iapun menatap marah pada rerumputan yang mereka lewati. Rumput salah apa? Kan yang terlambat adalah Perwira!

Sesekali perwira melirik kebelakang, karena takut kepalan tangan kakaknya melayang kebadannya, meski selama ini Budi Anna Keliat tidak sampai bermain fisik kepada adik-adiknya. Mendongkol ia, menggerutu apalagi. Entahlah, jika lirikan Perwira tersebut pertanda menyerah?

Terdengar suara nafas Perwira yang ngos-ngosan, terkadang ia berdiri mengayuh memanfaatkan berat badannya menekan pedal sepeda.

Menyerah tak berani melanjutkan adalah penderitaan buatnya.

Leburnya Amarah

Marah setinggi langit ke bumi, sekeras petir menyambar dan sesilau kilat di puncak Gunung Siguntang.

Kakak tidak akan pernah mengabadikan amarahnya.

Pada masanya akan luluh, bak debu menempel pada batu, ketika musim hujan tiba akan jatuh terbawa dan tertawar oleh air.

Amarah akan lebur oleh jiwa memiliki, dan sayang sebagaimana pada teori kebutuhan Abraham Maslow.

Seperti itulah akhir episode setiap amarah kakak kepada adiknya.

Akhirnya, ia mengambil alih untuk mengayuh sepeda tersebut, disertai dengan tekanan terakhir saat itu “sudah, sini saya yang bawa. Makanya lain kali jangan terlambat lagi”.

Pernyataan ini sudah tawar menawar, Logikanya berhadapan dengan jiwanya. namun tetap mau menyampaikan pesan bahwa ia harus diposisikan sebagai kakak.

“Perwira, Disiplinlah” intinya ada disini.

Perwira hanya tertunduk, tidak ada sepatah kata perlawananpun ia lakukan. Ia bersalah, dan mengakui kesalahannya tersebut.

Melawannya adalah kesalahan bertambah besar, sebab secara realita kakaknya tersebut “pemegang mandat”, saat kedua orangtua lagi tidak ada di rumah.

Kelas Paspal

Jika sekarang ada yang menjanjikanmu namun ternyata ia berpindah kelain hati, maka berbeda dengan dahulu kala waktu SMA.

Pada era itu 1967 – 1970, ada jurusan Paspal atau Pasti Pengetahuan Alam.

Maka kepastiannya adalah berhitung, dan itu berlaku pada ilmu-ilmu eksakta. Ia tidak akan manipulatif, dan tidak akan memunculkan banyak alternatif untuk mengakal-akali.

Pada era tahun tersebut, Pasti Pengetahuan Alam adalah Fisika, Aljabar (Matematika), Kimia, Biologi menjadi isi mata pelajaran utama.

Otak bisa mendidih kalau setengah-setengah memilih jurusan ini. Belum lagi jika gurunya yang tegas.

Sebenarnya Paspal itu, pada era tahun 90an berubah nama menjadi jurusan Fisika dan Biologi, kemudian pada tahun 1994, berubah dengan penjurusan IPA, IPS dan Bahasa.

Begitulah perubahan jurusan pendidikan pada tingkat lanjutan untuk mengadaptasikan perubahan secara global.

Dalam hal disiplin, ia termasuk anak yang patuh. Tidak pernak melanggar, apalagi membuat aturan sendiri.

Ketika masa SMP belum memakai seragam, putih biru. Maka berbeda pada masa SMA, kini baju putih putih (sebelum putih abu-abu) menjadi seragam yang ia pakai setiap hari ketika kesekolah.

Peringkat 1 Disiplin

Namun ada satu kejadian yang membuatnya menyesal.

Karena kedisiplinannya memakai seragam, maka ia mendapatkan peringkat terbaik dalam hal disiplin, ada beberapa hadiah yang ia dapatkan dari beberapa kategori yang ia menangkan, pagi itu.

Silih berganti ia naik ke teras sekolah setelah guru mengumumkan tiap kategori. Dan namanya mendominasi kemenangan-kemenangan.

Diantara kategori tersebut, adalah disiplin memakai seragam.

Sayangnya pagi itu, ia tidak memakai seragam sekolah, sebab memang pada kenyatannya hari itu adalah hari melihat pengumuman. Dan tidak wajib memakai seragam.

Meski bukan sebuah pelanggaran, namun ia merasa risih melewati para siswa menuju teras. Dan rasa bersalah tersebut menyelimuti dirinya.

Dengan langkah setiap menuju ke teras yang dijadikan panggung penerimaan hadiah, sahabatnya bertepuk tangan bangga.

Namun ia diselimuti rasa bersalah. Harusnya aku memakai seragam sebab akulah yang paling disiplin disekolah ini. Ucapannya dalam hati.

Juara Olahraga

Usah membahas catur, sebab itu merupakan olahraga yang sering ia lakukan bukan hanya di sekolah namun di rumahnya menjadi pemandangan yang sering ia saksikan.

Antara kedua orangtuanya maupun penghuni rumah yang lain.

Ketika masa SMA ia menaikkan level permainan, selain badminton, volley ball, yang ia pelajari dari guru olahraga bernama Bangun.

Ia juga masuk dalam tim permainan olahraga hockey. Yang ketika bolanya melenting menyentuh tulang kering. Akan membuat mata berbintang-bintang menahan sakit.

Guru yang memiliki hoby Hockey ini bukanlah guru olahraga, melainkan guru mata pelajaran lain yakni bernama Simanungkalit.

Hampir seriap ada kesempatan, maka ia mendapatkan tawaran untuk bergabung dalam bermain hockey.

Dalam bermain volley, ia mencetak sejarah sebagai juara dua kategori remaja (pelajar) tingka SMA se Kota Medan.

Guru

Selain Bangun dan Simanungkalit, juga ada beberapa nama guru yang ia ingat hingga saat ini, seperti Pandiangan, Guru Kimia. sebagaimana ia suka pelajaran Kimia.

Kemudian ada nama Tobing, adalah guru Fisika.

Pelawi, guru pendidikan seni, yang pada sebuah kegiatan perayaan natal dengan persembahan drama Natal menjadi tokoh. Dirinya yang terpilih menjadi pemeran utama.

Pada hal lain ada Tobing, seorang guru seni suara. Dalam sebuah kesempatan menjadi anggota vokal grup dengan posisi suara dua, menyabet juara juara vokal Group tingkat SMA se Kota Medan.

Teman SMA

Disini ia bertemu dengan Rosna, Rosana, Suci, Salbiah Camat di Berastagi Kaban Jahe sekitar 1,5 jam dari Kota Medan.

Kemudian ada nama Pininta, Tiurma.

Sebagai sahabat maka terkadang mereka saling mengunjungi. Dengan naik sepeda ke kebun rambutan, menyusuri jalan yang alami dengan pohon-pohonnya.

Setiap perayaan dengan pesta tahunan, maka tidak pernah Budi Anna Keliat absen untuk kekampung, tepatnya ke Tiga Binanga. Mereka adala sahabat se group volley. Dengan makan dari rumah ke rumah. Sebagai perayaan.

Terkadang mereka melakukan latihan volley secara bersama di Kota Medan. Masa ini sepatu Ape tetap setiap menempel pada kakinya.

Jika anda setia menunggunya kembali namun tidak pulang-pulang karena tertaut pada orang lain, maka sepatu ape tak pernah lepas dari perempuan yang kelak mendapatkan penghargaan. Dari Offered by the Swiss Foundation for World Health in collaboration with the World Health Organization : The laureate of the Award 2015 for an“Outstanding Achievement in field of Mental Health Care” (Penggerak Kesehatan Jiwa Sedunia)

Organisatoris lain baca ini: Hindari 7 Kalimat (kata) ini, Saat anda Memimpin Sidang Atau Pidato

Pesan Luluhur

Lelaki tua itu bernama Tengguli Ginting. Dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, lelaki tersebut merupakan kakek dari ibunya yang memiliki bus bernama “selamat Jalan”

Tengguli Ginting Suka
Tengguli Ginting Suka, Ayah dari Ibu Budi Anna Keliat (Foto: Pribadi Keliat, B.A)

Dalam beberapa kali kesempatan sang kakek mengajak mereka ke Pantai Cermin, bersama keluarga. Bertamasya.

Motto yang paling ia ingat hingga kini adalah Usor Usor, yakni

U, Ukorken=pikirkan

S, Simehulina=yang terbaik

O, Olakisat=jangan malas

R, Rbanca=melakukannya

Dengan makna usor-usor adalah langkahkan terus jangan berhenti.

Makna Usor Usor
Pesan Leluhur Usor Usor Keluarga Budi Anna Keliat

Pesan ini mengkristal dalam jiwanya, sehingga menyatu dalam detak jantung dan aliran darahnya.

Dalam kesempatan lain, ia ke kampung leluhurnya, menginap. Tentu dengan kasih sayang sang nenek, memanjakannya.

Menjadi hukum alam, nenek lebih sayang kepada cucunya.

Setiap ia mau kembali ke Medan, maka ia memberi pesangon kepadanya, silahkan kamu ke laci dan ambillah uang.

Bahul Perangin-angin
Bahul Perangin-angin/Istri Tengguli Ginting Suka (Foto, Pribadi Keliat, B.A.)

Ia sering melakukan ini, dengan cara meraba-raba laci tersebut, sebab biasanya ia kembali ke Medan saat masih pagi buta karena ikut bus selamat jalan.

Apa yang ia dapatkan dari dalam laci tersebut, entah uang kertas atau koin, semua ia raih dengan genggaman tangannya, lalu ia masukkan kedalam saku celana atau bajunya.

Ia belum mengetahui berapa jumlahnya. Setelah siang ia meraih kumpulan uang tersebut, dan betapa senangnya karena mendapatkan uang yang banyak menurutnya.

Mau Jadi Intel

Setamat dari SMA, ia bertekad melanjutkan pendidikan, ia tidak memiliki pilihan ke Universitas Sumatera Utara, sebagaimana kebanggaan orang Sumatera Tersebut.

Ia masih terbatas dalam hal ekonomi keluarga, belum lagi ia pikirkan bagaimana pendidikan adik-adiknya. Yang perlahan mulai bertumbuh dan berkembang.

Maka ia hendak menjadi seorang intel. Berpikir menjadi Kowad ataupun Polwan.

Kondisi ekonomi orangtua yang terbatas, maka ia datang ke Jakarta tepatnya kerumah bibi , suaminya anggota TNI

Disini ia berpikir untuk melanjutkan pendidikan keperawatan setelah melihat pekerjaan bibinya melayani oranglain, sebagaiaman bibinya seorang bidan. Mulia buatnya.

Selain itu jika lulus pada kampus keperawatan, maka asrama menjadi tanggungan gratis.

Akhirnya ia mendaftar pada Akper DepKes Jl Kimia, Akper Bandung Jl Padjajaran, dan AKA Bogor

Setelah tes tersebut, ia lulus pada ketiga kampus favorit ketika itu. Namun oleh karena, Akper Depkes Jakarta lebih awal mengeluarkan pengumuman. Maka ia memilih melanjutkan pendidikan pada kampus tersebut.

Disini ia berjumpa dengan kakak kelasnya yang kelak menjadi Professor seperti: Ratna Sitorus, Elly Nurrachma
Serta juniornya, sebutlah seperti Achir Yani, Setyowati, Yenni Rustina, dan Junaiti. Kesemuanya kini telah menyandang gelar Professor.

Kisah masa kecil Prof Achir Yani, klik disini: Achir Yani Syuhaimie Hamid Dari Komering Hingga Prof di FIK UI

Kisah mengenai masa kuliah Budi Anna Keliat akan kita kupas pada artikel lain.

Demikian mengenai kisah masa kecil Prof Budi Anna Keliat, sang guru besar keperawatan jiwa Indonesia. Jika ada saran, silahkan isi pada kolom komentar atau kirim whatsapp pada nomor redaksi.

Platinum Level

Sumber:

  1. Wawancara langsung,
  2. Budi Anna Keliat Website,
  3. Nursing UI,
  4. Sinta Review

26 komentar

  1. Bangga, semoga makin banyak orang karo berprestasi dan menjadi berkat bagi banyak orang.

  2. Luar biasa… perjalanan menuju sukses ya prof…..berbagi pengalaman, berbagi ilmu….. semoga prof selalu sehat dan panjang umur

  3. Sukses selalu ya Prof… Sungguh menginspirasi.. Semoga selalu menebar manfaat untuk semua orang…

  4. pertama mengenal beliau saat akper melalui buku bukunya tentang keperawatan jiwa, alhamdulillah sekarang bisa berguru langsung dengan beliau. masa kecil yang penuh semangat, semoga selalu menginsprasi kami para perawat untuk terus melangkah. sehat selalu prof

  5. Menunggu kisah romantis pertemuan dg calon suami dan pengalaman mengasuh putera puterinya.

  6. Sosok yang selalu menginspirasi saya, motivator, dengan kesederhanaan namun inovatif, ikhlas berbagi dan bersahaja. Sehat dan sukses terus Prof. Suatu rahmat dari Tuhan mengenal sosok Prof. Budi, Salam.

  7. Luar biasa Prof..keren..bangga menjadi anak didik Prof..semoga selalu sehat dan sukses ya Prof

  8. Ternyata prof . ga tau berenang , kisah yg sangat insipiratif… sehat dan sukses selalu Prof>

  9. Saya bangga mjd salah satu anak didiknya, semua karyanya menginspirasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kpd masyarakat khususnya odgj, jiwa social dan scientist nya adalah kombinasi yang luarbiasa, smg Prof sll sehat dan terus berkarya untuk kesehatan jiwa, we proud of you

    1. Baik mba Sri Puji Lestari, dia menjadi kebanggaan Negara ini terutama profesi keperawatan. Ikuti terus kisahnya yah?

  10. Sukses Prof. Sangat menginspirasi… ternyata dari keluarga prof. Ada yg saya kenal Brigjen TNI (Purn) Idaman Ginting Suka… Beliau dari Sumatra tapi tata krama dan tutur kata melebihi orang jawa……
    Sukses selalu untuk ptof. Budi Ana dan keluarga…. Bacaan ini inspiratif

  11. Mantaaaaap luar biasa, sangat inspiratif, saya bangga jadi perawat jiwa dan bangga serta bersyukur pernah jadi mahasiswa beliau, salam sehat jiwa dari RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang

  12. Kisah yg sangat inspiratif, sukses orang-orang besar tak lepas dari bakti mereka kepada kedua orangtuanya, serta dukungan dan doa orang tua yang tak kenal lelah, sehat selalu prof, semoga bisa meneladani dan mengikuti jejak prof, senang bisa kenal dengan prof budi yang sangat luar biasa, terimakasih atas ilmunya

  13. Kisah yang sangat luar biasa dan inspiratuf. teladan yang sangat luar biasa. Prof Budi adalah sosok yang disiplin, tidak kenal lelah dalam membimbing sampai saat ini. Tidak ada kata lelah atau nanti dalam berkarya. Selalu mengerjakan dan memberikan yang terbaik dan maksimal. Semoga saya bisa meneladani dan mengikuti jejak Prof Budi Anna sampai meraih gelar tertingi dalam dunia pendidikan.

  14. Ternyata prof budi anna keliat gak tau berenang yah? Sukses slalu bu prof. Kami tercerahkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *