RISIKO DISFUNGSI SEKSUAL (D.0072)

A. DEFINISI

PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Risiko disfungsi seksual adalah kondisi berisiko mengalami perubahan fungsi seksual selama fase respons seksual berupa hasrat, gairah, orgasme, dan/atau relaksasi yang dapat menyebabkan perasaan tidak puas, tidak adekuat, atau tidak bermakna.

NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Suatu kerentanan terhadap perubahan fungsi seksual selama fase respons seksual (misalnya: hasrat, gairah, orgasme, relaksasi) yang dapat mengganggu kualitas hidup atau hubungan interpersonal. Fokus utama pada label risiko ini adalah identifikasi faktor predisposisi sebelum gangguan menjadi aktual.

Bacaan Lainnya

World Health Organization (WHO) Risiko disfungsi seksual dipandang sebagai kerentanan individu dalam mempertahankan kesehatan seksual yang terintegrasi, di mana faktor fisik, emosional, intelektual, dan sosial berpotensi menghambat ekspresi seksual atau kemampuan untuk merespons rangsangan seksual secara adekuat.

Cleveland Clinic (Health Library) Sebuah keadaan klinis di mana terdapat probabilitas tinggi terjadinya gangguan pada siklus respons seksual manusia. Kondisi ini mencakup kemungkinan adanya hambatan pada keinginan seksual hingga gangguan pada kenyamanan fisik yang mencegah individu atau pasangan untuk mendapatkan kepuasan dari aktivitas seksual.

Marilynn E. Doenges Suatu kondisi di mana individu memiliki faktor risiko yang dapat mengganggu integrasi fungsi seksual dalam kehidupan. Diagnosa risiko ini menekankan pada potensi terjadinya kegagalan dalam mencapai kepuasan seksual akibat transisi kesehatan, pengobatan, atau masalah psikososial yang sedang dihadapi.

    B. FAKTOR RISIKO (ETIOLOGI)

    Faktor-faktor yang meningkatkan kerentanan individu terhadap masalah ini dikategorikan menjadi beberapa dimensi patofisiologis dan psikososial:

    1. Gangguan Neurologis dan Urologis Adanya penyakit kronis seperti diabetes melitus, multipel sklerosis, atau trauma pada saraf panggul yang dapat mengganggu transmisi sinyal saraf selama aktivitas seksual.

    2. Ketidakseimbangan Hormonal Perubahan kadar hormon (seperti penurunan testosteron pada pria atau estrogen pada wanita) yang sering terjadi akibat proses penuaan, menopause, atau gangguan endokrin.

    3. Faktor Biopsikososial Riwayat penganiayaan atau trauma seksual, kecemasan terhadap performa seksual, serta kurangnya privasi dalam lingkungan tempat tinggal.

    4. Efek Samping Pengobatan Penggunaan jangka panjang obat-obatan tertentu seperti antidepresan (SSRI), antihipertensi (beta-blocker), atau prosedur pembedahan pada area reproduksi/panggul.

    5. Model Peran Negatif Paparan terhadap informasi atau model perilaku seksual yang tidak sehat atau menyimpang yang memengaruhi persepsi individu.

    C. KONDISI KLINIS TERKAIT

    Individu dengan kondisi berikut memerlukan pemantauan ketat terhadap risiko disfungsi seksual:

    1. Pasien pasca-operasi besar pada area panggul atau abdomen.
    2. Penyakit kronis progresif (misal: kanker, gagal ginjal terminal).
    3. Gangguan kesehatan mental (misal: depresi berat atau gangguan kecemasan).
    4. Kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan atau masa nifas.

    D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

    Tujuan utama intervensi adalah untuk menjaga agar Fungsi Seksual (L.07055) tetap berada pada level optimal dengan kriteria hasil:

    1. Kepuasan hubungan seksual tetap terjaga.
    2. Verbalisasi aktivitas seksual yang adekuat.
    3. Hasrat seksual tetap berada pada rentang yang diharapkan pasien.
    4. Mampu beradaptasi dengan perubahan fisik atau fungsi tubuh yang dialami.

    E. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA (SIKI)

    Intervensi dirancang untuk memitigasi faktor risiko melalui pendekatan edukatif dan konseling:

    1. Edukasi Seksualitas (I.12447)

    1. Memberikan informasi mengenai anatomi dan fisiologi reproduksi serta siklus respons seksual manusia.
    2. Menjelaskan efek penyakit atau pengobatan terhadap fungsi seksual guna mengurangi kecemasan pasien.

    2. Konseling Seksualitas (I.07214)

    1. Menciptakan suasana empati dan privasi agar pasien merasa nyaman mendiskusikan masalah sensitif.
    2. Membantu pasangan mengeksplorasi cara-cara alternatif untuk mencapai keintiman jika terdapat keterbatasan fisik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Cleveland Clinic. (2024). Sexual Dysfunction: Disorders, Causes, Types & Treatment. [Online]. Diakses dari situs resmi Cleveland Clinic Health Library.

    Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

    Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

    World Health Organization (WHO). (2023). Sexual Health and Sexual Dysfunction: Global Clinical Standards. Geneva: World Health Organization.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *