DISREFLEKSIA OTONOM (D.0061)

A. DEFINISI

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Respon sistem saraf simpatis yang berlebihan dan tidak terkendali terhadap stimulus spesifik yang muncul setelah cedera medula spinalis pada tingkat T6 atau di atasnya. Kondisi ini merupakan ancaman kehidupan yang membutuhkan intervensi segera.

American Association of Critical-Care Nurses (AACN) Suatu sindrom klinis kegawatdaruratan pada pasien dengan cedera medula spinalis yang ditandai dengan hipertensi paroksimal akibat aktivitas simpatis yang tidak terhambat oleh pusat yang lebih tinggi di otak.

Bacaan Lainnya

Hickey (The Clinical Practice of Neurological Nursing) Suatu fenomena refleks yang tidak terintegrasi dengan benar, di mana rangsangan noksius di bawah tingkat cedera memicu respon vasokonstriksi masif yang dapat menyebabkan komplikasi serebrovaskular jika tidak ditangani dengan cepat.

Black & Hawks (Medical-Surgical Nursing) Respon neurologis abnormal yang melibatkan disregulasi otonom pada individu dengan lesi medula spinalis tinggi, yang melibatkan ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatis dan parasimpatis.

Consortium for Spinal Cord Medicine Suatu peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 20 mmHg atau lebih di atas baseline individu yang berkaitan dengan cedera medula spinalis, biasanya dipicu oleh iritasi di bawah level lesi.

    B. PATOFISIOLOGI

    Secara ilmiah, fenomena ini terjadi karena adanya gangguan komunikasi antara sistem saraf pusat di atas dan di bawah tingkat cedera. Ketika terdapat stimulus di bawah area cedera (paling sering akibat distensi kandung kemih atau impaksi feses), impuls sensorik dikirim ke medula spinalis dan memicu refleks simpatis yang masif. Hal ini menyebabkan vasokonstriksi sistemik di bawah level lesi, yang berujung pada hipertensi berat. Karena adanya blokade pada medula spinalis, otak tidak dapat mengirimkan sinyal inhibisi (penghambat) ke bawah untuk menghentikan lonjakan simpatis tersebut. Sebagai kompensasi, sistem saraf parasimpatis mencoba menurunkan tekanan darah melalui nervus vagus, yang sering kali bermanifestasi sebagai bradikardia dan vasodilatasi di atas tingkat lesi.

    C. KRITERIA DIAGNOSIS (INDIKATOR KLINIS)

    Berdasarkan standar keperawatan, tanda dan gejala disrefleksia otonom dikategorikan menjadi:

    Di Atas Tingkat Lesi (Respon Parasimpatis)

    1. Sakit kepala parah dan mendadak (berdenyut)
    2. Wajah memerah (flushing)
    3. Diaphoresis (keringat berlebih) di atas level cedera
    4. Hidung tersumbat dan pandangan kabur
    5. Bradikardia (penurunan denyut jantung sebagai kompensasi)

    Di Bawah Tingkat Lesi (Respon Simpatis)

    1. Hipertensi paroksimal (peningkatan tekanan darah sistolik >20-40 mmHg dari baseline)
    2. Kulit pucat dan dingin
    3. Piloereksi (goosebumps atau merinding)

    D. FAKTOR PEMICU (ETIOLOGI)

    Pemicu utama yang harus diidentifikasi segera oleh perawat meliputi:

    1. Sistem Perkemihan Sekitar 90% kasus disebabkan oleh distensi kandung kemih, kateter yang tersumbat, atau infeksi saluran kemih.
    2. Sistem Gastrointestinal Konstipasi, impaksi feses, atau hemoroid.
    3. Integumen Luka tekan, pakaian terlalu ketat, kuku kaki yang tumbuh ke dalam (ingrown toenail), atau luka bakar.

    E. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA

    Tujuan utama intervensi adalah menghilangkan stimulus pemicu dan menurunkan tekanan darah untuk mencegah komplikasi serebrovaskular:

    1. Posisi Pasien Segera dudukkan pasien tegak (90 derajat) untuk memanfaatkan hipotensi ortostatik guna menurunkan tekanan darah intrakranial.
    2. Identifikasi Pemicu Periksa drainase urin (pastikan tidak ada tekukan pada kateter) dan lakukan evakuasi feses secara manual jika perlu (dengan anestesi topikal).
    3. Monitor Tanda Vital Pantau tekanan darah setiap 2-5 menit hingga stabil.
    4. Farmakologi Kolaborasi pemberian agen antihipertensi kerja cepat (misalnya Nifedipine atau Nitroglycerin) jika tekanan darah tidak turun setelah pemicu dihilangkan.

     F. TANDA DAN GEJALA MAYOR

    Ini adalah indikator utama yang paling sering muncul dan bersifat kritis untuk menegakkan diagnosis.

    Subjektif (S):

    • Sakit kepala parah dan berdenyut (paroxysmal hypertension-induced).

    Objektif (O):

    • Tekanan darah meningkat signifikan (Sistolik meningkat >20% dari baseline pasien). Ini adalah tanda paling berbahaya.
    • Bercak merah pada kulit (red blotches) di atas tingkat cedera (wajah, leher, dada).
    • Diaforesis (berkeringat berlebih) di atas tingkat cedera.
    • Pucat di bawah tingkat cedera.
    • Bradikardia (denyut jantung lambat, <60 kali/menit) — Catatan: Beberapa pasien mungkin mengalami Takikardia (denyut cepat) atau aritmia, namun bradikardia adalah respons kompensasi klasik.

      G. TANDA DAN GEJALA MINOR

          Tanda-tanda ini mungkin muncul namun tidak selalu ada pada setiap kasus.

          Subjektif (S):

      • Pusing (bisa terjadi saat tekanan darah turun tiba-tiba setelah stimulasi hilang atau akibat sakit kepala parah).
      • Nyeri dada.
      • Mual.
      • Pandangan kabur.
      • Hidung tersumbat.
      • Perasaan cemas atau panik (feeling of impending doom).

         Objektif (O):

      • Piloereksi (“merinding” atau goosebumps) di atas tingkat cedera.
      • Menggigil.
      • Kontraksi kandung kemih atau usus yang tidak terkendali (spasme).

      H. KONDISI KLINIS TERKAIT

      Kondisi klinis ini adalah penyebab atau pemicu (trigger) utama terjadinya respons disrefleksia otonom di bawah tingkat cedera. Pemicu yang paling umum adalah masalah kandung kemih dan usus.

      Masalah Kandung Kemih (Pemicu Paling Sering):

      1. Kandung kemih penuh (overdistensi).
      2. Kateter tersumbat, tertekuk, atau penuh.
      3. Infeksi Saluran Kemih (ISK).
      4. Batu kandung kemih.

           Masalah Pencernaan (Pemicu Kedua Paling Sering):

      1. Konstipasi/Impaksi feses (tinja keras menumpuk di rektum).
      2. Hemoroid (wasir) yang teriritasi.
      3. Pemeriksaan rektal.
      4. Distensi usus (gas berlebih).

          Masalah Kulit:

      1. Luka tekan (dekubitus).
      2. Luka bakar, termasuk terbakar matahari.
      3. Kuku kaki cantengan (ingrown toenail).Pakaian, sabuk, atau sepatu yang terlalu ketat.
      4. Iritasi kulit oleh objek keras di tempat tidur/kursi roda.

         Masalah Reproduksi/Seksual:

      1. Aktivitas seksual atau ejakulasi.
      2. Menstruasi.
      3. Kehamilan atau persalinan.
      4. Infeksi pada organ reproduksi (mis. epididimitis).

         Kondisi Medis Lain di Bawah Tingkat Cedera:

      1. Fraktur tulang.
      2. Tindakan medis atau pembedahan (mis. sistoskopi).
      3. Suhu lingkungan yang ekstrem (terlalu panas atau dingin).

      DAFTAR PUSTAKA

      American Association of Critical-Care Nurses (AACN). (2023). Scope and Standards for Acute and Critical Care Nursing Practice. Aliso Viejo, CA: AACN Publishing.

      Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Management for Positive Outcomes (8th ed.). St. Louis, MO: Elsevier Saunders.

      Consortium for Spinal Cord Medicine. (2001/Revised 2022). Evaluation and Management of Autonomic Dysreflexia and Other Autonomic Dysfunctions: Clinical Practice Guidelines. Washington, DC: Paralyzed Veterans of America.

      Hickey, J. V. (2019). The Clinical Practice of Neurological and Neurosurgical Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.

      Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

      Pos terkait

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *